
Flora diperbolehkan untuk pulang setelah empat hari dirawat di rumah sakit. Flora masih ada di dalam kamar inapnya menunggu kedatangan Daniel yang sedang mengurus administrasi rumah sakit.
Flora duduk di atas tempat tidur dengan ditemani oleh Seruni dan Mariana. Susan dan Abi sudah lebih dulu pulang ke Indonesia untuk mengurus pekerjaan mereka.
“Kamu yakin sudah baik-baik saja, Nak?” tanya Seruni.
“Iya, Bu. Aku sudah merasa lebih baik,” jawab Flora.
Flora memang baik-baik saja, tetapi Flora masih sangat terpukul dengan menghilangnya Gio. Semua usaha sudah Flora lakukan untuk mencari suaminya, termasuk meminta bantuan dari kepolisian di Negara itu. Namun, hasilnya masih nihil. Gio menghilang tanpa jejak, seperti ditelan oleh bumi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu di depan kamar inapnya mengalihkan pandangan Flora, Seruni, serta Mariana. Ketiganya melihat ada dua orang polisi masuk ke dalam ruangan itu.
“Selamat siang, Nyonya.” Salah seorang polisi menyapa Flora.
“Selamat siang juga.” Flora balik menyapa.
“Apa ada perkembangan tentang keberadaan suami saya?” tanya Flora tanpa basa-basi.
“Maaf, Nyonya ... kami belum mendapatkan petunjuk apapun. Tapi saya menyimpulkan jika suami Anda sudah tiada. Itu dilihat dari banyaknya darah yang tercecer di lantai basement itu,” ucap salah seorang polisi.
“Dan mungkin saja penjahat itu sudah membuang mayat suami Anda untuk menghilangkan jejak,” lanjut polisi itu.
“Saya tidak akan mempercayai semua itu, jika saya tidak melihat mayat suami saya,” ucap Flora diikuti isak tangisnya.
“Kami permisi dulu, Nyonya. Kami akan berusaha menemukan suami Anda.” Ketiga polisi itu pergi dari ruang rawat inap Flora.
“Sudah, Nak. Ikhlaskan Gio,” ucap Seruni.
“Tapi, Bu ....” Flora menundukkan wajahnya.
“Kami juga sedih mendengar kabar ini. Tapi tolong, Nak ... jangan seperti ini,” ucap Mariana.
“Iya, Nak. Dengan iklhas ... Gio akan tenang di sana,” ucap Mariana.
“Aku nggak bisa, Bu. Sebelum aku melihat mayat Gio sendiri ... baru aku akan percaya jika dia sudah tiada,” ucap Flora.
Flora mengusap air matanya sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu. Seruni yang terkejut langsung mengejar Flora bersama dengan Mariana.
“Flora tunggu, Nak!” Seruni mengejar Flora di koridor rumah sakit.
“Flora kamu mau ke mana?” langkah Flora terhenti saat Daniel berada tepat di hadapannya.
“Aku harus menemui Brian sendiri,” jawab Flora.
“Untuk apa lagi, Flora? Lagi pula polisi tidak menemukan bukti jika Brian terlibat dengan hilangnya Gio,” jelas Daniel.
“Aku tidak percaya! Mungkin saja Brian menyuap para polisi itu,” ucap Flora.
“Flora —” Flora memotong perkataan Daniel.
__ADS_1
“Cukup Daniel!” Flora menunjukan telapak tangannya di hadapan Daniel.
“Jangan halangi aku,” ucap Flora.
Flora melangkah melewati Daniel, tanpa mau mendengarkan siapapun.
Daniel menghentikan langkah Flora dengan menahan lengan tangannya. “Aku ikut. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri.”
“Kami berdua pergi dulu, Mah, Ibu. Kami permisi,” pamit Daniel.
“Kalian hati-hati di jalan,” ucap Seruni diikuti anggukan Mariana.
Tidak ada pembicaraan lagi. Flora dan Daniel keluar dari rumah sakit menuju perusahaan milik Brian.
Sepanjang perjalanan Flora dan Daniel tidak saling bicara. Dalam pikirannya Flora terus memikirkan di mana keberadaan suaminya sekarang. Flora berharap suaminya baik-baik saja di manapun dia berada.
Mobil yang ditumpangi Flora dan Daniel berhenti di perusahaan yang merupakan milik Brian. Keduanya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam perusahaan itu.
“Aku ingin bertemu dengan Brian,” ucap Flora pada petugas resepsionis di perusahaan itu.
“Apakah Anda sudah membuat janji dengan beliau?” tanya petugas resepsionis itu.
“Saya harus bertemu dengannya sekarang juga! Tunjukkan di mana ruangannya!” Dalam kemarahannya Flora menggebrak meja resepsionis dan langsung mengejutkan semua orang yang melihatnya.
