Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 236


__ADS_3

Felicia merasa kesal pada Kenzo. Pagi-pagi sekali suaminya itu sudah pergi tanpa menunggunya bangun tidur. Saat Felicia bertanya dengan mengirimnya pesan, pria itu hanya mengatakan ada urusan pekerjaan yang sangat penting.


"Kenapa beberapa hari ini dia sangat sibuk dengan urusan pekerjaan? Apakah pekerjaannya lebih penting dari keluarganya? Apakah dia tidak memikirkan perasaan kami ini?" Felicia berdiri di balkon kamarnya sambil menggerutu.


Rasa kesal yang sedang Felicia rasakan membuatnya tidak menyadari kehadiran ibunya, Flora. Ibunya sudah sedari tadi memanggilnya, tetapi Felicia sama sekali tidak meresponnya. Flora masuk ke kamar dan melihat Felicia sedang berdiri sendiri di balkon. Flora berjalan menghampiri Felicia yang terdengar sedang mengomel.


"Aku tahu dia bekerja untuk kami. Tapi ... tidak begini juga," ucap Felicia seraya mengerucutkan bibirnya.


"Felicia," panggil Flora.


Felicia berhenti menggerutu saat mendengar suara ibunya memanggil. Felicia menoleh dan mendapati ibunya datang dengan membawa segelas susu.


"Kamu kenapa terlihat kesal, Nak?" Flora bicara sambil menyodorkan segelas susu kepada Felicia.


"Aku sedang merasa kesal pada Kenzo, Ma," jawab Felicia.


Felicia mendekatkan gelas susu ke dekat bibirnya lalu meminum susu yang dibawakan oleh ibunya.


"Kesal sama siapa?" tanya Flora.


"Sama Kenzo, Ma," jawab Felicia.


"Aku merasa kesal dengannya. Dia pergi begitu saja tanpa menungguku bangun. Sebelumnya juga beberapa hari ini dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kami bahkan jarang sekali bertemu, dia pergi sebelum aku bangun dan pulang setelah aku tidur," jelas Felicia.


"Sayang, cobalah mengerti dengan suamimu. Mungkin saja kehamilanmu yang makin besar membuatnya harus bekerja keras. Setelah anak kalian lahir kebutuhan kalian akan bertambah banyak, 'kan?" Flora mencoba memberikan pengertian kepada anaknya.


"Ma, kita ini bukan orang susah. Bisa dibilang kita tidak akan kekurangan uang sampai tujuh turunan," ucap Felicia.


"Hussst, kenapa kamu bicara seperti itu? Tidak baik bicara seperti itu, Nak," ucap Flora.


"Maaf, Ma. Aku hanya sedang merasa kesal saja," ucap Felicia.


"Felicia, meskipun kita berasal dari keluarga yang berada, tetapi mengertilah Kenzo seorang pemimpin perusahaan. Banyak orang yang bergantung padanya," jelas Flora.


"Ya, Ma. Aku tahu. Aku hanya sedang merasa kesal saja pada Kenzo," ucap Felicia. "Aku akan mencoba untuk mengerti Kenzo."


"Ya sudah. Kalau begitu jangan tunjukkan wajah masammu!Nanti anak kamu juga akan berwajah masam," ledek Felicia.


"Issh, Mama." Felicia mengerucutkan bibirnya saat ibunya meledeknya.


"Tunjukkan senyummu agar anak kalian selalu merasa bahagia," ucap Flora.


"Sekarang bersiaplah!" suruh Flora.


"Kita semua kita mau ke mana, Ma?" Felicia merasa bingung saat ibunya menyuruhnya untuk bersiap-siap.

__ADS_1


"Bukan kita, hanya kamu yang akan pergi," jawab Flora.


"Kamu harus pulang. Rizal sudah menjemputmu. Dia ada di bawah," jelas Flora.


"Tapi aku masih ingin di sini. Aku belum ingin pulang, Ma." Felicia menolak untuk pulang.


"Pergilah!" suruh Flora.


"Mama kenapa mengusirku?" tanya Felicia.


"Mama tidak mengusirmu. Hanya saja Kenzo sudah berpesan pada Mama. Kalau sudah pukul 10, kamu harus pulang," jelas Flora.


"Ayo, cepatlah! Rizal sudah menunggu di bawah," ucap Flora.


Flora mengajak Felicia masuk ke kamar. Membantu Felicia untuk membereskan barang-barangnya.


"Sebenarnya ada apa sih, Ma. Kenapa Mama sama Kenzo bersikap aneh? Apa mungkin kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tebak Flora.


"Jangan terus berprasangka buruk pada suamimu. Ikuti saja apa kata suamimu," suruh Flora.


"Mama selalu saja membela menantu Mama itu," ucap Felicia disambut tawa kecil oleh Flora.


Meskipun masih merasa bingung Felicia tetap pergi. Felicia berjalan menuruni anak tangga dengan dituntun oleh Flora. Mereka langsung berjalan sampai teras rumah. Langkah mereka berhenti tepat di samping mobil yang dikendarai oleh Rizal.


"Aku pulang dulu, Ma," pamit Felicia.


