Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Terungkap


__ADS_3

Sudah dua hari Daren berada di Indonesia dan pada malam itu Daren mengajak Flora untuk makan malam. Jika saja bukan demi menemukan bukti jika Daren yang melukai suaminya, Flora tidak akan mau pergi makan malam bersama dengan Daren.


“Kamu suka tempatnya?” tanya Flora.


“Suka. Tempatnya nyaman,” jawab Daren.


“Ini juga tempat kesukaan Gio. Kami sering menghabiskan waktu makan malam di sini,” ucap Flora.


Flora sengaja menyinggung soal Gio, karena ingin melihat ekspresi Daren. Flora melihat tangan Daren yang ada di atas meja mengepal seperti sedang menahan emosinya.


“Sebenci itukan kamu sama adik kamu sendiri Daren?” batin Flora.


“Daren ... kenapa kamu berhenti makan?” Flora berusaha bersikap biasa saja.


“Tidak apa-apa,” jawab Daren. “Aku hanya teringat pada Gio,” ucap Daren.


Flora terkejut saat tiba-tiba Daren menggenggam tangannya. Flora ingin sekali menyingkirkan tangannya, tetapi Flora mencoba untuk menahan amarah dalam dirinya.


“Maafkan aku, Flora. Aku belum bisa menemukan pelaku yang sudah mencelakai Gio. Tapi aku berjanji padamu, aku akan menggantikan posisi Gio di sisi kamu dan calon anak kamu,” ucap Daren.


“Picik sekali kamu, Daren.” Flora memaki Daren di dalam hatinya. “Jika saja aku sudah menemukan bukti jika kamu yang mencelakai suamiku ... akan tidak akan mengampuni dirimu,” batin Flora.


“Terima kasih, Daren. Suatu saat nanti kebenaran pasti akan terungkap,” ucap Flora.


“Ya, Flora ... itu benar,” ucap Daren.


Flora tersenyum di dalam hatinya melihat ada kegugupan pada nada bicara Daren.


“Daren, ini sudah malam. Sebaiknya aku pulang,” ucap Flora.


“Tidak biasakan kita menghabiskan waktu sebentar lagi,” ucap Daren.


“Tidak akan! Sedetikpun aku tidak mau menghabiskan waktu bersamamu,” batin Flora.


“Maafkan aku Daren, tapi aku tidak boleh terlalu lama berada di luar ketika malam hari. Ibuku pasti akan marah dan tidak akan mengizinkan aku pergi lagi jika aku pulang terlambat,” kilah Flora.


“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang,” ucap Daren.


“Daren, apa kamu lupa? Aku datang ke sini bersama Mas Abi. Jadi aku akan pulang bersamanya,” ucap Flora. “Lagi pula jalur kita berbeda.”


“Baiklah, besok aku akan ke rumahmu. Aku akan membantu keluargamu untuk mempersiapkan acara tujuh bulanan kamu,” ucap Daniel.


“Sekali lagi terima kasih, Daren,” ucap Flora. “Daah.” Flora melambaikan tangannya pada Daren seraya melangkah jauh meninggalkan Daren.

__ADS_1


Flora sampai di tempat Abi yang sedang menunggunya. Rasa kesal menyelimuti hati Flora saat itu.


“Ayo kita pulang, Mas Abi. Amarahku akan meledak jika aku tetap di sini bersama laki-laki tidak waras itu,” ucap Flora.


Abi langsung membukakan pintu mobil untuk Flora. Setelah Flora duduk di dalam mobil, Abi kembali menutupnya. Dengan segera Abi melajukan mobilnya meninggalkan cafe kenanga.


Sepanjang perjalanan Flora membersihkan tangannya yang disentuh oleh Daren menggunakan tisu basah.


“Dia berani menggenggam tanganku!” kesal Flora.


“Dia juga mengatakan akan menggantikan posisi Gio di samping aku. Apa dia itu sedang bermimpi!” maki Flora.


