
Hari yang paling ditunggu-tunggu
Flora akhirnya datang. Hari di mana ia dan 25 karyawan lainya akan berangkat ke pulau Dewata. Kini Flora dan para karyawan lainya sudah berada di depan gedung kantor F.G Group. Mereka sudah duduk manis di dalam bus yang akan membawa mereka ke pulau Dewata.
Awalnya suasana di dalam bus itu nampak ramai. Namun, suasana menjadi hening saat Gio dan Abi naik ke dalam bus itu.
Semua orang langsung berdiri seraya menundukkan kepala mereka untuk memberi hormat pada Gio.
"Apa yang kalian lakukan?" Gio nampak tidak menyukai hal itu. Memang di kantor dirinya adalah bos mereka, tetapi jika di luar kantor Gio ingin mereka menganggap dirinya seperti orang biasa.
"Silakan duduk kembali!" suruh Gio.
Semua orang duduk kembali ke tempat duduk mereka. Sungguh mereka merasa canggung dengan keberadaan Gio di dalam bus.
"Kalian tidak keberatan 'kan, jika saya ikut bus ini?" tanya Gio, lembut tetapi terdengar begitu mengintimidasi.
"Ti-dak." Mereka menjawab dengan gagap.
Kenapa harus bertanya? Dia kan bosnya.
Itulah kalimat yang ada dalam benak para karyawan yang ada di dalam bus itu.
"Yah kayaknya saya mesti pindah tempat duduk nih." Mutya tahu jika Gio ingin duduk berdampingan dengan Flora.
"Bagus kalau kamu tahu diri."
Ugh, menusuk sekali perkataan si bos.
"Tya, kamu duduk saja sama Abi," suruh Flora.
Mutya melebarkan matanya ke arah Flora membuat Flora cengengesan.
"Itu ide yang bagus," sambung Gio.
"Hah! Bos jangan ikut-ikutan deh," protes Mutya.
Tidak ingin mendengar protes dari Mutya, dengan seenaknya Gio menarik Mutya menjauhkannya dari Flora. Gio langsung menempati tempat duduk tepat di sebelah Flora.
"Ya ampun, Bos."
Mutya melirik ke arah Abi yang masih berdiri di depan pintu bus. Melihat wajah dinginnya saja sudah malas apalagi harus duduk berpuluh-puluh jam dengan Abi.
"Dari pada duduk sama si mas es, lebih baik mojok sendiri di belakang," sindir Mutya.
"Silahkan!" balas Abi.
Waktu sudah semakin siang dan bus yang akan membawa mereka mulai melaju. Sorak gembira para karyawan dan karyawati dalam bus itu terdengar begitu riuh. Mereka sudah tidak sabar untuk sampai di pulau Dewata.
"Kamu kenapa gak naik mobil kamu sendiri?" bisik Flora.
"Kenapa? Kamu gak suka aku di sini?" tanya balik Gio.
"Gak, aku kan jadi gak bisa godain laki-laki lain," goda Flora.
Padahal Flora senang banget bisa duduk bersama Gio sepanjang perjalanan itu.
"Jangan macam-macam ya?" Gio menarik pipi Flora karena merasa gemas.
__ADS_1
-
-
Sekitar 17 jam perjalanan, akhirnya rombongan para karyawan perusahaan F.G Group sampai di Resort and Hotel yang sudah Gio sewa.
Satu persatu dari mereka turun dari dalam bus sembari merenggangkan otot-otot mereka yang terasa kaku.
"Akhirnya sampai juga," seru Flora.
"Oke, untuk semua silahkan masuk ke kamar kalian masing-masing. Satu kamar untuk 2 orang," ucap Abi.
Semua orang membubarkan diri. Mereka mengambil kunci dan masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan untuk mereka.
"Flora kita satu kamar ya," ucap Mutya yang langsung dianggukki oleh Flora.
Pandangan Flora beralih pada Gio. "Aku ke kamar dulu, kamu juga istirahat."
"Sampai jumpa besok," ucap Flora.
"Sampai jumpa," balas Gio.
Tangan Gio dan Flora yang tergenggam mulai terlepas. Mereka berpisah menuju tempat istirahat masing-masing.
"Aku gak nyangka ya, biasanya seorang bos itu pasti punya sifat kejam, sombong, tapi pak Gio ... dia berbeda. Dia orangnya sangat baik," ucap Mutya saat mereka sampai di kamar mereka.
