
Felicia duduk sambil menonton televisi di ruang tengah. Matanya masih tetap terjaga padahal langit sudah sangat gelap dan waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.
"Kenapa Kenzo belum juga pulang ya?" ucap Felicia dengan suara lirihnya.
"Ibu belum tidur?" tanya asisten rumah tangganya.
Felicia menoleh ke asal suara, matanya melihat bibi Marni berjalan dari arah dapur.
"Kenzo belum pulang, Bi. Saya aku nungguin dia pulang," jawab Felicia.
"Ini sudah malam, Bu. Biar bibi yang menunggu bapak pulang. Ibu istirahat saja," ujar Bibi Marni.
"Nanti deh Bi. Saya belum mengantuk," ucap Felicia.
Sebenernya Felicia sedang merasa aneh pada dirinya sendiri. Malam itu rasanya ia ingin sekali tidur di pelukan suaminya.
Tin tin tin
"Itu kayaknya bapak, Bu," ucap bibi Marni.
Bibir Felicia melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman ketika mendengar klakson mobil yang sering dipakai oleh suaminya. Dengan tidak sabar Felicia melangkah menuju pintu utama rumah itu.
Felicia menunggu Kenzo di teras. Dari tempatnya berdiri Felicia melihat wajah lesu suaminya. Sepertinya suaminya sangat kelelahan.
"Kamu baru pulang?" Felicia bertanya pada Kenzo. Tidak lupa juga Felicia mengambil alih tas kerja yang dibawa oleh Kenzo.
"Kamu belum tidur?" tanya Kenzo.
"Aku belum mengantuk," jawab Felicia.
Felicia merangkul lengan tangan kanan Kenzo. Mereka memasuki rumah bersama-sama.
"Kamu sudah makan?" tanya Felicia tanpa menghentikan langkahnya.
"Belum," jawab Kenzo singkat.
Felicia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba lalu mengadap ke suaminya.
"Kenapa belum makan?" tanya Felicia.
"Aku tidak sempat." Kenzo mengendurkan ikatan dasinya.
"Ck, seharunya kamu pikiran kesehatanmu meskipun sedang sibuk bekerja," ucap Felicia.
"Sekarang ayo ke meja makan. Aku akan panaskan makanan untukmu." Felicia menarik Kenzo ke ruang makan tanpa menunggu persetujuan dari Kenzo.
"Duduk di sini." Felicia menarik salah satu kursi yang ada di meja makan lalu mengarahkan Kenzo untuk duduk di sana.
"Tapi Feli, aku sungguh tidak merasa lapar," tolak Kenzo.
"Bagaimana kamu tidak lapar? Kamu harus makan, aku tidak mau kamu sakit." Felicia tidak mau menerima penolakan dari suaminya.
Felicia membuka lemari pendingin lalu mengambil makan yang sengaja ia sisakan untuk Kenzo. Makanan yang sudah dingin itu, Felicia masukan ke dalam microwave untuk ia panaskan.
__ADS_1
"Biar saya saja yang panaskan makanannya, Bu," ucap bibi Marni.
"Tidak usah, Bi. Biar saya saja. Bibi sebaiknya istirahat," ucap Felicia.
"Tapi, Bu —" Ucapan bibi Marni dipotong oleh Felicia.
"Tidak apa-apa, Bi. Bibi sudah seharian bekerja jadi sekarang istirahat saja. Ini hanya tugas kecil," ucap Felicia diikuti senyum yang menunjukkan keramahannya.
"Baik, Bu. Tapi kalau Ibu butuh sesuatu panggil saya saja," ucap Bibi Marni.
"Baik, Bi," sahut Felicia.
Ting
Microwave berbunyi tandanya alat itu sudah berhenti bekerja. Felicia mengeluarkan makana dari dalamnya. Makanan yang tadinya dingin kini sudah hangat. Felicia memindahkan makanan yang baru saja ia hangatkan ke dalam piring. Setelah itu ia membawanya ke meja makan.
Makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Felicia mengambil piring yang ada di hadapan Kenzo lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk.
"Ini makanannya, kamu makan ya." Felicia menaruh kembali piirng yang sudah terisi dengan makanan ke hadapan Kenzo.
Perut Kenzo bergejolak saat melihat nasi dan juga rendang daging yang ada di hadapannya. Kenzo bingung bagaimana caranya mengatakan kepada Felicia jika dirinya sedang tidak napsu makan.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Felicia.
Felicia merasa heran ketika melihat Kenzo hanya mengaduk-aduk makanannya. Tidak ada niatan Kenzo untuk memakan makanan yang ia sajikan.
"Aku tidak lapar, Feli," jawab Kenzo.
"Kamu belum makan, bagaimana kamu tidak lapar. Sini biar aku suapin." Felicia menyendok makanan lalu mengarahkannya ke mulut Kenzo.
"Kenzo buka mulutmu. Ayo jangan seperti anak kecil," bujuk Felicia.
"Feli, sudahlah aku benar-benar tidak lapar," tolak Kenzo.
Felicia masih memaksa Kenzo untuk makan, tetapi bukannya membuka mulutnya Kenzo justru beranjak dari meja makan dan berlari ke arah wastafel yang ada di depan kamar mandi.
Felicia terkejut melihat suaminya membungkukkan badannya di hadapan wastafel. Bukan hanya itu saja Kenzo terlihat sedang mengeluarkan isi perutnya.
