Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Sebuah Keraguan


__ADS_3

Pesawat yang Flora dan Gio tumpangi mendarat tepat Bandara pulau Dewata. Hari pun sudah berubah menjadi gelap. Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, Gio dan Flora melangkah keluar dari pesawat itu.


“Kamu lelah?” tanya Gio.


“Ya, sedikit,” jawab Flora.


“Mau aku gendong?” Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda Flora.


“Isssh, ini tempat umum.” Flora memalingkan wajah Gio dengan tangannya.


Setelah mengambil koper, Gio dan Flora melangkah ke arah pintu keluar. Ternyata di luar Bandara itu, sudah ada orang yang menjemput mereka. Flora dan Gio pun langsung masuk ke dalam mobil minibus.


“Kita mau ke mana?” tanya Flora.


“Kejutan dong,” ucap Gio. “Lebih baik sekarang kamu tidur perjalanan kita masih lama,” suruh Gio yang segera dianggukki oleh Flora.


Flora langsung melingkarkan tangannya ke lengan Gio dan merebahkan kepalnya ke pundak suaminya itu. Tidak berselang lama Flora pun mulai memejamkan matanya.


Rasa lelah bukan hanya dirasakan oleh Flora, rasa lelah itu juga di rasakan oleh Gio. Tidak lama setelah Flora tertidur, Gio pun ikut memejamkan matanya.


Roda mobil yang membawa Flora dan Gio terus berputar. Mobil mini bus itu terus melaju hingga berhenti setelah mereka sampai ke tempat tujuan mereka.


Berhentinya laju mobil itu dirasakan oleh Gio. Laki-laki itu pun mulai terbangun dari tidurnya.


“Apa kita sudah sampai?” Gio mengedipkan beberapa kali kelopak matanya lalu melihat keluar mobilnya.


“Sayang, kita sudah sampai.” Gio menepuk pipi Flora dengan perlahan.


Flora terbangun saat merasakan tepukan pada pipinya dan telinganya mendengar suara Gio.


“Apa kita sudah sampai?” tanya Flora dengan mata yang masih setengah terpejam.


“Sudah. Ayo kita turun!” ajak Gio.


Gio lebih dulu keluar dari dalam mobil dan berjalan ke sisi lain untuk membantu Flora keluar.


“Awas hati-hati.” Gio memegangi tangan Flora dan membantu istrinya turun dari mobil.


“Ini rumah siapa?” tanya Flora.


“Ini vila teman aku. Aku menyewanya untuk kita,” jawab Gio.


Flora dan Gio melangkah bersama masuk ke dalam vila itu. Rumah kecil dengan halaman yang sangat luas. Gio membuka pintu vila itu dan langsung mengangkat tubuh Flora, membawanya ke dalam kamar mereka.


Jujur Flora merasa sangat malu. Jantung Flora bahkan sudah berdetak tidak karuan.


“Gio ....” Flora langsung menyembunyikan wajahnya pada perpotongan leher Gio untuk menyembunyikan rasa malunya.


“Sudah sampai. Inilah kamar kita.” Gio menurunkan tubuh Flora secara perlahan.



Gambar hanya pemanis.

__ADS_1


“Sekarang kamu mandi dan istirahat,” suruh Gio.


Gio memberikan satu kecupan pada kening Flora. “Aku akan siapkan makan untukmu dulu.”


Mata Flora menyipit mendengar perkataan Gio. “Kamu mau masak? Untukku?”


Rasanya Flora merasa tidak percaya.


“Jangan meremehkan kemampuan memasakku,” cibir Gio.


“Baiklah, aku tidak sabar untuk mencoba masakanmu,” ucap Flora. “Aku mandi dulu.”


Gio menganggukkan kepalanya dan membiarkan istrinya pergi ke kamar mandi. Setelah memastikan Flora masuk ke dalam kamar mandi, Gio mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


“Halo, kamu sudah mendapatkan informasi tentang mereka lagi?” tanya Gio pada seseorang yang ada di seberang panggilan itu.


“ ...”


“Dengar lakukan dengan cepat. Dan jangan sampai orang lain tahu tentang ini.”


Setelah selesai berbicara di telepon, Gio melangkah ke arah dapur untuk menyiapkan masakan untuk Flora. Sebelumnya Gio sudah menyuruh orang untuk menyediakan berbagai macam bahan masakan di tempat itu.


*****


Sementara di dalam kamar mandi, Flora masih berdiri di depan cermin. Matanya menatap pantulan dirinya di sana. Sejujurnya Flora sangat senang saat mendapatkan suaminya kembali. Namun, Flora merasakan suatu keanehan pada sikap Gio itu.


Bukannya tidak bersyukur dengan hal itu, hanya saja itu terlalu cepat. Flora ingat betul kebencian yang Gio tunjukkan padanya hampir satu bulan itu. Dan dalam 4 hari, Gio berubah kembali seperti sediakala.


