
Flora dan Gio sedang berdebat mengenai Bella. Setelah mendapat kabar mengenai Bella, Flora bersikeras untuk menjenguk Bella. Namun, Gio melarangnya.
“Memang kenapa aku gak boleh jenguk Bella?” tanya Flora.
“Untuk apa lagi, Flora. Biarkan saja dia,” ucap Gio. “Lagi pula kata om Mahendra dia sudah baik-baik saja.”
“Tapi dia pernah menolongmu, apa salahnya jika kita menjenguknya,” ucap Flora. “Setidaknya kita kasih support dia.”
“Flora ... dengar!” Gio menggenggam tangan Flora. “Bukan aku bermaksud untuk melupakan semua yang sudah Bella lakukan untuk aku. Aku hanya tidak ingin terus-menerus memberikan dia harapan.”
“Jika aku datang ke sana, dia akan berpikir jika aku memiliki perasaan terhadap dirinya. Biarkan saja dia sadar jika aku bukan Elang,” jelas Gio. “Kamu mengerti, 'kan?”
Flora diam untuk mencerna perkataan Gio. Setelah memikirkannya sejenak, Flora sadar. Benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Jika dirinya dan Gio datang, pasti akan menambah luka pada diri Bella. Biarkan saja Bella menyadari dengan sendirinya.
Flora membalas genggaman tangan Gio lalu menunjukan senyumnya pada sang suami.
“Iya, kamu benar juga,” ucap Flora. “Ya sudah, cepatlah mandi! Kita sarapan bersama dan kita harus segera pergi ke kantor,” ucap Flora “Semua orang harus tahu jika kamu adalah Revaldo Giovanni Ferdinand,” ucap Flora dengan bangganya.
“Kamu mau pamer pada mereka,” ledek Gio.
“Iya, dong,” seru Flora seraya tersenyum sumringah.
“Aku sangat merindukan senyummu ini, Sayangku,” ucap Gio.
“Aku pun juga merindukan panggilan 'sayang' darimu, Suamiku,” balas Flora.
“Ya sudah sana mandi,” ucap Flora.
“Iya, bawel.” Gio mencuri kecupan di bibir Flora.
Gio beranjak dari atas tempat tidur lalu melangkah ke kamar mandi. Sedangkan Flora menyiapkan pakaian untuk suaminya. Flora merasa senang hati melayani suaminya, sudah lama ia tidak melakukan itu.
Tidak lama Gio keluar dari kamar mandi. Gio keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya, rambutnya yang basah makin membuat Gio semakin seksi di mata Flora.
Flora merasa aneh pada dirinya. Seolah ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya. Flora merasa malu melihat Gio, padahal semalam dirinya dan Gio sudah sama-sama saling telanjang.
“Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu.” Nada bicara Flora terdengar sangat gugup.
Kegugupan Flora disadari oleh Gio, membuat Gio memiliki kesempatan untuk menggoda Flora. Gio berjalan mendekat ke arah Flora diikuti senyum nakalnya.
Gio menaruh kedua tangannya di pundak istrinya, matanya menatap istrinya dengan tatapan nakalnya.
“Kenapa gugup?” tanya Gio.
“Si-siapa yang gugup?” kilah Flora.
Flora melihat ke arah lain, untuk menghindari tatapan Gio yang sangat menggiurkan.
“Kok masih malu saja. Padahal semalam kamu yang ngajak aku buat nengok anak kita loh,” goda Gio.
“Ck, sudah sana ... cepat pakai baju kamu. Nanti kamu kedinginan,” ucap Flora.
“Kan ada kamu yang bisa menghangatkan aku.” Gio mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Flora.
“Kamu itu ... selalu saja bicara asal. Sudah sana pakai baju,” suruh Flora.
__ADS_1
“Iya, Sayangku. Aku akan pakai baju. Aku juga tidak tahan jika terlalu lama godain kamu.” Gio menjauhkan tangannya dari pundak Flora.
Flora membantu Gio memakai pakaiannya, mengaitkan kancing kemeja, dan yang terakhir memasangkan dasi ke leher suaminya.
“Sudah selesai,” ucap Flora.
“Terima kasih, Sayangku,” ucap Gio seraya memberikan kecupan di pipi lalu ke perut Flora. “Anak papa sudah lapar?” tanya Gio.
“Sudah, Papa,” jawab Flora yang mengikuti suara anak kecil.
“Ayo kita sarapan,” ajak Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
Gio melingkarkan tangannya ke pinggang Flora, membawanya keluar dari kamar menuju meja makan.
“Pagi, Bu,” sapa Gio.
“Pagi, Gio,” sapa balik Seruni.
“Ayo, kita sarapan bersama,” ajak Seruni yang langsung dianggukki oleh Flora dan juga Gio.
Gio menarik kursi untuk Flora baru setelah itu Gio menarik kursi untuk tempat duduknya sendiri.
Flora langsung menyajikan sandwich telur yang ia buat sebelumnya ke piring Gio.
“Ini makanlah,” ucap Flora.
