
Flora dan Gio masih berada di atas kapal pesiar. Selesai makan malam di tempat itu, Flora masih belum ingin pulang. Makin malam cuaca di ruang terbuka itu makin terasa dingin. Flora menggunakan kedua tangannya untuk mengusap lengahnya.
“Sayang ... di sini sudah mulai dingin. Sebaiknya kita pulang,” ucap Gio seraya memakaikan jas miliknya ke pundak Flora.
Flora mengangguk. “Ya, ayo. Aku juga sudah mulai kedinginan.”
Gio melingkarkan tangannya ke sepanjang pinggang istrinya, membawanya turun dari kapal pesiar.
“Kamu senang, Sayang?” tanya Gio.
“Senang sekali,” seru Flora.
Bibir Gio tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Tangannya bergerak untuk mengusap kepala Flora.
Flora menghentikan langkahnya saat teringat akan sesuatu. “Gio ada yang ingin aku tanyakan.”
“Tentang apa?” tanya Gio.
“Daren,” jawab Flora. “Kamu belum menceritakan apa yang terjadi setelah kamu bicara dengan Daren. Bagaimana hubungan antara kamu dan Daren?”
“Aku tidak tahu, Flora. Setalah hari itu kami tidak saling berkomunikasi lagi. Aku ingin pergi untuk menemuinya lagi, tapi aku tidak punya keberanian untuk itu. Waktu kami bicara waktu itu, aku melihat kekecewaan yang begitu besar di wajahnya,” ucap Gio dengan wajah yang tertunduk.
Melihat itu Flora merasa sangat iba. Ia tahu apa yang sedang Gio rasakan. Flora menggerakkan tangannya untuk mengusap lengan suaminya.
“Semoga tidak terjadi perselisihan di antara kalian. Kalian memang beda ibu tapi kalian masih satu ayah,” ucap Flora.
“Aku pun berharap seperti itu, Flora,” ucap Gio.
“Jujur aku masih kepikiran jika Daren akan marah dengan apa yang sudah kita lakukan pada tante Dini,” ucap Flora.
“Itu memang pantas didapatkan oleh tante Dini. Sudahlah, Sayangku. Lupakan semua itu,” ucap Gio.
“Lebih baik kita kembali sekarang. Setalah ini kamu harus segera istirahat. Besok malam kita akan meninggalkan tempat ini,” ucap Gio.
“Ya, tante Mariana sudah berulang kali menghubungiku dan menanyakan oleh-oleh,” ucap Flora.
“Kalau diingat-ingat lucu ya ...,” ucap Gio.
“Apanya yang lucu?” tanya Flora.
__ADS_1
“Tante Mariana dulu benci banget sama kamu. Tapi lihat sekarang! Tante Mariana begitu menyayangimu,” jawab Gio.
Ada senyum kecil di sudut bibir Flora. Memang terlihat lucu jika mengingat masa lalunya dengan Mariana.
Langkah mereka terhenti ketika sampai di samping taksi yang akan mengantar mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Flora dan Gio sudah masuk ke dalam taksi. Bersama dengan mobil taksi Gio dan Flora menjauh dari dermaga, meninggalkan banyak kenangan di tempat itu.
Pasangan suami-istri itu turun dari taksi ketika sampai di hotel tempat mereka menginap. Mereka langsung melangkah ke salah satu kamar yang mereka tempati.
“Bersihkan tubuhmu lalu segera istirahat,” suruh Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.
Flora melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian tidur. Setelah selesai Flora ke luar dari kamar mandi dan masuk ke kamarnya. Matanya melihat suaminya sedang membereskan barang-barang mereka.
“Biar aku saja yang membereskannya. Kamu cepatlah bersihkan dirimu juga,” suruh Flora.
“Baiklah.” Gio menghentikan aktivitasnya untuk mengemas barang dan pergi ke kamar mandi.
Flora menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Setelah itu Flora kembali mengemas barang-barang serta memasukkannya ke dalam koper.
Selesai mengemas barang-barang mereka, Flora melangkah ke arah tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya di sana. Tidak lama setelah itu dia keluar dari kamar mandi lalu memakai pakaian yang sudah Flora siapkan sebelumnya.
Kecupan lembut Gio berikan di ujung kepala Flora. “Tidurlah! Selamat malam, Sayangku.”
