Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Menghindar


__ADS_3

Kenzo tidak mengerti apa yang terjadi pada Felicia. Sudah hampir dua hari lamanya istrinya itu diam. Jika bicara pun hanya akan marah-marah. Kenzo merasa jika dirinya bukan menikahi seorang wanita, tetapi singa betina yang bila terganggu pasti akan langsung memangsa.


Di pagi hari tepatnya pukul 7 pagi Kenzo baru selesai olahraga. Laki-laki itu masuk ke dalam rumah. Pandangan Kenzo mengarah ke anak tangga. Matanya melihat istrinya sedang bicara pada seseorang di sambungan telepon. Pakaiannya sudah rapi sepertinya sudah siap untuk pergi ke kantor.


"Kamu mau ke mana?" Kenzo bertanya setelah Felicia selesai menelpon.


"Kantor." Felicia menjawab tanpa menghentikan langkahnya.


"Bukankah kamu masih cuti," tanya Kenzo.


"Cuti itu bagi orang yang membutuhkannya. Lagi pula untuk apa aku mengambil cuti terlalu lama? Aku juga tidak tahu apa yang mau aku lakukan?" jawab Felicia.


Felicia pergi tanpa pamit kepada suaminya. Hatinya masih merasa sangat sakit atas apa yang sudah Kenzo lakukan pada dirinya. Ia sudah bertekad untuk tidak mengurusi suaminya. Terserah apa yang mau dilakukan oleh suaminya di luaran sana. Sampai di teras rumahnya Felicia langsung masuk ke dalam mobil yang sudah siap mengantarnya ke tempat ia bekerja.


"Apa yang terjadi pada perempuan itu? Biasanya dia tidak seperti itu. Dia memang galak, tapi dia masih memiliki etika. Dan lihatlah sekarang, perempuan itu pergi begitu saja seperti tidak menganggap keberadaanku," gerutu Kenzo.


Kenzo memilih untuk mandi. Ia juga sudah memutuskan untuk pergi bekerja saja. Setelah selesai mandi Kenzo mengeluarkan satu setel pakaian kerjanya dari dalam lemari lalu memakainya.


Selesai dengan itu Kenzo mencari telepon genggamnya untuk menghubungi Alan agar asisten pribadinya menjemputnya. Saat membuka salah satu aplikasi ponselnya Kenzo tidak sengaja melihat riwayat panggilannya. Ada panggilan masuk dari nomor Felicia, tetapi Kenzo tidak ingat jika dirinya menerima panggilan dari Felicia pada waktu yang tertera di riwayat panggilan itu.


Kenzo mengingat-ingat kejadian satu hari yang lalu. Ia benar-benar tidak mengingat apapun. Setelah berusaha keras mengingatnya Kenzo akhirnya mengingat sesuatu.


"Ini pasti kerjaan, Vera. Pada waktu itu aku sedang ada di rumahnya." Kenzo rasanya ingin mengumpat, tetapi Kenzo menahannya.


Akan tetapi ada satu hal yang membuat Kenzo heran, untuk apa Vera melakukan itu?


Makin memikirkan hal itu membuat kepala Kenzo rasanya ingin meledak. Lebih baik dirinya memikirkan banyak pekerjaan dibandingkan memikirkan masalah hati. Karena setelah hatinya terluka rasanya Kenzo muak jika memikirkan tentang sebuah perasaan.


Kenzo sedang memakan satu tumpuk roti isi dengan secangkir teh. Terpaksa ia harus menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, karena istrinya pergi begitu saja.


Tin tin tin


Kenzo mendengar suara klakson mobil milik Alan. Segera Kenzo menyelesaikannya sarapannya sebelum ia berangkat ke kantor.


"Pagi, Pak." Alan menyapa seraya membuka pintu mobil untuk atasannya.


"Pagi." Kenzo membalas sapaan Alan seraya masuk ke dalam mobil.


Mobil yang dinaiki oleh Kenzo mulai melaju setelah Alan kembali ke masuk ke dalam mobil itu. Dalam perjalanan Kenzo duduk dalam diam. Penglihatannya mengarah pada jalanan yang dilaluinya, tetapi dengan pandangan kosong. Entah apa dan siapa yang sedang Kenzo pikirkan.


"Baru dua hari Bapak menikah. Kenapa Bapak sudah mau masuk ke kantor?" tanya Alan.


"Kamu bertanya atau sedang menyindirku?" Kenzo bertanya kepada asisten pribadinya.


Alan melihat tatapan tajam atasannya melalui kaca spion yang ada di hadapannya. Tatapannya biasa, tetapi terlihat menakutkan. "Maaf, Pak. Saya hanya bertanya."


"Minta Nanda untuk mengatur ulang jadwalku," pinta Kenzo.

__ADS_1


"Baik, Pak." Alan menyahut masih dengan berkonsentrasi mengemudi.


*****


Di tempat lain dan di waktu yang sama.


Felicia memilih untuk mengendari mobilnya sendiri. Sampai di kantornya Felicia segera memarkirkan mobilnya. Setelah mematikan mesin mobilnya Felicia turun dari dalamnya.


Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam gedung kantornya. Banyak karyawan yang menyapanya dan mengucapkan selamat untuk pernikahannya. Dalam setiap langkahnya telinga Felicia juga bisa mendengar bisik-bisik dari para karyawannya.


Meski tidak terlalu jelas, tetapi Felicia bisa mendengar jika mereka sedang membicarakan tentang dirinya dan juga Kenzo. Tidak tahan dengan itu Felicia menghentikan langkahnya untuk menegur karyawannya.


"Apa kalian dibayar hanya untuk bergosip?" tanya Felicia.


"Maaf, Bu."


Melihat tatapan tajam Felicia para karyawan yang sedang bergosip itu langsung membubarkan diri. Mereka memilih untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.


Felicia juga kembali melangkah ke ruangannya. Sudah hampir dua hari dirinya merasa kesal dengan Kenzo, kini rasa kesalnya bertambah dengan para karyawannya yang bergosip mengenai pernikahannya.


"Selamat pagi, Bu," sapa Tania.


"Pagi." Felicia membalas sapaan Tania seraya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Ibu kenapa sudah —" Ucapan Tania langsung dipotong oleh Felicia.


"Iya, Bu." Ada kebingungan di dalam nada bicara Tania.


"Sebaiknya kamu atur ulang jadwalku."


"Tapi, Bu ...."


"Jika kamu sudah tidak betah berkerja di sini silakan persiapan surat pengunduran diri kamu," ucap Felicia.


Tania terbengong mendengar perkataan Felicia. Ia tidak merasa sedih ataupun kesal dengan perkataan atasannya. Justru Tania merasa heran, tidak biasanya atasannya bicara dengan nada ketus seperti itu.


Ada apa dengan bos-nya?


"Baik, Bu. Saya akan atur ulang jadwal Ibu," ucap Tania.


Sepertinya mood ibu bos sedang tidak bagus.


"Bagus," sahut Felicia. "Sekarang lebih baik kamu kembali bekerja."


"Baik. Saya permisi, Bu," ucap Tania.


"Hmmmmm."

__ADS_1


Seharian Felicia berkonsentrasi berkerja untuk mengalihkan rasa kesalnya pada Kenzo. Dalam seharian itu pula Felicia menduga jika Kenzo sedang bersama Vera. Pikiran-pikiran negatif tentang kedua orang itu muncul di benaknya.


"Dasar kedua orang itu memang tidak tahu malu! Sudah punya suami dan istri masih saja berhubungan gelap." Felicia menggerutu dalam hatinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Felicia malas sekali untuk pulang ke rumahnya. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah kedua orang tua saja. Untuk sementara Felicia ingin menghindari suaminya.


Felicia kembali mengendarai mobilnya menuju kediaman Ferdinand. Jalanan sudah terlihat sangat padat hingga membuat laju mobilnya tersendat.


Dalam kemacetan Felicia duduk dengan menyenderkan kepalanya di punggung kursi yang sedang ia duduki dengan kedua tangannya masih memegang kemudi. Beberapa kali ia menghembuskan napasnya dalam-dalam untuk memberikan kesabaran bagi dirinya sendiri.


"Kapan kemacetan ini selesai?" Felicia berdetak seraya membatin.


Setelah terjebak di dalam kemacetan cukup lama akhirnya laju mobil Felicia kembali lancar. Kemacetan yang sudah tidak terjadi membuat Felicia sampai di rumah kedua orang tuanya dengan cepat.


Sampai di kediaman kedua orang tuanya Felicia keluar dari mobilnya. Dengan berlari kecil ia melangkah untuk masuk ke dalam rumah itu.


"Mamah, Papah." Felicia berjalan masuk ke dalam rumah itu dengan memanggil kedua orang tuanya.


"Feli ... kenapa kamu ke sini, Nak?" tanya Gio.


"Mungkin kak Feli lupa, Pah kalau dia sudah menikah dan tinggal di rumah barunya," ledek Gavindra.


Felicia tidak ingin menanggapi ledekan Gavindra. Ia lebih memilih untuk merengek kepada kedua orang tuanya. "Feli mau menginap di sini ya, Pah, Mah."


"Terus suami kamu bagaimana kalau kamu menginap di sini?" tanya Flora.


"Biarkan saja. Dia sudah besar, 'kan," jawab Felicia.


"Tapi, Nak —" Ucapan Flora terpotong oleh Gio.


"Ya sudah, mandi dulu. Habis itu kamu makan malam," ucap Gio.


"Loh, Pah ... kenapa kamu malah ngizinin Felicia menginap di sini," ucap Flora.


"Biarkan saja dulu, Mah. Ini juga masih rumahnya," ucap Gio.


"Yey, terima kasih Pah. Papah memang yang terbaik." Felicia berseru sebelum berlari ke kamarnya.


Sementara itu Kenzo baru saja tiba di rumah barunya, tetapi rumahnya masih gelap gulita.


"Apa perempuan pemarah itu belum pulang?" batin Kenzo.


"Sepertinya ibu belum pulang, Pak. Mobilnya juga tidak ada," ucap Alan.


"Keterlaluan perempuan itu! Apa dia tidak tahu ini sudah malam," omel Kenzo.


Kenzo lebih kesal lagi saat panggilannya diabadikan oleh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2