
Maaf untuk kemarin yang minta up disebelah. Aku belum bisa up, masih stuck ide. Kalau aku paksakan up ujung-ujungnya riweh 🙏
Felicia baru saja masuk ke dalam kamarnya. Rasa sakit yang ia rasakan di kepalanya membuatnya ingin langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Namun, tidak tahu kenapa, kepalanya terasa semakin bertambah berat hingga membuatnya merasakan mual.
Felicia berjalan cepat untuk masuk ke dalam kamar mandi. Rasanya ada sesuatu yang ingin memaksa keluar dari dalam mulutnya. Felicia berdiri dengan sedikit membungkukkan badannya di depan wastafel. Cairan bening keluar dari dalam mulutnya dan rasanya sangat pahit.
"Kenapa mual sekali ?" batin Felicia.
Felicia keluar dari kamar mandi setelah membasuh mulutnya. Sampai di kamarnya Felicia duduk di atas tempat tidur. Ia menyadarkan tubuhnya pada bantal yang ia tumpuk di belakangnya.
Felicia memijit keningnya sendiri berharap bisa mengurangi rasa pening di kepalanya.
Tok tok tok
Ketukkan pintu di depan kamarnya mengalihkan perhatian Felicia. Ia ingin bangun untuk membuka pintu, tetapi sakit di kepalanya menghentikan gerakannya.
"Masuk," suruh Felicia.
Pintu kamarnya terbuka dari luar. Mata Felicia melihat Kenzo muncul dari balik pintu itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kenzo.
"Tidak apa-apa. Hanya kepalaku terasa pusing dan rasanya mual," jawab Felicia.
Kenzo berjalan lebih cepat untuk menghampiri Felicia. Sampai di tempat tidur Kenzo mendudukkan dirinya tepat di samping kanan Felicia.
"Aku panggilkan Dokter ya," tawar Kenzo.
Kenzo merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Jarinya menggeser layar untuk mencari nomor ponsel Dokter pribadinya. Ia ingin menghubungi Dokter itu, tetapi Felicia melarangnya.
"Tidak usah. Aku baik-baik saja," larang Felicia.
"Tapi —” Ucapan Kenzo terpotong oleh ucapan Felicia.
"Beneran aku tidak apa-apa," ucap Felicia.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Kamu makan dulu ya aku pesankan makanan," tawar Kenzo.
"Dari pada pesen kita keluar yuk! Kita cari makanan di luar," ajak Felicia.
"Katanya tadi mau istirahat." Setelah itu Kenzo melihat waktu pada jam yang tergantung di dinding kamar itu. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. "Dan ini juga sudah malam."
"Tapi aku pengin jalan-jalan," rengek Felicia. "Aku juga pengin makanan yang pedas."
"Please, kumohon, kumohon." Felicia memohon kepada suaminya dengan menyatukan tangannya.
Kenzo merasa heran kepada istrinya, beberapa saat yang lalu istrinya mengatakan ingin beristirahat dan sekarang justru ingin berjalan-jalan. Kenzo ingin melarang, tetapi melihat istrinya terus memohon Kenzo menjadi tidak tega.
Kenzo lebih dulu mendesah sebelum akhirnya menyetujui permintaan istrinya. "Baiklah, ayo."
"Yey," seru Felicia.
__ADS_1
"Kamu bersiap-siaplah! Aku akan mengambil dompetku dulu," ucap Kenzo.
Felicia mengangguk dengan semangatnya.
Selang beberapa menit Felicia keluar dari kamarnya untuk menghampiri Kenzo yang sudah menunggunya di lantai bawah. Ia melangkah kecil di anak tangga rumahnya.
"Ayo, aku sudah siap." Felicia berucap tanpa menghentikan langkahnya.
Suara lembut Felicia masuk ke dalam indra pendengaran Kenzo. Laki-laki itu menoleh ke arah istrinya yang sedang melangkah di undakan anak tangga. Matanya melihat istrinya memakai dress berwarna hitam ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya, panjang dress itu sampai batas lutut. Cantik! Apalagi dengan rambut panjang hitam bergelombangnya yang sengaja Felicia urai.
Kenzo terpana melihat penampilan istrinya yang nampak berbeda. Beberapa saat Kenzo tenggelam dalam diam dengan terus memperhatikan istrinya.
"Kenzo ... ada apa?" tanya Felicia.
Tidak ada sahutan dari Kenzo. Felicia mengibaskan tangannya di depan wajah Kenzo lalu menggoyangkan tubuhnya.
"Kenzo ada apa?" Apa yang dilakukan oleh Felicia membuat Kenzo tersadar. "Kamu kenapa diam saja?"
