Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 232


__ADS_3

Setelah Kenzo pergi ke kantor, Felicia kembali masuk ke kamarnya. Bukan untuk tidur, tetapi memikirkan sesuatu. Felicia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memikirkan sikap aneh Kenzo sejak beberapa hari yang lalu.


"Aku yakin Kenzo menyembunyikan sesuatu," batin Felicia.


"Tapi apa? Dan kenapa Kenzo juga tidak mau memberitahukannya padaku," lanjut Felicia.


Bukan Felicia namanya jika ia tidak akan mencari tahu sesuatu yang janggal. Seperti yang sedang dirasakannya saat ini. Rasa penasaran kepada suaminya yang melarang dirinya dekat atau bahkan bertemu dengan Reza sudah memuncak.


Felicia tidak bisa menahan dirinya, ia tidak bisa berdiam diri saja. Jika suaminya tidak mau memberitahukan apa alasan yang sebenarnya, maka Felicia akan mencari tahu sendiri.


"Lihat saja Kenzo, kamu menyembunyikan sesuatu dariku dan aku akan mencari tahu hal itu sendiri," gumam Felicia.


"Tapi dari mana aku harus memulainya?" Felicia duduk di tepi tempat tidur sambil memutar isi kepalanya.


"Aku tahu, mungkin pria itu bisa membantuku." Felicia mengawalinya dengan bertanya pada Rizal, sopir pribadi sekaligus bodyguard yang Kenzo sewa.


Felicia keluar dari kamar, ia memanggil asisten rumah tangga di rumahnya untuk memanggil Rizal. Setelah itu Felicia pergi ke ruang tamu untuk menunggu Rizal.


Felicia duduk di ruang tamu dengan menyilangkan kakinya, dengan surat kabar di tangannya. Felicia membolak-balik surat kabar sambil menunggu Rizal, ia ingin mengintrogasi pria itu.


"Permisi, Bu. Ibu panggil saya?" tanya Rizal.


Felicia mengalihkan pandangannya dari surat kabar, ia melihat Rizal berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Iya, silahkan duduk!" Felicia menurunkan kakinya, melipat surat kabar dan menaruhnya ke atas meja.


"Baik, Bu." Rizal duduk di sofa single yang ada di ruang tamu, tepat di depan sofa yang Felicia duduki.


"Ada perlu apa Ibu memanggil saya?" tanya Rizal.


"Saya tidak mau berbasa-basi. Saya ingin kamu menjawab dengan jujur," ucap Felicia.


"Tentang apa, Bu?" Rizal memasang wajah curiga.


"Apa kamu tahu alasan suami saya menyewamu untuk menjadi bodyguard saya?" tanya Felicia tanpa basa-basi.


"Tentang itu ... tentu saja suami Anda menyuruh saya untuk menjaga Anda," jawab Rizal.


"Kalau itu saya juga tahu," ucap Felicia.


"Saya mau alasan yang lain, yang lebih spesifik," pinta Felicia.


"Maaf, Bu. Sebelumnya saya hanya diminta untuk menjaga Anda itu saja," ucap Rizal.


"Apa ada alasan lain lagi?" tanya Felicia.


"Tidak ada, Bu." Rizal menggelengkan kepalanya.


"Benarkah?" Felicia menyipitkan matanya, ia tidak semudah itu mempercayai ucapan Rizal.


"Benar, Bu," jawab Rizal.


"Baiklah, kalau begitu antar saya ke rumah teman saya yang bernama Reza," pinta Felicia.


Mendengar nama Reza, Rizal tidak bisa berkutik. Sebelumnya dirinya diminta untuk menjaga Felicia dari laki-laki yang bersama Reza. Untuk alasannya, Rizal sendiri tidak tahu.


"Ada apa? Kenapa diam saja." Felicia melihat Rizal sedikit terkejut juga bingung.


"Maaf, Bu. Saya akan mengantar Anda ke mana saja, tetapi untuk bertemu orang yang bernama Reza, Ibu harus meminta izin lebih dulu dari bapak. Jika bapak Kenzo sudah mengizinkan, maka saya akan mengantar Anda," ucap Rizal.


"Kenapa harus seperti itu?" Ada kecurigaan dalam nada bicara Felicia.


"Saya sendiri tidak tahu, Bu. Saya hanya menjalankan tugas saja," jawab Rizal.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak tahu alasannya?" tanya Felicia.