"Kenzo, ada apa?" Felicia beranjak dari kurirnya untuk menyusul suaminya. Dirinya merasa sangat cemas melihat Kenzo yang sedang muntah.
Felicia memijit tengkuk Kenzo perlahan, berharap bisa membuat Kenzo merasa nyaman. Rasa cemas makin menyelimuti diri Felicia saat Kenzo tidak berhenti muntah. Air keran Felicia nyalakan untuk untuk mengguyur kotoran dari makanan yang Kenzo muntahan.
"Kenzo ...." Rasa cemas membuat Felicia mengeluarkan air mata terlihat di sudut matanya.
Felicia melangkah cepat, secepat yang ia bisa untuk kembali ke dapur. Beberapa saat kemudian Felicia kembali dengan segelas air hangat.
Setelah rasa mualnya mereda Kenzo membasuh mulutnya dengan air yang mengalir dari keran di hadapannya. Beberapa saat Kenzo diam, kedua tangannya memegang pinggiran wastafel seraya menarik napas lalu menghembuskannya kembali, Kenzo melakukan itu beberapa kali sampai ia merasa begitu lega.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Felicia yang langsung diangguki oleh Kenzo.
"Ini minum air hangatnya." Felicia memberikan air hangat kepada Kenzo.
Kenzo menerima air hangat yang diberikan oleh Felicia lalu meminumnya. Air hangat yang ia minum memberikan rasa hangat di dalam perutnya yang kosong.
__ADS_1
Kenzo kembali memberikan gelas itu kepada Felicia. Tidak lupa juga ucapan 'terima kasih' untuk perempuan berstatus sebagai istrinya.
Rasa mualnya sudah mereda, tetapi Kenzo masih berdiri di depan wastafel. Ia menunggu sampai rasa mualnya benar-benar hilang.
Matanya tidak sengaja melihat pantulan wajah istrinya. Ada senyum tipis saat melihat Felicia mengeluarkan cairan bening dari matanya. Melihat itu Kenzo berbalik lalu mengusap air mata yang menetes dan jatuh di pipi Felicia.
"Kenapa menangis?" tanya Kenzo seraya mengusap air mata yang ada di pipi Felicia menggunakan kedua ibu jarinya.
"Aku tidak tega melihatmu seperti tadi," jawab Felicia.
Felicia juga tidak tahu kenapa, air mata itu jatuh begitu saja dari matanya saat melihat Kenzo seperti sedang tersiksa.
"Aku tidak apa-apa. Seharian ini memang aku merasa tidak enak badan." Kenzo menarik Felicia ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung Felicia untuk menenangkan istrinya yang masih menangis.
"Berhentilah menangis. Aku baik-baik saja," ucap Kenzo.
"Aku akan memanggil Dokter," ucap Felicia.
"Tidak usah. Ini sudah malam," larang Kenzo. "Lagipula aku baik-baik saja."
Felicia yang masih ada di pelukan Kenzo mendongakkan wajahnya. Pandangannya langsung bertemu dengan Kenzo.
"Aku akan merasa lega jika Dokter juga mengatakan kamu baik-baik saja. Wajah kamu terlihat pucat," ucap Felicia.
Felicia menarik dirinya, ia menjauh dari Kenzo untuk menghubungi Dokter pribadinya. Ia tidak peduli saat suaminya terus melarangnya.
*****
Setelah menunggu selama satu jam Dokter pribadi yang Felicia hubungi datang. Felicia langsung meminta pada Dokter laki-laki itu untuk memeriksa kondisi Kenzo.
"Ayo, Kenzo ada di dalam kamar." Felicia mengajak Dokter laki-laki itu ke kamar.
Felicia berdiri di samping Dokter yang sedang memeriksa suaminya. Rasa cemas juga masih bersarang di dirinya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Felicia.
"Dia baik-baik saja. Hanya mengalami masalah pencernaan. Ini akibatnya jika suamimu ini telat untuk makan," jawab Dokter yang bernama Reza.
Dokter Reza menyimpan stetoskop ke wadahnya lalu menyimpannya kembali ke dalam tasnya.
"Ini obat untuk suamimu." Dokter Reza memberikan beberapa strip obat kepada Felicia. "Yang ini diminum sebelum makan."
"Baiklah aku mengerti. Terima kasih banyak ya," ucap Felicia.
"Jangan sungkan padaku, Aura." Dokter Reza mengacak-acak rambut Felicia. Terlihat sekali jika mereka sangat akrab.
Kenzo yang melihat kedekatan Dokter pribadi itu dan istrinya merasa tidak suka, tetapi dirinya memilih diam.
"Seenaknya saja dia menyentuh Felicia seenaknya. Dan dia memanggil Felicia dengan sebutan apa tadi? Aura! Huh, menjengkelkan sekali." Kenzo menggerutu di dalam hatinya.
"Kenzo, aku akan mengantar Reza ke depan," ucap Felicia.
"Hmmm, jangan terlalu lama dan cepat kembali." Ada rasa kesal pada nada bicara Kenzo
__ADS_1
"Iya," sahut Felicia.
Sepertinya Felicia tidak menyadari rasa kesal di dalam diri suaminya. Hingga dengan seenaknya ia berjalan ke luar dari kamar dengan merangkul lengan Reza.