"Ehmmmm." Kenzo berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Ada apa? Kenapa dari tadi kamu diam saja?" tanya Felicia.
"Tidak ada hanya ...." Kenzo melihat Felicia dari atas sampai bawah.
Felicia mengikuti arah pandang Kenzo, ia juga memperhatikan dirinya sendiri. "Hanya apa?"
Felicia masih menunggu jawaban dari Kenzo.
"Berbeda? Apa terlihat aneh?" tanya Felicia.
Kenzo menggeleng. "Tidak."
Kenzo mendekatkan dirinya pada Felicia. Ia selipkan rambut Felicia ke belakang telinganya. Kenzo memajukan wajahnya membuat Felicia memundurkan kepalanya.
"Kamu cantik," puji Kenzo.
Ucapan Kenzo berhasil membuat Felicia salah tingkah.
"Sudahlah ayo kita pergi. Aku sudah merasa lapar." Felicia berucap dengan menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Hmm, ayo," imbuh Kenzo.
Felicia berjalan ke garasi rumahnya mendahului Kenzo. Hatinya sedang merasa berbunga-bunga karena untuk pertama kalinya Kenzo memujinya.
"Ayo masuk," ucap Kenzo.
Felicia kembali merasa tersanjung saat Kenzo bersikap manis dengan membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo masuk. Kenapa diam saja," ucap Kenzo.
"Iya." Felicia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang depan.
__ADS_1
Di tempatnya Felicia memperhatikan Kenzo yang sedang berjalan memutari mobil itu.
"Sudah siap?" tanya Kenzo saat ia sudah masuk ke dalam mobil.
"Sudah," jawab Felicia.
Felicia melingkarkan sabuk pengaman ke tubuhnya sebelum suaminya melajukan mobilnya.
Mobil Mercedes Benz CLS- Class berwarna silver melaju melewati gerbang rumah itu. Kenzo duduk di kursi kemudi seraya berkonsentrasi mengemudi. Sementara Felicia duduk di samping Kenzo dengan bermain dengan ponselnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Kenzo.
"Apa saja. Aku cuma mau makan yang pedas," jawab Felicia.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak makan cabai saja di rumah," ujar Kenzo.
"Kenapa kamu suka sekali mengejekku?" Felicia mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataan Kenzo.
"Aku tidak mengejekmu. Aku hanya bertanya saja," ujar Kenzo.
"Ejekan dan pertanyaanmu, aku tidak bisa membedakannya." Felicia masih memasang wajah kesal, tetapi itu terlihat lucu oleh Kenzo.
"Jangan tertawa!" omel Felicia.
"Baik, baik. Aku minta maaf," ujar Kenzo seraya menahan tawanya. "Sekarang kamu mau makan apa?"
"Bakso saja," jawab Felicia.
"Mana ada tukang bakso yang berjualan malam-malam begini." Kenzo merasa terkejut dengan jawaban istrinya.
"Kenapa kamu berteriak. Aku hanya menjawab pertanyaanmu," balas Felicia.
"Tidak bisa yang lain saja?" tanya Kenzo.
"Aku tidak mau yang lain. Aku hanya ingin memakan itu saja," jawab Felicia.
"Tapi ini sudah malam, Feli. Di mana kita mencari pedangan bakso," jelas Kenzo.
"Ya kamu carilah. Tugas suami itu menyenangkan hati istri," ucap Kenzo.
"Dan istri tidak boleh menyulitkan suaminya," balas Kenzo.
Lagi-lagi Kenzo melihat wajah Felicia yang sedih. Itu membuat Kenzo menjadi tidak tega. Perasaan dulu saat dirinya menjalin hubungan dengan Vera, perempuan itu sangat penurut. Namun, kali ini perempuan bernama Felicia selalu suka menguji kesabarannya.
"Oke baiklah. Ayo kita cari sampai kita menemukan pedangan bakso." Akhirnya Kenzo menyerah dan memilih mengalah kepada istrinya.
"Kamu memang sangat baik." Felicia bersorak gembira bahkan mencium pipi Kenzo.
"Feli apa yang kamu lakukan." Kenzo merasa terkejut dengan tingkah Felicia. Ia sempat kehilangan kendali kemudinya. Bersyukur Kenzo mampu mengendalikan laju mobilnya kembali.
"Maaf, aku terlalu senang," ucap Felicia.
__ADS_1
Sudut bibir Kenzo tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Entah apa yang sedang menimpa istrinya. Tingkahn aneh Felicia susah untuk ditebak. Kadang membuat Kenzo merasa kesal sendiri, kadang juga membuatnya merasa senang.