Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Dua Puluh Dua


__ADS_3

Harusnya setelah kepulangan Kenzo dan Felicia dari kota Makasar, mereka melakukan perjalanan ke negeri sakura. Akan tetapi kondisi Felicia saat itu tidak memungkinkan untuk pergi dan perjalanan itu harus mereka batalkan.


Entah kenapa padahal saat pulang dari kota Makasar keadaannya baik-baik saja, tetapi satu minggu setelahnya, kondisinya menjadi tidak baik. Felicia merasakan mual setiap saat, bahkan tubuhnya juga demam.


Semua orang di keluarganya sangat cemas, terutama Kenzo dan Gio. Suami dan ayahnya sangat mencemaskan keadaannya, bahkan mereka sampai tidak ingin meninggalkan kamar demi menemani Felicia.


"Pah, kita keluar yuk." Flora membujuk Gio untuk keluar dari kamar Felicia dan Kenzo. Flora merasa tidak enak kepada Kenzo dengan keberadaan dirinya dan suami.


"Papah mau temani anak kita, Mah." Gio menolak untuk keluar dari kamar anak dan menantunya.


"Sudah ada Kenzo yang menemaninya di sini," ucap Flora.


"Memang kenapa kalau ada Kenzo? Aku ini papahnya," ucap Gio.


Flora menepuk keningnya seraya menghela napas kasar. Maksud dirinya mengajak suaminya untuk keluar dari kamar itu adalah untuk membiarkan anak dan menantunya berdua saja, tetapi suaminya malah justru mempersulit dirinya. Flora tidak akan terkejut dengan itu, suaminya memang tidak peka dari dulu.


Kenzo dan Felicia saling memandang satu sama lain saat melihat perdebatan kedua orang tuanya. Mereka menggelengkan kepala dengan menahan tawa mereka sendiri.


"Pah," panggil Felicia.


Mendengar Felicia memanggilnya Gio langsung menoleh ke arah anaknya yang sedang terbaring di tempat tidur.


"Sebaiknya Papah pulang saja. Aku tidak apa-apa kok," ucap Felicia.


"Jadi kamu juga ngusir Papah?" tanya Gio.


"Bukan begitu, Pah." Felicia mencoba bangun dan mengambil posisi duduk dengan dibantu oleh Kenzo.


"Papah juga kemarin habis sakit. Papah juga butuh istirahat, 'kan?" ucap Felicia.


"Nanti kalau Papah sakit lagi bagaimana? Kasihan Mamah," ucap Felicia.


Gio melangkah ke dekat Felicia. Diusapnya kepala anaknya dengan lembut dengan menunjukan senyumnya.


"Bilang saja, kalau ada Papah kamu jadi tidak bisa berduaan dengan suami kamu. Iya, 'kan?" Gio melirik ke arah Kenzo yang sedang tertawa kecil.


"Nah itu Papah tahu," gurau Felicia.


"Dasar kamu." Gio mengacak-acak rambut Felicia.


"Tidak kok, Pah. Feli cuma bercanda." Felicia menyenderkan kepalanya di dada ayahnya. "Aku cuma khawatir sama kesehatan Papah."


"Iya, Papah tahu." Gio mengecup ujung kepala Felicia seraya mengusap pundaknya.


Gio menarik anaknya ke dalam pelukannya. Biasanya sebelum menikah ketika Felicia sakit maka anak perempuannya akan selalu minta ditemani sepanjang malam, tetapi kini Gio harus sadar jika Felicia sudah memiliki seorang suami yang akan menggantikan dirinya untuk menjaga Felicia.


Tok tok tok


Kenzo, Felicia, Gio, dan Flora menoleh ke arah pintu. Ada Alan yang berdiri di sana.


"Permisi, Pak. Dokter Reza sudah datang," ucap Alan.


"Suruh masuk saja," perintah Kenzo.


"Baik, Pak." Alan membungkukkan tubuhnya lalu mempersilahkan Reza untuk masuk.


Asisten pribadi Kenzo undur diri setelah Reza masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kondisi Felicia. Ternyata Reza tidak sendiri, melainkan bersama Rossa.

__ADS_1


"Hai, Flora, Gio." Rossa menyapa kedua sahabatnya.


"Hai, Rossa. Kamu apa kabar?" Flora membalas sapaan Rossa setelah itu keduanya saling mencium pipi kanan dan kiri satu sama lain.


"Aku baik-baik saja," jawab Rossa.


"Oh ya, bagaimana kondisi Felicia. Aku sangat cemas mendengar dari Reza jika Felicia sakit?" tanya Rossa.


"Dia baik-baik saja. Hanya masih lemas dan demam," jawab Flora.


Semua orang menoleh ke arah Felicia yang sedang diperiksa oleh Reza. Melihat kondisi Felicia yang nampak lemas membuat mereka merasa iba.


Kenzo menyingkir dari sisi Felicia untuk memberikan tempat bagi Reza untuk memeriksa kondisi Felicia.


"Apa yang kamu rasakan sekarang, Feli?" tanya Reza.


"Lemas, pusing, dan mual, Za." Felicia menjawab dengan lirih.


