Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Perubahan Sikap Gio


__ADS_3

Flora teringat akan ucapan Gio, saat kita mendapatkan sesuatu kadang kita juga harus kehilangan sesuatu. Dan itu memang benar, saat Flora mendapatkan Gio, dirinya kehilangan ayah kandungnya.


Flora merasa tidak adil belum lama ia bertemu dengan ayah kandungnya, dan kini harus kembali kehilangan dan itu untuk selamanya.


“Flora,” panggil Seruni.


Flora yang sedang duduk di teras samping rumah Farhan langsung menghapus air matanya.


“Iya, Bu,” sahut Flora.


“Ibu tahu kamu bersedih, tapi ibu berpesan jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kamu juga harus memikirkan suami kamu. Hibur dia, ibu lihat dia terpukul banget,” ucap Seruni.


“Iya, Bu,” sahut Flora.


“Ini sudah malam, ibu pulang ya,” pamit Seruni.


“Loh, ibu gak nginep lagi di sini?” tanya Flora.


“Gak, Nak. Ibu sudah satu minggu nginap di sini. Ibu gak enak sama Gio dan keluarganya kalau ibu kelamaan nginep di sini,” jawab Seruni.


“Baiklah, Bu. Biar Flora suruh supir buat antar Ibu,” ucap Flora yang langsung dianggukki oleh Seruni.


Flora mengantar ibunya sampai teras rumah. Setelah ibunya masuk ke dalam mobil dan pergi, Flora kembali masuk ke rumah itu.


“Bu, Flora.” Flora menghentikan langkahnya saat pembantu di rumah itu memanggilnya.


“Ada apa, Bi?” tanya Flora.


“Makan malam sudah siap, Bu,” ucapnya.


“Nanti saja, Bi. Aku belum lapar,” sahut Flora.


“Bapak juga belum makan dari tadi siang, bibi takut bapak sakit,” ucapnya.


“Bapak belum makan?” tanya Flora yang langsung dianggukki oleh pembantu di rumah itu. “Lalu bapak di mana sekarang?”


“Ada di dalam kamar, tadi bibi sudah panggil-panggil, tapi bapak bilang belum mau makan,” terangnya.


“Baiklah, Bi. Biar saya bawakan makanan buat bapak ke kamar saja,” ucap Flora.


Flora melangkah ke meja makan untuk mengambil nasi dan beberapa lauk untuk makan malam Gio. Setelah siap, Flora membawanya ke dalam kamar Gio.


“Sini bibi bantu,” tawarnya.


“Tidak usah, Bi. Aku bisa kok,” tolak Flora. “Bibi beresin yang lain saja,” lanjut Flora.


“Baik, Bu.”


Flora melangkahkan meninggalkan dapur dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Gio. Sampai di depan kamar Gio, Flora membuka pintu kamar itu menggunakan sikunya. Flora masuk setelah pintu terbuka.


“Gio aku bawakan makan malam buat kamu,” ucap Flora.

__ADS_1


Gio yang sedang menelfon seseorang terkejut saat Flora tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Gio langsung mematikan sambungan teleponnya.


“Apa kamu tidak punya sopan santun. Jika mau masuk ke kamar orang, harusnya kamu ketuk pintu dulu,” ucap Gio.


“Gio ... apa yang kamu katakan?” ucap Flora.


Flora sangat terkejut mendengar perkataan Gio.


“Apa aku kurang jelas mengatakannya? Hah!” ucap Gio dengan nada ketus.


“Dengar Flora, lain kali jika kamu mau masuk ke kamarku ketuk pintu lebih dulu,” ucap Gio lirih, tetapi penuh dengan penekanan.


“Baiklah.” Flora mengangguk dengan wajah tertunduk.


“Sekarang kamu makan dulu. Kata bibi kamu belum makan dari tadi siang,” ucap Flora.


“Taruh di meja, dan pergilah!” usir Gio.


Setelah meletakan makan malam untuk Gio di meja, Flora pergi dari kamar itu tanpa bicara apapun. Sampai di depan kamar itu pintu langsung di tutup oleh Gio dan langsung dikunci dari dalam. Flora langsung menitihkan air matanya saat itu juga.


“Ada apa dengan Gio sebenarnya, kenapa sikapnya berubah?” batin Flora.


Flora melangkahkan di anak tangga dengan pandangan kosong. Pikirannya hanya memikirkan Gio. Sikapnya berubah setelah ia kembali.


“Flora.” Panggilan dari seorang itu membuat Flora tersadar dari lamunannya.


Dengan segera Flora mengusap air mata yang jatuh ke pipinya serta menarik napasnya dalam-dalam.


“Ya, tadi aku sudah pulang, tapi aku melupakan ponselku.” Daniel menunjukan ponselnya yang bertinggal di ruang tengah rumah itu.


“Oh.”


Daniel melihat wajah Flora yang masih nampak sedih. Melihat itu Daniel meraih tangan Flora dan menggenggamnya.