"Iya, Ma." Felicia mencium pipi kanan dan kiri Flora.


Setelah berpamitan kepada Flora, Felicia masuk ke mobil. Dan setelah itu Felicia pergi bersama mobil yang dikendarai oleh Rizal. Felicia duduk di bangku penumpang belakang dengan menyenderkan tubuh belakangnya ke punggung kursi. Ia duduk di mobil sambil melamun. Felicia masih memikirkan tentang sikap Kenzo. Felicia kembali merasakan hal aneh sepertinya suaminya kembali menyembunyikan sesuatu darinya.


Akan tetapi Felicia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja Kenzo memang sedang sibuk dengan urusan pekerjaan. Apalagi dirinya sering melihat suaminya tertidur di ruangan kerjanya.


Ya sudahlah kenapa juga aku harus memikirkan hal yang tidak penting. Mungkin Kenzo memang sedang sangat sibuk.


Beberapa kali Keisha menguap. Semenjak usia kehamilannya bertambah Keisha menjadi sering mengantuk. Beberapa saat kemudian matanya terpejam dengan sendirinya karena rasa kantuk yang sudah tidak tertahankan.


Selang satu jam Felicia membuka matanya. Felicia merasa lelah terus tidur dengan posisi duduk. Saat bangun Felicia merasa bingung ternyata dirinya masih ada di dalam mobil. Padahal jarak dari rumah kedua orang tuanya hanya berkisar empat puluh lima menit.


Felicia memperhatikan jalan yang dilewatinya. Jelas itu bukan jalan pulang ke rumahnya.


"Rizal Kenapa kita masuk ke jalan tol. Rumah saya jelas sudah kelewat jauh," tanya Felicia.


"Saya memang harus melalui jalan ini, Bu," jawab Rizal.


"Loh, memangnya kita mau ke mana?" Felicia merasa bingung serta khawatir. Ia berpikir jika Rizal akan menculiknya.

__ADS_1


"Bapak Kenzo menyuruh saya untuk mengantar Ibu ke bandara," jawab Rizal.


"Apa? Bandara?" Felicia makin merasa bingung.


"Untuk kejelasannya Ibu bisa bertanya kepada bapak Kenzo nanti," ucap Rizal.


Setelah melakukan perjalanan selama 1 jam mereka sampai juga di bandara. Setelah Rizal membukakan pintu Keisha keluar dari mobil. Ternyata di sana sudah ada Kenzo dan juga Alan yang sudah menunggu mereka.


"Akhirnya kamu sampai juga," ucap Kenzo.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kita ada di sini?" tanya Felicia.


"Akan aku jelaskan nanti. Sekarang ayo kita masuk! Pesawat kita sudah menunggu," ajak Kenzo.


"Rizal tolong bawa barang-barang kami dan masukan ke bagasi pesawat," perintah Kenzo.


"Baik, Pak," sahut Rizal.


"Ayo, Sayang." Kenzo melingkarkan tangannya ke sepanjang pinggang Felicia mengajaknya masuk ke dalam pesawat pribadi yang merupakan milik keluarga Pramuja.


Felicia melangkah dengan ditemani oleh rasa bingung. "Sebenarnya kita mau ke mana, Sayang?"


"Masuklah ke dalam pesawat dulu. Baru setelah itu aku akan menjelaskannya," ucap Kenzo.


Felicia melangkah masuk ke dalam pesawat bersama dengan Kenzo. Ia berjalan di anak tangga sambil memegangi perutnya yang sudah terasa berat. Sampai di dalam pesawat kedua duduk bersebelahan.


"Sekarang kita sudah ada di dalam pesawat. Aku menagih penjelasan darimu," ucap Felicia.


"Baiklah akan aku jelaskan," ucap Kenzo seraya menggenggam tangan Felicia.


"Apakah kamu ingat kita mendapatkan hadiah tour ke negeri Sakura selama dua pekan. Tapi sayangnya tiket dulu sudah kadaluarsa. Jadi perjalanan kita ini sebagai penggantinya," jelas Kenzo.


"Jadi kita akan ke sana?" seru Felicia yang langsung dianggukki oleh Kenzo.


"Anggap saja perjalanan kita ini sebagai acara babymoon," ucap Kenzo.


"Tapi ... kalau kita pergi bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Felicia.


"Aku sudah membereskan pekerjaanku selama beberapa minggu belakangan ini dan sisanya aku menyerahkan kepada Alan dan juga sekretarisku," jawab Kenzo.


"Jadi ... kamu bekerja keras selama ini agar kamu bisa mengajakku berlibur?" tanya Felicia yang langsung dianggukki oleh Kenzo.


Felicia kini merasa bersalah sudah berprasangka buruk pada Kenzo. Ternyata suaminya sudah sangat berusaha keras untuk bisa mengajaknya berlibur.


"Maafkan aku karena sudah berprasangka buruk padamu." Felicia menggenggam tangan Kenzo lalu mencium punggung tangan Kenzo. "I love you."

__ADS_1


"I love you too." Giliran Kenzo yang mencium punggung tangan Felicia.


__ADS_2