Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 180


__ADS_3

Tidur Kenzo terusik saat mendengar suara berisik. Mata Kenzo beberapa kali berkedip. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara. Matanya menangkap jam weker ada di meja nakas yang ada di samping istrinya.


"Jadi benda itu yang sudah menganggu tidurku?" gerutu Kenzo.


Kenzo bangun untuk mematikan alarm. Namun, saat akan bangun Kenzo merasakan berat di perutnya. Mata Kenzo mengarah ke bagian perutnya, ternyata istrinya tidur dengan tangan yang melingkar di perutnya.


"Seenaknya saja dia tidur seperti ini," gerutu Kenzo.


Kenzo memindahkan tangan istrinya agar ia bisa mematikan suara alarm yang hampir merusak pendengarannya.


"Apa dia tidak merasa terganggu dengan suara alarm yang bisa meruntuhkan rumah ini," gerutu Kenzo.


Kenzo berhasil meraih jam weker itu. Ia lebih dulu melihat waktu pada jam weker yang sudah ada di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Alarm lebih dulu Kenzo matikan sebelum menaruh jam weker itu kembali ke tempat semula.


"Akhirnya tidak ada suara berisik lagi," guman Kenzo.


Kenzo ingin beranjak dari tempat tidur, tetapi lagi-lagi Felicia mencegahnya. Felicia kembali melingkarkan tangannya ke perut Kenzo membuat laki-laki itu tidak bisa bergerak.


"Hei, singkirkan tanganmu!" perintah Kenzo.


"Tidak mau!" tolak Felicia.


"Ya Tuhan. Ini sudah siang, Felicia. Aku harus mandi dan berangkat ke kantor," ucap Kenzo.


"Sebentar lagi ya, please," mohon Felicia. "Aku masih sangat mengantuk."


"Kalau kamu masih mengantuk ya tidur saja. Tapi jangan seperti ini," ucap Kenzo.


"Seperti ini lebih nyaman," ucap Felicia.


"Aku bisa telat untuk datang ke kantor," ucap Kenzo.


"Kenapa kamu cerewet sekali. Kantor itu milikmu. Tidak ada yang akan berani memarahi dirimu jika kamu datang terlambat." Felicia berucap masih dengan mata yang tertutup.


"Tapi ...."


Entah sadar atau tidak Felicia makin mendekap tubuh Kenzo, menjadikannya sebagai bantal guling. Ia juga meletakan kepalanya di dada Kenzo membuat laki-laki itu tidak bisa bergerak dan pergi ke manapun.


"Felicia ...."


"Sebentar saja. Aku masih sangat mengantuk," ucap Felicia.

__ADS_1


"Ck, baiklah." Kenzo akhirnya mengalah kepada istrinya. Ia tetap pada posisinya dan membiarkan istrinya untuk tidur di atas tubuhnya.


Jantung Kenzo mendadak berdegup begitu kencang sampai ia tidak bisa mengendalikannya. Ia tidak tahu kenapa, tetapi perasaannya mengatakan ia merasa gugup dalam posisi itu.


Tangan Kenzo perlahan bergerak untuk melingkar ke tubuh Felicia. Ia mengusap sisi pundak Felicia yang justru makin membuat jantungnya berdetak tidak karuan.


"Kenapa perasaanku menjadi gugup seperti ini?" batin Kenzo.


Kenzo berulang kali menarik napasnya lalu menghembuskannya kembali untuk menetralkan rasa gugupnya. Hening mengambil suasana di dalam kamar itu. Kenzo tetap dalam diam dengan posisi yang sama dan tangannya tidak berhenti mengusap sisi pundak Felicia, hingga tanpa sadar matanya kembali terpejam.


Tin tin Tin


Suara bising dari klakson beberapa mobil mengganggu tidur Kenzo dan juga Felicia. Keduanya mulai terbangun dari tidur mereka. Felicia lebih dulu tersadar. Saat matanya terbuka sempurna Felicia terkejut saat melihat tangan Kenzo yang melingkar di pundaknya. Ia segera bangun untuk menjauh dari suaminya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Felicia.


"Memang apa yang aku lakukan?" tanya balik Kenzo.


"Kamu memelukku! Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan," tuduh Felicia.


"Siapa yang peluk-peluk kamu? Kamu sendiri yang memelukku dan melarangku untuk bangun," ucap Kenzo.


"Itu pasti bohong dan tidak mungkin aku lakukan!" tepis Felicia.


Kantor, rapat?