“Apa ini hanya perasaanku saja, atau memang ada sesuatu yang mereka rencanakan?” batin Flora.


“Mungkin saja dia berubah karena kecelakaan yang aku alami,” batin Flora.


“Hufff.”


Setelah menepis hal buruk di dalam benaknya, Flora memutuskan untuk mandi. Setengah jam Flora membersihkan diri di dalam kamar mandi dan setelah itu, Flora keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk kimononya.


“Kamu sudah selesai mandi?” tanya Gio.


Gio yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar itu membuat Flora tersentak. Flora yang ingin berganti pakaian pun mengurungkan niatnya.


“Kenapa kamu tiba-tiba masuk ke dalam kamar.” Flora mengikat tali handuk kimononya secara terburu-buru.


“Salah sendiri kamu tidak mengunci pintu kamar ini,” ucap Gio.


Gio melangkah mendekati Flora dengan senyum nakal yang tergambar di bibirnya. Ketika berada di dekat Flora, Gio langsung saja menarik pinggang istrinya.


“Kenapa? Lagi pula aku ini suamimu, 'kan?” Gio mencuri satu kecupan di bibir Flora.


Debaran jantung Flora semakin kencang dan berharap tidak akan melompat keluar. Flora mencengkram baju Gio saat Gio kembali memberikan kecupan di bibirnya.


“Gio ... aku —”


“Tenang saja, aku tidak akan melakukannya sekarang. Aku bukan laki-laki yang tega meminta hakku saat istriku baru saja keluar dari rumah sakit.” Gio berbisik di telinga Flora.

__ADS_1


Mendengar perkataan Gio, Flora pun langsung menarik napas leganya.


“Tapi besok akan aku pastikan ku akan menjadi milikku seutuhnya,” bisik Gio yang membuat tubuh Flora merinding.


“Sekarang pakai pakaianmu aku tunggu di meja makan,” suruh Gio dan segera Flora menganggukkan kepalanya.


Gio menjauhkan tangannya dari pinggang Flora dan kembali keluar dari kamar itu. Flora sendiri segera mengunci pintu kamar itu dan segera memakai pakaiannya.


Setelah selesai memakai pakaiannya, Flora keluar dari kamar itu dan segera menghampiri Gio yang ada di meja mini bar. Tidak sulit untuk menemukan keberadaan suaminya, karena vila itu kecil. Hanya ada dua kamar, sementara untuk ruang tamu, dapur, dan ruang makan berada pada satu ruangan yang cukup besar.


“Aku masak nasi goreng seafood,” ucap Gio.


Mata Flora menyipit saat melihat dua porsi nasi goreng ada di hadapan mereka.


“Benar kamu yang memasak ini?” raya Flora.


“Hanya ada kita berdua di sini, Sayangku. Tentu saja aku yang membuat ini,” jawab Gio.


“Baiklah, akan aku coba.” Flora mengambil sendok lalu mengambil nasi goreng itu dan menyuapkan ke mulutnya sendiri.


“Bagaimana rasanya?” tanya Gio.


“Ini sangat enak,” seru Flora.


Gio mengembangkan senyumnya lalu mengusap kepala Flora. “Kalau begitu habiskan dan setelah itu kamu masih harus meminum obatmu.”


Flora mengangguk, menuruti apa kata suaminya. Tidak berselang lama satu porsi nasi goreng sudah Flora habiskan. Rasanya sangat kenyang.


“Aku tidak menyangka kamu ternyata bisa masak seenak ini,” puji Flora.


“Terimakasih untuk pujiannya. Sekarang kita ke kamar. Kamu harus minum obat.”


Keduanya beranjak dari mini bar. Gio langsung merangkul pundak Flora dan membawanya ke dalam kamar mereka.


Sampai di kamar, Gio mendudukkan Flora di atas tempat tidur. Gio mengambil obat di koper dan kembali menghampiri Flora. Dengan telaten, Gio membantu Flora meminum obatnya.


“Anak pintar.” Gio mengusap kepala Flora. “Sekarang tinggal kita istirahat. Aku sangat lelah.”


Gio mengambil posisi tidur di sebelah Flora, lalu membawa Flora masuk ke dalam dekapannya. Gio juga menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh istrinya.


“Gio ...,” panggil Flora.


“Ada apa?” tanya Gio.


“Bagaimana dengan tante Dini dan Tina?” tanya Flora.


“Jangan pikirkan orang lain, yang akan menganggu pikiran kita, Flora. Selama kita di sini, aku hanya ingin mengabiskan waktu bersamamu.”


Flora melihat ke arah Gio seraya menganggukkan kepalanya.


“Tidurlah!” Gio memberikan kecupan pada kening Flora. “Selamat malam.”


“Selamat malam.”

__ADS_1


Gio pun mematikan lampu kamar itu dan pergi menuju mimpi indah bersama sang istri.


Jangan lupa tekan jempol, cinta, dan komentarnya.


__ADS_2