
Felicia merasa senang saat bisa menghabiskan waktu bersama Kenzo. Berjalan bergandengan dengan tangan di tepi pantai, minum es kepala muda, tetapi Felicia merasa kecewa karena tidak bisa bermain wahana air seperti banana boat.
"Ini sudah terik. Sebaiknya kita kembali ke hotel," ajak Kenzo.
Felicia menggelengkan kepalanya. Ia menolak ajakan Kenzo.
"Aku masih ingin di sini," tolak Felicia.
"Felicia —" Ucapan Kenzo disela oleh Felicia.
"Please ...." Felicia memohon kepada Kenzo.
Istrinya sudah memohon seperti itu. Tidak ada alasan lagi bagi Kenzo untuk menolaknya.
"Baiklah, tapi pakai topi dan kacamatamu," suruh Kenzo.
"Baiklah." Felicia melakukan apa yang suaminya perintahkan.
"Sudah, jadi ayo kita membuat istana pasir," ajak Felicia.
"Apa? Istana pasir?" Kening Kenzo mengerut. Ia juga tidak tahu lagi harus bicara apa.
"Iya, nih sudah ada alatnya." Felicia menunjukan ember kecil dan beberapa peralatan lainnya untuk membuat istana pasir.
"Ya, Tuhan." Kenzo memijit keningnya seraya berkacak pinggang. Ingin menolak, tetapi istrinya pasti akan menangis.
"Masa kecil kurang bahagia," ejek Kenzo.
"Enak saja," ucap Felicia.
"Waktu kecil papa Gio selalu mengajakku membuat istana pasir tiap kali kamu pergi ke pantai," ucap Felicia.
"Jadi aku harus menggantikan papa Gio untuk menemanimu bermain pasir, seperti sekarang?" tanya Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.
"Ck." Meskipun merasa kesal Kenzo tetap saja mau menemani Felicia membuat istana pasir.
Keduanya duduk bersama di atas pasir berwarna putih. Mereka sama-sama membuat istana pasir, tetapi Felicia dibuat kesal saat Kenzo selalu saja menghancurkan usahanya.
"Yang ikhlas dong bantuinnya," omel Felicia.
"Ini juga ikhlas," ucap Kenzo.
"Setengah hati ya." Felicia memicikan matanya ke arah Kenzo.
Kenzo mengela napasnya, istrinya benar-benar sangat peka. Memang dirinya setengah hati membantu Felicia membuat istana pasir.
"Aku memang setengah hati. Karena hatiku tinggal setengah dan setengah hatiku ada padamu," goda Kenzo.
Felicia tertawa begitu juga dengan Kenzo. Ia sempat terkejut laki-laki yang biasanya sangat dingin bisa merayu juga.
"Ck, sudah bisa merayu rupanya," ucap Felicia di sela tawanya.
"Aku sangat suka melihat tawamu, Feli. Tawamu bisa menenangkan hatiku," ucap Felicia.
"Berhentilah merayuku. Jangan membuat wajahku merah seperti udang rebus." Felicia berucap tanpa melihat ke arah Kenzo. Dirinya sibuk membuat istana pasir.
__ADS_1
"Aku sedang tidak mencoba untuk merayumu, Feli. Ini ucapan tulus dari hatiku," ucap Kenzo.
Felicia berhenti membuat istana pasir. Ia menoleh ke arah Kenzo membuat pandangannya bertemu dengan Kenzo. Ia memandangi wajah tampan suaminya yang merah karena terkena panas.
"Kenapa kamu begitu manis." Felicia mengusapkan pasir pada kedua sisi wajah Kenzo.
Saat mereka sedang asik bermain pasir, gambar bayangan dua orang tergambar jelas di pasir yang ada di hadapan mereka.
Kenzo dan Felicia sama-sama mendongakkan kepala mereka. Dua orang yang tidak ingin mereka lihat justru muncul kembali di hadapan mereka.
"Mereka lagi," batin Kenzo dan juga Felicia.
Felicia bangun lebih dulu. Ia menepuk-nepuk bokong serta tangannya untuk menghilangkan pasir yang menempel di baju bagian belakangan dan juga tangannya.
"Maaf jika kami menganggu waktu kalian," ucap Wibowo.
"Ada apa lagi Tuan dan Nyonya Wibowo?" Felicia bertanya tanpa ada basa-basi.
"Aku rasa urusan kita sudah selesai." Felicia memandang Vera yang sedang menundukkan wajahnya.
"Ada yang ingin kami bicarakan dengan kalian," jawab Wibowo.
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Tuan ucap," ucap Kenzo.
"Ayo, Sayang kita pergi. Aku rasa suasana di sini sudah tidak menyenangkan seperti tadi." Felicia menarik tangan Kenzo, membawanya pergi dari tempat itu. Felicia harus segera pergi. Dirinya merasa setiap kali ada Vera dan Wibowo hal buruk akan selalu terjadi.
"Tunggu, Felicia, Kenzo." Ucapan Vera menghentikan langkah Felicia dan juga Kenzo.
"Tolong dengarkan aku dulu. Aku hanya minta waktu lima menit saja," ucap Vera.
