
Felicia berdiri dalam kebisuan di balkon kamarnya. Pikirannya masih tertuju pada pesan yang dikirimkan oleh Vera sebelumnya. Dirinya tidak bisa mengendalikan pikiran negatif pada pertemuan Kenzo dan juga Vera.Tidak dipungkiri Felicia membiarkan amarah dalam dirinya menguasainya.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Ini sudah malam kenapa kamu berdiri di tempat terbuka seperti ini."
Felicia menoleh saat suara Kenzo masuk ke dalam telinganya. Ia menoleh ke asal suara dan mendapati Kenzo sedang berjalan ke arahnya.
Sejak kapan suaminya ada di dalam kamar itu dirinya sampai tidak menyadari hal itu.
Ingin rasanya Felicia mengamuk, menampar wajah suaminya, dan mengusirnya dari kamarnya. Namun, pelukan Kenzo yang tiba-tiba membuat amarah dalam dirinya meleleh.
"Udara di sini sangat dingin. Kamu bisa kedinginan," ucap Kenzo.
"Tadi aku kepanasan. Jadi aku pergi ke sini," jelas Felicia.
"Masuk yuk, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu," ajak Kenzo.
Felicia mengangguk sebelum menarik dirinya dari dekapan suaminya.
"Kamu kapan pulang?" tanya Felicia.
"Aku sudah pulang dan berdiri di belakangmu lima belas menit yang lalu. Tapi sepertinya kamu terlalu menikmati kesendirianmu hingga kamu tidak menyadari kehadiranku," jawab Kenzo.
"Maaf," ucap Felicia.
"Sudahlah, lupakan ini. Ayo masuklah di sini dingin sekali," ajak Kenzo.
Kenzo menarik tangan Felicia membawanya masuk ke dalam kamar. Ditutupnya pintu penghubung antara balkon dan kamar lalu menutup gordennya.
"Kamu sudah makan?" tanya Felicia.
"Sudah tadi di jalan," ucap Kenzo.
"Pasti makan malam bersama Vera," batin Felicia.
Ugh, perasaan kesal itu datang lagi.
"Kamu sendiri apa kamu sudah makan malam?" tanya Kenzo.
"Sudah." Felicia menjawabnya dengan singkat dan dengan nada yang ketus.
"Maaf jika aku pulang terlambat. Ada banyak pekerjaan di kantor, Alan dan sekertarisku tidak bisa menanganinya sendiri," jelas Kenzo.
"Hmmm," guman Felicia.
"Aku bawakan salad buah untukmu. Tadi sore kamu bilang ingin salad buah kan," ucap Kenzo.
"Aku sudah minta bibi memasukannya ke dalam lemari pendingin," imbuh Kenzo.
"Iya, terima kasih," ujar Felicia.
Kenzo merasakan ada yang aneh dari sikap istrinya. Rasa kesal istrinya bisa Kenzo lihat dari cara bicara dan cara Felicia bersikap.
__ADS_1
Ada sebuah rasa yang Kenzo sendiri tidak tahu itu apa. Kenzo menarik dan mendekap tubuh istrinya. Dengan pelukan itu Kenzo berharap bisa meredakan rasa kesal pada diri istrinya.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat kesal?" Suara Kenzo terdengar begitu lembut di telinga Felicia.
"Tidak apa-apa," jawab Felicia.
"Apanya yang tidak apa-apa. Nada bicaramu sudah menjelaskan jika kamu sedang merasa kesal," ucap Kenzo.
Hening mengambil alih suasana di antara mereka. Tidak ada yang bicara, mereka hanya berdiri dan saling memeluk.
Kenzo masih sabar menunggu jawaban dari istrinya. Akan tetapi istrinya masih tidak mau bicara. Kenzo menarik dirinya dari pelukan itu lalu menangkup kedua sisi wajah istrinya.
"Baiklah jika kamu belum ingin mengatakan alasan kenapa kamu kesal. Aku mau mandi dulu. Jika kamu sudah ingin mengatakan alasan kenapa kamu marah katakan padaku," ucap Kenzo.
"Jika aku yang salah, aku minta maaf," ucap Kenzo.
Kenzo berniat keluar dari kamar istrinya dan pergi ke kamarnya sendiri untuk mandi. Ia memutuskan untuk memberikan waktu pada istrinya untuk sendiri.
Saat Kenzo mulai melangkah Felicia menahan tangan Kenzo, menahan suaminya untuk tidak meninggalkan dirinya.
"Kenzo ...," panggil Felicia.
Kenzo mengulas senyum di bibirnya lalu menoleh ke arah istrinya. "Hmmm, ada apa?"
"Kamu mau ke mana saja hari ini?" tanya Felicia.
Kenzo menatap wajah istrinya. Terlihat sekali jika ada kecurigaan di wajah istrinya. Mungkin saja istrinya sudah tahu jika dirinya pergi menemui Vera. Kenzo menghela napasnya, sepetinya dirinya harus jujur kepada sang istri.
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.
Felicia menundukkan wajahnya, ia sedikit ragu untuk menceritakan tentang Vera.
"Feli ... katakan ada apa?" Kenzo meraih dagu Kenzo lalu mengangkat wajahnya.
