Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Permintaan Maaf Dari Farhan


__ADS_3

Gio menjauhkan tubuhnya dari Flora dan mendudukkan dirinya membelakangi Flora pada tepi ranjang.


'Aku adikmu' kata itu berhasil membuat Gio terkejut setengah mati. Bagaimana bisa Flora menjadi adiknya?


Flora bangun dan memanggil posisi duduk. Matanya yang basah menatap punggung Gio yang terbuka.


"Waktu di restoran, ibu melihat papa kamu. Ibu mengenali beliau sebagai Ferdi," jelas Flora.


"Aku belum bisa atau bahkan aku tidak sanggup untuk mengatakan semua ini padamu. Aku tadi menemui Daniel untuk meminta bantuannya. Aku ingin melakukan tes DNA agar semuanya menjadi jelas. Dan jika semua jelas, aku akan memberitahukan hal ini padamu," ucap Flora di sela isak tangisnya.


Tidak ada tanggapan dari Gio. Flora tahu kekasihnya itu pasti sangat terkejut.


Flora menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah Gio. Tangannya menyentuh pundak Gio dan langsung membuat Gio menoleh ke arahnya.


Flora bisa melihat mata merah Gio seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya.


"Aku sangat berharap jika ibu salah. Aku sangat berharap jika hasil tes DNA besok mengatakan aku bukan anaknya papa kamu," harap Flora.


Gio menarik tangan Flora yang ada di pundaknya. Gio menggenggam sebelum mencium punggung tangan Flora.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin papa memiliki hubungan lain selain mama," ucap Gio.


"Aku tidak tahu. Kenapa takdir senang sekali mempermainkan aku," ucap Flora.


Gio mencium kening Flora sebelum ia beranjak dari tempat tidur. Gio mengambil kemejanya lalu memakainya kembali.


"Gio kamu mau ke mana?" tanya Flora.


"Memastikan sesuatu?" jawab Gio.


Setelah mengaitkan semua kancing kemejanya, Gio mendekati Flora kembali.


"Tetaplah di sini sampai aku kembali," ucap Gio dibalas anggukan kepala Flora.


Gio keluar dari apartemennya menuju tempat mobilnya terparkir. Dengan sejuta rasa kecewa dalam dirinya, Gio berusaha berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Gio melajukan mobilnya ke kediamannya. Gio harus menanyakan hal itu pada papanya.


Saat tiba di kediamannya, Gio langsung memarkirkan mobilnya lalu keluar dari dalam mobil. Gio melangkah cepat ke dalam rumah seraya memanggil papanya.


"Pah ... Papah!"


Berulangkali Gio memanggil papanya


Namun, papanya tidak kunjung datang.


"Pah ...."


"Ada apa Gio? Kenapa berteriak seperti itu?"


Gio menolehkan kepalanya dan melihat papanya masuk ke dalam rumah dari arah belakang rumahnya.

__ADS_1


"Gio ingin minta penjelasan dari Papah," ujar Gio.


"Penjelasan apa, Nak?" tanya Farhan.


"Apa Papah punya wanita lain selain mamah?"


Farhan menaikan satu alisnya, ia merasa heran dengan pertanyaan dari anaknya. "Apa maksudmu?"


"Jawab saja, Pah! Apa Papah punya wanita lain selain mamah dulu?" tanya Gio.


"Tidak, Nak," jawab Farhan. "Ada apa sebenarnya, kenapa kamu menanyakan hal seperti itu pada papah?"


"Jangan bohong, Pah!"


"Papah tidak bohong, Gio."


"Lalu bagaimana ada seorang perempuan yang mengaku memiliki anak dari Papah. Bagaimana ibunya Flora mengatakan jika papah adalah ayah kandung Flora! Jawab, Pah!" Gio sudah meninggikan nada bicaranya.


"Papah tidak mengerti ucapan kamu, Gio."


"Ibunya Flora namanya Seruni."


"Seruni ...." Farhan berusaha mengingat nama Seruni.


Farhan menundukkan kepalanya setelah mengingat nama Seruni. Perempuan yang ia jadikan sebagai pelampiasan pada masa lalunya.


Farhan mengangguk dengan wajah tertunduk.


"Jadi benar Flora anaknya Papah sama ibu Seruni?" tanya Gio penuh amarah.


Rahangnya mengeras, matanya memerah, dan tangannya mengepal, Gio sedang menahan amarah dalam dirinya.


