Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Aku Adikmu


__ADS_3

Dan semenjak saat itu Flora tidak lagi masuk kantor. Ia izin sakit dari kantornya. Sudah terhitung satu minggu Flora tidak masuk kantor. Selama waktu itu juga Flora mulai memberi jarak pada hubungannya dengan Gio.


Flora tahu itu akan sangat menyakiti hatinya, tetapi dirinya pun tidak bisa berbuat apapun saat itu.


Selama di rumah sikap Flora menjadi murung. Ia ingin bercerita, tetapi tidak tahu pada siapa. Biasanya setiap ada masalah, Flora akan bercerita pada Tiara, tetapi kakak angkatnya belum pulang dari rumah mertuanya. Ingin bercerita pada Mutya, tetapi Flora merasa ragu.


Setelah memikirkan banyak orang, pikiran Flora tertuju pada Daniel. Flora berpikir mantan kekasihnya itu akan bisa membantunya.


Tidak berpikir panjang lagi, Flora menghubungi Daniel untuk meminta bertemu. Flora berjalan mondar mandir di dalam kamarnya untuk menanti balasan pesan dari Daniel.


Sudah setengah jam Flora menggenggam ponselnya, tetapi belum ada balasan pesan dari Daniel. Saat Flora akan meletakkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya berdering.


Flora melihat ada nama Daniel pada layar ponselnya, segera Flora menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"Halo, Daniel," ucap Flora saat panggil itu sudah tersambung.


"Flora, ada apa? Semuanya baik-baik saja, 'kan?" tanya Daniel dari seberang panggilan.


"Aku tidak bisa menceritakannya di telepon. Jika kamu tidak sedang sibuk ... bisakah kita bertemu?" tanya Flora.


"Baiklah, temui aku di kafe bisa," ucap Daniel.


"Terimakasih, maaf jika aku mengganggumu," ucap Flora.


"Jangan sungkan, Flora. Ya sudah aku menunggumu di kafe. Sampai jumpa," salam Daniel.


"Sampai jumpa," balas Flora.


Dan sambungan telepon itu pun berakhir.


Flora segera bersiap untuk menemui Daniel. Setelah selesai, Flora segera keluar dari rumahnya. Setelah mengunci pintu rumahnya Flora melangkah dan masuk ke dalam mobilnya.


Setelah melewati perjalanan selama empat puluh lima menit, akhirnya Flora sampai ke tempat tujuannya. Flora segera turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe.


Di dalam cafe Flora mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Daniel. Pandangan Flora berhenti saat melihat Daniel. Laki-laki itu sedang melambaikan tangannya.


Flora kembali melangkahkan kakinya untuk mendekati Daniel.


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Flora.


Flora menarik kursi sebagai tempat ia duduk.


"Tidak masalah aku juga belum lama datang," ucap Daniel.


"Baiklah, Flora apa yang ingin kamu ceritakan padaku?" lanjut Daniel.


Sesaat Flora diam, dia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Daniel.


"Hah! Kamu serius? Kamu sedang tidak bercanda, 'kan?" Terlihat sekali jika Daniel sangat terkejut dengan apa baru saja dikatakan oleh Flora.


"Apa aku sedang terlihat bercanda, Daniel?" tanya Flora.


Tentu tidak! Apalagi melihat air mata yang mengalir dari mata Flora.


Daniel meraih tangan Flora dan menggenggamnya.


"Lalu apa yang bisa aku bantu?" tanya Daniel.


"Aku ingin memastikan kebenarannya. Aku ingin mencocokan DNA aku dengan bapak Farhan," jawab Flora.

__ADS_1


"Kamu ingin melakukan tes DNA?" tanya Daniel untuk memastikannya.


"Ya." Flora mengangguk.


"Baiklah, aku akan membantumu. Kapan kamu ingin melakukannya?" tanya Daniel.


"Secepatnya," ucap Flora penuh dengan keyakinan.


"Baiklah besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ucap Daniel.


Wajah Flora mengangguk dengan wajah tertunduk.


"Kenapa takdir seolah mempermainkan diriku," ucap Flora.


Daniel tidak tega melihat keadaan Flora yang seperti itu. Ia sendiri bingung dengan apa yang sedang terjadi. Jika nantinya hasil tes itu menunjukan jika Flora benar-benar anak dari Farhan, itu berati mereka adalah saudara sepupu.


"Bersabarlah, Flora. Kita berdoa saja, semoga hasil tes DNA nantinya, membuktikan kamu bukan anak kandung om Farhan."


"Itu yang aku harapkan, Daniel."


Daniel mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata yang mengalir dari mata Flora.


"Jangan menangis! Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Kita sudah lama tidak makan siang," usul Daniel.