"Sungguh, Bu. Saya benar-benar tidak mengetahuinya.


Kecurigaan Felicia makin besar, pasti ada sesuatu yang Kenzo sembunyikan dari dirinya.


"Tidak perlu, ayo antar saya," pinta Felicia.


"Tapi, Bu —" Ucapan Rizal terpotong oleh Felicia.


"Saya tidak akan bertemu dengan Reza, tapi saya akan menemui Kenzi, dia adik ipar saya. Jadi antar saya ke sana," perintah Felicia.


"Baik, Bu," sahut Rizal.


"Tunggu sebentar. Saya akan bersiap-siap," ucap Felicia.


Felicia beranjak dari ruang tamu, ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian, sedangkan Rizal menyiapkan mobil untuk mengantar majikannya. Setelah selesai, Felicia ke luar dari kamar dan pergi ke teras rumah.


"Ayo, Zal. Antar saya sekarang!" Felicia melangkahkan kakinya di teras depan rumahnya dan berhenti di samping mobilnya.


"Silahkan masuk, Bu." Rizal membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Felicia masuk.


Pintu kembali Rizal tutup saat Felicia sudah berada di dalamnya. Setelah itu Rizal masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi. Mobil Rizal lajukan meninggalkan rumah besar itu.


Sepanjang perjalanan Felicia duduk dalam diam dengan menopang dagu dengan tangannya. Pandangannya menatap ke jalanan di luar sana. Dirinya sangat tidak sabar untuk mengetahui apa yang sudah disembunyikan oleh Kenzo. Ia tahu sifat suaminya yang jarang sekali mengatakan apa masalahnya membuat Keisha harus mencari tahu sendiri.


Memikirkan semua itu membuat Felicia merasa pusing. Ia menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk tenang agar tidak mempengaruhi kehamilannya.


Setelah melewati satu jam perjalanan Felicia merasakan laju mobil yang ia naiki berhenti. Ternyata mereka sudah sampai di apartemen.


"Kita sudah sampai, Bu," ucap Rizal.


"Baiklah tetap di sini. Saya akan naik sendiri," suruh Felicia.


"Saya akan bertemu dengan adik dari suamiku. Dia tidak akan melukai saya," ucap Felicia.


Felicia keluar dari mobil setelah Rizal membuka pintu untuknya. Kebetulan sekali ia melihat Kenzi di lobby apartemen.


"Kenzi," panggil Felicia.


Felicia berlari kecil untuk menghampiri adik iparnya.


"Ya Tuhan, kakak ipar?Apa yang kamu lakukan?" Kenzi terbelalak dan terkejut saat melihat Felicia berlari.


"Aku hanya berlari kecil." Felicia menjawab tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Felicia.


"Tapi aku harus pergi. Ada rapat sebentar lagi," ucap Kenzi.


"Aku tidak peduli pada rapatmu," ucap Felicia.


"Hei, Kakak ipar apa kamu ingin membuat perusahaanku brangkut?" Kenzi tersenyum kecil mendengar ucapan Felicia.


"Perusahaammu tidak akan brangkut hanya karena kamu melewatkan satu rapat saja," ucap Felicia.


"Aku tidak percaya ini. Pantas saja kakakku tunduk padamu. Kamu begitu galak, Kakak ipar," ucap Kenzi.


"Kamu sedang memuji atau mengejekku, Adik ipar?" Felicia memasang wajah galak.


Kenzi merespon perkataan kakak iparnya dengan tawa kecilnya.


"Baiklah saatnya untuk serius," ucap Felicia.

__ADS_1


"Ada apa Kakak ke sini? Tumben sekali?" tanya Kenzi.


"Kita cari tempat untuk mengobrol." Felicia menarik Kenzi membawanya ke taman di depan gedung apartemen itu.


Sampai di taman Felicia dan Kenzi duduk bersebelahan di bangku taman. Tanpa berbasa-basi Felicia bertanya pada Kenzi mengenai Kenzo.


"Aku ingin bertanya padamu mengenai Kenzo," ucap Felicia.


"Tentang suamimu? Ada apa dengan dia?" Kenzi balik bertanya pada Felicia.


"Aku rasa dia menyembunyikan sesuatu dariku," jawab Felicia.


"Itu bukan hal baru lagi. Dia memang selalu menyembunyikan sesuatu terutama jika itu sebuah masalah. Dan aku rasa kamu tahu itu," ucap Kenzi.


