Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 181


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu bulan pernikahan Felicia dan Kenzo berjalan. Ada banyak perubahan yang terjadi di dalam hubungan mereka, tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah di antara mereka yaitu perdebatan. Mereka selalu berdebat dalam setiap hal. Orang yang selalu ada di posisi yang kalah adalah Kenzo.


Vera!


Nama perempuan itu masih menjadi bayang-bayang di dalam rumah tangga mereka. Vera juga selalu mencari alasan untuk bisa bertemu dengan Kenzo.


Kenzo selalu berusaha untuk menghindar dari Vera, tetapi perempuan itu masih memiliki banyak alasan untuk membuat Kenzo agar mau menemuinya.


Kenzo tetap menemuinya. Namun, atas izin dari Felicia. Malam itu Vera kembali meminta pada Kenzo agar mau menemuinya. Vera mengatakan ada orang yang sedang mengintai rumahnya. Kenzo datang, tetapi kali ini Kenzo datang bersama istrinya, Felicia.


"Apa ini rumah Vera?" tanya Felicia pada Kenzo.


"Bukan," jawab Kenzo. "Ini rumah yang Vera sewa."


"Kamu mau ikut turun?" tanya Kenzo.


"Ya ayo. Aku juga ingin melihat keadaan mantan kekasihmu itu." Felicia sengaja menekan kata mantan kekasih untuk menyindir Kenzo.


Kenzo menyadari sindiran dari Felicia. "Kalau kamu tidak setuju kita ke sini, maka ayo kita pulang saja."


"Siapa yang bilang tidak setuju? Sudahlah jangan berdebat ayo kita temui Vera. Aku ingin melihat keadaannya. Aku ingin bertanya sendiri kenapa suaminya sampai memukulinya," ajak Felicia.


"Ayo," sambung Kenzo.


Felicia dan Kenzo turun dari dalam mobil bersama-sama. Felicia sempat terkejut saat Kenzo menggenggam tangannya. Hangat! Itulah yang dirasakan oleh Felicia.


"Ayo masuk," ajak Kenzo yang langsung disambut anggukkan kepala oleh Felicia.


Keduanya baru akan melangkah dan mereka sudah dikejutkan oleh seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Kenzo."


Felicia dan Kenzo sama-sama menoleh ke asal suara. Mereka melihat Vera berlari ke arah mereka dan langsung memeluk tubuh Kenzo.


Apa yang dilakukan oleh Vera terhadap Kenzo mengejutkan Felicia dan juga Kenzo sendiri.


"Vera ... lepas!" Kenzo menjauhkan Vera dari dirinya, tetapi Vera menolaknya. Vera tetap memeluk Kenzo dengan erat tanpa menghiraukan keberadaan Felicia di sebelahnya.


"Kenzo, tolong aku!" pinta Vera.


"Ada orang yang memaksa ingin membawaku pergi," ucap Vera.


"Siapa?" tanya Felicia.


Belum sempat Vera menjawab, dua orang pria berbadan kekar keluar dari dalam rumah yang Vera sewa. Vera yang merasa ketakutan langsung bersembunyi di balik tubuh Kenzo.


"Ibu Vera, sebaiknya Anda ikut kami pulang dengan baik-baik," ucap salah seorang pria itu.


"Maaf, kalian siapa?" tanya Felicia.


"Kami orang suruhan pak Wibowo untuk membawa istrinya pulang," jawab pria itu. "Sudah satu bulan ibu Vera kabur dari rumah."


"Bapak Wibowo meminta kami untuk membawa ibu Vera pulang. Beliau merasa cemas dengan kondisi ibu Vera dan juga bayi yang ada di dalam kandungan ibu Vera," ucap pria itu lagi.


"Kandungan?" Kenzo dan Felicia merasa terkejut mendengar perkataan dari kedua pria itu.

__ADS_1


"Jadi kamu sedang hamil, Vera?" tanya Kenzo.


"Kamu tidak mengatakan padaku jika kamu sedang hamil," imbuh Kenzo.


Vera tidak menjawab. Atau mungkin lebih tepatnya tidak ingin menjawab.


"Bapak Wibowo sempat mengatakan pada kami jika ibu Vera mencoba mengugurkan kandungannya. Makanya bapak Wibowo meminta pada kami untuk membawa ibu Vera pulang bagaimanpun caranya," jelas pria itu.


"Mengugurkan kandungannya?" Pandangan Felicia beralih pada Vera. "Kamu keterlaluan Vera!"


"Itu bohong!" tepis Vera. "Mereka hanya mencari alasan untuk memaksaku agar mau kembali ke rumah itu."


Kenzo diam sejenak untuk mencoba berpikir. Dirinya merasa bingung mana yang harus ia percaya.


"Tunggu! Kata Vera, suaminya sering melakukan tindak kekerasan terhadapnya," ucap Kenzo.


"Itu tidak benar! Bapak Wibowo tidak pernah melakukan tindak kekerasan sedikitpun pada ibu Vera. Kami bisa menjamin itu," ucap salah satu dari pria itu.


"Tidak, itu tidak benar. Jangan percaya pada mereka. Mereka tidak tahu apapun tentang rumah tangga kami," tepis Vera.


"Jangan banyak beralasan Ibu Vera! Kami mohon dengan baik-baik agar ikut kami pulang. Kalau tidak, kami akan membawa Ibu Vera dengan paksaan," ancam pria itu.


