
Tidak terasa tiga bulan sudah berlalu. Tentang masalahnya dengan Reza sudah selesai. Felicia memutuskan menarik tuntutannya terhadap Reza karena ia tidak tega dengan Rossa yang merupakan ibunya Reza terus memohon padanya. Namun, Felicia meminta agar Reza mau menandatangani perjanjian tertulis yang menyatakan Reza tidak akan mendekati dirinya maupun Kenzo. Dan setelah itu hidup rumah tangga Felicia berjalan dengan baik.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Felicia sedang mematut dirinya di cermin yang ada di hadapannya melihat penampilannya sendiri. Gaun merah maroon yang longgar dari bagian perutnya hingga sampai batas betisnya, dan lebar di bagian pundaknya sudah melekat di tubuhnya.
Senyum di bibirnya mengembang saat melihat bagian perutnya yang sudah membuncit. Kini kehamilannya sudah memasuki bulan ke-enam. Sungguh Keisha tidak menyangka waktu berjalan dengan begitu cepat. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi anaknya akan lahir ke dunia.
Felicia mengusap perutnya dengan bergerak ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang sedang Felicia buktikan dari sisi mana pun akan tetap sama, purut yang membuncit, pinggang yang bertambah lebar, juga bagian lengan dan betis makin bertambah besar.
"Apa aku terlihat begitu gemuk?" gumam Felicia.
Karena fokus pada postur tubuhnya Felicia sampai tidak menyadari jika Kenzo berdiri di belakangnya dan sedang menatapnya dengan menahan tawanya. Felicia baru sadar akan keberadaan Kenzo saat ia merasakan pelukan seseorang dari belakang.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Kenzo bertanya seraya mengusap perut Felicia yang buncit.
"Aku sedang melihat tubuhku. Sepertinya aku bertambah gemuk," jawab Felicia.
"Jelas sekali kamu bertambah gemuk. Kamu sedang hamil," ucap Kenzo.
"Lihat saja! Pipinya juga bertambah bulat." Kenzo mencibir pipi Felicia sebelum memberikan kecupan.
"Apa kamu tidak merasa ilfil melihat penampilanku yang sekarang? Tubuhku gemuk dan aku terlihat tidak seksi lagi." Felicia memasang wajah kecewa.
"Kenapa aku harus merasa ilfil? Meskipun tubuhmu gemuk tapi kamu masih terlihat seksi." Kenzo mengecup pundak polos Felicia.
"Jangan berbohong hanya untuk menghiburku." Felicia berubah jadi memberegut.
"Aku tidak berbohong, itu memang benar. Dengan perutmu yang membuncit ini, kamu terlihat makin seksi. Apalagi saat kita ...." Kenzo tidak melanjutkan ucapannya. Ia justru mengecup pundak polos Felicia dengan memberikan gigitan kecil.
Felicia tahu apa yang akan dikatakan oleh Kenzo melihat dari tatapan nakal suaminya. Wajah Felicia merona seketika melihat tatapan suaminya yang sedang berusaha menggodanya.
Felicia melepas pelukannya Kenzo lalu berbalik mengadap suaminya. "Berhenti menggodaku! Ayo kita berangkat sekarang atau nanti kita akan terlambat."
"Ayo." Kenzo menekuk sikunya agar Felicia bisa berpegangan pada ke lengannya.
Keduanya keluar dari kamar dan langsung menuju teras rumah. Di sana sudah ada Alan yang akan mengantar mereka ke kediaman Ferdinand untuk makan malam bersama.
Felicia duduk di kursi penumpang belakang bersama dengan Kenzo. Mobilitu melaju setelah Alan masuk ke dalamnya.
"Nanti kamu langsung pulang saja! Kami akan menginap di rumah papa Gio," suruh Kenzo pada Alan.
"Baik, Pak," sahut Alan.
Perjalan mereka awalnya berjalan lancar, tetapi tiba-tiba tersedat oleh kemacetan. Bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk melaju.
Kemacetan itu berlangsung lama membuat Felicia merasa jenuh. Namun, apa yang bisa dirinya perbuat dalam keadaan seperti itu kecuali bersabar menunggu sampai kemacetan itu benar-benar mereda.
__ADS_1
Felicia melihat ke sekelilingnya, banyak mobil-mobil yang mengalami nasib yang sama. Saat sedang memperhatikan sekitarnya tiba-tiba perutnya terasa sakit hingga membuatnya memekik.
"Awww!" Felica memekik saat ia merasakan sakit di bagian perutnya.
Mendengar pekikan istrinya jelas membuat kenzo terkejut. Dengan segera Kenzo melihat ke arah Felicia, Kenzo melihat Felicia sedang meringis seperti sedang menahan kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?" Kenzo sangat cemas melihat Felicia meringis seperti menahan sakit.
Felicia tidak menjawab dirinya terus meringis. Namun beberapa saat kemudian kening Kenzo mengerut saat melihat Felicia justru tertawa.
"Tadi kamu kesakitan, tapi kenapa sekarang kamu justru tertawa?" Kenzo menatap Felicia dengan tatapan aneh.
Felicia menarik napasnya dalam-dalam saat rasa kram di perutnya mereda.
"Jangan khawatir aku tidak apa-apa. Tadi anakmu menendang sangat keras membuat perutku terasa sakit," jelas Felicia.