“Flora, sabar ... tenang dulu,” ucap Daniel. “Kita tidak akan bisa bertemu dengannya jika kamu bersikap seperti ini. Kita justru akan diusir dari tempat ini.”
Mendengar perkataan Daniel, Flora menarik nafasnya untuk meredam emosi dalam diri.
Melihat mata Flora berkaca-kaca membuat petugas di resepsionis itu menjadi tidak tega.
“Baiklah, saya akan coba untuk menghubungi sekretarisnya dulu,” jawabnya.
“Katakan padanya jika aku Flora Giovani Ferdinand ingin bertemu dengannya,” ucap Flora.
“Baik, Nyonya.”
Flora tetap berdiri di hadapan meja resepsionis. Menunggu resepsionis yang sedang menelepon dan berbicara pada sekretaris Brian.
Tidak lama dalam petugas di bagian resepsionis meminta Flora untuk langsung ke ruangan Brian yang ada di lantai 10 di perusahaan itu.
“Ayo Daniel!” ajak Flora.
Flora dan Daniel segera melangkah menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat ruangan Brian berada.
Lampu di dalam lift sudah menunjukan angka sepuluh. Setelah pintu lift terbuka, Flora dan Daniel keluar dari dalam lift. Mereka langsung melangkahkan kakinya ke ruangan Brian.
“Aku ingin bertemu dengan atasanmu.” Flora berucap pada sekretaris Brian.
“Apa Anda Nyonya Flora?” tanya Sekertaris Brian.
“Ya.” Flora menjawab dengan cepat.
__ADS_1
“Silahkan masuk, Nyonya. Tuan Brian sudah menunggu Anda,” ucap sekertaris Brian.
“Ayo, Flora!” ajak Daniel.
“Tunggu, Tuan! Brian hanya ingin bertemu dengan Flora,” ucap sekretaris Brian.
“Tapi —” Ucapan Daniel dipotong oleh Flora.
“Tidak apa-apa, Daniel. Jika terjadi sesuatu aku akan berteriak untuk memanggil dirimu,” ucap Flora.
“Baiklah hati-hati. Aku akan menunggumu di sini,” balas Daniel.
Flora mendorong pintu dan masuk ke ruangan kerja Brian. Mata Flora melihat Brian duduk dengan meletakkan kedua kakinya di atas meja. Ada Tina juga di ruangan itu.
“Di mana kamu menyembunyikan suamiku, Brian?” tanya Flora tanpa basa-basi.
Brian tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang Flora lontarkan.
“Ternyata kamu lebih cantik dari yang ada di foto. Betapa beruntungnya laki-laki brengsek itu memiliki istri secantik dirimu,” ucap Brian.
“Jangan berani kamu menghina suamiku lagi,” balas Flora.
“Kamu semakin cantik jika sedang marah,” ucap Brian yang terkesan sedang menggoda Flora. “Silahkan duduk. Kita bisa mengobrol lebih santai,” ucap Brian.
“Aku datang ke sini bukan untuk duduk ataupun mengobrol denganmu. Aku bertanya sekali lagi padamu ... di mana kamu menyembunyikan suamiku!” Flora berucap dengan suara lantang.
“Flora ... apa alasan kamu menuduh kakakku. Polisi juga tidak menemukan bukti atas keterlibatan kakakku dengan hilangnya suamimu,” ucap Tina.
“Aku tidak percaya!” tegas Flora.
“Kamu —”
“Stttt ... diamlah adikku! Jangan bicara kasar pada tamu kita. Apalagi tamu kita secantik ini.” Brian ingin menyentuh wajah Flora. Namun, Flora segera menghindar.
“Don't touch me, Brian!” Flora menatap Brian dengan tajam serta menunjuk Brian dengan tangannya.
Brian tidak suka dengan tatapan itu. Tanpa seizin Flora, Brian langsung mencengkram pergelangan tangan yang Flora gunakan untuk menunjuk dirinya.
“Tanganmu sangat halus.” Seringai licik ditunjukkan oleh Brian. “Kamu pasti butuh sandaran setelah suamimu pergi. Aku bersedia menggantikannya.”
“Lepaskan aku!” Flora melepaskan tangannya dari cengkraman Brian.
Plaaaak
Flora mendaratkan tamparan keras di wajah Brian.
“Jangan bermimpi, Brian,” ucap Flora penuh penekanan.
“Berani sekali kamu menampar kakakku!” Tina mendorong Flora.
“Aaaaa!”
__ADS_1
Beruntung ada yang menahan tumbuh Flora. Membuat tubuh Flora tidak terjatuh ke lantai.