Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Permainan Flora


__ADS_3

Happy reading ...


Setelah kepulangan Daniel dan keluarganya, Flora kembali masuk ke dalam rumah. Mata Flora melihat Dini dan Tina berdiri di ruang tengah dengan raut wajah mereka yang nampak cemas dan juga kesal.


“Waktunya beraksi,” seru Flora dalam hatinya.


Flora berjalan mendekati mereka dan berhenti beberapa langkah dari tempat Dini dan Tina berdiri.


“Ehmmmm.” Flora berdehem membuat Dini dan Tina mengalihkan pandangan mereka ke arah Flora.


“Kenapa kalian masih di sini?” tanya Flora.


“Apa maksudmu?” tanya Dini.


“Sudah jelas 'kan tadi! Rumah ini milikku dan aku tidak menginginkan kalian ada di sini?” ucap Flora.


“Jangan sok kamu! Ini rumah masa kecil Gio. Harusnya Gio yang lebih berhak atas rumah ini daripada kamu,” protes Dini.


“Tapi pada kenyataannya ayahku lebih mempercayakan rumah ini kepadaku,” balas Flora. “Dan aku minta pada kalian untuk segera kemasi barang-barang kalian dan pergi dari sini sekarang juga!” usir Flora.


“Aku tidak terima dengan ini. Aku harus bicara dengan Gio,” ucap Dini.


Dini melangkah ke arah anak tangga untuk menuju kamar Gio, disusul juga oleh Tina. Flora tidak akan membiarkan itu. Dengan segera Flora menghentikan langkah mereka.


“Jangan menganggu suamiku. Apa kalian tidak melihat dia tadi merasa sangat lelah,” ucap Flora.


“Aku tidak peduli,” sahut Dini.


“Ya sudah terserah kalian saja, tapi aku akan tetap pada pendirianku,” ucap Flora.


Flora meninggalkan tempat itu menuju ruang makan. Ada tawa kecil pada bibir Flora saat melihat ekspresi kesal Dini dan Tina.


“Lihat saja, aku akan menjauhkan kalian dari Gio,” batin Flora.


Flora duduk di salah satu kursi di meja makan. Ia sedang makan malam sendiri. Meskipun keadaan saat itu membuat Flora tidak napsu untuk makan, tetapi Flora butuh tenaga ekstra untuk melawan kedua perempuan itu.


Saat sedang makan malam, Flora melihat Gio melangkah ke meja makan dengan diikuti oleh Dini dan juga Tina.


“Pasti mereka habis ngadu sama Gio,” batin Flora.


Flora memilih untuk melanjutkan makan malamnya dan tidak memperdulikan kehadiran mereka.


“Apa maksudmu mengusir tante Dini dan Tina?” tanya Gio penuh penekanan.


Flora melirik sekilas ke arah Gio. “Kenapa? Ini rumahku, aku berhak untuk menentukan siapa yang tinggal dan siapa yang harus pergi dari rumah ini.”


“Kalau kamu mengusir mereka pergi, aku juga akan pergi,” ancam Gio.


Flora menaruh sendok dan garpunya di atas piring. “Silahkan! Aku pun tidak peduli. Justru aku merasa senang kalian pergi dari sini. Aku bebas melakukan apapun dan tidak harus berurusan dengan kalian lagi.”


Flora sangat berharap jika Gio tidak pergi dari rumah itu. Flora hanya ingin menjauhkan Gio dari Dini dan juga Tina.


“Oke, aku akan pergi dari sini,” ucap Gio. “Detik ini juga.”

__ADS_1


Flora terkejut, tetapi mencoba untuk menyembunyikannya. Flora mencoba untuk bersikap biasa saja.


“Oke, silahkan,” balas Flora.


“Jangan Gio,” cegah Dini.


Flora diam-diam menarik napas lega saat Dini mencegah Gio untuk pergi. Sesuai prediksinya, Dini tidak akan membiarkan Gio pergi semudah itu.


“Kenapa, Tante? Aku juga ingin pergi dari sini,” ucap Gio. “Aku muak melihat perempuan ini?”


“Kalau kamu pergi, berati kamu kalah dari perempuan ini. Kamu harus merebut hak kamu,” ucap Dini.


“Tante Dini benar, Gio,” imbuh Tina.


“Tapi, Tente —”


“Tidak, Gio. Kali ini kamu harus dengarkan tante,” ucap Dini.


Flora yang mendengarkan pembicaraan Gio dan Dini bersorak dalam hatinya. “Yes.”


“Baiklah, aku kasih kelonggaran waktu pada kalian. Sebelum kalian, tante Dini dan Tina menemukan tempat untuk tinggal, kalian boleh tinggal di sini,” ucap Flora tanpa melihat ke arah mereka bertiga.


“Saya sudah selesai makan, silahkan jika kalian mau makan malam.” Flora berdiri lalu melangkah meninggalkan tempat makan itu.


