Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Flora sangat antusias mengemas barang-barang yang akan ia bawa berlibur ke Amerika. Rencananya mereka akan berangkat lusa. Hati Flora sangat bahagia saat punya kesempatan untuk berlibur bersama, suami dan calon anaknya.


“Kamu senang, Nak. Kita akan berlibur bersama papa kamu?” Flora mengusap perutnya yang masih rata. Ia berucap seolah calon anak di dalam perutnya bisa merespon perkataanya.


Saat sedang memasukkan pakaiannya dan suaminya ke dalam koper, tiba-tiba Flora mendengar ponselnya berdering. Flora mengambil ponsel yang ada di meja rias. Flora melihat ada nomor tidak dikenal muncul di layar ponselnya.


Kening Flora menyerngit saat melihat nomor tidak dikenal itu. Awalnya Flora tidak ingin menerima panggilan. Namun, rasa penasarannya membuat Flora akhirnya menerima panggilan itu.


“Halo ... ini siapa?” tanya Flora saat ia sudah menerima panggilan itu.


“....”


“Kamu! Ada apa? Kenapa kamu ingin bertemu denganku?” tanya Flora.


“....”


“Baiklah ... aku akan segera menemuimu.” Setelah mengatakan kalimat itu, Flora pun mengakhiri panggilannya.


Flora selesai berkemas lalu melihat sekilas pada jam yang tergantung pada dinding kamar itu. Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Flora memutuskan untuk segera bersiap untuk bertemu seseorang yang baru saja menelponnya.


Jujur saja Flora merasa penasaran, apa yang ingin orang itu bicarakan? Sampai dia memaksa sekali untuk bertemu dengannya.


Selesai bersiap Flora mengirim pesan kepada suaminya. Flora meminta izin untuk pergi menemui orang yang baru saja, yang ternyata adalah Rossa.


Setelah mendapat izin dari suaminya, Flora segera keluar dari kamarnya. Dengan langkah perlahan Flora berjalan menuruni anak tangga. Sampai di lantai dasar Flora meminta pada Bibi untuk memanggil Pak Roni, sopirnya.


Sementara itu Flora duduk di meja makan seraya memakan potongan buah yang ia ambil dari dalam lemari pendingin.


“Ibu manggil saya?” tanya Pak Roni.


“Iya, Pak,” jawab Flora. “Tolong antarkan saya ke cafe melati yang tidak jauh dari kantor suami saya ya,” pinta Flora.


“Baik, Bu. Kalau begitu saya siapkan mobil dulu,” ucap Pak Roni.


Pak Roni segera pergi dari ruang makan untuk memanaskan mobil yang akan digunakan untuk mengantar majikan.


Flora sudah menghabiskan beberapa potong buah, setelah itu Flora pamit kepada bibi untuk pergi. Flora melangkah menuju teras rumah.


“Sudah siap, Pak?” tanya Flora.


Pak Roni yang sedang membersihkan debu di badan mobil dengan kemoceng menoleh saat Flora memanggilnya.


“Sudah, Bu.” Pak Roni menghentikan aktivitasnya dan membukakan pintu mobil untuk Flora.


Flora masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang belakang. Pak Roni sendiri langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Beberapa saat kemudian, mobil itu melaju keluar dari rumah besar itu.


Sepanjang perjalanan Flora duduk dengan menopang dagu dengan tangannya. Pandangnya mengarah ke luar mobilnya. Pikirannya terus melayang, Flora memikirkan apa yang ingin Rossa bicarakan.


Flora terus memikirkan tentang Rossa sampai tidak menyadarinya jika ia sudah sampai di tempat tujuannya.


“Bu, kita sudah sampai,” ucap pak Roni.


“Eh, iya ....” Flora menoleh dan melihat jika mobil yang ia naiki sudah berhenti di depan cafe.


“Terima kasih, Pak Roni.” Flora keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam cafe.

__ADS_1


Flora mengedarkan pandangannya, mata Flora tidak melihat keberadaan Rossa. Flora memutuskan untuk duduk di kursi yang dekat dengan jendela cafe. Tangannya merogoh tas untuk mengirim pesan pada Rossa.


Flora : Aku sudah sampai di cafe.


Flora mengirim pesan ke nomor ponsel Risa.


Tidak lama ada balasan pesan dari Rossa.


Rossa : Sebentar lagi aku sampai.


Setelah membaca pesan dari Rossa, Flora memanggil salah seorang pelayan di cafe itu.


“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya pelayan itu.


“Aku pesan jus mangga ya,” pinta Flora.


“Baik, Bu. Apa ada yang lain?” tanya pelayan itu.


“Tidak ... sementara itu saja,” jawab Flora.


“Baik, Bu ... di pesanannya,” ucap pelayan cafe itu.


Setelah mencatat pesanan Flora pelayan cafe meninggalkan meja Flora.


Flora duduk seraya memandang ke luar cafe. Banyak mobil yang berlaku lalang di jalanan depan cafe. Flora berulangkali melihat waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah sekitar 15 menit ia menunggu Rossa.


“Ini pesanannya, Bu.” Pelayan cafe meletakan jus mangga di hadapan Flora.


“Terima kasih,” ucap Flora.


Flora meminum jus mangga dengan sedotan. Sesekali Flora berdecak saat Rossa tidak kunjung datang.


“Apa dia sedang mengerjaiku,” batin Flora.


“Flora, maaf aku terlambat. Ada sedikit kemacetan tadi.”


