
Maaf baru bisa up. Lagi gak vit.
Nama Felicia Aurora Ferdinand sudah ditetapkan menjadi nama untuk anak pertama Flora dan juga Gio. Bayi perempuan itu seolah memberikan warna baru di dalam rumah tangga mereka.
Gambar hanya pemanis by pinterest.
Kondisi Flora dan bayinya sehat, Dokter pun sudah memperbolehkan keduanya untuk pulang. Setelah mengurus administrasi rumah sakit, Gio bisa membawa Flora dan bayinya pulang ke rumah mereka.
“Anak mama ... ayo kita pulang,” ucap Flora pada bayinya seolah bayinya bisa merespon ucapannya.
“Flora ... sini berikan Felicia sama ibu,” Suruh Seruni. “Biar ibu yang gendong cucu ibu yang cantik ini.”
“Iya, Bu. Anak mama sama nenek dulu ya.” Flora memberikan bayinya kepada ibunya.
“Sayang, kamu duduk sini biar aku dorong.” Gio meminta istrinya untuk duduk di kursi roda yang ia bawa.
“Aku tidak mau. Aku masih bisa jalan, Suamiku,” tolak Flora.
“Tapi kamu baru kemarin melahirkan. Aku takut kamu masih lemas,” ucap Gio.
“Gak kok ... aku masih kuat jalan. Lagian aku 'kan gak sakit parah sampai harus duduk di kursi roda,” tolak Flora.
“Beneran? Kamu gak lemes?” tanya Gio.
“Iya, Sayangku,” ucap Flora.
“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau kamu gak kuat jalan, bilang ya,” ucap Gio.
“Iya, Suamiku,” sahut Flora diikuti tawa kecilnya.
“Ternyata keponakan tante bisa manis juga,” goda Mariana.
“Tante baru tahu kalau aku manis,” ucap Gio.
“Tante, jangan muji Gio. Kalau dipuji sedikit kepalanya langsung bertambah besar,” ledek Flora yang langsung dibalas cibiran oleh Gio.
“Sudah ayo kita pulang. Ngejek Gio nya nanti saja di rumah,” ucap Seruni.
“Ibu kok jadi ikut-ikutan mereka,” protes Gio.
Tawa Flora, Mariana, dan Seruni langsung pecah saat melihat ekspresi wajah Gio yang menurut mereka sangat lucu.
Gio kembali menaruh kursi roda ke sudut ruang itu. Gio kembali ke dekat istrinya, lalu melingkarkan tangannya ke sepanjang pinggang istinya.
“Ayo kita pulang.”
Keempat orang itu melangkah menuju lobby rumah sakit. Mobil jemputan mereka sudah ada di tempat itu menunggu mereka.
“Ayo, Ibu dan Felicia masuk ke dalam mobil duluan,” suruh Flora.
“Kalian masuklah aku bawa mobil sendiri,” ucap Gio.
“Aku ikut mobil kamu saja, Suamiku,” pinta Flora.
“Baiklah, ayo.” Gio menggandeng tangan istrinya lalu membawanya ke tempat mobilnya terparkir.
“Kamu capek?” tanya Gio.
“Sedikit,” jawab Flora.
Flora melepaskan genggaman tangannya, lalu melingkarkan tangannya ke lengan suaminya.
“Mau aku gendong?” tanya Gio.
“Tidak, jangan. Banyak orang di sini, aku malu jika kamu menggendongku,” tolak Flora.
“Bagus kamu menolaknya,” ucap Gio.
__ADS_1
“Kenapa memangnya?” Flora menaikan satu alisnya.
“Karena aku tidak akan kuat menggendongmu sekarang. Lihat saja, tubuhmu masih lebar,” jawab Gio seraya menahan tawanya.
“Kamu ....” Mata Flora mendelik ke arah Gio. Cubitan pun Flora berikan tepat di perut laki-laki berstatus suaminya itu.
“Awww!” pekik Gio. “Ini sakit.”
“Rasakan itu. Baru kemarin aku berjuang untuk melahirkan anakmu dan kamu sudah mengejekku.” Flora berucap dengan menunjukan wajah galaknya.
“Oh, Sayangku ... jangan tunjukan wajah galakmu itu. Aku tidak bisa menahannya,” ucap Gio.
“Rasanya aku ingin memakanmu,” bisik Gio.
Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda Flora.
“Jangan menggodaku. Ingat ya kamu harus puasa 40 hari,” ucap Flora.
“Kenapa harus selama itu,” keluh Gio. “Apa tidak bisa dikurangi?”
“Itu sudah tidak bisa ditawar, Suamiku.” Flora berucap seraya menahan tawanya.
“Ck, aku bisa gila menunggumu selama itu,” rengek Gio.
Flora tertawa melihat ekspresi wajah Gio yang menurutnya sangat lucu.
“Ini baru dua hari. Kamu masih harus menunggu 38 hari lagi,” ledek Flora.
“Lihat saja aku memakanmu habis setelah waktunya tiba,” ucap Gio.
“Benarkah?” tanya Flora sedikit meledek suaminya.
“Itu pasti.” Gio menjawab penuh keyakinan.
“Aku akan menantikannya.” Kini Giliran Flora yang mencoba untuk menggoda suaminya.
Gio dan Flora masih melangkah menuju tempat mobil Gio terparkir. Keduanya asyik dengan dunia mereka sendiri tanpa memperhatikan orang-orang yang sedang melihat ke arah mereka.
