
Jangan ditanya bagaimana perasaan Aura setelah Gavindra menciumnya. Belum lagi saat ada sesesorang dari pengujung pusat perbelanjaan itu melihatnya. Perasaan Aura campur aduk, terkejut, malu, dan juga gugup.
"Ya Tuhan, semoga aku tidak akan bertemu dengan orang itu lagi," batin Aura.
Kini mereka dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tua Gavindra. Aura duduk di samping Gavindra, sambil memilin ujung gaun yang dipakainya. Ia masih gugup mengingat apa yang telah dilakukannya bersama Gavindra beberapa satu yang lalu. Tidak pernah sekalipun dirinya sedekat itu dengan seorang pria. Jangankan berciuman, bergandengan tangan dengan seorang pria saja tidak pernah.
"Ini kacau. Ya Tuhan bagaimana aku bisa melakukan itu?" Aura bicara di dalam hatinya.
Gavindra sama kacaunya dengan Aura. Pria itu duduk sambil mengemudikan mobilnya. Dengan usahanya yang keras Gavindra mencoba untuk berkonsentrasi mengemudi sambil menahan rasa sakit yang sangat sangat menyiksa. Sudah sejak beberapa saat yang lalu miliknya menegang karena Aura.
Meskipun dekat dengan banyak perempuan, berciuman bahkan tidur bersama, tetapi tidak pernah sekalipun Gavindra merasakan debaran jantung yang begitu hebat. Tidak sama sekali, tetapi anehnya bersama Aura, wanita yang jauh dari tipenya Gavindra tidak bisa mengontrol dirinya.
Jika saja Aura bukan anak kecil, Gavindra sudah pasti akan mengarahkan mobilnya ke hotel dan bercinta dengan Aura.
"Ck, sial. Gadis kecil ini sangat berbahaya." Kegelisahan Gavindra makin menjadi hingga membuat konsentrasinya buyar. Laju mobil yang Gavindra bawa sedikit oleng membuat Aura terkejut dan ketakutan.
"Hei, apa kamu tidak bisa bawa mobilnya pelan-pelan saja?" Aura berpegangan pada dashboard.
Gavindra tidak merespon apapun, ia terus saja mengemudi dengan kecepatan tinggi. Entah sedang mengejar apa. Tidak berselang lama Gavindra menghentikan laju mobilnya secara mendadak membuat tubuh keduanya terhuyun ke depan. Beruntung mereka memakai sabuk pengaman sehingga tubuh mereka tetap berada di tempat yang sama.
"Apa kamu sudah gila?" maki Aura. "Apa kamu tahu yang kamu lakukan ini bisa membuat kita celaka," imbuh Aura.
Pandangan Aura melihat ke arah Gavindra menatap pria yang duduk dalam diam. Aura ingin sekali mencakar wajah Gavindra. Namun, apa yang sudah dilakukan oleh Gavindra masih membuat Aura ketakutan sehingga Aura tidak bisa berbuat apapun.
"Kamu dengar tidak sih aku ngomong?" Aura merasa kesal Gavindra tidak memperdulikannya.
Aura mendengkus saat Gavindra tetap diam. Wajahnya berubah menjadi singa, tetapi seketika Aura berubah menjadi kelinci ketika Gavindra menoleh dengan menunjukkan wajah garang.
"Ke-ke-napa ka-mu menatapku seperti i-tu? Apa aku sa-lah bi-cara?" Aura bicara tergagap.
"Apa kamu masih perawan?" tanya Gavindra yang membuat Aura terkejut.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Bella.
"Apa pertanyaanku tadi kurang jelas?" tanya balik Gavindra. "Buar aku perjelas. Apa kamu pernah melakukan hubungan suami-istri sebelumnya? Kamu masih perawan tidak?" ulang Gavindra.
"Pertanyaan macam apa itu?" Aura mengalihkan pandangannya. Ia merasa malu sendiri dengan pertanyaan yang Gavindra lemparkan.
"Jawab saja!" suruh Gavindra.
Aura kembali menoleh ke arah Gavindra menatap tajam pria mesum itu.
__ADS_1
"Apa kamu berpikir aku ini perempuan murahan. Jangankan berbuat hal semacam itu, bergandengan tangan dengan pria saja aku tidak pernah. Dan asal jamu tahu, ciuman tadi itu ciuman pertamaku," jawab Aura dengan suara yang tegas.
Ada senyuman kecil tergambar di bibir Gavindra. "Jadi tadi itu ciuman pertamanya? Pantas dia sangat kaku?" Gavindra bicara di dalam hatinya.
"Kenapa senyam-senyum? Apa kamu sudah puas mempermalukan aku?" omel Aura.
"Siapa yang ingin mempermalukanmu? Aku hanya sekedar bertanya," ucap Gavindra lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Aura.
"Kalau bicara lihat ke sini! Jangan menggerutu sendiri." Aura menunjuk dirinya sendiri.
"Iya nih aku lihat ke kamu." Gavindra melihat ke arah Aura.
