Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Menanti Kabar Baik


__ADS_3

Flora dan Gio sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Daniel, mereka ada undangan makan malam di rumah sepupu mereka.


“Kamu sudah selesai?” tanya Flora.


“Ya,” jawab Gio.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Flora saat melihat suaminya terlihat lemah.


Flora menempelkan punggung tangannya ke leher dan juga kening Gio untuk mengecek suhu badannya.


“Ya, mungkin aku hanya lelah saja. Dua hari ini aku banyak pekerjaan di kantor. Dan di rumah aku masih harus ngerjain kamu,” ucap Gio.


“Kamu ....” Flora mencubit pipi Gio karena merasa gemas dengan perkataan suaminya. “Aku serius, kamu masih saja bisa bercanda.”


“Aku juga serius, Sayangku.” Gio menjatuhkan kepalanya ke pundak Flora.


“Hufff.” Flora mengembuskan napasnya.


“Kalau kamu tidak enak badan, kita bisa batalkan untuk pergi ke rumah tante Ana,” ucap Flora.


“Tidak, jangan. Aku tidak enak pada mereka,” tolak Gio.


“Tapi kondisi kamu ....”


“Tidak apa-apa, Sayangku.” Gio menarik kepalanya dari pundak Flora. “Berikan aku satu ciuman, mungkin setelah itu aku akan merasa lebih baik,” pinta Gio.


Mendengar permintaan suaminya, Flora bukannya memberikan kecupan, tetapi justru pukulan di lengan suaminya itu.


“Modus.”


“Ck, ayolah! Sedikit saja,” bujuk Gio.


Gio menarik pinggang Flora membuat istrinya berada dekat dengan dirinya. Gio menelusupkan wajahnya di perpotongan leher Flora, menghirup bau tubuh Flora.


“Kamu sedang apa?” tanya Flora.


“Diam sebentar,” pinta Gio.


Flora pun akhirnya diam dan membiarkan suaminya melakukan apapun pada dirinya saat itu.


Puas menghirup bau tubuh istrinya, Gio menjauhkan kepalanya dari leher istrinya.


“Sudah, ayo kita pergi sekarang,” ajak Gio.


“Apa kamu punya kebiasaan baru, Suamiku?” ledek Flora.


“Aku sudah pernah mengatakan jika aku senang dengan bau tubuhmu, 'kan? Aku juga tidak tahu sejak kapan, tapi sepertinya tubuhmu sudah menjadi candu untukku,” ucap Gio.


“Apa kita harus periksakan kondisimu ke Dokter?” tanya Flora.


“Apa kamu ingin mengatakan jika aku kecanduan bau tubuh istriku,” ledek Gio.


Flora menahan tawanya. “Ide yang bagus!”


Gio mendengkus mendengar ledekkan istrinya.


“Sudahlah, ayo kita berangkat. Biar supir saja yang membawa mobilnya,” ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.


Flora dan Gio berjalan menuruni anak tangga bersama-sama. Senyum bahagia terlukis di bibir mereka.

__ADS_1


“Bibi, kami pergi dulu,” pamit Flora.


“Ya, Bu. Hati-hati di jalan,” balas Bibi.


Flora dan Gio masuk ke dalam mobil yang sama. Keduanya duduk bersebelahan di kursi penumpang belakang.


“Ke rumah ibu Mariana ya, Pak Roni,” suruh Flora pada supirnya.


“Baik, Bu,” sahut pak Roni.


Pak Roni pun menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggal rumah besar itu menuju kediaman Mariana.


Sepanjang perjalanan Gio duduk diam seraya merebahkan kepalanya di pundak Flora.


Flora yang melihat itu pun mengkhawatirkan akan kondisi suaminya. Berulang kali Flora bertanya pada Gio tentang kondisinya, tetapi Gio selalu bertanya jika dirinya baik-baik saja.


“Kamu yakin baik-baik saja?” tanya Flora.


“Ya, Sayangku ... aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” ucap Gio.


“Baiklah. Katakan padaku jika kamu merasa tidak enak badan,” ucap Flora.


“Baiklah, Sayangku.” Gio menggenggam tangan Flora lalu mengecupnya.


Mobil Mercedes Benz warna hitam masuk ke dalam sebuah rumah besar. Mobil itu berhenti tepat di depan garasi rumah itu. Flora dan Gio yang berada di dalamnya keluar secara bersamaan.


“Ayo kita masuk!” ajak Gio seraya mengulurkan tangannya kepada Flora.


Dengan senyuman bahagia, Flora menyambut uluran tangan laki-laki berstatus suaminya.