Felicia terkejut saat mendengar Kenzo menyebut soal kantor dan juga rapat. Ia teringat akan rapat yang akan ia hadiri.


"Sekarang jam berapa?" tanya Felicia.


"Kamu tidak melihat? Lihat itu jam di belakangmu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi." Kenzo menunjuk jam weker yang ada di belakang tubuh istrinya dengan matanya.


"Apa? Ini gawat! Aku ada rapat pukul sepuluh pagi," ucap Felicia. "Aku bisa terlambat."


"Kamu pikir hanya kamu yang terlambat untuk rapat? Aku bahkan sudah terlambat untuk menghadiri rapat," balas Kenzo.


"Ini semua gara-gara kamu!" ucap Felicia.


"Seenaknya saja kamu menuduhku." Kenzo membalas perkataan istrinya.


"Itu memang benar. Kita terlambat semua ini karenamu," ucap Felicia.

__ADS_1


"Sudahlah jika kamu terus mengomel seperti ini, maka kita akan semakin terlambat," ucap Kenzo.


Felicia langsung beranjak dari tempat tidur. Langkanya langsung membawanya ke dalam kamar mandi. Belum juga ada lima belas menit Felicia sudah keluar dari kamar mandi.


"Kenapa cepat sekali keluar? Apa kamu tidak mandi?" tanya Kenzo.


"Tidak ada waktu untuk mandi berlama-lama," jawab Felicia. "Ini semua gara-gara kamu."


"Kamu masih saja menyalahkan aku untuk ini? Jam weker mu berbunyi sangat keras dan kamu masih saja bisa tidur dengan nyenyak," ucap Kenzo.


"Dia sendiri yang salah tapi seenaknya menyalahkan orang lain." Kenzo menggerutu, tetapi Felicia masih bisa mendengarnya.


Felicia langsung berjalan ke arah lemari. Ia mengambil pakaian kerja miliknya yang masih ada di dalam lemarinya. Karena rasa takutnya akan keterlambatan, Felicia seenaknya memakai pakaiannya di kamar itu, tepat di hadapan Kenzo.


Felicia membuka handuk yang melilit di tubuhnya dan menampakan tubuh polosnya. Apa yang dilakukan oleh Felicia berhasil membuat Kenzo merasa malu sendiri. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak melihat tubuh Felicia yang polos itu.


Kenzo ingin beranjak dari tempat tidur, tetapi ada sesuatu yang seolah menahannya. Kenzo memilih diam dengan sesekali mencuri pandang ke arah Felicia. Mata Kenzo membulat melihat Felicia memakai pakaiannya di hadapannya. Kenzo menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering.


"Apa kamu hanya bisa menyalahkan orang lain saja. Ini juga salahmu," sungut Felicia. "Setidaknya kamu bisa meminta maaf padaku."


Felicia masih mengoceh dengan masih memakai pakaiannya. Ia tidak memperhatikan ekspresi wajah suaminya dan juga perasaan suaminya yang sudah mulai merasa panas dingin.


"Kenzo apa kamu tidak mendengarkan aku?" ucap Felicia.


"Iya, iya ... aku minta maaf," ucap Kenzo dengan menahan rasa gugupnya.


"Aku tidak akan memaafkan dirimu jika mereka sampai memutuskan kontrak kerja denganku nanti," ucap Felicia.


Kenzo hanya mampu menghela napasnya berharap ia diberi kesabaran lebih untuk menghadapi sikap istrinya.


"Baiklah, sekarang berhentilah mengomel dan selesaikan memakai pakaiannya." Kenzo berucap seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


Felicia berhenti bicara dan melihat keadaan dirinya sendiri. Dirinya baru sadar jika sedari tadi ia memakai pakaian di hadapan suaminya.


"Apa kamu melihatnya?" Felicia bicara dengan nada gugup.


"Aku memiliki mata. Jadi sudah pasti aku melihatnya," jawab Kenzo.


Tubuh Felicia membeku seketika. Bisa-bisanya dirinya tidak sadar jika dirinya sempat telanjang di depan suaminya.


"Baiklah aku akan mandi dulu." Kegugupan yang Kenzo rasakan sama halnya dengan yang dirasakan oleh Felicia.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan disiapkan pakaianmu." Felicia mencoba bicara biasa saja meski terdengar masih gugup.


Kenzo segera masuk ke dalam kamar mandi agar cepat menghilangkan kegugupannya. Sudah dua kali Kenzo merasakan kegugupan yang sama saat bersama Felicia, dan Kenzo tidak tahu apa alasannya.


__ADS_2