“Selamat malam juga, Suamiku.” Flora membalas perkataan suaminya.
*****
Pada keesokan harinya, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Flora, Gio, Abi, serta Susan bersiap untuk check out dari hotel. Keempat orang itu akan segera meninggalkan kota New York dan akan kembali ke Indonesia.
Gio serta Abi sedang melakukan check-out di resepsionis hotel. Selesai dengan itu kedua laki-laki itu menghampiri Flora dan Susan yang sedang menunggu di tempat tunggu.
“Ayo kita segera berangkat ke bandara,” ucap Gio.
“Ya, ayo,” imbuh Flora.
Ketika akan melangkah Gio teringat akan sesuatu. Gio menepuk keningnya sendiri saat ia teringat sudah meninggalkan barang yang penting di kamar.
“Aku meninggalkan ponselku di meja kamar,” ucap Gio.
__ADS_1
“Aku akan mengambilnya,” ucap Abi.
“Tidak usah. Biar aku saja,” cegah Gio. “Kamu tunggu di sini. Jaga Flora dan Susan.”
“Aku ikut,” pinta Flora.
“Tidak. Kamu tetap di sini,” larang Gio. “Aku akan segera kembali.” Sebelum pergi Gio mendaratkan kecupan di kening Flora.
Gio mulai melangkah menjauh dari istri dan kedua bawahannya. Gio kembali ke meja resepsionis untuk meminta bantuan agar dirinya bisa kembali ke kamar yang sebelumnya ia tempati.
Gio kembali ke kamarnya bersama salah seorang staf hotel. Tarikan napas Gio begitu lega saat menemukan ponselnya.
“Terima kasih,” ucap Gio pada staf hotel yang mengantarnya ke kamar itu.
Gio lebih dulu meninggalkan kamar itu. Saat akan masuk ke dalam lift, ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Gio mengerutkan keningnya melihat nomor tidak dikenalnya. Merasa penasaran Gio membuka dan mulai membaca isi pesan itu.
Kening Gio mengerenyit melihat kalimat yang muncul di layar ponselnya.
Datang ke basemant hotel tempatmu menginap sekarang. Jika tidak, aku akan melukai istrimu.
Gio ingin mengabaikan pesan itu. Namun, nomor itu lagi-lagi mengirim pesan. Kali ini adalah pesan gambar. Di gambar itu Gio melihat foto istrinya yang sedang duduk di ruang tunggu.
Jika dalam waktu 5 menit kamu tidak datang ke basemant, maka aku akan menyuruh sniper yang sudah aku siapkan untuk melenyapkan istrimu.
Gio menggenggam erat ponsel di tangannya. Rahangnya mengeras dan tatapan di wajahnya menandakan kemarahannya. Tidak membuang waktu lagi Gio masuk ke dalam lift. Gio menekan tombol yang akan membawanya ke basemant hotel itu.
Sampai di basemant, Gio menghubungi nomor yang sudah mengirimkan pesan itu. Beberapa kali Gio menghubungi nomor itu, tetapi panggilannya selalu diabaikan.
Saat Gio ingin kembali menghubungi nomor itu, tiba-tiba Gio merasakan ada yang memukul kepalanya dari belakang.
Gio menoleh ke arah belakangnya. Namun, belum sempat Gio melihat siapa orang yang memukulnya, ada orang lain lagi yang memukul tubuhnya. Serangan dadakan itu membuat Gio tidak bisa melawan, apalagi dirinya dikeroyok oleh beberapa orang.
Pukulan terakhir di tengkuknya membuat Gio jatuh tersungkur di lantai. Darah segar mengalir dari kepala Gio. Gio jatuh tepat di bawah kaki seseorang, seorang laki-laki seumuran dirinya.
Samar-samar Gio melihat wajah laki-laki itu. Gio sangat mengenalinya.
“Kamu ....”
“Gio ... malang sekali nasibmu sekarang.” Laki-laki menyunggingkan senyum sinisnya. “Tapi kamu memang pantas mendapatkan ini semua. Dan lebih baik kamu menyusul kedua orangtuamu.”
__ADS_1
“Hei ... kamu!” Laki-laki itu menunjuk salah satu anak buahnya. “Akhiri dia.”