
**Masih slow up ya, ngejar CBU dulu.
Happy reading gaes**
Satu bulan setelah memutuskan kembali hubungannya dengan Daniel, hati Flora yang patah mulai menyatu dan Flora mulai menata kehidupannya kembali. Hubungannya dengan Daniel pun mulai membaik, mungkin malah Flora merasa lebih nyaman dengan hubungannya yang sekarang ini dengan Daniel, dan berharap akan menjadi lebih baik lagi.
Bunyi telepon di meja kerjanya menyadarkan Flora dari lamunannya. Flora menggerakkan tangannya untuk mengangkat gagang telepon yang ada di hadapannya.
"Hallo, Pak Farhan ada yang bisa saya bantu?" tanya Flora.
"Tolong buatkan saya kopi," pinta Farhan dari seberang telepon yang langsung diangguki oleh Flora.
"Baik, Pak."
Setelah menutup telepon dan meletakan kembali gagang telepon ke tempat semula, Flora beranjak dari meja kerjanya menuju pantry yang tidak jauh dari tempatnya.
Sampai di pantry Flora langsung memasak air panas serta mecarik kopi ke dalam cangkir yang ia ambil dari lemari kabinet di pantry itu.
Flora berdiri di depan kompor jarinya mengetuk-ngetuk meja kompor sambil menunggu air yang sedang ia masak mendidih. Namun tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam pantry. Flora menolehkan kepalanya dan seseorang yang langsung membuat Flora terkejut.
"Nyonya Mariana." Nada suara Flora tertahan di bibirnya saat melihat ibu dari mantan kekasihnya sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Dengan melipat kedua tangannya di depan dada, Mariana menatap sinis dan penuh kebencian ke arah Flora.
"Kamu akhirnya tahu diri juga ya untuk tidak berhubungan lagi dengan anak saya. Akhirnya kamu sadar juga perempuan seperti kamu memang tidak pantas untuk Daniel dan apa ini berarti kamu sudah mengaku kalah?"
Astaga to the point sekali wanita ini.
Flora masih diam ia sama sekali tidak berminat untuk membalas perkataan atau lebih ke arah penghinaan terhadap dirinya itu.
"Dengar, sampai kapan pun perempuan seperti kamu tidak akan pernah bisa masuk ke keluarga terhormat apalagi sekelas keluarga Ferdinad." Mariana nampak tidak ingin menghentikan ucapannya.
Flora menuang air panas ke dalam cangkir yang sudah berisi bubuk kopi hitam dan juga gula putih. Flora mengaduk kopi itu dan telinganya masih bisa mendengarkan ocehan ibu dari mantan kekasihnya.
"Lebih baik jika kamu keluar dari kantor ini dan mejauh dari hidup anak saya, saya juga sudah sangat muak melihat wajah kamu di sini, anak haram."
Flora menghentikan gerakkan tangannya mengaduk kopi. Flora meletakan sendok itu dengan cukup kasar lalu berbalik dan menatap tajam Mariana. Flora sudah sangat geram, ia sudah berusaha sabar untuk tidak membalas ucapan adik ipar atasannya, namun ternyata semakin ia diam semakin wanita itu menindas dirinya.
"Apa anda sudah selesai bicara Nyonya Mariana yang terhormat?" sindir Flora yang sengaja menekan kata-katanya.
__ADS_1
"Aku bukan anak haram, aku mempunyai orang tua meski mereka hanya orang tua adopsi saya." Flora menekan kata-katanya.
"Dan Anda tadi bilang jika aku kalah … sebenarnya anda lah yang kalah, anda Nyonya. Anda sediri yang sudah menghancurkan perasaan anak anda sendiri. Saya bisa saja menerima anak anda kembali tetapi saya menolak bukan karena saya takut pada ancaman Anda. Saya menolak Daniel karena saya tidak mau melukai perasaan ibu kandung saya. Dan satu lagi Nyonya, saya masih punya pikiran untuk tidak membuat seorang anak bertengkar dengan ibu kandungnya," jelas Flora panjang lebar. "Jadi yang kalah itu Anda bukan saya."
"Dasar, berani kamu bicara tidak sopan pada saya?"
"Anda sendiri yang membuat saya harus bersikap seperti ini pada Anda, nyonya."
"Lihat apa yang saya bisa lakukan untuk kamu dan ibu kamu."
