
Gio membawa masuk Flora ke dalam mobilnya dan mendudukkan Flora di kursi penumpang depan. Gio berjalan memutari mobilnya menuju kursi kemudi.
"Flora …," panggil Gio dengan suara yang lembut.
Tidak ada tanggapan dari Flora. Gadis itu hanya diam dengan tatapan kosong.
Gio mengusap darah yang hampir mengering di sudut bibir Flora membuat Flora tersentak.
"Jangan menyentuhku!" teriak Flora. Flora mendorong tubuh Gio disusul tangis histerisnya.
"Flora tenanglah!" Gio ingin menyentuh pundak Flora namun lagi-lagi Flora berteriak. "Flora ini aku … Gio!" Gio membentak Flora membuat Flora tersadar.
Gio menangkup kedua sisi wajah Flora untuk menenangkannya. "Flora dengar … aku Gio. Aku tidak akan menyakitimu, oke. Tenanglah!"
Flora langsung memeluk Gio dan tangisnya kembali pecah di sana.
"Aku sangat takut. Jika kamu tidak datang aku tidak akan bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan padaku," ucap Flora di sela isak tangisnya.
Gio mengusap punggung Flora. "Maafkan aku. Harusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri di atas. Sekarang tenanglah. Aku akan mengantarmu pulang."
Flora menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak mau pulang ke rumah. Bawa aku ke mana pun asal jangan bawa aku pulang. Aku tidak mau ibu melihatku keadaanku yang seperti ini."
Gio melepas pelukannya. "Oke …." Gio mengusap air mata di pipi Flora. "Berhenti menangis. Aku harus obatin luka kamu dulu." Gio kembali mengusap sudut bibir Flora dan membuatnya meringis.
Gio memakaikan Flora seatbelt sebelum ia sendiri memainkannya. Setelah itu Gio melajukan mobilnya meninggalkan area kantor.
Sepanjang perjalanan Flora masih saja menitihkan air matanya. Matanya menatap dengan pandangan kosong. Bayangan mengerikan itu masih terbayang di benak Flora bahkan ia takut untuk memanjakan matanya meskipun hanya sekilas saja.
Gio yang sedang mengemudikan mobilnya sesekali melihat ke arah Flora. Ia merasa iba melihat kondisi Flora. Gio juga tidak menyangka jika wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya bisa menyuruh orang untuk berbuat hal yang menjijikan seperti itu.
Gio membawa masuk mobilnya ke dalam parkiran bawah tanah sebuah gedung apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya Gio mematikan mesin mobilnya serta melepas seatbeltnya.
"Flora kita sudah sampai." Gio melepas seatbelt yang melingkar di tubuh Flora.
Flora hanya merespon dengan anggukan kepalanya saja tanpa mau bertanya dimana mereka saat itu.
Gio keluar dari dalam mobil dan berjalan ke sisi sebelah Flora untuk membantu Flora keluar dari dalam mobil. Keadaan psikis Flora begitu lemah membuat fisik Flora pun ikut lemah. Gio memutuskan untuk mengendong tubuh Flora. Flora langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Gio dan menyembunyikan wajahnya ke perpotongan leher laki-laki itu.
Gio membopong tubuh Flora ke unit apartemennya. Sepanjang perjalanan dari parkiran Gio merasakan tubuh Flora bergetar, telinganya juga mendengar isak tangis Flora.
__ADS_1
Dengan susah payah Gio masuk ke dalam apartemennya dengan masih membopong tubuh Flora. Gio membawa tubuh Flora ke kamar yang ia gunakan untuk tidur. Gio mendudukkan tubuh lemah Flora ke atas tempat tidur.
Gio mengusap kening Flora. "Aku ambil kotak P3k dulu."
Gio keluar dari kamarnya untuk mengambil kotak p3k di ruang tengah apartemen itu. Setelah menemukan apa yang ia cari, Gio kembali ke kamarnya.
Gio mengambil posisi duduk di tepi ranjang di sebelah Flora. Gio membuka kotak p3k untuk mengambil kapas serta cairan antiseptik untuk mengobati luka di sudut bibir Flora.
Gio menempelkan kapas itu ke setiap luka yang ada di tubuh Flora dan membuat Flora meringis menahan perih. Melihat luka di bibir, kening, dan juga lutut Flora, Gio rasanya ingin mematahkan tangan ketiga laki-laki itu.