Farhan berdiri dalam diamnya, sejujurnya ia juga belum yakin. Meski ia mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama Seruni dulu.


"Diamnya Papah sudah menjawab semuanya, Pah."


Setelah mengatakan kalimat itu, Gio meninggalkan rumah itu tanpa memperdulikan panggilan dari papanya. Gio meninggalkan rumah dengan sejuta luka dan amarah dalam dirinya.


*****


Tidak ingin membuang waktu, Farhan pergi untuk menemui Seruni. Farhan datang ke rumah yang ditinggali oleh Seruni dan Flora.


Sampai ke tempat itu, Farhan tidak mendapati Seruni maupun Flora. Farhan pun memilih untuk menunggu mereka. Farhan sudah tidak sabar menanti sebuah jawaban atas pertanyaan yang mendadak muncul di dalam pikirannya.


Sudah berulang kali juga ia menghubungi Flora dan mengatakan jika ia sedang ada di rumahnya. Namun, belum ada tanda-tanda kemunculan Flora. Sampai pada akhirnya, mata Farhan melihat perempuan yang sangat mirip dengan Flora.


"Kamu Seruni?" tanya Farhan saat Seruni berada di hadapannya.


Seruni pun nampak terkejut. Namun, ia berusaha untuk menyembunyikannya.

__ADS_1


"Saya bahkan masih ingat dengan wajah kamu meski sudah 25 tahun, Ferdi," ucap Seruni.


Farhan menundukkan wajahnya, ia tidak punya keberanian untuk menatap wanita yang berdiri tepat di hadapannya.


Perhatian Farhan dan Seruni teralihkan saat mobil yang sering Flora gunakan tiba di halaman rumah itu.


Flora turun dari mobil dan dengan langkah ragu Flora menghampiri Farhan dan juga ibunya.


"Bapak Farhan," gumam Flora.


Flora mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Farhan.


Flora melihat Farhan dan ibunya secara bergantian. Ingin rasanya ia mengeluarkan kata-kata dari dalam mulutnya. Sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh kedua orang tua itu.


"Bu, sebaiknya kita bicara di dalam saja," ajak Flora.


Flora masuk ke dalam rumah disusul oleh Seruni dan Farhan.


"Bapak Farhan ... silahkan duduk. Saya buatkan minum dulu." Farhan mengangguki ucapan Flora.


Flora meninggalkan ibunya dan Farhan untuk memberikan kesempatan pada keduanya untuk bicara. Flora melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuatkan minuman. Namun, langkahnya terhenti saat telinganya mendengat Farhan mulai bicara. Flora memilih menyembunyikan dirinya di balik dinding ruang tengah.


Flora menyumbulkan sedikit kepalanya untuk melihat kedua orang tua itu. Telinganya mulai mendengarkan pembicaraan dua orang tua itu.


"Apa benar Flora itu anakku?" tanya Farhan pada Seruni.


"Tentunya kamu tidak lupa dengan apa yang sudah kita lakukan dulu, 'kan?" tanya Seruni dan Farhan pun menganggukinya. "Apa harus aku jelaskan lagi siapa Flora?" Seruni menekan kata-katanya.


"Aku minta maaf Seruni. Aku benar-benar tidak menduga apa yang kita lakukan duu membuat Flora tumbuh di rahim kamu."


"Saya pun tidak pernah menduga jika kamu sepengecut itu. Kamu meninggalkan saya setelah kamu ...." Seruni diam dan tidak ingin melanjutkan kata-katanya.


"Maaf Seruni, banyak kejadian setelah itu yang membuat aku tidak bisa kembali ke sana."


"Satu hal yang ingin saya tanyakan ... apa saat dulu kita bertemu dulu ... kamu sebenarnya sudah menikah?" tanya Seruni dengan suara yang bergetar.


"Ya, saya sudah menikah." Farhan mengangguk dengan wajah yang tertunduk.


Seperti ada batu besar yang menghantam tubuh Seruni setelah mendengar pengakuan dari laki-laki yang ia kenal sebagai Ferdi.


Flora menitihkan air matanya mendengar pembicaraan keduanya. Flora yang sudah tidak bisa menahan perasaannya, memunculkan dirinya dari balik dinding.


"Bu ... jadi benar bapak Farhan itu ayah kandung aku?" tanya Flora di sela tangisannya.


"Iya, Nak," jawab Seruni.


"Flora gak percaya! Flora mau tes DNA untuk memastikannya," pinta Flora.


"Baik, Nak. Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ajak Farhan.

__ADS_1


__ADS_2