Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Season 1 end


__ADS_3

Kehamilan kali ini Gio memang tidak mengidam seperti saat Flora sedang mengandung Felicia. Namun, Gio harus ekstra sabar menghadapi sikap Flora yang seenaknya sendiri, kadang marah-marah tidak jelas, tetapi masih ada yang membuat Gio sabar yaitu sikap Flora yang agresif.



Gambar Hanya pemanis gaess.


"Kamu gak mau nengok anak kita?"


Itulah alasan yang selalu Flora gunakan untuk mengajak suaminya untuk bercinta. Dengan senang hati Gio akan menerima ajakan istrinya.


Tidak terasa waktu tujuh bulan sudah terlewati. Waktu persalinan Flora pun tinggal menunggu hari. Diperkirakan satu minggu lagi Flora akan segera melahirkan anak keduanya. Dari hasil USG diperkirakan anak kedua mereka berjenis kelamin laki-laki.


Sepertinya bayi itu ingin cepat keluar untuk melihat dunia. Hingga persalinannya terjadi lebih awal dari hari perkiraan lahirnya.


"Sakit banget ya?" Gio bertanya pada Flora saat melihat Flora meringis, bahkan ada air mata yang menitih dari matanya.


Flora hanya mampu menanggapinya dengan anggukan kepala saja.


Gio menarik kepala Flora, menyandarkannya ke pundaknya. Tangan Gio melingkar di sepanjang pinggang Flora seraya mengusap pinggang istrinya.


"Mau cium gak?" tawar Gio.


"Aku lagi kesakitan begini kamu masih bisa mikirin hal kaya gitu," omel Flora.


"Aku kira kamu mau dicium kaya dulu waktu mau melahirkan Felicia," ucap Gio.


"Aku gak pengin apa-apa. Aku pengin tiduran saja," ucap Flora.


Flora merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi miring ke kiri. Saat ia kembali merasakan perutnya melilit Flora akan menarik napasnya lalu memghembuskannya kembali untuk meredakan rasa sakitnya.


Gio duduk di hadapan Flora dengan posisi memeluk Flora. Tangannya tidak berhenti mengusap pinggang istrinya.


"Sakit," rintih Flora.


"Sabar ya. Sebentar lagi rasa sakitnya hilang setelah anak kita lahir," ucap Gio.


Flora hanya mampu merespon perkataan suaminya dengan anggukan kepalanya. Mengingat setelah itu dirinya akan mendapatkan bayi kembali. Itulah yang menjadi kekuatan untuk menahan rasa sakit yang sedang dirasakannya.


"Kamu tahu? Aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita. Kamu mau tahu?" tanya Gio.


Flora menganggukkan kepalanya.


"Namanya Gavindra Abimana Ferdinand," ucap Gio.


"Nama yang bagus, 'kan?" Gio bertanya untuk meminta pendapat dari istrinya.


Gio juga sengaja terus berbicara tentang anak mereka agar bisa mengalihkan rasa sakit istrinya.


"Kalau anak kita ini juga sudah lahir aku pasti makin sulit untuk berduaan dengan kamu. Aku jadi makin susah untuk ngerjain kamu malam-malam," ledek Gio.


Rasanya Flora ingin sekali memukul suaminya, atau melemparnya dari atap rumah sakit itu. Bisa-bisanya suaminya masih memikirkan hal seperti itu di saat kondisinya yang sedang kesakitan.


Flora lupa jika suaminya itu memang sudah terbiasa dengan semua itu. Di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun suaminya memiliki kesempatan untuk menggodanya.


"Sayang ...." Flora mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah suaminya mempertemukan pandangannya dengan sang suami.


"Ada apa?" tanya Gio.


"Mau cium," ucap Flora dengan manjanya.


Kedua sudut bibir Gio melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


Tidak menunda lagi Gio langsung mengecup bibir Flora. Tangannya tidak berhenti untuk mengusap perut Flora yang membesar. Gio terus memberikan kecupan di bibir Flora untuk mengalihkan rasa sakit yang tengah dirasakan oleh istrinya.


Gio mendengar suara pintu terbuka, dengan segera Gio menjauhkan wajahnya dari wajah Flora. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang dibuka dari luar. Dari balik pintu itu muncul Felicia yang langsung berlari ke arah mereka.


"Mamah, Papah."


Flora dan Gio mengembangkan senyumnya saat melihat kedatangan peri kecil mereka. Felicia datang bersama Seruni untuk melihat keadaan Flora.


"Putri kecil papa," ucap Gio.


Gio langsung mengangkat tubuh Felicia dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Felicia merengek minta ketemu sama kamu, Flora. Jadi ibu bawa ke sini," ucap Seruni.


"Iya, Bu. Terima kasih sudah bawa Felicia ke sini," ucap Flora.


"Mamah, kapan dede lahir?" tanya Felicia.


"Sebentar lagi, Sayang," jawab Flora.


"Doa'in mamah ya, biar dede sama mamah baik-baik saja," ucap Flora.


"Iya, Mah," sahut Felicia.


Pintu kembali terbuka memunculkan Dokter Marisa dan juga dua orang perawat di belakangnya.


"Saya periksa lagi ya, Bu," ucap Dokter Marisa.