Selesai mengobati luka Flora, Gio menyuruh Flora untuk beristirahat. Gio beranjak dari tepi tempat tidur untuk mengambil ponselnya yang sedari tadi ia biarkan berdering. Namun Flora menahan tangan Gio untuk tidak meninggalkan dirinya.
"Gio, kamu mau ke mana?" tanya Flora.
"Aku mau menelfon Daniel, dia pasti menunggu kita di restoran."
"Tidak jangan tinggalkan aku. Aku takut sendiri …."
"Tidak Flora … aku tidak akan ke mana-mana, aku di lantai bawah. Lagi pula di sini aman."
Flora menundukkan wajahnya seraya terisak.
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama."
Gio mengusap sisi wajah Flora sebelum keluar dari kamar itu. Setelah berada di lantai bawah Gio mengambil ponselnya, benar ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Daniel. Gio akhirnya menghubungi balik Daniel.
Gio berbicara pada Daniel di sambungan telepon dan menceritakan apa yang terjadi dengan Flora. Selesai berbicara dengan Daniel, Gio kembali ke kamar dimana Flora berada.
Gio masuk ke dalam kamar itu dan mendapati Flora sedang berdiri di balkon kamar itu. Gio melangkah mendekati Flora dan berdiri di sampingnya. Tidak lama Gio melihat kesana-kemari termasuk memeriksa tubuh Flora seakan mencari sesuatu.
Flora dibuat bingung oleh sikap Gio. Dirinya bingung apa yang sebenarnya sedang Gio cari.
"Kami sedang mencari sesuatu?" tanya Flora.
"Ya …," jawab Gio tanpa memandang kearah Flora.
"Apa yang sedang kamu cari?" tanya lagi Flora.
"Senyummu …," jawab Gio.
__ADS_1
Seketika Flora mengulas senyum di bibirnya mendengar jawaban Gio.
"Nah itu dia, aku sudah menemukannya," ucap Gio setelah melihat senyum di bibir Flora.
"Kamu menyebalkan, Gio," ucap Flora.
"Terima kasih," sahut Gio.
Untuk sesaat hening mengambil alih suasana diantara Flora dan Gio. Senyum Flora kembali luntur ketika ingatannya kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu. Sungguh ia merasa sangat beruntung Gio datang tepat waktu sebelum ketiga laki-laki itu melakukan sesuatu yang buruk terhadap dirinya.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Gio.
Flora mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Gio sebelum mengangguk.
"Ini apartemenmu?" tanya Flora tanpa melihat ke arah Gio.
"Iya …."
"Boleh aku menginap di sini untuk semalam? Aku takut untuk pulang. Aku tidak mau ibu melihat kondisiku saat ini," ucap Flora.
"Tentu saja. Kamu mau tinggal di sini juga boleh, aku akan merasa senang," balas Gio.
"Terima kasih."
Gio meraih kedua pundak Flora, mengarahkan tubuh Flora agar mau menghadap dirinya.
"Flora … aku ingin minta maaf padamu," ucap Gio.
"Minta maaf? Untuk apa?" tanya Flora bingung.
"Sebenarnya tante Mariana yang menyuruh ketiga orang itu untuk melecehkan dirimu," jawab Gio.
Flora sebenarnya tidak terlalu terkejut mendengar itu. Dirinya sudah menduga sebelumnya.
"Sebenarnya apa salahku pada nya? Dia menyuruhku untuk menjauhi anaknya dan aku sudah melakukan itu." Flora menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.
"Kamu tahu, Gio? Waktu ibunya Daniel menemuiku dan ingin berbicara denganku di pantry, saat itu dia mengatakan jika dia akan merestui hubungan ku dengan Daniel jika aku berhasil membujuk Daniel agar mau berebut kursi kepemimpinan di perusahaan itu denganmu tetapi saat itu aku menolaknya. Aku tidak ingin mereka merestui kami dengan cara seperti itu dan aku juga tidak mau menekan Daniel. Apa dia begitu membenciku karena itu? Apa karena aku ini anak haram jadi dia membenciku? Jawab Gio! Apa aku ini tidak pantas untuk bahagia …." Flora menjerit mengeluarkan seluruh emosi di dalam dirinya.
Gio langsung menarik tubuh Flora ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat berharap bisa meredam emosi yang ada di dalam diri Flora.
__ADS_1
"Aku akan selalu menjagamu, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi lagi padamu, aku janji Flora."