"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Felicia.
"Aku ingin minta maaf pada kalian." Vera berucap dengan wajah yang terduduk. Ia merasa malu melihat wajah Kenzo dan Felicia.
"Hah? Perempuan tidak tahu malu ini meminta maaf? Apakah aku sedang bermimpi?" batin Felicia.
"Kenzo ...," panggil Vera.
Kenzo tidak menyahut. Ia hanya menoleh ke arah Vera, itupun hanya sejenak.
"Aku sangat meminta maaf padamu atas apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Aku tidak bermaksud untuk mengkhianatimu. Aku —" Vera berhenti bicara saat Kenzo menyelanya.
"Sudah saya bilang, tidak ada pembahasan masa lalu yang pernah terjadi antara Anda dan saya," sela Kenzo.
"Jika Anda ingin meminta maaf atas apa yang sudah Anda lakukan semalam, maka kami sudah memaafkan Anda," ucap Kenzo.
Perkataan Kenzo membuat Vera diam seribu bahasa.
"Ayo, Feli kita pergi," ajak Kenzo.
Kenzo mengajak Felicia untuk pergi dari tempat itu, tetapi Felicia menahan langkahnya membuat Kenzo juga menghentikan langkahnya.
"Aku ingin bicara dengan Vera. Hanya berdua," ucap Felicia.
"Felicia, apa yang mau kamu lakukan. Ini sudah selesai," ucap Kenzo.
__ADS_1
"Aku tahu, Kenzo. Aku hanya ingin bicara dengannya saja," ucap Felicia.
"Tapi —" Ucapan Kenzo dipotong oleh Felicia.
"Dia tidak akan melukaiku, Kenzo. Kecuali jika permintaan maafnya tadi hanya pura-pura." Felicia menyindir Vera dengan ucapannya.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Jangan terlalu lama," ucap Kenzo.
"Iya, Sayang," ucap Felicia.
Felicia berjalan mendekat ke arah Felicia saat Kenzo sudah melepaskan genggaman tangan mereka. Entah apa yang ingin Felicia bicarakan dengan Vera, tetapi dari tatapan di wajahnya Felicia nampak ingin memaki Vera.
"Apa kamu sudah sadar jika kamu tidak akan lagi bisa memiliki Kenzo, Vera?" tanya Felicia.
"Ya." Vera mengangguk dengan wajah yang tertunduk.
"Benarkah? Atau kamu ada rencana lain lagi untuk menghancurkan rumah tanggaku?" tuduh Felicia.
Vera langsung mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah Felicia. Menatapnya dengan matanya yang basah.
"Tidak sedikitpun terlintas di pikiranku untuk aku melakukan hal itu, Felicia," ucap Vera.
"Sekarang aku sudah sadar. Kenzo sudah sangat sulit untuk aku gapai," ucap Vera.
"Bagus, kalau kamu sudah sadar," ucap Felicia.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, Vera! Jika kamu kembali berniat untuk merebut Kenzo dariku, maka aku jamin Kenzo akan jauh membencimu lebih dari sekarang," ucap Felicia.
"Aku bersumpah demi anak yang ada di dalam kandungku. Aku tidak akan melakukan itu," ucap Vera.
"Aku pegang kata-katamu, Vera," ucap Felicia.
"Dan ...." Felicia menoleh ke arah Wibowo yang ada di dekat Kenzo. "Meskipun umur suamimu sangat jauh darimu. Tapi dia laki-laki yang baik. Kamu sudah menyakitinya beberapa kali, tapi dia masih saja mempertahankan hubungan kalian."
"Aku tidak yakin, apakah nantinya kamu bisa mendapatkan laki-laki sebaik Tuan Wibowo," ucap Felicia.
"Kamu juga sudah memilihnya, jadi jangan sia-siakan suamimu. Apalagi suamimu sangat mencintaimu," ucap Felicia disambut anggukan kepala oleh Vera.
"Baiklah, hanya itu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sampai jumpa." Setelah mengatakan kalimat itu Felicia meninggalkan Vera dan kembali pada Kenzo.
"Sayang, ayo kita pergi. Aku sedikit lelah," ajak Felicia.
"Baiklah, ayo kita kembali ke hotel saja. Kita juga harus beres-beres. Malam nanti kita harus kembali ke Jakarta," ucap Kenzo.
Kenzo kembali menggandeng tangan Felicia mengisi setiap ruang di sela-sela jari mereka. Keduanya berjalan menyusuri tepi pantai untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol. Felicia kembali membahas kembali tentang Vera. Kenzo merasa tidak suka dengan pembahasannya itu. Ia meminta Felicia untuk melupakan semua masalah yang pernah terjadi dengan Vera.
"Jangan merusak kebahagiaan kita dengan membahas orang lain, Sayang," ucap Kenzo.
"Sekarang hanya akan ada kita dan calon anak kita nanti. Tidak akan ada orang lain lagi." Kenzo mengecup punggung tangan Felicia.
"Aku mencintaimu, Felicia," ucap Kenzo.
"Aku juga sangat mencintaimu Kenzo," balas Felicia.
__ADS_1