“Flora, jangan seperti ini terus. Aku yakin om Farhan tidak suka melihat ini.” Daniel mengusap air mata yang menetes dari mata Flora. “Sebelum om Farhan meninggal bukankah beliua menikahkanmu dengan Gio agar kamu merasa bahagia.”


Flora mengangguk dengan wajah tertunduk.


“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik,” pamit Daniel.


“Ya, terimakasih, Daniel. Sampai jumpa,” ucap Flora.


“Sampai jumpa, Flora.” Sebelum Daniel pergi, ia lebih dulu mengusap lengan Flora.


Setelah Daniel pergi dari rumah itu, Flora duduk di ruang tengah. Matanya tak henti menatap pintu kamar Gio yang masih tertutup. Flora menarik napasnya, sudah 3 jam ia duduk dan menunggu berharap Gio membuka pintu itu.


Flora sudah sangat lelah dan akhirnya Flora memilih untuk tidur di kamar lain.


*****


Waktu terus berlalu dan tidak terasa sudah hampir satu bulan Flora menikah dengan Gio. Awalnya Flora mengira sikap Gio terhadapnya yang berubah karena suaminya itu sedih atas meninggalnya Farhan. Namun, tenyata tidak Flora yakin bukan karena itu.

__ADS_1


Flora menunggu kepulangan Gio dari kantor, tetapi sampai pukul 11 malam Gio belum pulang juga. Flora merasa sangat cemas.


“Ke mana Gio sebenarnya?” batin Flora.


Tin tin tin


Flora segera berlari ke teras rumah saat mendengar suara klakson mobil yang sering dipakai oleh Gio. Namun, saat Flora membuka pintu utama rumah itu, Flora terkejut saat Gio dipapah oleh seorang wanita berpakaian seksi. Flora juga melihat Gio dalam keadaan mabuk.


“Hei, kenapa diam! Minggir dan tunjukan di mana kamar Gio,” ucap wanita dengan sinisnya.


“Berikan Gio padaku biar aku yang membawanya ke kamarnya.” Flora mengulurkan tangannya, tetapi Gio menepisnya.


“Minggir! Dengar malam ini aku ingin mengabiskan waktu bersama kekasihku ini,” ucap Gio.


Mata Flora terbelalak mendengar perkataan yang baru keluar dari mulut Gio.


“Sudah dengar! Jadi minggir.” Perempuan itu menyingkir Flora dengan cara mendorongnya. Beruntung Flora tidak jatuh ke lantai.


Gio dan perempuan itu masuk tanpa memperdulikan Flora. Flora yang merasa kesal akhirnya menyeret perempuan itu. Flora memisahkan perempuan itu dari Gio.


“Cepat pergi dari sini atau aku akan memanggil penjaga untuk menyeretmu,” ancam Flora.


Perempuan itu akhirnya keluar karena takut dengan ancaman Flora.


Flora langsung menutup pintu rumahnya setelah perempuan itu pergi. Dengan segera Flora menghampiri Gio dan membantunya untuk berjalan. Namun, ditolak oleh Gio.


“Jangan menyentuhku. Aku bisa berjalan sendiri.” Gio mencoba bangun dan berjalan dengan sempoyongan.


Flora yang merasa cemas mengikuti Gio. Melihat suaminya beberapa kali terjatuh di anak tangga dan berjalan dengan menabrak benda-benda membuat Flora tidak tega, tetapi Gio menolak bantuannya.


Gio masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Melihat itu Flora langsung membuka sepatunya dan Gio bangun dan menghentikan Flora.


“Menjauh dariku!” bentak Gio.


Flora sangat terkejut mendengar Gio membentaknya. Air matanya pun tidak terbendung lagi.


“Gio ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kamu menjadi seperti ini, apa salahku?” tanya Flora di sela isak tangisnya.


“Kamu ingin tahu kenapa? Hah!” Gio menarik Flora dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur.


“Aku membencimu Flora, aku sangat membencimu. Karena kamu dan ibumu


... ibuku melenyapkan dirinya sendiri,” ucap Gio penuh dengan amarahnya.


“Gio istirahatlah, kamu sedang mabuk.” Flora tidak mempercayai ucap Gio. Dipikiran Flora mungkin Gio sedang mabuk jadi bicaranya melantur.


“Aku sadar Flora, aku sadar. Aku mencoba untuk bertahan, tetapi setiap aku melihatmu aku teringat akan ibuku. Dan kebencianku padamu semakin bertambah. Aku muak melihatmu dan juga ibumu,” ucap Gio.


Air mata Flora keluar semakin deras apalagi saat Gio mencengkram kedua sisi wajahnya.


“Jangan pernah tunjukan wajahmu dan wajah ibumu di hadapanku lagi.” Gio menghempaskan wajah Flora dengan begitu kasar.

__ADS_1


Belum puas dengan itu, Gio menarik tangan Flora dan melemparkannya keluar dari kamarnya.


__ADS_2