Reza memeriksa denyut nadi di tangan Felicia dan juga memeriksa perutnya. Tidak ada masalah pada kandungnya.


"Bagaimana keadaan Feli, Reza?" tanya Gio.


"Untuk sementara ini keadaanya baik-baik saja. Sakit yang dialaminya sekarang, mungkin karena kelelahan saja," jawab Reza.


"Lalu bagaimana dengan kandungannya?" tanya Kenzo.


"Untuk sementara tidak ada masalah. Pastikan demamnya turun," ucap Reza.


"Kami sudah memberikan obat penurun panas seperti apa yang kamu katakan tadi di telepon," ucap Kenzo.


"Baiklah, aku akan membelinya sekarang." Kenzo berniat pergi, tetapi Felicia mencegahnya.


"Suruh saja Alan untuk membelinya. Kenapa harus kamu yang pergi," cegah Felicia.


"..."


"Lihatlah, Mah. Anak perempuan kita sekarang sangat manja pada suaminya," ledek Gio diikuti tawanya.


"Papah ...," rengek Felicia.


"Papah, berhentilah untuk menggoda anak kita," ucap Flora seraya menahan tawanya.


"Iya, iya, baiklah. Papah tidak akan menggodamu lagi," ucap Gio seraya menahan tawanya.


"Kalian sama saja." Felicia mengerucutkan bibirnya membuat semua orang tertawa.


"Baiklah aku tidak akan pergi. Aku hanya akan memberikan resep ini pada Alan." Kenzo meninggalkan kamar untuk menemui Alan. Setelah memberikan resep dari Reza kepada Alan, Kenzo kembali ke kamarnya.


"Kamu sudah memberikan resep itu pada Alan?" tanya Gio.


"Sudah, Pah. Dia juga sudah pergi," jawab Kenzo.


"Bagus kalau begitu," ucap Gio.


"Baiklah aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, Feli." Reza berucap seraya membereskan barang-barangnya.


"Makan yang banyak dan minum vitamin dengan teratur," ucap Reza.

__ADS_1


"Iya, terima kasih sudah memeriksaku," ucap Felicia.


"Jangan sungkan seperti itu, Feli," ucap Reza.


"Oh iya Kenzo, jika besok Felicia masih demam, cepat bawa dia ke rumah sakit," pesan Reza.


"Baik. Aku akan mengingatnya," ucap Kenzo.


"Aku permisi dulu," pamit Reza. "Ayo, Mah."


"Felicia, tante pulang dulu ya. Jaga kondisi kamu baik-baik," ucap Rossa seraya mengusap kening Felicia.


"Iya, Tante. Terima kasih sudah datang," ucap Felicia.


"Ayo, aku akan mengantar kalian. Kami juga akan pulang," ucap Gio.


Gio mengalihkan pandangannya kembali ke arah Felicia.


"Kami pulang dulu ya. Jaga kondisi kamu baik-baik." Gio mengecup kening Felicia sebelum beranjak dari sisi Felicia.


"Kenzo, kami titip Felicia ya. Jika ada apa-apa langsung hubungi kami," ucap Flora.


"Baik, Mah," sahut Kenzo.


"Mamah sama papah pulang dulu. Ingat makan yang banyak dan jangan lupa minum vitamin kamu." Flora mengusap kening Felicia setelah itu mendaratkan kecupan di keningnya.


"Kalian juga hati-hati di jalan," ucap Felicia yang langsung dianggukki oleh Flora.


Setelah kedua orang tuanya pulang begitu juga dengan Reza dan Rossa pulang, hanya tinggal Felicia dan Kenzo yang ada di kamar. Kenzo kembali duduk di samping Felicia seraya mengusap keningnya.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Kenzo.


Felicia langsung mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku sudah merasa lebih baik. Hanya saja aku masih sedikit lemas."


"Kamu belum makan dari tadi. Pastilah badan kamu lemas," ucap Kenzo.


"Kamu makan ya," bujuk Kenzo.


Felicia diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku mau makan, tapi harus kamu yang memasaknya," pinta Felicia.


Kenzo mengela napasnya. Lagi-lagi istrinya bersikap aneh lagi. "Baiklah kamu mau makan apa? Aku akan memasaknya."


"Bubur kacang hijau," jawab Felicia.


"Hah, apa? Bubur kacang hijau?" Kenzo terkejut setengah mati mendengar makanan apa yang diminta oleh istrinya dan harus dirinyalah yang harus memasaknya.


"Ini mustahil, Sayang," ucap Kenzo.


"Tidak ada yang mustahil jika kamu kamu berusaha, Sayangku," ucap Felicia.


"Tapi ...." Kenzo benar-benar merasa bingung saat itu.


"Jadi kamu tidak ingin memasaknya untukku. Ini keinginan anak kamu loh." Felicia menatap Kenzo dengan mata yang berkaca-kaca.


Kalau sudah begitu, apakah Kenzo bisa menolak perintah istrinya? Apalagi sebelumnya Kenzo sudah berjanji pada dirinya sendiri. Jika apapun keinginan istrinya, dirinya akan mencoba untuk mengabulkannya.

__ADS_1


__ADS_2