
Flora dan Seruni sudah ada di kediaman Mariana. Mereka sedang berpartisipasi dalam mempersiapkan acara pernikahan Daniel dan Maura. Acara pernikahan yang rencananya akan digelar sekitar satu bulan lagi.
Mereka sangat antusias dalam mempersiapkan acara itu. Karena hal itu adalah yang paling mereka nanti. Setelah putus dari Flora, Daniel sulit membuka hatinya untuk siapapun.
Sampai akhirnya dirinya bertemu dengan Maura, yang ternyata perempuan yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya.
“Flora, nih Tante bikinin bubur kacang hijau biar asi kamu banyak.” Mariana memberikan satu mangkok bubur kacang hijau kepada Flora.
“Terima kasih, Tante.” Flora menerima mangkok berisikan bubur kacang hijau yang diberikan oleh Mariana.
“Mama kenapa sih gak baik kaya gini sama Flora pas waktu kami dulu pacaran,” gurau Daniel.
Mariana langsung mendorong kepala Daniel. “Husst, coba kalau mama merestui hubungan kalian waktu itu. Mama akan berdosa besar.”
“Iya, Tante. Baru kali ini aku bahagia karena menjalin hubungan gak direstui,” sambung Flora.
“Tante kalau ingat masa lalu juga rasanya ingin tertawa. Takdir Tuhan memang gak bisa ditebak ya. Ternyata kita jadi keluarga,” ucap Mariana.
Semua orang merespon ucapan Mariana dengan senyuman mereka.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil menghentikan obrolan mereka.
“Kaya mobil suami kamu,” ucap Seruni.
“Iya, kok tumben jam segini sudah pulang,” ucap Flora.
Flora beranjak dari ruang keluarga dan melangkah ke pintu utama rumah itu. Benar saja suaminya baru saja turun dari mobil.
Flora segera menghampiri suaminya. “Kok tumben pulang cepat?”
“Tadi ada meeting di luar kantor. Jadi aku sekalian mampir ke sini,” jawab Gio.
Gio memberikan satu kecupan di kening istrinya. Keduanya pun masuk ke dalam rumah dengan tangan Gio yang melingkar di pinggang istrinya.
“Selamat siang semuanya?” sapa Gio.
“Siang,” balas semua orang.
“Kok tumben keluar kantor jam segini?” tanya Mariana.
“Aku kangen sama baby girl ini,” jawab Gio.
“Cuci tanganmu dulu sebelum pegang Felicia.” Flora mencegah Gio saat ingin menyentuh pipi anak mereka.
“Iya kamu 'kan dari luar. Mana tahu bawa kuman,” sambung Mariana.
“Iya, Tante.” Gio melepas jasnya lalu pergi ke kamar mandi untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh istri dan tantenya.
Selesai mencuci wajah dan tangannya Gio kembali ke ruang keluarga untuk bergabung dengan semua orang.
“Anak papa bobo terus.” Gio mencolek pipi Felicia membuat Felicia menggeliat.
__ADS_1
“Gio, bagaimana kerjaan kamu di kantor? Semua beres, 'kan?” tanya Ardi.
“Beres dong, Om. Kemampuan keponakan Om ini sudah tidak bisa diragukan lagi,” ucap Gio.
Semua orang menggelengkan kepala mereka saat Gio membanggakan dirinya. Akan tetapi semua itu memang tidak bisa dipungkiri. Meskipun Gio suka bicara asal dan berbuat semaunya, tetapi dalam hal berbisnis kemampuannya tidak bisa diragukan lagi.
“Kamu makan dulu gih?” suruh Flora.
“Iya, kamu juga Flora. Kamu juga belum makan 'kan?” imbuh Seruni.
“Kamu harus makan yang banyak. Biar Asi kamu juga banyak,” sambung Mariana. “Biar Felicia Tante yang jagain.”
“Iya, Tante,” sahut Flora.
Flora dan Gio, keduanya beranjak dari ruang tengah. Mereka sama-sama melangkah ke meja makan.
“Kamu mau makan apa?” tanya Flora.
“Makan kamu boleh.” Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda Flora.
Flora memutar bola matanya jengah. Ia merasa menyesal bertanya kepada suaminya. Sedangkan Gio terkekeh melihat istrinya mengerucutkan bibirnya.
Obrolan mereka hentikan sejenak saat mereka sudah mulai makan.
“Kamu habis ini kembali ke kantor?” tanya Flora.
“Iya,” jawab Gio.
“Kamu nanti pulang jangan malam-malam ya. Kasihan Felicia,” pesan Gio.