"Tadi Vera mengirim pesan padaku. Dia mengatakan jika kamu ingin bertemu dengannya," jawab Felicia.
"Itu benar, Felicia," aku Kenzo.
Felicia ingin menangis saat mendengar jawaban suaminya, tetapi Felicia mencoba untuk menahannya.
"Aku memang menemui dia untuk memintanya supaya tidak lagi mengganggu dan mencelakai dirimu," ucap Kenzo.
"Mencelakaiku ... maksudnya apa?" Felicia merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo. Ia merasa tidak ingat kapan Vera mencelakai dirinya.
"Kamu ingat dengan orang yang mendorongmu di trotoar dan orang yang mencekal kakimu waktu di acara reuni?" tanya Kenzo.
"Iya ... aku ingat itu. Tapi ... apa hubungannya dengan Vera?" Felicia masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo.
"Itu semua ulah Vera," ungkap Kenzo.
Rasa terkejut tidak bisa Felicia hindari. Tidak pernah terbayangkan jika Vera bisa berbuat se-nekat itu untuk mendapatkan Kenzo kembali.
__ADS_1
"Maaf aku tidak mengatakan ini dulu padamu. Aku takut kamu berpikir yang macam-macam dan membuatmu terlalu banyak berpikir," ucap Kenzo.
"Aku bersumpah Feli, hanya itu niatku untuk bertemu dengan Vera," ucap Kenzo.
"Iya aku percaya," ucap Felicia.
"Sebenarnya ... beberapa hari yang lalu Vera juga datang ke kantor aku," ucap Felicia dengan wajah yang tertunduk.
"Untuk apa dia datang ke sana?" tanya Kenzo.
"Dia mengatakan banyak hal padaku. Tentang kamu dan dia dan ...." Felicia meredam ucapannya.
"Dan apa?" Kenzo kembali bertanya pada Felicia.
Felicia mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Kenzo secara langsung. Ada rasa ragu dalam diri Felicia untuk mengatakan pada suaminya tentang apa yang Vera katakan.
"Feli, ada apa." Kenzo kembali menangkup kedua sisi wajah Felicia.
"Ve-ra me-ngatakan jika kamu sering menemuinya di belakang aku. Dan anak yang dikandung oleh Vera adalah anak kamu," ucap Felicia.
Kenzo nampak terkejut dengan perkataan Felicia. Bagaimana bisa Vera mengatakan hal serendah itu.
"Lalu apa kamu percaya itu?" Kenzo menatap mata Felicia, berharap istrinya tidak memercayai apa yang Vera katakan.
"Awalnya aku terpengaruh. Tapi ...." Felicia menghentikan ucapannya saat Kenzo tiba-tiba membawanya ke dalam pelukannya.
"Sebelumya aku pernah mengatakan padamu, saat aku memilih untuk menikah denganmu aku sudah berjanji pada diriku jika aku akan melupakan Vera. Jangankan menemuinya di belakangmu, tidak ada waktu bagiku untuk memikirkannya," jelas Kenzo.
Karena semua waktuku sudah tersita untukmu.
"Dan untuk anak itu ... aku bersumpah Feli jika aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak yang sedang dikandungnya. Di saat Vera masih bersamaku tidak pernah terlintas di benakku untuk menyentuhnya, karena aku sadar dia bukan istriku. Apalagi untuk sekarang, dia istri dari laki-laki lain bagaimana bisa aku berpikir untuk berbuat hal se-hina itu dengannya," ucap Kenzo.
Kenzo sudah menjelaskan semua pada Felicia, tetapi tidak adanya respon dari Felicia membuat Kenzo merasakan rasa kecewa.
"Please, truth me." Kenzo makin mempererat pelukannya.
Keraguan akan suaminya yang sempat menyelimuti Felicia hilang sudah saat mendengar penjelasan dari suaminya. Felicia merasa bersalah sudah berpikiran negatif pada suaminya.
"Maafkan aku sudah berpikiran buruk padamu. Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku mengingat hubungan yang pernah terjalin di antara kalian dulu," aku Felicia.
Felicia langsung membalas pelukan suaminya dengan erat.
Kenzo mengusap kepala Felicia lalu mencium ujung kepalanya. "Jangan dipikirkan. Aku tidak apa-apa."
Felicia mengangguk lalu menarik dirinya dari Kenzo. Air mata yang sempat Felicia tahan akhirnya tumpah juga.
"Jangan menangis. Ingat kata Dokter, kamu tidak boleh stres." Kenzo berucap seraya mengusap jejak air mata yang ada di pipi Felicia.
"Kamu sekarang bukan hanya jadi manja, tetapi cengeng juga." Kenzo menarik hidung Felicia karena merasa gemas dengan perubahan sikap istrinya.
"Biarkan saja." Felicia menjulurkan lidahnya untuk membalas ledakan suaminya.
__ADS_1
Bibir Kenzo melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Kenzo lebih dulu mendaratkan kecupan di kening Felicia sebelum membawanya kembali masuk ke dalam pelukannya.
"Aku menyayangimu dan juga calon anak kita, Felicia."