Sebelumnya Flora sudah diperiksa dan sudah memasuki pembukaan enam. Kini Flora diperiksa kembali. Ternyata Flora sudah memasuki pembukaan delapan. Flora sudah harus segera dibawa ke ruang persalinan.


"Mamah baik-baik saja ya. Felicia pulang dulu," ucap Felicia.


"Felicia sama nenek dulu ya. Jangan nakal, jangan bikin nenek repot juga." Gio berpesan pada anaknya. "Gio nitip Felicia dulu ya, Bu."


"Iya, kamu fokus saja sama Flora. Ibu yang akan urus Felicia," ucap Seruni.


"Terima kasih ya, Bu," ucap Gio.


Flora melambaikan tangannya ke  Felicia saat ia mulai dibawa ke ruang persalinan. Dari ruangan rawat hingga sampai di ruang persalinan Flora tidak melepaskan genggaman tangan suaminya. Padahal itu bukan pertama kali dirinya akan melahirkan, tetapi perasaan takut masih Flora rasakan.


Setelah menunggu beberapa saat di ruang persalinan Flora kembali diperiksa. Ternyata sudah memasuki pembukaan sempurna.


"Ibu Flora bersiap ya," ucap Dokter Marisa.


Flora memposisikan dirinya untuk segera melahirkan anak keduanya. Flora mengejan saat terasa ada dorongan dari dalam perutnya. Tangannya terus menggenggam tangan suaminya, meminta dukungan pada suaminya.


Gio sendiri masih menggenggam tangan istrinya dengan erat. Tidak seperti persalinan Flora yang pertama, pada persalinan kedua istrinya Gio tidak selemas dulu saat melihat begitu banyak darah.


Dalam kurung waktu setengah jam, bayi laki-laki berbobot 3,5 kilogram dengan panjang 50 centimeter lahir dengan sempurna ke dunia. Tangisan bayi yang mengisi ruangan itu membuat haru Gio dan juga Flora.


"Selamat ya Bapak-Ibu ... anak keduanya lahir dengan selamat," ucap Dokter Marissa.


Setelah dibersihkan bayi laki-laki itu diberikan oleh perawat kepada Gio.


Dengan hati-hati Gio menerima anaknya. Rasanya sangat bahagia sampai Gio tidak bisa mengungkapkan perasaannya.


"Anak papa," ucap Gio. "Gavindra Abimana Ferdinand.


*****


Flora sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Malam itu Flora harus beristirahat di rumah sakit karena tidak mungkin untuk pulang tengah malam.

__ADS_1


Gio menimang anak keduanya yang sedang merengek. Cara mengendong Gio sudah tidak kaku lagi seakan sudah terbiasa menggendong bayi.


"Anak papa kenapa menangis?" Gio bertanya seolah bayi kecilnya bisa menjawab pertanyaannya.


Gio terus menimang Gavindra, tetapi rengekan bayi kecilnya justru semakin kencang. Melihat istrinya tidur dengan nyenyak membuatnya tidak tega untuk membangunkan istrinya.


"Anak papa berhenti menangis ya," ucap Gio.


"Dede nangis ya."


Gio menolehkan pandangannya saat mendengar suara Flora.


"Kamu kebiasaan gak mau bangunin aku," ucap Flora.


"Aku gak tega. Kamu tidurnya nyenyak banget," ucap Gio.


"Sini berikan dede sama aku. Dia pasti haus." Flora mencoba mengambil posisi duduk.


Gio melangkah menghampiri Flora dengan membawa Gavindra. Ia serahkan Gavindra pada Flora.


"Anak mama haus ya," ucap Flora.


Flora membuka satu persatu kancing bajunya. Lalu mengarahkan mulut Gavindra ke arah buah dadanya. Flora mengusap kening Gavindra seraya tersenyum melihat anak keduanya sudah ada di dalam dekapannya.


Gio mengambil posisi duduk di samping istrinya, melingkarkan tangannya ke pundak istrinya. Gio menjatuhkan kepalanya ke pundak sang istri seolah menumpahkan lelahnya di sana.


"Flora ...," panggil Gio.


"Ada apa?" tanya Flora.


"Terima kasih ya. Sudah selalu berada di sisi aku, sudah memberikan aku anak-anak yang lucu. Hidup aku terasa lebih sempurna dengan adanya kalian," ucap Gio.


Flora tersenyum lalu mengusap sisi wajah suaminya. "Terima kasih juga sudah sangat mencintaiku."


Flora menoleh ke arah suaminya.


Pandangan keduanya bertemu pada satu titik yang sama. Dalam pandangan itu Flora bisa melihat ketulusan dan kasih sayang suaminya.


"Bertemu denganmu membuat banyak perubahan dalam hidup aku," ucap Flora.


Gio memberikan kecupan di kening Flora dalam jeda waktu yang lebih lama.


"Flora Melinda Putri Ferdinand," panggil Gio. "I love you, Honey"


"I love you too, my Hubby."


Kedua saling menatap dengan pandangan penuh rasa cinta sebelum akhirnya menyatukan kening mereka.



Gambar hanya pemanis. Felicia Aurora Ferdinand



Gavindra Abimana Ferdinand umur 6 bulan.


Gambar hanya pemanis ya gaes.


**Selesai season 1. Terima kasih untuk semua yang sudah baca sampai sini. Kiss dari jauh untuk kalian.


Nantikan season 2 dari cerita ini**.

__ADS_1


__ADS_2