Selesai makan, Flora membereskan piring kotor bekas mereka makan. Flora membawanya ke dapur.
Gio sendiri langsung menghampiri putri kecilnya. Diambilnya putrinya dari ayunan dengan hati-hati. Kini Gio sudah tidak kaku lagi menggendong Felicia.
Bayi perempuan yang sudah berumur satu bulan itu terlihat begitu gemuk dan menggemaskan. Apa lagi dalam sebulan bobot tubuhnya naik dua kilo.
“Ingat ya Gio kamu itu punya anak perempuan. Kamu harus ekstra jagainnya,” ucap Mariana.
“Iya, Tante,” sahut Gio.
“Jangan sampai Felicia mainin perasaan laki-laki,
kaya papanya yang suka mainin perasaan perempuan,” ejek Daniel yang langsung dibalas cibiran oleh Gio.
“Pasti yang jeleknya dilemparin ke aku,” gerutu Gio disambut tawa semua orang.
Tidak terasa sudah satu jama Gio berada di rumah Mariana. Sebenarnya Gio masih ingin bermain bersama Felicia, tetapi pekerjaannya sudah memanggilnya.
Flora mengantar suaminya ke teras depan rumah Mariana setelah Gio berpamitan pada semua orang.
“Aku berangkat ya,” pamit Gio.
“Iya, kamu hati-hati di jalan,” ucap Flora.
__ADS_1
“Ingat jangan pulang malam-malam,” pesan Gio.
“Iya Suamiku.” Flora merasa gemas sekali pada suaminya karena sikap over protektifnya.
“Ya sudah sana berangkat, mas Abi sudah menunggu kamu,” ucap Flora yang langsung diangukki oleh Gio.
Flora mencium punggung tangan Gio, dibalas kecupan di keningnya oleh Gio.
Flora melambaikan tangannya ke arah Gio yang sudah pergi dengan mobilnya. Setelah mobil yang Gio naiki jauh dari pandangannya Flora kembali masuk ke dalam rumah Mariana.
*****
Hari yang selalu Gio nanti akhirnya tiba waktunya. Puasanya untuk tidak menyentuh Flora selama 40 hari akan segera berakhir.
Hal itu membuat Gio menjadi tidak sabaran. Dari malam hingga esok harinya Gio merengek kepada Flora. Gio meminta potongan satu hari, tetapi Flora menolaknya.
“Nanti malam sudah boleh, 'kan?” rengek Gio.
Flora yang sedang mengaitkan kancing kemeja suaminya hanya mampu menahan tawanya. Suaminya benar-benar terlihat lucu, ia merengek seperti seorang anak yang meminta dibelikan permen.
“Boleh ya.” Gio merengek lagi.
Flora belum menjawab, ia lebih fokus pada aktivitasnya.
Flora pergi ke arah lemari pakaian untuk mengambil dasi, dengan Gio mengikutinya. Gio seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
Flora melingkarkan dasi ke leher suaminya tanpa peduli dengan rengekan Gio.
“Sayang ...,” panggil Gio.
“Apa, Suamiku?” sahut Flora tanpa menghentikan aktivitasnya.
“Boleh ya nanti malam,” pinta Gio.
“Iya,” ucap Flora.
“Seriusan?” Gio bertanya dengan penuh semangatnya.
“Iya, boleh,” jawab Flora.
Gio tidak membuang waktu lagi untuk menarik pinggang istrinya. Jarak dengan istrinya sangat tipis dan hanya dibatasi oleh kain yang menempel di tubuh mereka.
“Janji ya ... mau kasih service lebih,” goda Gio.
Rona merah langsung muncul di kedua sisi wajah Flora. Ibu dari Felicia itu mengangguk dengan wajah tertunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.
Gio semakin gemas melihat rasa malu istrinya. Diraihnya dagu istrinya untuk mengangkat wajah istrinya yang tertunduk.
“Masih malu saja,” ledek Gio.
Pandangan mereka bertemu pada satu titik yang sama dengan pandangan penuh cinta. Sesaat kemudian seolah ada sesuatu yang menarik mereka, keduanya sama-sama saling mendekatkan wajah mereka.
Flora dan Gio ingin menyatukan bibir mereka. Saat bibir mereka hampir menyatu, tangisan Felicia yang tiba-tiba mengejutkan mereka.
__ADS_1
Keduanya sama-sama menoleh ke arah Felicia yang sedang merengek di atas tempat tidur.
“Semoga nanti malam dia tidak mengganggu kita,” ucap Gio yang langsung membangkitkan tawa Flora.