"Aku tidak napsu makan, Daniel. Aku ingin pulang," tolak Flora.


Flora beranjak dari tempat duduk. Namun, Daniel menahannya.


"Ayolah Flora! Apa kamu ingin membuat aku kelaparan," bujuk Daniel. "Makanlah meski sedikit, please."


"Baiklah." Flora duduk kembali ke kursinya.


Daniel dan Flora tidak tahu, jika Gio sedang memperhatikan mereka. Tangan Gio nampak mengepal kuat di samping tubuhnya, untuk menahan amarahnya. Jika saja ia tidak ingat sedang rapat dengan klien, Gio akan langsung menyeret Flora keluar dari cafe.


"Gio ...."


Flora terkejut saat Gio memasukan dirinya ke dalam mobil.


Gio merebut kunci mobil milik Flora dan memberikannya pada Abi.


"Kembalilah ke kantor dengan mobil itu," suruh Gio pada Abi.


Gio masuk ke dalam mobil dan membawa Flora pergi.


"Gio, aku mau pulang," pinta Flora.


"Aku akan mengantarmu pulang setelah kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Gio.


"Gio, sudah aku bilang tidak terjadi apa-apa, aku hanya merasa tidak enak badan," ujar Flora.


"Lalu untuk apa kamu menemui Daniel? Bahkan dia berani menyentuhmu tadi," cecar Gio.


"Aku hanya ingin menemuinya. Kami sudah lama tidak bertemu?"


"Jadi kalian sedang saling merindukan." Ada senyum mengejek terlukis pada bibir Gio.


"Sudahlah Gio jangan berpikir yang macam-macam."


Emosi dalam diri Gio membuat Gio menambah laju kecepatan mobilnya. Gio merasa tidak puas dengan jawaban Flora.

__ADS_1


Gio membawa Flora ke apartemen pribadinya. Setelah sampai di parkiran bawah tanah, Gio memberhentikan laju mobilnya secara mendadak. Membuat tubuhnya dan Flora terhuyung ke depan.


"Gio aku ingin pulang," pinta Flora.


"Tidak sebelum kamu menjelaskan apa yang sedang terjadi."


"Sudah aku bilang ...." Ucapan Flora terhenti saat Gio meninggalkannya di dalam mobil.


Mata Flora mengikuti langkah Gio yang berada di luar mobil.


"Ayo turun!" Gio membuka pintu mobil di samping tempat duduk Flora.


"Gio, sudah aku bilang tidak terjadi sesuatu."


Namun, Gio tidak mendengarkan ucapan Flora. Laki-laki itu masih tetap menarik Flora.


Gio menekan tombol passcode yang ada pintu masuk apartemennya. Setelah pintu terbuka, Gio menarik Flora masuk dan membawanya ke dalam kamar.


Gio mendudukkan tubuh Flora di tepi ranjang. Setelah menarik napasnya, Gio menekuk kedua lututnya, mensejajarkan tubuhnya dengan Flora.


Gio menggenggam kedua telapak tangan Flora dan memohon padanya untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Katakan padaku, Flora. Apa yang membuatmu seperti ingin menjauh dariku?" mohon Gio.


"Tidak ada Gio." Flora mendudukkan wajahnya.


"Sampai kapan kamu menutupinya dariku?"


"Tunggulah sebentar lagi. Aku akan memberitahukan dirimu jika semua sudah jelas."


"Flora ...."


"Aku tidak sanggup untuk mengatakannya Gio. Jangan paksa aku."


"Aku sudah cukup memberimu banyak waktu. Aku mau jawabannya sekarang! Jika kamu tidak ingin mengatakannya, jangan salahkan aku jika harus memaksamu."


Gio membuka satu persatu kancing pada kemeja yang ia kenakan. Setelah semuanya terbuka, Gio membuang kemejanya ke sembarang tempat.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Gio?"


"Aku tidak akan membiarkan kamu jauh dariku, Flora."


Gio memaksakan kehendaknya pada Flora. Berharap dengan itu Flora mau bicara.


"Gio tolong jangan!"


Gio tidak menggubris perkataan Flora. Tetap memaksakan dirinya pada Flora sebelum Flora mengatakan hal yang sejujurnya.


"Gio hentikan, kamu tidak melakukan ini padaku. Aku adikmu."


Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Flora.


"Aku adikmu ... aku adikmu, Gio."


"Ibu mengatakan jika papamu adalah ayah kandungku."


Perlahan cengkeraman tangan Gio mulai melemah setelah mendengar perkataan Flora.


Mampir ke karya baruku gaes.

__ADS_1


Janan lupa tekan love, jempol, dan komentar.



__ADS_2