"Ya, tapi aku rasa kamu tahu apa yang sedang Kenzo sembunyikan dariku," tebak Felicia.


"Kenapa kamu memiliki pikiran itu?" Kenzi tahu Felicia sudah mulai curiga, tetapi Kenzi mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Kenzi, aku minta tolong padamu katakan apa yang sedang Kenzo coba sembunyikan dariku," pinta Felicia.


"Kenapa kamu merasa jika Kenzo menyembunyikan sesuatu darimu?" tanya Kenzi.


"Aku merasa ada yang aneh saja, dia tidak pernah melarangku berteman dengan siapapun, termasuk Reza. Tapi kali ini dia melarangku bicara bahkan bertemu dengan Reza. Dan yang paling aneh dia bahkan menyewa seorang bodyguard untuk menjagaku," ucap Felicia.


"Mungkin saja dia merasa cemburu dengan kedekatanmu dan pria itu." Kenzimasih mencari cara agar Felicia tidak bertanya lebih lanjut lagi, tetapi ternyata Felicia bukan wanita yang penurut.


"Aku tahu. Tapi ... kali ini lain. Perasaanku mengatakan jika terjadi sesuatu di antara mereka," ucap Felicia.


Kenzi tenggelam dalam diam. Naluri seorang istri memang selalu benar. Sejujurnya dirinya juga tidak setuju saat Kenzo meminta dirinya untuk menyembunyikan apa yang terjadi antara dirinya dan Reza. Akan tetapi ia juga tidak ingin membuat kakak iparnya merasa cemas, apalagi dalam keadaannya yang tengah mengandung.


"Sudahlah, Kakak ipar. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Mungkin saja Kenzo terlalu posesif saat ini karena kamu tengah mengandung anaknya. Jadi dia hanya merasa cemas berlebih," ucap Kenzi.


"Aku yakin tidak seperti itu," ucap Felicia.


"Kenzi, tolong katakan padaku apa yang harus apa yang sedang Kenzo sembunyikan dariku?Please ...." Felicia memohon dengan menyatukan kedua tangannya.


Melihat sikap kakak iparnya membuat Kenzi merasa tidak enak hati. Ditambah lagi saat melihat mata kakak iparnya dipenuhi oleh air mata.


"Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakannya ... aku akan mencaritahu sendiri." Felicia berdiri berniat pergi dari tempat itu. Namun Kenzi mencegahnya.


"Tunggu, Kakak ipar! Baiklah aku akan mengatakannya." Kenzi diam sejenak, setelah memikirkannya menurutnya Felicia juga berhak untuk tahu.


Felicia duduk kembali, ia tidak sabar untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan yang beberapa hari ini berputar di benaknya.


"Katakan Kenzi! Ada apa sebenarnya?" tanya Felicia.


"Tapi kamu harus janji. Jaga emosimu," pinta Kenzi.


"Baiklah, aku berjanji," ucap Felicia.


"Kamu ingat mengenai kecelakaan yang dialami oleh Kenzo, bukan?" tanya Kenzi yang langsung dianggukki oleh Felicia.


"Dia tidak kecelakaan, tetapi sengaja dicelakai," ungkap Kenzi. "Dan pelakuknya adalah Reza. Itu sebabnya Kenzo melarangmu untuk bertemu dengan pria itu. Pria itu mencintaimu dan menginginkanmu."


Felicia merasa terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia merasa sangat tidak percaya jika Reza bisa melakukan hal itu.


"Kamu tidak berbohong, 'kan?" Felicia masih merasa tidak percaya.


"Aku bersumpah, Kakak ipar. Itulah yang sebenarnya terjadi. Kenzo sengaja menyembunyikan hal itu karena tidak mau kamu terpikir akan hal itu yang akan berpengaruh pada kehamilanmu," jelas Kenzi.


Felicia berdiri dengan rasa kesal. Dirinya kesal karena Kenzo menyembunyikan hal sebesar itu dari dirinya.


"Aku tidak selemah itu, Kenzi. Aku harus bertemu dengan Reza dan meminta penjelasan darinya." Felicia berjalan secepat yang ia bisa menuju mobilnya. Dirinya harus segera bertemu dengan Reza. Jika benar Reza malakukan hal itu maka dia harus bertanggung jawab.

__ADS_1


Kenzi langsung mengejar Felicia untuk mencegahnya menemui Reza, tetapi sudah terlambat. Felicia sudah masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.


__ADS_2