“Sayang, turunkan aku. Banyak orang yang melihat kita,” suruh Flora.
“Biarkan saja. Aku hanya menggendong istriku yang baru saja melahirkan. Lalu apa salahnya?” Gio tidak peduli dengan pandangan semua orang. Karena yang ia pedulikan hanyalah istrinya.
“Tapi aku malu,” ucap Flora.
“Memangnya kamu buat salah apa sama mereka? Hingga kamu harus merasa malu kepada mereka?” tanya Gio tanpa berhenti melangkah.
“Memang susah ngomong sama laki-laki yang tidak tahu malu sepertimu.” Flora mengerucutkan bibirnya, tetapi justru membuat Gio terkekeh.
“Sudah sampai.” Gio menurunkan Flora setelah mereka sampai di samping mobilnya.
“Tanganku sakit, ternyata kamu masih sangat berat,” ucap Gio.
“Salah sendiri kenapa menggendongku? Aku tidak menyuruhmu,” ucap Flora.
“Tapi aku yang mau, Sayangku,” balas Gio.
Flora diam karena sudah kehabisan kata-kata. Dalam hal berdebat, suaminya selalu menjadi pemenangnya.
“Sudah, jangan cerewet. Ayo masuk.” Gio membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Setelah Flora sudah masuk ke dalam mobil, Gio berjalan memutar ke sisi lain mobil. Gio duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.
“Sayang, kamar Feli bagaimana?” tanya Flora. “Kemarin kita belum sempat beresin loh?”
Gio meraih tangan Flora untuk ia kecup punggung tangannya. “Tenang saja ... semuanya sudah beres.”
“Benarkah?” tanya Flora.
“Tentu saja. Suamimu yang terbaik ini sudah membereskan semuanya,” ucap Gio.
__ADS_1
“Kamu istirahat saja, nanti jika kita sudah sampai aku akan membangunkan dirimu,” suruh Gio dan langsung dianggukki oleh Flora.
Mobil Gio melesat cepat membelah jalanan kota bersama kendaraan lainnya. Gio dan Flora sampai ke rumah meraka bersamaan dengan mobil yang membawa ibu mertuanya.
Merasakan laju mobil berhenti Flora membuka matanya. Ternyata mereka sudah sampai. Flora langsung turun dari mobil bersama dengan suaminya.
“Mau aku gendong lagi?” ledek Gio.
“Gak usah, aku takut tangan kamu patah.” Flora balas meledek Gio.
“Kamu manis sekali,” ucap Gio.
“Apa kalian tidak ingin masuk? Kalian masih tetap ingin bermesraan di situ?” Mariana berkacak pinggang tidak jauh dari tempat mereka.
Gio dan Flora menanggapi omelan Mariana dengan senyuman mereka.
“Iya, Tante ... kami akan masuk,” ucap Flora.
Gio dan Flora masuk ke dalam rumah mengikuti Mariana. Tangan mereka menyatu mengisi setiap ruang pada sela-sela jari mereka.
“Felicia langsung bawa ke kamarnya saja, Bu,” suruh Gio.
“Baiklah,” sahut Seruni. “Ayo cucu nenek, kita lihat kamar kamu.” Seruni berucap pada cucu pertamanya.
Seruni membawa Felicia ke kamar yang sudah disiapkan khusus untuk Felicia.
Gio sengaja menyiapkan kamar bayi tepat di samping kamar tidurnya, agar mempermudah mereka jika sewaktu-waktu Felicia menangis tengah malam.
“Ini dia kamarnya,” seru Gio.
“Kamu yang menyiapkan ini semua, Suamiku?” tanya Gio.
“Tentu saja,” jawab Gio.
“Kapan kamu menyiapkan ini?” tanya Flora.
“Kapan saja, aku tinggal telepon dan semuanya beres,” jawab Gio.
“Kamu yang terbaik, Suamiku,” puji Flora.
“Kamu hanya memujiku untuk semua ini?” tanya Gio.
Flora mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang diinginkan lagi oleh suaminya. “Terus aku harus apa?”
“Setidaknya berikan aku satu ciuman,” pinta Gio dengan berbisik.
“Apa? Cium?” Flora gugup sendiri.
“Ayolah, hanya cium. Itu tidak berat 'kan?” ucap Gio.
“Ta-pi ... ada ibu dan Tante loh. Malu tahu,” ucap Flora.
Keduanya bicara dengan cara berbisik-bisik dibelakang Seruni dan juga Mariana. Mereka pikir jika dua wanita paruh baya itu tidak mendengar mereka.
“Biarkan saja. Anggap saja mereka tidak ada,” ucap Gio.
“Gio ... Ibu dengar loh,” ledek Seruni.
“Dasar tidak tahu malu,” imbuh Mariana.
“Sudah, Jeng. Kita tinggalkan saja mereka, biarkan mereka istirahat. Ayo saya buatkan minum dulu,” ajak Seruni.
“Itu boleh juga.” Mariana dan Seruni keluar dari ruang bayi itu.
“Eh, tunggu dulu.” Mariana menghentikan langkahnya. Pandangannya ia arahkan pada Gio, keponakannya.
“Ingat Gio ... istri kamu habis melahirkan. Jangan diapa-apain dulu. Tunggu sampai 40 hari.”
__ADS_1
“Tante ... ngapain pake acara diingetin sih.” Tubuh Gio lemas dan langsung membangkitkan tawa Flora, Seruni, dan juga Mariana.