Seketika senyuman Gavindra luntur. Ia kembali merasakan rasa sakit saat miliknya kembali menegang. Gavindra mengumpat, gadis kecil yang kini sedang bersamanya sangat berbahaya. Hanya melihat bibirnya saja sudah mampu membangkitkan hasratnya.
"Aku tidak bisa seperti ini terus," batin Gavindra.
"Sudahlah jangan berdebat terus. Ayo turun! Kita sudah sampai," ajak Gavindra.
Gavindra melepas seat belt lalu turun dari mobil dengan terburu-buru. Ia ingin menghindar dari Aura karena rasa sakit yang sudah tidak tertahankan.
"Hei, tunggu aku!" panggil Aura.
"Jangan tinggalkan aku sendiri," ucap Aura!
"Ayo cepat!" Gavindra menarik tangan Aura membawanya masuk rumah.
"Apa kamu tidak bisa pelan-pelan." Aura merasa kesal karena Gavindra menariknya seperti sedang menarik seekor sapi. "Ck, apa pria ini tidak bisa bersikap lembut sedikit."
"Hei, Om apa kamu tidak bisa pelan-pelan. Aku ini bukan sapi." Aura menahan langkahnya yang membuat Gavindra juga berhenti melangkah.
Gavindra menoleh ke arah Aura dengan mengangkat satu alisnya. "Kamu panggil aku apa tadi? Om?" Gavindra menunjukkan senyuman miring. "Aku tidak pernah menikah dengan tante kamu." Gavindra merasa tidak Terima Aura memanggilnya dengan sebutan 'om.
"Tidak begitu juga. Umurmu sepuluh tahun lebih tua dariku. Wajar jika aku memanggilmu dengan sebutan itu," ucap Aura.
"Kamu ...." Gavindra menahan suaranya di tenggorokannya. "Dasar anak nakal." Gavindra menyentil kening Aura.
"Ini sakit." Aura mengusap-usap keningnya.
"Sudahlah ayo kita masuk. Kedua orang tuaku pasti sudah menunggu," ajak Gavindra yang langusng diangguki oleh Aura.
Gavindra berbalik, ia kembali melangkah masuk ke dalam rumah dengan Aura mengikuti di belakangnya. Akan tetapi, Gavindra berhenti secara mendadak membuat Aura menubruk tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau berhenti," ucap Aura.
"Apa aku harus minta izin dulu padamu untuk berhenti melangkah? Halo, boleh saya berhenti? Begitu." Gavindra merasa gemas dengan Aura.
"Ya tidak begitu juga." Aura menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Oh iya ada apa? Kenapa kamu berhenti tiba-tiba?" Aura mengalihkan pembicaraan.
"Jangan panggil aku 'om. Mengerti!" ucap Gavindra.
"Iya, iya," ucap Aura. "Tidak sadar sudah tua." Aura menggerutu beruntung Gavindra tidak mendengarnya.
"Bagus! Jadilah anak baik." Gavindra mengacak-acak rambut Aura. "Sekarang ayo masuk!" Gavindra menyatukan tangannya dengan Aura dan melangkah bersama untuk masuk ke dalam rumah menemui Flora juga Gio.
Sampai di dalam rumah Gavindra berjalan sambil memanggil kedua orangtuanya masih dengan menggandeng tangan Aura.
"Ma, Pa, kalian di mana?" panggil Gavindra.
Beberapa kali Gavindra memanggil, kedua orangtuanya terlihat sedang berjalan menuruni anak tangga.
"Akhirnya kalian sampai juga. Kami sudah lama menunggu?" Flora berjalan menghampiri Gavindra dengan senyum yang terlukis di bibirnya.
"Malam, Ma, Pa?" sapa Gavindra.
"Jadi ... ini gadis yang kamu ceritakan kepada kami?" tanya Flora.
"Iya, Ma. Kenalkan Ma, Pa, dia Aura," ucap Gavindra.
"Malam Om, Tante." Aura menyalami punggung tangan Flora dan Gio secara bergantian.
"Malam, Aura." Flora dan Gio membalas sapaan secara bersamaan.
"Sebaiknya kita ke ruang tengah. Tidak baik mengobrol sambil berdiri," ucap Gio.
"Iya, Pa," ucap Gavindra.
"Iya, Om," ucao Aura.
Keempatnya berjalan ke arah ruang tengah. Aura duduk di samping Flora, sedangkan Gio duduk bersama dengan Gavindra. Nampak Flora sangat excited dengan kedatangan Aura mengingat Aura adalah perempuan pertama, perempuan yang terlihat baik daripada perempuan-perempuan yang Gavindra bawa sebelumnya.
"Boleh, Tante tahu, berapa umurmu, Aura?" tanya Flora. "Kamu kuliah atau ... sudah bekerja?" imbuh Flora.
"Emmm, saya masih 17 tahun dan masih kelas dua belas, Tante, Om." Aura bicara dengan wajah yang terjunduk karena tidak sanggup melihat reaksi kedua orang tua Gavindra nantinya.
__ADS_1