Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ending Season 2 (3)


__ADS_3

Malam hari tiba, sudah waktunya untuk beristirahat, tetapi Felicia masih berguling ke kanan dan ke kiri mencari posisi tidur yang nyaman. Di usia kehamilan yang sudah memasuki trimester akhir memang membuat Keisha kesulitan untuk tidur. Posisi tidurnya juga harus selalu miring ke kiri agar dapat membantu meningkatkan aliran darah ke janin dan memperbaiki sirkulasi darah ibu hamil ke jantung.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi Felicia belum bisa memejamkan matanya tanpa usapan Kenzo dirinya tidak bisa tidur dan sekarang suaminya masih duduk di sofa sambil memperhatikan layar laptop. Felicia bangun dan mengambil posisi duduk, ia menyeret tubuhnya sambil memegangi perutnya yang sudah membesar.


"Apa kamu tidak lelah terus bekerja?" tanya Felicia.


"Tentu saja aku sangat lelah, Sayang," jawab Kenzo tanpa menoleh ke arah Felicia.


"Kalau begitu, istirahatlah!" suruh Felicia


"Iya sebentar lagi, Sayang. Ini hari terakhir aku bekerja, besok aku sudah mulai cuti dan waktuku nanti hanya untukmu." Kenzo melihat sekilas ke arah Felicia dengan memperlihatkan senyumnya.


Felicia membalas senyuman yang diberikan oleh Kenzo. Ia merasa bersalah karena sebelumnya tidak mempercayai suaminya dan kini suaminya harus bekerja keras hanya untuk menyenangkan dirinya.


Felicia beranjak dari tempat tidur sambil memegangi perutnya yang sudah terasa sangat berat. Ia berjalan ke dekat Kenzo sambil menahan rasa sakit di area intinya. Selangkah Keisha berjalan dan berhenti saat rasa sakit itu datang lagi. Felicia menarik napas dan mengembuskannya kembali, saat rasa sakit itu mereda Felicia kembali melangkah.


Dengan susah payah akhirnya Felicia sampai di tempat Kenzo. Perlahan Felicia mendudukkan dirinya di sofa panjang tepat di samping Kenzo. Felicia kembali mengembuskan napas lega saat ia sudah duduk. Kehamilan Felicia sudah memasuki minggu ke tiga puluh sembilan. Rasa mulas juga sudah sering terasa.


Sudah hampir tiga hari rasa mulas di perut dan rasa tidak nyaman di bagian inti tubuhnya sering terasa. Felicia tidak tahu kenapa, Felicia berkonsultasi kepada Dokter dan juga ibu serta ibu mertuanya. Jawaban mereka sama yaitu persalinannya sudah dekat. Mendengar itu jantung Felicia berdebar-debar.


Felicia melihat Kenzo terus menguap, ia tidak tega melihat Kenzo dengan wajahnya yang lelah.'


"Istirahatlah!" Felicia menumpuk tangannya di atas tangan Kenzo.


Kenzo yang sedang memeriksa berkas menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Felicia. Karena fokus pada pekerjaannya, Kenzo sampai tidak menyadari Felicia sudah ada di sampingnya.


"Kenapa kamu malah ke sini? Tidurlah! Dari kemarin kamu kurang tidur," ucap Kenzo.


"Bagaimana aku bisa tidur tanpamu," ucap Felicia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya, Maaf." Kenzo mengusap kepala Felicia.


"Apa pekerjaanmu masih banyak?" tanya Felicia.


"Tinggal satu lagi." Kenzo menunjukkan satu berkas yang belum ia periksa kepada Felicia.


"Sebaiknya kamu istirahat, lanjutkan ini besok saja," suruh Felicia.


"Kamu terlihat sangat lelah," ucap Felicia.


"Ini harus selesai sekarang, Sayang." Kenzo tetap bersikeras untuk menyelesaikan pekerjaannya padahal wajahnya terlihat sangat mengantuk.


Felicia hanya bisa mengela napasnya. Ia tahu betapa keras kepalanya Kenzo jika menyangkut masalah pekerjaan.


"Baiklah, terserah padamu saja. Tapi ... aku mohon jangan terlalu memaksakan diri," ucap Felicia.

__ADS_1


"Iya, Sayangku." Kenzo menarik tengkuk Felicia dan mendaratkan kecupan di kening Felicia bergantian dengan perut buncit Felicia.


"Mau aku buatkan kopi?" tawar Keisha.


"Boleh." Kenzo menjawab sambil menguap.


"Baiklah, tunggulah di sini!" Felicia beranjak dari sofa dan keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian Felicia kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi.


"Kenzo, ini kopinya ...." Felicia mengela napasnya setelah itu senyum mengembang di bibirnya saat melihat Kenzo sudah tertidur.


Felicia menutup pintu sambil menggelengkan kepalanya melihat posisi tidur Kenzo. Suaminya mungkin sudah sangat mengantuk hingga tertidur dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya bersandar di punggung sofa, tangannya juga masih memegang map. Setelah meletakkan cangkir kopi yang dibawanya Felicia membenarkan posisi tidur suaminya.


Tidak mungkin bagi Felicia untuk memindahkan Kenzo ke tempat tidur. Felicia mengambil bantal di atas tempat tidur lalu menata bantal di sisi sofa, setelah itu perlahan ia memindahkan kepala Kenzo ke atas bantal dan mengangkat kaki Kenzo memindahkannya ke atas sofa. Felicia kembali ke tempat tidur untuk mengambil selimut. Wanita hamil itu kembali ke sofa untuk menyelimuti tubuh suaminya dengan selimut yang dibawanya.