"Ya, dia memang orangnya sangat baik. Aku tidak menyangka bisa sejauh ini dengannya. Padahal saat awal kami bertemu sangat tidak menyenangkan," ucap Flora.
"Baik dan tampan," puji Mutya dengan wajah yang berbinar.
"Tapi aku lebih suka saat dia sedang serius bekerja. Aura wajahnya sangat berbeda, tenang tapi menghanyutkan," puji Flora.
"Sudahlah jangan godain aku terus. Mending kita istirahat, besok kita jalan-jalan sepuasnya," ucap Flora dan segera dianggukki setuju oleh Mutya.
*****
Pada esok harinya.
Deburan ombak terdengar sampai ke telinga Flora dan membuat tidurnya terusik. Flora menggeliat dalam tidurnya dan langsung mengambil posisi duduk. Suara ombak itu menarik Flora untuk berjalan ke dekat jendela.
Tangannya bergerak membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya.
"Bagus banget." Mata Flora berbinar melihat pemandangan laut lepas yang ada di hadapannya.
Gambar hanya pemanis.
Flora rasanya sudah tidak sabar untuk memijakan kakinya di atas pasir putih yang terlihat lembut.
Tanpa membuang waktu lagi, Flora segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Flora membangunkan Mutya untuk menemaninya berjalan-jalan di pinggir pantai. Namun, sepertinya sahabatnya masih ingin tidur.
"Ya sudah aku jalan-jalan sendiri saja," gumam Flora.
Awalnya Flora ingin menghubungi kekasihnya untuk menemaninya jalan-jalan, tetapi mengingat jam masih pukul 8 pagi membuat Flora mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Dia pasti masih tidur
Flora pun keluar dari kamar inapnya sendirian saja.
Mata Flora berbinar saat melihat putihnya pasir dan birunya air laut di hadapannya. Flora langsung melepas alas kakinya dan memijakan kakinya pada pasir lembut itu.
"Jadi kamu ingin berjalan-jalan sendiri?"
Flora menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya. Saat ia berbalik matanya melihat laki-laki yang selalu memenuhi pikirannya.
"Gio ...."
Dengan senyuman yang merekah pada bibirnya, Flora melangkah mendekat kepada kekasihnya.
"Aku pikir kamu belum bangun," ucap Flora.
Flora mengulurkan tangannya dan disambut oleh Gio. Keduanya menyatukan tangan mereka. Gio langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Flora, menariknya, untuk mengikis jarak diantara mereka.
Gambar hanya pemanis.
"Kamu mau temani aku jalan-jalan?" tanya Flora.
"Dengan senang hati, Sayangku," balas Gio.
Mereka melepas genggaman tangan mereka. Tangan Gio berpindah melingkar ke pundak Flora. Keduanya berjalan bersama untuk menikmati hangatnya sinar mentari pagi di tempat itu.
Sepasang kekasih itu berjalan di tepi pantai berpasir lembut. Setiap langkah kaki mereka meninggalkan jejak pada pasir yang mereka lewati. Dan jejak itu menghilangkan setelah tersapu oleh ombak.
Langkah santai mereka diiringi dengan obrolan kecil. Mereka terlihat begitu sangat bahagia terlihat dari senyum yang terlukis pada bibir mereka.
"Kamu senang?" tanya Gio.
"Tentu saja. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama dirimu," jawab Flora.
"Tapi kita tidak bisa berlama-lama di sini. Dua hari lagi kita harus kembali ke Jakarta karena ada pekerjaan," ucap Gio.
Flora mendesah kecewa mendengar akan hal itu. "Padahal aku masih ingin berlama-lama di sini bersamamu."
Gio melihat raut wajah kecewa kekasihnya. Gio menghentikan langkahnya disusul oleh Flora.
Gio berdiri menghadap Flora, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Flora.
"Kita bisa kembali ke sini." Gio mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Flora dan membisikkan sesuatu di telinga Flora. "Kita bisa ke sini lagi untuk berbulan madu."
Flora langsung salah tingkah setelah mendengar kalimat itu.
"Gio ...." Ucapan Flora terhenti karena Gio mendaratkan kecupan pada keningnya.
"Aku serius, Flora," ucap Gio.
"Aku percaya padamu, Gio. Dan aku menantikan saat itu," ucap Flora.
Mereka masih berdiri saling berhadapan. Saling menatap dengan pandangan penuh rasa cinta, sebelum akhirnya menyatukan kening mereka.
"Aku mencintaimu, Flora."
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu, Gio."