Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Malam Setelah Menikah


__ADS_3

Setelah acara akad nikah selesai, maka resmilah mereka menjadi sepasang suami-istri yang sah. Felicia ingin bersorak untuk dirinya sendiri. Sebelumnya ia berpikir jika Kenzo tidak akan datang ke acara pernikahan mereka. Melihat Kenzo datang menjadi awal dari kemenangan pertamanya dan itu artinya Kenzo ingin melupakan Vera.


Kini keduanya tengah berada di dalam satu kamar yang sama untuk berganti pakaian. Resepsi pernikahan sudah menanti mereka. Para tamu undangan juga sudah ingin melihat sepasang pengantin baru itu.


"Hai, Bapak Kenzo ... apa Anda tidak mengundang mantan kekasihmu itu?" tanya Felicia.


Kenzo mendengkus kesal, ia tahu pertanyaan yang Felicia lontarkan merupakan sindiran untuknya. Diam adalah pilihan yang terbaik bagi Kenzo. Namun, sepertinya istinya tidak memiliki niatan untuk berhenti menyindirnya.


"Aku merasa penasaran dan ingin melihat ekspresi wajah mantan kekasihmu itu saat melihat kamu menikah dengan perempuan lain," ucap Felicia.


"Bisakah kamu berhenti bicara? Atau aku sendiri yang akan membungkam mulutmu sendiri nantinya," ancam Kenzo.


"Galak sekali! Bersikaplah manis padaku. Aku ini istrimu." Felicia berucap dengan menahan tawanya.


"Kamu ...." Kenzo kehabisan kata-kata untuk membalas kata-kata istrinya.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Kenzi.


Felicia dan Kenzo sama-sama menolehkan pandangannya mereka ke asal suara. Keduanya melihat Kenzi dan Gavindra ada di depan pintu kamar itu.


"Cepatlah keluar! Kalian harus segera turun ke aula. Para tamu undangan sudah menunggu kalian," imbuh Gavindra.


"Cepatlah keluar, kami harus menghias kamar ini," suruh Kenzo.


"Hias saja kamar ini dengan bunga kamboja," ucap Kenzo dengan rasa kesalnya.


Felicia mendelik mendengar perkataan Kenzo. Ia merasa kesal dan ingin sekali memukul kepala suaminya.


Berbeda dengan dengan Felicia yang merasa kesal, Kenzi dan Gavindra mereka justru tergelak.


Kedua laki-laki itu tidak habis pikir, dua manusia berlainan jenis dan saling membenci bisa menikah. Bagaimana dengan kehidupan rumah tangga yang akan mereka jalani nanti? Semoga saja semuanya baik-baik saja.


Felicia memilih keluar lebih dulu dari kamar itu untuk menuju ke tempat resepsi. Ia tidak peduli dengan Kenzo yang masih ada di dalam kamar.


"Kenzo susul istrimu sekarang. Nanti keburu disambar orang loh," ledek Kenzi.


"Ck, dasar perempuan yang merepotkan," gerutu Kenzo.


Tidak ada pilihan lain bagi Kenzo saat itu kecuali menyusul istrinya. Kenzo keluar dari kamar itu dengan berlari agar bisa cepat menyusul istrinya.


Kenzo berhasil menyusul Felicia. Tangan istrinya langsung ia genggam dan membawanya ke aula.

__ADS_1


"Jangan macam-macam denganku." Kenzo menatap Felicia dengan tatapan seolah sedang mengintimidasi dirinya.


Tidak ada pembicaraan lagi. Mereka berjalan bersama menuju ke alua dalam diam.


Pesta mewah yang kedua keluarga itu adakan banyak dihadiri oleh orang dari kalangan pembisnis. Pernikahan itu pula seperti menggabungkan dua perusahaan besar.


Berbagai rangkaian acara pada pesta pernikahan itu sudah selesai dilakukan, termasuk acara pelemparan bunga. Orang yang beruntung mendapatkan bunga itu adalah Gavindra.


Malam semakin larut dan orang yang paling Felicia tunggu yaitu Vera, akhirnya datang juga. Felicia yang sedang berdansa dengan Kenzo melirik sekilas ke arah Vera yang datang bersama dengan suaminya. Setelah itu Felicia memberitahukan kedatangan Vera kepada Kenzo.


"Ehmmm, Suamiku ... ada yang sedang mencarimu." Felicia memberitahukan kedatangan Vera kepada Kenzo.