"Sudah tahu mengantuk masih saja memaksakan diri." Felicia menggerutu saat melihat Kenzo tertidur dengan sangat pulas.


Setelah itu Felicia membereskan berkas pekerjaan Kenzo. Saat sedang menumpuk berkas di atas meja tiba-tiba saja Felicia merasakan rasa sakit di perut dan menjalar ke pinggangnya yang sudah sangat tidak bisa tahan.


"Kenzo!" pekik Felicia.


Kenzo terkejut saat mendengar Felicia berteriak memanggil namanya. Rasa terkejut itu bertambah saat mendengar suara benda pecah. Ternyata tangan Felicia menyenggol cangkir kopi membuat cangkir itu terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang nyaring.


"Felicia." Kenzo langsung bangun dan segera menghampiri Felicia. Rasa kantuk yang tadinya menguasai dirinya hilang melihat istrinya sedang kesakitan sambil memegangi perutnya.


Felicia yang merasa sangat kesakitan hanya mampu menggelengkan kepalanya.


"Ayo duduklah di sini!" Kenzo membantu Felicia berdiri dan mendudukkannya di sofa,


"Sakit!" Rasa sakit yang tidak tertahankan membuat Felicia menggigit pundak Kenzo untuk melampiaskannya.


Kenzo meringis menahan rasa sakit di pundaknya, ia tidak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan karena yang ia pedulikan saat itu adalah Felicia.


"Tunggu di sini sebentar. Aku akan memanggil bibi," ucap Kenzo.


"Jangan pergi!" Felicia mencegah Kenzo pergi.


"Sayang, tunggulah sebentar. Aku akan memanggil Bibi," ucap Kenzo.


"Tapi ... sakit ...." Felicia masih merintih.


Kenzo juga tidak bisa meninggalkan Felicia dalam keadaan seperti itu, tidak ada cara lain, Kenzo memanggil Bibi melalui sambungan telepon dan meminta pada asisten rumah tangganya untuk segera datang ke kamarnya.


Tidak lama bibi datang bersama dengan suaminya, Bibi menghampiri Felicia yang sedang merasa sangat kesakitan.

__ADS_1


"Ibu, kenapa?" tanya bibi dengan raut wajahnya yang cemas.


"Bi ... sakit," rintih Felicia.


"Sepertinya ibu mau melahirkan Pak," ucap Bibi sambil melihat ke arah Kenzo.


"Melahirkan?" Kenzo nampak terkejut mendengar ucapan asisten rumah tangganya.


Jelas Kenzo merasa terkejut pasalnya hari perkiraan lahir anak mereka masih sekitar satu minggu lagi.


"Tapi ... hari perkiraan lahirnya masih 1 minggu lagi, Bi," ucap Kenzo.


"Melahirkan memang tidak bisa diprediksi, Pak. Kalau si jabang bayi sudah ingin keluar bagaimana?" ucap Bibi.


"Sebaiknya cepat bawa ibu ke rumah sakit," ucap Bibi.


"Sakit!" Felicia masih merintih.


"Sabar ya, Bu." Bibi mengusap keringat yang ada di kening Felicia.


"Ayo bangun, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang," ajak Kenzo.


Felicia menggeleng, ia merasa tidak kuat untuk berjalan. "Aku tidak kuat untuk bangun ataupun berjalan."


Kenzo merasa bingung, dalam keadaan Felicia dengan perut besarnya tidak mungkin bagi Kenzo untuk menggendongnya.


"Tolong ambilkan kursi roda di luar," suruh Kenzo pada suami bibi.


Suami Bibi keluar dan kembali ke kamar itu dengan membawa kursi roda. Kenzo memindahkan Felicia ke kursi roda dan segera membawa Felicia ke rumah sakit.


Kenzo mendudukkan Felicia di bangku penumpang belakang dengan ditemani oleh bibi. Setelah itu Kenzo masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi. Sebelum melajukan mobil, Kenzo lebih dulu menghubungi Alan untuk lebih dulu pergi ke rumah sakit.


Kenzo mengendari mobilnya, matanya sesekali melirik ke kaca spion yang ada di depannya, melihat Felicia yang sedang duduk di bangku belakang bersama asisten rumah tangganya. Melihat Felicia terus kesakitan Kenzo mengendari mobilnya dengan perasaan yang cemas. Namun, sebisa mungkin Kenzo tetap berkonsentrasi pada kemudinya. Jarak dari rumah ke rumah sakit cukup jauh. Namun karena Kenzo mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi, setengah jam saja mereka sudah sampai di rumah sakit.


Kenzo menghentikan laju mobilnya tepat di depan ruang UGD. Di sana sudah ada Alan yang menunggu. Kenzo segera keluar dari mobil dan mengeluarkan Felicia dibantu oleh Alan.


Dua orang perawat datang dengan membawa brankar untuk membawa Felicia. Dua perawat itu langsung membawa Felicia ke sebuah ruangan. Di sana sudah ada Dokter wanita yang siap untuk memeriksanya. Kenzo berdiri di samping Felicia dengan menggenggam tangan sang istri. Felicia sama sekali tidak ingin jauh dari suaminya.


"Bagaimana, Dok? Apa istri saya benar akan melahirkan?" tanya Kenzo.


"Ibu Felicia sudah memasuki pembukaan delapan. Kami harus membawanya segera ke ruangan bersalin," jawab Dokter setelah memeriksa Felicia.


"Apa?"


Jantung Kenzo berdegup begitu kencang mendengar ucapan Dokter. Sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan anaknya secara langsung.

__ADS_1


Kenapa Bab-nya jadi banyak ya? Kwkwkw


__ADS_2