Saat Flora akan melangkah Tina mencekal kaki Flora dan membuatnya terjatuh. Beruntung Flora dengan cepat berpegangan pada tangan Gio membuatnya tidak harus jatuh dan tersungkur ke lantai.


Flora merasa sangat kesal, dengan segera Flora berdiri dan berbalik ke arah Tina. Dengan penuh rasa kesal, Flora mendorong Tina dan membuatnya jatuh ke lantai.


“Kamu lihat itu, Gio! Aku sudah berbaik hati pada teman kamu itu, tapi perempuan itu tidak tahu diri.” Flora memberikan tatapan tajam pada Gio.


Flora tidak langsung pergi ke kamarnya, tetapi menyembunyikan dirinya di balik dinding pemisah antara ruang makan dan ruang tengah. Flora ingin melihat apa yang terjadi setelah itu.


Flora melihat Gio menolong Tina untuk berdiri. Dari tempatnya bersembunyi, Flora bisa melihat wajah Gio yang sangat letih dan terlihat ada beban yang begitu berat.


“Apa yang sebenarnya sedang membebani dirimu, Gio?” tanya Floradalam hati.


Tidak tahan melihat itu, Flora menyingkir dari balik tembok itu dan pergi ke kamarnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Flora baru saja keluar dari kamar mandi setelah berganti dengan piaya tidurnya.


Flora berdiri di depan cermin dan memandang pantulan dirinya dalam cermin yang ada di hadapannya. Tidak sengaja matanya melihat kalung yang melingkar pada lehernya. Kalung dengan liontin berbentuk kunci. Ia ingat betul dengan kalung itu.


“Apa Gio masih memakai gelang itu?” batin Flora.


Flora tidak yakin, tetapi Gio pernah mengatakan jika gelang itu hanya bisa dibuka dengan kunci yang bergantung pada kalung yang ia pakai.


“Aku harus memastikan itu besok,” ucap Flora.


*****


Pada esok harinya


“Lihatlah nyonya besar baru bangun,” sindir Dini.

__ADS_1


Flora tidak peduli dengan apa yang Dini katakan. Flora tetap berjalan menuruni anak tangga.


“Hei, Flora apa kamu tidak bisa mengurus suami kamu? Suamimu sudah siap untuk berangkat bekerja kamu malah baru bangun,” omel Dini.


Flora berhenti melangkah tepat di samping Gio, “Apa kamu bicara denganku? Apa perlu aku ulangi apa yang pernah Gio katakan padaku? Dia menyuruhku untuk menjauhinya. Jadi ya sudah aku menjauhinya.”


“Bu, Flora mau sarapan apa?” tanya bibi.


“Apa saja, Bi,” jawab Flora.


Flora menarik kursi tepat di sebelah Gio.


Ada senyum tipis pada bibirnya saat Gio sarapan dengan sangat lahap. Flora tidak bangun kesiangan justru dirinyalah yang menyiapkan sarapan itu.


Diam-diam Flora mencuri pandang ke arah Gio. Pandangan matanya mengarah pada pergelangan tangan Gio. Flora merasa sangat bahagia saat Gio masih memakai gelang yang dulu mereka beli di Bali.


“Ada apa denganmu, Gio. Kamu membenciku, tetapi kamu masih tetap memakai gelang itu?” batin Flora.


Flora diam-diam menarik napas berat.


“Gio hari ini aku ikut ke kantor,” ucap Flora.


“Terserah kamu saja,” jawab Gio.


Pandangan Flora terarah pada Tina.


“Aku harap kamu sudah mulai mencari tempat tinggal yang baru, Tina.”


“Tenang saja, aku sudah mendapatkannya,” jawab Tina.


Secepat itu?


“Gio apa kamu bisa mengantarku ke sana?” Tina sengaja ingin memanasi Flora.


“Hari ini jadwalku banyak. Kamu tahu 'kan bos besar perusahaan itu akan datang.”


Flora tahu jika Gio sedang menyindirnya, tetapi Flora berpura-pura tidak tahu.


“Nanti aku suruh Abi untuk mengantarkanmu,” ucap Gio.


“Abi? Apa mungkin Gio menyuruh Tina untuk tinggal di apartemen pribadinya? Jika iya, aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” batin Flora.


Flora beranjak dari meja makan dan kembali kamarnya. Flora segera masuk ke dalam kamar mandi. Setengah jam Flora berada di dalam kamarnya dan kini Flora sudah bersiap untuk pergi.


Flora kembali berjalan menuruni anak tangga. Hati Flora memanas saat melihat Tina bergelayut manja di lengan Gio. Rasanya Flora ingin menangis, tetapi ia mencoba untuk kuat.


“Bi, aku berangkat dulu ya,” pamit Flora pada bibi.


“Ya, Bu, hati-hati di jalan,” ucap Bibi.


Flora berjalan mendekati bibi dan berbisik di telinganya. “Jangan lupa rencana kita.”


“Beres, Bu,” balas Bibi.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Flora segera melesat ke sebuah tempat untuk menemui orang kepercayaan suaminya.


__ADS_2