"Apa Anda hanya bisa mengancam seseorang Nyonya?" Flora maju beberapa langkah dan berdiri tepat di depan Mariana. "Saya tidak akan membiarkan Anda menyakiti dan menghina ibu saya lagi."
"Lebih baik sekarang Anda pergi dari sini atau saya akan mengadukan ini pada kakak ipar Anda," ancam Flora.
"Kamu…." Marina nengangkat tangannya ke wajah Flora namun ada yang menahan tangannya sebelum tangannya mendarat di pipi Flora.
"Jangan membuat keributan di sini, Tante … ini masih di area kantor."
Mata Flora dan Mariana melihat ke arah Gio yang berdiri di depan Flora untuk menghalangi niat Mariana menampar Flora.
"Apa kamu juga sudah di guna guna juga olehnya jadi kamu terus membela anak haram ini dari pada tante kamu sendiri?"
"Maaf Tante aku hanya membela yang benar. Kalau boleh aku jujur aku malu sama sikap Tante yang semena-mena pada Flora."
Memang hanya itu yang bisa dia lakukan.
Mata Flora dan Gio terus menatap Mariana sampai wanita itu menghilang di balik pintu pantry.
Braak
Gio dan Flora hanya menggeleng kecil serta menghela nafas saat mendengar suara pintu yang tertutup dengan keras.
Gio mengubah arah pandangnya ke arah Flora. "Apa yang terjadi dengan kamu dan Daniel selama aku pergi?"
Flora menundukkan wajahnya, Gio memang belum tahu akan hubungannya dengan Daniel karena laki-laki menyebalkan itu sedang sibuk mengurus pembangunan apartemen dan sudah tidak ke kantor selama satu bulan ini.
"Ada yang mau di ceritakan?" tanya Gio.
Flora menarik nafasnya lalu mulai bercerita pada Gio mengenai akhir hubungannya dengan Daniel.
__ADS_1
-
-
-
Julukan teman tapi musuh memang cocok untuk menggambarkan Gio dan flora saat ini. Mereka kadang saling mencurahkan isi hati mereka tetapi berakhir dengan saling mengejek dan menyindir.
Seperti yang saat ini Flora terjadi, ia tengah menceritakan tentang berakhirnya hubungannya dengan Daniel tetapi Gio justru menertawakan dirinya.
"Berhentilah tertawa!" omel Flora. "Aku sedang sedih dan kamu malah tertawa lepas seperti itu," ucap Flora.
"Kamu bersedih dan itu kamu sendiri yang membuatnya kenapa jadi kamu marah padaku," protes Gio.
Flora hanya menanggapi ucapan Gio dengan dengusan kesal.
"Sudah berhenti tertawa."
"Bagaimana aku tidak tertawa Sayang ku, itu sangat lucu. Aku kira kamu dan Daniel akan kembali bersama karena kalian masih saling mencintai dan kamu justru menolak untuk kembali bersama adikku itu hanya karena takut pada nenek lampir itu tadi, dasar bodoh."
Mata Flora terbuka lebar dan mulutnya ternganga, Flora tidak terima Gio mengatai dirinya bodoh tetapi kemudian ia sedikit tertawa karena Gio menyebut tantenya dengan sebutan nenek lampir. Jahat sekali.
"Kamu ... menyebalkan." Flora mendorong pelan pundak Gio dengan tawa kecil di bibirnya.
"Menyebalkan," gerutunya.
Mereka tertawa bersama sampai tidak menyadari jika Abi sedang menatap horor keduanya dengan tangan yang ia lipat ke dadanya.
"Astaga jadi kalian malah saling curhat di sini sedangkan dari tadi aku mencari kalian."
Gio dan Flora mangubah arah pandang mereka dan ternyata ada Abi yang sedang berdiri pintu panty kantor itu.
"Mas Abi ada apa mencariku?" tanya Flora gugup.
"Bapak Farhan menunggu kopinya," jawab Abi.
Dan saat itu Flora baru ingat jika dia datang ke pantry itu untuk membuat kopi untuk atasannya itu. Flora menepuk keningnya sendiri gara-gara Gio dan nenek lampir itu ia lupa dengan tugas sepelenya itu.
"Ini semua gara-gara Anda, Tuan Gio," tuduh Flora.
__ADS_1
"Enak saja menuduh orang sembarang."
Flora terpaksa membuat kopi yang baru untuk Farhan karena kopi yang sebelumnya ia buat berpindah ke perut Gio.