Flora menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya. Alis Flora terangkat sebelah saat melihat seorang wanita berdiri hadapannya. Flora melihat perut Rossa yang sudah terlihat besar.


“Hai Flora ... apa kabarmu?” tanya Rossa.


“Hai juga,” sahut Flora. “Apa kamu Rossa?” tanya Flora.


“Ya, ini aku. Lama kita tidak bertemu,” ucap Rossa. “Apa aku terlihat jelek sehingga kamu tidak mengenaliku?” tanya Rossa.


Flora menyunggingkan senyumnya. “Ayo duduklah.”


Rossa menarik kursi untuk tempat duduknya tepat di depan Flora.


“Jujur aku memang hampir tidak mengenalimu, tetapi bukan karena kamu jelek, tapi justru kamu terlihat lebih cantik,” jawab Flora.


“Benarkah?” Rossa kembali bertanya untuk memastikan jika telinganya tidak salah mendengar.


“Ya.” Flora mengangguk. “Benar kata orang, memang perempuan hamil itu akan terlihat lebih cantik alami,” lanjut Flora.


“Oh ya, Rossa ... apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Flora.

__ADS_1


“Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Aku merasa bosan di rumah,” jawab Rossa.


“Baiklah, kalau begitu ... kamu ingin minum apa atau makan?” tanya Flora.


“Aku ingin minum jus saja sepertimu dan makanan apapun. Aku sangat lapar,” jawab Rossa.


“Aku juga sangat lapar,” imbuh Flora dan membuat keduanya tertawa.


Flora kembali memanggil seorang pelayan untuk memesan jus mangga untuk Rossa serta makanan untuk mereka berdua.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, keduanya mengobrol. Sebenarnya ada rasa canggung pada diri Flora saat bersama Rosa. Mengingat wanita itu merupakan mantan kekasih dari suaminya. Apalagi Flora mengetahui hubungan apa saja yang Rosa dan suaminya pernah lakukan dulu.


“Rossa berapa usia kandungan kamu sekarang?” tanya Flora.


“Usia kandungan memasuki bulan ketujuh,” jawab Rosa. “Dan tenang saja ini anak suamiku bukan anak suamimu,” ucap Rossa seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Flora.


Flora hanya menunjukan senyumnya untuk merespon perkataan Rossa.


“Oh ya, Flora aku dengar dari Gio jika kamu sedang hamil, selamat ya,” ucap Rossa. “Berapa usia kandunganmu?” tanya Rosa lagi.


“Usia kandunganku baru memasuki bulan kedua,” jawab Flora.


Mendadak suasana menjadi hening. Flora tidak tahu lagi harus bicara apa pada Rossa. Namun, tiba-tiba Flora merasakan genggaman tangan Rosa.


“Flora ... Gio cerita padaku tentang kesalahpahaman sempat terjadi antara kamu dan Gio. Kamu sempat mengira anak dalam kandunganku adalah anak Gio, 'kan?” tanya Rossa.


“Iya, aku sempat mengira itu. Tapi Gio sudah menjelaskannya padaku. Dan semuanya juga sudah selesai,” ucap Flora.


“Flora apapun yang terjadi antara aku dan Gio itu adalah sebuah kesalahan di masa lalu kami. Kami sudah tidak ada hubungan apapun sekarang kecuali persahabatan,” jelas Rossa.


“Apa selama ini apa kamu pernah mencintai Gio?” tanya Flora.


“Aku sangat mencintai Gio, tapi Gio tidak pernah mencintaiku. Dan cintaku pada Gio bisa dibilang itu sebagai cinta buta,” aku Rossa.


“Aku sangat mencintai Gio sampai aku rela melakukan apapun agar bisa dekat dengannya, bahkan aku rela menjadi pelampiasannya. Aku bersabar berharap Gio bisa berubah mencintaiku, tapi nyatanya tidak,” jelas Rossa.


“Saat tiba-tiba dia memutuskan hubungannya denganku ... perasaanku sangat hancur. Rasanya aku tidak terima dengan keputusannya. Tapi saat aku bertemu dengan suamiku yang sekarang, aku merasa bersyukur Gio mengakhiri hubungan kami yang tidak jelas dulu,” ucap Rossa.


“Untuk apa kamu menceritakan semua ini padaku?” tanya Flora.


“Untuk menghilangkan keraguanmu pada Gio,” jawab Rossa.


“Apa Gio yang menyuruhmu?” Flora bertanya lagi.


“Tidak, Gio memang bercerita padaku tentang kesalahpahaman itu. Tapi aku yang berinisiatif sendiri untuk mengatakan ini padamu,” jawab Rossa.


“Dan aku hanya ingin ke depannya nanti kamu tidak perlu lagi berpikir macam-macam tentang aku dan juga suamimu,” jelas Rossa.


“Seperti Gio yang sudah bahagia hidup bersamamu, seperti itu juga kehidupanku bersama suamiku,” lanjut Rossa.


“Dan aku berharap kita bisa berteman, Flora,” ucap Rossa penuh harap.


Flora menumpuk satu tangannya di atas tangan Rossa dan menunjukkan senyumnya pada Rossa. “Tentu saja.”


Keduanya tertawa kecil setelah itu.

__ADS_1


Obrolan kedua ibu hamil itu terhenti saat makanan yang mereka pesan datang. Keduanya memutuskan untuk makan dan melanjutkan obrolan mereka nanti.


__ADS_2