"Tunggu dulu! Bagaimana kami bisa percaya dengan apa yang baru saja kalian katakan?" tanya Kenzo.


"Kalian bisa datang dan menemui bapak Wibowo untuk menanyakan kebenaran ini," jawab pria itu.


"Sekarang kami mohon jangan halangi kami untuk membawa ibu Vera," pinta pria itu.


"Kenzo ...." Vera menarik Kenzo, menjauhkannya dari Vera.


"Tapi bagaimana jika suaminya melakukan kekerasan lagi terhadapnya?" tanya Kenzo.


"Itu tidak mungkin. Kamu tidak dengar mereka sudah mengatakan jika suaminya tidak pernah melakukan kekerasan pada Vera. Lagi pula Vera sedang hamil. Jadi mana mungkin suaminya tega menyiksa Vera," ucap Felicia.


"Tidak Kenzo! Tolong jangan biarkan mereka membawaku atau suamiku akan menyiksaku lagi," pinta Vera.


"Ayo Ibu Vera ikut dengan kami," ucap pria itu.


"Tidak mau!" tolak Vera.


"Maaf Vera kami tidak bisa menolongmu saat ini. Felicia benar, kami tidak bisa ikut dalam campur urusan rumah tanggamu," ucap Kenzo. "Apalagi kamu sedang hamil. Kamu pasti membutuhkan suamimu."


"Tidak Kenzo. Jika aku pulang dia pasti akan menyiksaku," tolak Vera.


"Jika memang benar suamimu menyiksamu ... kami pasti akan membantumu," ucap Felicia.


"Tidak. Kenzo ... tolong cegah mereka untuk membawaku pergi," pinta Vera dengan air mata yang mengalir dari matanya.


"Ayo Kenzo kita pulang," ajak Felicia.


"Ayo." Kenzo mengangguk setuju.


Felicia dan Kenzo meninggalkan Vera. Mereka masuk ke dalam mobil yang sama tanpa menghiraukan panggilan dari Vera.


Kenzo melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Vera. Jujur ia merasa terkejut mendengar kehamilan dari mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Masih mikirin Vera?" Felicia bertanya pada Kenzo saat melihat suaminya mengemudi dalam diam.


"Aku hanya masih belum percaya jika Vera ternyata sedang hamil dan —" Ucapan Kenzo dipotong oleh Felicia.


"Kenapa? Kamu tidak menerima jika Vera hamil dengan pria lain?" tuduh Felicia.


"Ck, kenapa kamu suka sekali memotong pembicaraanku dan juga menuduhku," decak Kenzo.


"Aku hanya ingin mengatakan, aku tidak percaya jika Vera hamil dan sempat akan menggugurkan kandungannya," jelas Kenzo.


"Apa selama ini Vera tidak memberitahukan akan kehamilannya padamu?" tanya Felicia.


Kenzo menggeleng. "Sama sekali tidak. Dia hanya mengatakan jika dirinya dipukuli oleh suaminya karena Vera tidak mau melayaninya. Pada saat pertama kali aku menemuinya memang wajahnya penuh luka."


"Sepetinya ada yang salah dengan Vera," tebak Felicia.


"Sudahlah untuk sementara jangan pikirkan dia," ucap Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi. Mereka duduk dalam diam. Keheningan mengambil alih suasana perjalanan pulang mereka. Keheningan itu terjadi sampai mereka tiba di rumah.


Kenzo menghentikan laju mobilnya setelah mobilnya masuk ke garasi rumah.


"Ayo kita turun," ajak Kenzo.


Felicia menjawab dengan anggukan kepalanya saja. Kenzo merasa heran saat Felicia tidak bersuara dan terlihat lemas.


"Kamu kenapa?" tanya Kenzo.


"Tidak apa-apa? Hanya merasa pusing," jawab Felicia.


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Kenzo.


"Sebenarnya aku sudah merasa kurang enak badan saat tadi siang," jelas Felicia.


"Kenapa kamu tidak bilang," omel Kenzo.


"Kamu tunggu sini. Biar aku yang buka pintunya," ucap Kenzo.


Kenzo keluar dari dalam mobilnya lebih dulu. Lalu berjalan memutar ke sisi sebelahnya untuk membuka pintu untuk Felicia. Setelah pintu mobil dibuka Kenzo membantu Felicia keluar dari dalam mobil.


"Kamu yakin baik-baik saja? Mau ke Dokter?" tanya Kenzo.


"Tidak usah. Aku mungkin hanya masuk angin dan kurang istirahat saja," tolak Felicia.


"Kamu yakin?" tanya Kenzo disambut anggukkan kepala oleh Felicia.


Kenzo menutup pintu dan mengunci mobilnya. Melihat keadaan istrinya membuat Kenzo tidak tega untuk membiarkan istrinya berjalan. Kenzo berinisiatif mengangkat tubuh Felicia untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kenzo, apa yang kamu lakukan?" Felicia terkejut saat Kenzo mengangkat tubuhnya.


Kenzo tidak menjawab, ia terus saja membawa masuk istrinya ke dalam rumah. Sampai di meja makan Kenzo menurunkan Felicia dan mendudukkannya di kursi meja makan.


"Tunggu di sini. Aku akan membuatkan teh manis hangat untukmu," ucap Kenzo.


"Iya," sahut Felicia.

__ADS_1


Kenapa jadi baik sekali?


__ADS_2