"Menendang?" Kenzo terlihat bingung.
"Iya." Felicia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sini mana tanganmu!" Felicia menarik tangan Kenzo membawanya ke perut buncitnya.
"Ada apa?" tanya Kenzo.
"Baiklah." Beberapa detik kemudian tangan Kenzo merasakan sesuatu yang bergerak di dalam perut Felicia.
Kenzo merasa antusias, ia kembali mengusap perut Felicia dan ia merasakan kembali pergerakan pergerakan di dalam perut Felicia.
"Dia bergerak!" Kenzo terlihat sangat bahagia sampai tidak bisa bicara sepatah kata pun untuk mengungkapkan kebahagiaannya itu.
"Tentu saja dia bergerak. Dia hidup di dalam sini." Felicia mengusap perutnya dengan penuh kebahagiaan di wajahnya.
"Apa dia sering mendendangkan seperti ini?" tanya Kenzo.
"Beberapa minggu ini dia sering bergerak aktif," jawab Felicia.
"Tapi aku baru tahu sekarang," ucap Kenzo.
"Itu karena kamu sibuk terus. Dua minggu ini kamu pulang pergi keluar kota. Hari ini sebuah keajaiban kamu meluangkan waktu untuk makan malam bersama keluarga kita," ucap Felicia dengan wajahnya yang cemberut.
"Maafkan aku." Kenzo menarik kepala Felicia merebahkannya di pundaknya.
"Maafin Papi ya, Nak." Kenzo mengusap perut Felicia. Senyumnya mengembang saat kembali merasakan pergerakkan perut Felicia.
Dalam kemacetan yang begitu panjang tidak terasa melelahkan karena kebahagiaan yang sedang Kenzo dan Felicia rasakan. Kenzo terus menciumi perut Felicia karena ingin merasakan pergerakan anaknya. Apa yang dilakukan oleh Kenzo berhasil membuat Felicia terkikik geli. Mereka berdua tidak memperdulikan apapun dan siapapun, mereka hanya fokus pada kebagian yang mereka ciptakan sendiri.
__ADS_1
Setelah berkutat dalam kemacetan selama hampir dua jam akhirnya mereka lolos juga dari kemacetan. Mobil yang mereka naiki memasuki perumahan mewah dan berhenti tepat di depan kediaman Pramuja.
"Kami turun di sini saja," ucap Kenzo.
Kenzo keluar dari mobil bergantian dengan Felicia. Ia membantu istrinya untuk keluar dari mobil.
"Hati-hati! Awas kepalamu!" ucap Kenzo.
Felicia merasa jengah dengan sikap posesif suaminya. Meskipun begitu Felicia juga merasa sangat bahagia kerena suaminya memerhatikan dirinya dari hal yang kecil sekalipun.
"Alan, kamu bisa langsung. Tapi ingat persiapkan semuanya untuk besok. Jangan sampai ada kekurangan sedikitpun," perintah Kenzo.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Alam membungkukkan tubuhnya di depan Kenzo dan Felicia sebelum pergi dari tempat itu bersama dengan mobilnya.
"Ayo masuk, Sayang!" ajak Kenzo.
Kenzo melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Felicia membawa masuk istrinya ke kediaman Ferdinand. Kenzo melihat sudah banyak mobil yang terparkir di depan rumah besar itu termasuk mobil kedua orangtuanya.
"Sepertinya semua orang sudah datang," ucap Kenzo.
Tidak ada respon apapun dari Felicia membuat Kenzo menoleh, ia melihat istrinya diam dengan wajahnya yang terlihat sedih.
Kenzo menghentikan langkahnya lalu membalik tubuh Felicia. Mereka berdiri saling berhadapan, tetapi Felicia tidak mau melihat ke arah Kenzo.
"Ada apa? Kenapa wajahmu berubah sedih?" tanya Kenzo.
"Bagaimana aku tidak merasa sedih. Dari kemarin kamu selalu sibuk. Hari ini kamu meluangkan waktu untuk makan malam dan aku merasa sangat. Tapi besok ... kamu harus kembali bekerja lagi," jawab Felicia.
"Tidak bisakah kamu meluangkan waktu satu hari penuh untukku?" tanya Felicia
"Jadi itu yang membuat kamu merajuk?" Kenzo menarik hidung Felicia lalu menggoyangkannya. Kenzo merasa gemas saat melihat wajah Felicia yang sedang merajuk, menurutnya itu terlihat sangat lucu.
"Tenang saja Sayangku. Bila waktunya tiba aku pasti akan meluangkan waktu lebih banyak untukmu dan calon anak kita ini." Kenzo mengecup perut buncit Felicia. Lagi-lagi Kenzo merasakan pergerakan bayi di dalam perut Felicia seolah bayi itu bisa merespon ucapannya.
"Janji ya," ucap Felicia.
"Iya, Sayangku," ucap Kenzo.
"Bagaimana jika kamu ingkar?" tanya Felicia.
"Jika aku ingkar kamu boleh minta apapun dariku," jawab Kenzo.
"Baiklah, aku suka itu." Wajah Felicia yang tadinya sedih kini dihiasi oleh senyum jahat.
Kenzo tidak akan terkejut dengan perubahan suasana hati Felicia. Selama hamil sikap Felicia selalu gampang berubah dan itu membuat Kenzo harus memiliki kesabaran ekstra.
__ADS_1