Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Enam Belas


__ADS_3

Felicia duduk dalam gelisah di samping Reza. Matanya tidak berhenti untuk terus menatap Kenzo yang sedang mengobrol bersama rekan bisnisnya. Felicia juga bersikap waspada terhadap Vera. Perdebatan di dalam kamar mandi sebelumnya bersama Vera membuat Felicia cemas. Ada rencana apa Vera?


"Feli ada apa? Tidak bisakah kamu duduk dengan tenang?" tanya Reza.


"Bagaimana bisa aku tenang. Jika ada pelakor di antara aku dan Kenzo," jawab Felicia.


"Pelakor?" Reza menggaruk sisi kepalanya dengan jari telunjuknya karena Reza merasa bingung. "Maksudmu ... ada perempuan lain yang menginginkan Kenzo?"


"Ck, iya. Dan wanita hamil itu orangnya." Felicia menunjuk Vera menggunakan dagunya.


"Hah? Dia sudah bersuami?" Reza memasang wajah bodoh.


"Tentu saja! Apa kamu tidak melihat jika dia sedang hamil," ucap Felicia.


"Jangan bilang perempuan itu mengandung anak Kenzo," ucap Reza.


"Jangan sembarang kalau bicara!" Satu pukulan mendarat di lengan Reza, tetapi justru Reza terkikik dibuatnya.


"Hahahahaha, aku cuma bercanda," gurau Reza.


"Tapi bagaimana mungkin? Perempuan itu sedang hamil dan juga sudah bersuami. Kenapa dia menginginkan Kenzo." Reza mengambil cemilan strawberry cokelat dan memasukkannya ke mulutnya.


"Dia mantan pacar sekaligus cinta pertama bagi Kenzo." Felicia bicara tanpa berhenti memandang ke arah Kenzo.


"Wah, posisimu sepertinya sangat terancam," ledek Reza.


"Reza berhentilah bercanda! Aku serius sekarang." Felicia berdecak kesal karena Reza terus saja bercanda.


"Oke, baiklah. Ibu hamil tidak boleh marah-marah tidak baik untuk janinmu," ledek Reza lagi.


"Re-za!" Felicia menatap tajam Reza.


"Maaf, maaf." Reza kembali memasang wajah serius.


"Lalu apa yang perempuan itu mau lakukan?" tanya Reza.


"Dia ingin kembali pada Kenzo. Dia perempuan yang sudah kehilangan akal. Kamu tahu, Reza? Dia bahkan pernah mengatakan jika anak yang sedang di kandungannya adalah anak Kenzo," ucap Felicia. "Dan yang lebih parahnya lagi suaminya juga pernah mengatakan jika itu anak Kenzo."


"Kamu percaya?" tanya Reza.


"Tentu saja aku tidak percaya pada mereka. Aku lebih percaya pada suamiku," jawab Felicia.


"Kalau begitu baguslah," ucap Reza dengan santainya.


"Tapi aku masih merasa cemas Vera mengatakan akan merebut Kenzo kembali," ucap Felicia.


"Kalau begitu laporkan saja perempuan itu pada suaminya," ucap Reza.


"Aku sudah pernah berniat untuk memberitahukan tentang hal ini pada suaminya. Tapi Vera selalu saja menghalanginya," jawab Felicia.


"Apa menurutmu Kenzo masih memiliki perasaan terhadap perempuan itu?" tanya Reza.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu," ucap lirih Felicia. "Tapi dari yang aku perhatikan Kenzo tidak pernah menggubris Vera."


"Kalau begitu apa yang kamu cemaskan?" tanya Reza. "Bukankah kamu bilang Kenzo baik padamu, perhatian, dan juga peduli padamu? Kamu juga yakin jika dia memiliki perasaan yang sama. Lalu apa yang kamu inginkan lagi?"


"Aku hanya ingin mendengar dari mulut Kenzo sendiri jika dia mencintaiku," jawab Felicia.


"Apa sebuah ucapan lebih penting daripada tindakan," tanya Reza. "Dengan semua sikap dan perhatian yang Kenzo tunjukkan padamu aku rasa itu sudah cukup."


"Tidak semua laki-laki bisa dengan entengnya mengungkapkan perasaannya, Feli. Karena laki-laki selalu bertindak dengan akal, bukan seperti wanita yang selalu bertindak dengan perasaan," jelas Reza.


"Ck, aku lupa kamu juga seorang laki-laki. Pasti kamu akan membela Kenzo." Felicia menepuk keningnya sendiri.


"Sudahlah aku ingin bersama suamiku." Felicia beranjak dari kursi. Saat akan melangkah, Reza mencegahnya.


"Kamu mau ke mana?" Reza memegang pergelangan tangan Felicia mencegah agar sahabatnya tidak pergi.


"Aku ingin bersama suamiku," jawab Felicia.


"Katamu kamu ingin membuatnya cemburu dengan keberadaanku di sini. Lalu kenapa kamu sekarang mau pergi?" tanya Felicia.


Felicia berdecak saat Reza mengingatkan akan misinya. Felicia kembali mendaratkan bokongnya di kursi. Namun, saat melihat Kenzo pergi, Felicia kembali beranjak dari kursi dan melangkah pergi mengikuti Kenzo. Felicia terus melangkah tanpa menghiraukan panggilan Reza.


"Felicia, kamu mau ke mana?" tanya Reza.


Felicia terus melangkah seraya memperhatikan Kenzo. Ia merasa heran saat Kenzo keluar dari tempat pesta.


"Mau ke mana Kenzo?" batin Felicia.