“Terima kasih,” balas Gio.
Selesai sarapan Flora dan Gio berpamitan kepada Seruni untuk berangkat ke kantor. Keduanya pun bergantian menyalami tangan Seruni.
“Baik, Pak.” Segera Pak Roni membukakan pintu mobil untuk Gio dan juga Flora.
Setelah kedua bos-nya masuk, pak Roni pun menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
Mobil Mercedez milik Gio sudah bergabung bersama kendaraan lainnya di jalan raya. Laju mobil itu lumayan lancar, karena belum terjebak oleh kemacetan.
Gio dan Flora turun dari dalam mobil setelah sampai di depan kantor mereka. Keduanya berjalan bersama masuk ke dalam gedung pencakar langit itu.
*****
Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Gio dan Flora bersiap untuk keluar kantor. Hari itu mereka akan melakukan USG kandungan Flora. Mereka sangat antusias untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka.
Flora dan Gio berjalan ke arah lobi. Banyak karyawan yang menyapa keduanya. Kini semua karyawan di kantor itu sudah mengetahui jika Gio masih hidup. Bahkan mereka sependapat jika Gio yang sekarang jauh lebih tampan dari yang dulu.
Sampai di lobi mereka masuk ke dalam satu mobil yang sama. Gio langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Jalanan sudah terlihat pasangan padat. Beruntung Gio dan Flora berangkat lebih awal membuat mereka tidak terlambat sampai ke rumah sakit.
Gio lebih dulu memarkirkan mobilnya di area parkir Rumah Sakit. Setelah itu mereka berjalan masuk ke dalam Rumah Sakit dengan tangan tang mereka satukan.
Gio dan Flora melangkah menyusuri koridor menuju ruangan Dokter Marissa. Sampai di ruangan Dokter Marissa keduanya langsung masuk ke dalamnya.
“Selamat siang, Dokter Marisa,” sapa Flora dan juga Gio.
“Selamat siang Ibu Flora dan ....” Dokter Marissa merasa heran dengan laki-laki di samping Flora.
“Dia suami saya, Dokter,” ucap Flora. “Dia Gio.”
__ADS_1
“Suami Anda?” Dokter Marisa nampak bingung. “Wajahnya berbeda ....”
“Ceritanya panjang, Dokter Marissa. Tapi dia adalah Gio suami saya,” ucap Flora.
“Baiklah, ayo kita mulai saja pemeriksaannya. Ibu Flora silahkan tiduran di sana.” Dokter Marisa menyuruh Flora untuk merebahkan tubuhnya di ranjang kecil yang ada di ruangan itu.
Flora berjalan diikuti oleh Gio. Gio membantu istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Bagaimana keadaan Anda, Ibu Flora?” tanya Dokter Marissa. “Apa ada keluhan?”
Flora menggeleng. “Tidak ada, Dok. Saya ingin tahu jenis kelamin anak kami.”
“Baiklah.”
Seorang perawat menaikan pakaian atas Flora lalu memberikan gel bening ke perut Flora. Perawat itu mulai menggerakkan alat usg di atas perut Flora.
Jantung Flora dan Gio berdetak kencang saat melihat calon anak mereka. Terlihat begitu jelas di layar komputer di hadapan merek. Gio sampai terharu karena itu adalah pertama kalinya mendengar detak jantung buah hatinya yang masih ada di dalam kandungan istrinya.
“Selamat Bapak, Ibu ... anak pertama kalian perempuan,” ucap Dokter Marissa.
Wajah Flora dan Gio terlihat begitu bahagia, bahkan kebahagiaan mereka tidak bisa dilukiskan dengan cara apapun.
“Aku tidak sabar menanti anak kita lahir,” ucap Gio. Tanpa sadar air matanya keluar dar matanya.
“Aku juga,” imbuh Flora.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan Flora dan Gio keluar dari ruangan Dokter Marissa. Saat keduanya baru akan melangkah, mereka bertemu dengan ibunya Bella.
“Elang,” panggilnya.
Flora dan Gio menghentikan langkah mereka, lalu menoleh ke asal suara. Gio dan Flora melihat ibunya Bella tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Untung kita bertemu di sini. Saya mau minta tolong padamu, Elang. Maksud saya, Gio,” ucapnya.
“Minta tolong apa, Tante?” tanya Gio.
“Tolong temui Bella. Bujuk dia untuk makan. Dari tadi pagi dia belum mau makan,” pinta ibunya Bella.
“Maaf, Tante ... saya tidak bisa,” ucap Gio.
“Tapi ....”
“Sayang, ayo aku antar pulang,” ajak Gio tanpa memperdulikan perkataan ibunya Bella.
“Elang ... tolonglah,” pinta ibunya Bella sekali lagi.
“Tante —” Ucapan Gio langsung terpotong oleh Flora.
“Gio, temui dia. Setidaknya sekali saja,” ucap Flora.
“Tapi —”
“Please,” mohon Flora.
“Oke, baiklah. Tapi kamu harus ikut bersamaku,” pinta Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
__ADS_1