Suami-istri itu masuk ke dalam rumah dengan tangan yang mereka satukan, saling mengisi setiap ruang di sela jari-jari mereka.


Flora dan Gio melihat semua orang sudah datang termasuk Maura dan Seruni. Flora langsung memberikan pelukan pada Seruni dan juga Maura, calon adik iparnya.


“Ibu apa kabar?” tanya Flora.


“Baik,” jawab Seruni.


“Maura, kamu apa kabar?” tanya Flora.


“Aku baik,” jawab Maura. “Kamu sendiri apa kabar?” tanya balik Maura.


“Aku juga baik,” jawab Flora.


“Karena semua sudah berkumpul, ayo kita ke meja makan sekarang!” ajak Mariana.


Semua orang berjalan ke ruang makan secara bersamaan. Sampai di ruang makan, mereka menarik kursi masing-masing untuk tempat mereka duduk.


“Gio ... nih tante bikinin jus jeruk spesial buat kamu.” Mariana memberikan dua gelas jus jeruk kepada Gio.


Mata Gio berbinar melihat dua jus jeruk yang diberikan oleh Mariana. Dengan segera Gio meneguk habis dua gelas jus jeruk itu.


“Lihatkan Flora! Suamimu itu suka sekali dengan jus jeruk,” ucap Mariana.


“Masih ada gak?” tanya Gio. “Aku mau dua gelas lagi.”


“Apa? Kamu sudah minum dua gelas,” ucap Flora.


“Memang kenapa?” tanya Gio.

__ADS_1


“Tidak! Jangan! Jangan berikan Gio jus jeruk lagi, Tante,” pinta Flora.


“Jangan dengarkan si galak ini, Tante,” ucap Gio.


Perkataan Gio membuat semua orang menahan tawa mereka.


“Ayolah, Tante berikan aku dua gelas jus jeruk lagi,” pinta Gio.


“Apa kamu ingin sakit perut?” ucap Flora.


“Tidak akan?” ucap Gio.


“Ya sudah berikan dia dua gelas lagi. Tapi jika nanti kamu sakit perut, aku tidak akan memperdulikanmu,” ucap Flora.


“Aku tidak akan sakit perut,” ucap Gio.


“Hei, sudah berhenti! Kalian ini kaya anak kecil saja,” ucap Seruni.


Pandangan Seruni mengarah pada Flora. “Flora, biarkan saja jika suamimu masih ingin meminum jus lagi. Memang apa salahnya?”


“Ibu selalu saja manjain menantu Ibu,” protes Flora.


“Sirik saja,” balas Gio.


Semua orang yang melihat pertengkaran Flora dan Gio hanya menggelengkan kepala dan mengulas senyum tipis di bibir mereka.


Mariana pun memberikan dua gelas jus jeruk untuk Gio dan satu gelas untuk Flora.


“Ayo kita mulai makan malamnya,” suruh Mariana.


Sesaat suasana menjadi hening. Semua orang yang ada di meja makan hanya fokus pada makan mereka. Sampai Ardi membuka suara lebih dulu.


“Gio, kapan kamu berangkat ke Amerika?” tanya Ardi.


“Rencananya sih lusa, Om,” jawab Gio.


“Kamu berangkat sama siapa?” Kini Mariana yang bertanya.


“Paling sama Susan dan Abi,” jawab Gio.


“Kamu gak pengin ngajak Flora? Sekalian kalian honeymoon” tanya Mariana.


“Aku sudah membujuknya untuk ikut, tapi si galak ini tidak mau ikut,” adu Gio.


“Aku hanya takut jika akan mengganggu pekerjaan kalian di sana?” ucap Flora.


“Kamu bisa bantu kerjaan Susan di sana. Sebelumnya kamu sekretaris suami kamu, kan?” usul Mariana.


“Itu ide yang bagus. Kamu jadi tidak merasa bosan menunggu suamimu,” imbuh Daniel.


Flora diam sejenak dan memikirkan saran dari Mariana dan juga Daniel.


“Baiklah aku akan ikut,” ucap Flora.


Semua orang berseru, yang paling bahagia di antara mereka adalah Gio. Karena satu hari saja tidak bersama Flora, hidupnya serasa akan berakhir.


“Baguslah kalau begitu, tapi setelah dari sana kami harap ada kabar baik dari kalian,” harap Mariana.


“Amin,” seru semua orang.

__ADS_1


Makan malam selesai dan berlanjut pada obrolan di ruang tengah. Kebahagian terlihat jelas di wajah mereka malam itu. Dan pada saat waktu menunjukan pukul 11 malam, mereka terpaksa mengakhiri obrolan mereka.


__ADS_2