"Lihat itu!" Matanya menunjuk ke arah Vera membuat Kenzo mengikuti pandangannya.


Kenzo mengikuti arah pandang Felicia dan melihat Vera berjalan dengan bergandengan tangan dengan suaminya.


"Vera." Bibir Kenzo menyebut nama Vera tanpa bersuara.


Kenzo mengubah arah pandangnya kembali ke istrinya. "Bagaimana dia bisa datang ke sini? Aku tidak mengundangnya."


"Aku yang mengundangnya," jawab Felicia.


"Lancang sekali!" Kenzo berucap lirih tetapi penuh penekanan.


Kenzo merasa kesal melihat Felicia seperti orang yang yang tidak memiliki kesalahan. "Lihat saja aku akan memberimu pelajaran nanti."


"Aku akan menantikannya, Suamiku." Felicia mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Kenzo.


"Astaga!" Kenzo menghela napasnya, berharap dirinya bisa diberikan kesabaran untuk menghadapi istrinya.


"Jangan marah-marah terus. Nanti muncul keriput di wajahmu," ledek Felicia seraya menahan tawanya.


Berulang kali Kenzo menarik dan mengembuskan napasnya kembali. Istrinya benar-benar sedang menguji kesabarannya.


"Hai," sapa Vera.


"Hai, Vera. Terima kasih sudah datang," ucap Felicia.


"Terima kasih juga karena kamu sudah mengundangku." Vera bicara dengan mata yang melirik ke arah Kenzo.


"Oh iya, kenalkan ini suamiku," ucap Vera.

__ADS_1


"Hai." Felicia menyapa suami dari Vera.


"Kenzo selamat untuk pernikahanmu," ucap Vera.


"Hmmm, terima kasih." Kenzo berucap dengan nada dingin.


"Silahkan nikmati pestanya," suruh Kenzo.


"Baiklah. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian," ucap Vera.


Beruntung Vera segera pergi dari hadapannya. Karena Kenzo akan merasa sesak jika Vera ada di hadapannya lebih lama lagi. Sakit hati Kenzo makin bertambah saat melihat Vera terlihat mesra dengan suaminya.


Felicia bisa melihat rasa sakit yang dirasakan oleh Kenzo. Karana terlihat sangat jelas di wajahnya. Sejujurnya Felicia merasa kasihan kepada Kenzo, hanya saja Felicia ingin menunjukan sebuah kenyataan tentang Vera pada Kenzo. Agar laki-laki itu sadar dan cepat melupakan Vera.


Tepat pada pukul 12 malam resepsi pernikahan Kenzo dan Felicia selesai. Pesta kembang api menjadi pertanda berakhirnya pesta pernikahan itu.


Felicia memilih pergi lebih dulu ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Kenzo masih berkumpul bersama teman-temannya.


Felicia melangkah dengan di temani oleh asisten pribadinya menuju ke kamar pengantin. Langkahnya terasa sangat berat karena merasa lelah dan juga karena gaun pengantin putihnya yang dipakainya.


"Aku lelah sekali," keluh Felicia.


"Sabar, Bu. Sebentar lagi kita sampai," ucap Tania.


Felicia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia berhenti sejenak untuk melepaskan high heels yang kakinya kenakan agar bisa mempercepat langkahnya. Setelah menyusuri lorong-lorong di hotel itu akhirnya Felicia sampai di tempat yang ia tuju. Salah satu kamar mewah di ujung lorong akan menjadi kamar pengantinya dengan Kenzo.


"Sudah sampai, Bu," ucap Talita.


"Iya," sahut Felicia. "Pergilah aku akan masuk sendiri."


"Baik, Bu. Ini kuncinya." Tania menyerahkan sebuah kunci kepada Felicia sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Felicia membuka kunci kamar yang ada di hadapannya. Keadaan kamar itu masih gelap. Felicia meletakan kunci kamarnya ke tempat yang sudah disediakan dan lampu pun menyala.


Felicia terperangah saat melihat dalam kamar pengantinya. Kamar itu sudah dihiasi dengan berbagai macam bunga dan juga lilin aroma tetapi yang menambah kesan romantis.


Melihat semua itu Felicia mendadak teringat akan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup begitu kencang.


Apakah malam itu benar akan menjadi malam pertama dirinya dengan Kenzo?


Felicia menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Bayangan akan malam pertamanya dengan Kenzo mendadak muncul di pikiran Felicia.

__ADS_1


Tidak mungkin!


Felicia menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran kotor itu dari dalam benaknya.


__ADS_2