Langkah Felicia berhenti ketika sampai di lorong dekat ballroom. Matanya melebar saat melihat Kenzo sedang bicara dengan Vera. Felicia merasa sangat kesal melihat itu. Ada ketakutan dalam diri Felicia akan hubungan Kenzo dan Felicia, tetapi Felicia mencoba untuk menguatkan dirinya.


Felicia melangkahkan kakinya ke tempat yang lebih dekat agar bisa mendengar apa yang keduanya bicarakan. Felicia menyembunyikan tubuhnya di balik salah satu pilar agar Kenzo dan Vera tidak melihat dirinya.


"Aku tahu kamu masih mencintaiku, Kenzo. Aku tahu itu?" ucap Vera.


Felicia melihat Vera mengguncangkan-guncangkan tubuh Kenzo. Telapak tangannya mengepal untuk menahan amarahnya.


"Berani sekali dia menyentuh suamiku!" gerutu Felicia.


"Jawab Kenzo!" pinta Vera.


Felicia kembali fokus pada pembicaraan Vera dan Kenzo. Ia merasa sangat penasaran dengan jawaban Kenzo.


"Katakan Kenzo jika kamu masih mencintaiku," desak Vera.


"Ya! Aku memang masih mencintaimu," jawab Kenzo.


Felicia membungkam mulutnya saat mendengar perkataan Kenzo. Dirinya sangat berharap jika telinganya bermasalah, tetapi Kenzo mengulangi perkataanya, membuat Felicia yakin jika dirinya tidak salah mendengarnya.


Tetesan demi tetesan air mata jatuh di pipi Felicia. Hatinya remuk menjadi banyak kepingan. Jadi selama ini Kenzo bersikap baik padanya hanya untuk pelampiasan.


"Kamu jahat Kenzo," ucap Felicia dengan lirihnya.

__ADS_1


Felicia memutuskan untuk pergi dari tempat itu karena sudah tidak tahan melihat pemandangan yang menyayat hatinya itu. Namun, suara Kenzo kembali terdengar dan membuat langkah Felicia terhenti.


"Aku memang masih mencintaimu, Vera. Tapi itu sebelum aku bertemu dan menikah dengan Felicia," ucap Kenzo.


"Aku sangat mencintai Felicia, saat ini dan sampai seumur hidupku. Aku harap kamu mengerti. Jangan pernah berharap aku kembali padamu. Karena saat kamu memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain, hubungan kita sudah berakhir untuk selamanya," ucap Kenzo.


Mendengar kalimat yang Kenzo ucapkan membuat kepingan hati Felicia menyatu kembali. Wajahnya yang muram kembali bersemi, senyumnya yang meredup kembali merekah, menghiasi bibirnya.


Felicia berbalik dengan wajah yang berbinar menatap Kenzo. Air mata kesedihannya berubah menjadi air mata kebahagiaan.


Sementara itu Kenzo masih menatap Vera dengan iba. Ia tidak tahu kenapa perempuan yang dirinya kenal baik dulu berubah menjadi tidak terkendali.


Kenzo menarik napas berat dan menoleh ke arah lain. Namun, justru matanya menangkap keberadaan Felicia tidak jauh dari tempatnya.


"Felicia," guman Kenzo.


Kenzo terus menatap istrinya sampai istrinya berada tepat di hadapannya. Kenzo terkejut saat melihat Felicia menangis.


"Felicia ... ada apa? Kenapa menangis?" Kenzo mengusap air mata yang jatuh di pipi Felicia.


Felicia menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tertunduk.


"Felicia ...." Kenzo menangkup kedua sisi wajah Felicia lalu mengangkat wajahnya.


Pandangan mata Kenzo bertemu dengan mata Felicia yang basah.


"Aku dengar semuanya dan aku terharu." Felicia mengusap air mata di sudut matanya diikuti tawanya.


Kenzo juga ikut tersenyum. Tanpa mempedulikan Vera, Kenzo mendaratkan kecupan di kening Felicia lalu menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya.


Untuk sesaat Felicia melupakan Vera dan menikmati kebahagiaanya malam itu diperlukan Kenzo. Saat Felicia teringat sesuatu dirinya mengalihkan pandangannya ke arah Vera.


"Aku tidak tahu apa maksud dan rencanamu malam ini untuk mendapatkan Kenzo. Tapi kamu tadi mengatakan jika malam ini aku akan tahu siapa yang Kenzo cintai di antara kita dan sekarang aku sudah tahu jawabannya Vera," ucap Felica.


"Dia mencintaiku dan aku harap kamu sudah sadar jika Kenzo tidak ingin bersamamu lagi," sambung Felicia.


"Itu bohong!" Vera tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Felicia.


"Kenzo! Jangan bohongi perasaanmu sendiri." Vera mendesak Kenzo untuk kembali mencintainya.


"Aku memang sudah membohongi diriku dengan menyembunyikan perasaanku pada Felicia. Tapi sekarang aku tidak akan lagi menyembunyikan perasaan aku terhadap Felicia, entah itu pada diriku sendiri, padamu, atau pada semua orang yang ada dunia ini," tegas Felicia.


"Kenzo —"


"Cukup, Vera!" Kenzo menghentikan Vera untuk Bicara. "Sudah cukup, Vera! Kita sudah berakhir."


"Kenzo ... please ... aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Vera disela isak tangisannya.


"Kalau begitu belajarlah untuk hidup tanpaku. Seperti aku dulu belajar hidup tanpamu," ucap Kenzo.


"Kenzo ...." Vera terisak makin kencang.

__ADS_1


"Ayo Feli, kita pergi," ajak Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.


Kenzo melingkarkan tangannya di pinggang Felicia dan membawanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Vera begitu saja.


__ADS_2