“Kamu belum menemukan apapun di kamar hotel yang ditempati oleh Daren?” tanya Flora.


“Aku dan mas Daniel sudah memasang alat penyadap di kamar hotel itu, tapi yang kami dengar hanyalah ungkapan cinta mas Daren untuk Mba Flora.” Jawaban Abi terkesan sedang meledek Flora.


“Apa kamu sedang mengejekku, Mas Abi?” Flora memicik tajam ke arah Abi melalui kaca spion yang ada di hadapannya.


Abi terkekeh mendengar perkataan dan tatapan tajam atasannya.


“Oh iya, Mba ... dapat salam dari bapak Elang. Dia sudah keluar dari rumah sakit,” ucap Abi.


“Oh, apa keadaanya sudah baik-baik saja?” tanya Flora.


“Satu bulan lagi?” Flora bertanya lagi untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.


Flora menyenderkan tubuhnya pada punggung bangku yang sedang sedang ia duduki. Ada tarikan napas yang begitu berat di dalam diri Flora.


“Kapan sandiwara ini berakhir. Aku muak bersama Daren meskipun hanya sedetik,” ucap Flora.


“Sampai kita menemukan bukti jika Daren bersalah,” imbuh Abi.


Sesaat suasana menjadi hening di dalam mobil. Flora memilih untuk melihat galeri di ponselnya, melihat foto-foto kebersamaannya dengan Gio. Sakit memang, tetapi hanya itu penghibur laranya saat itu.


“Mas Abi ... kamu percaya gak sih kalau suami aku masih hidup?” tanya Flora.


“Percaya,” jawab Abi dengan cepat.


Flora menaikan satu alisnya merasa heran pada asisten pribadinya, karena menjawab pertanyaannya dengan begitu yakin.


“Kok tumben kamu yakin banget.” Flora menatap Abi dari kaca spion di depannya dengan tatapan curiga.


Menyadari tatapan dari atasannya, Abi mengumpat dalam hatinya.

__ADS_1


“Hampir saja kelepasan bicara,” batin Abi.


“Mas Abi ... kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku 'kan?” tanya Flora.


Abi mulai gelagapan, bingung untuk menjawab apa. Memang benar dirinya tahu jika Gio masih hidup dan sudah bertemu dengannya. Akan tetapi, Gio sudah meminta agar Flora jangan sampai tahu, sebelum Daren tertangkap.


Beruntung ada pesan masuk ke ponselnya, membuat Abi tidak harus menjawab pertanyaan dari Flora. Setelah menepikan mobilnya, Abi mengambil ponsel dari saku kemejanya dan melihat ada pesan aplikasi dari Samuel.


“Dari Tuan Samuel, Mba. Beliau mengatakan jika beliau mendapatkan video dari seseorang tentang keterlibatan Daren. Beliau juga sudah mengirimkan video kepada kita memalui e-mail,” ucap Abi.


“Benarkah, ayo kita pulang sekarang,” perintah Flora.


Abi kembali melajukan mobilnya, kali ini Abi menambah kecepatan laju mobilnya. Sementara itu Flora mengirim pesan pada Daniel dan juga Adam untuk datang ke rumahnya.


Abi memberhentikan laju mobilnya tepat di depan garasi rumah Flora. Segera keduanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.


“Mas Abi di mana laptopnya?” tanya Flora.


“Ada di ruangan kerja, Mba,” jawab Abi.


Keduanya langsung melangkah cepat menuju ruangan kerja yang ada di rumah itu. Seruni yang melihat keduanya langsung bertanya pada meraka.


“Flora, Abi ... ada apa? Kenapa kalian berjalan terburu-buru?” tanya Seruni.


“Ada orang yang mengirim e-mail. Video yang berkaitan dengan orang yang mencelakai Gio,” jawab Flora.


“Benarkah? Kalau begitu ibu juga mau lihat,” ucap Seruni.


“Ayo, Bu. Kita lihat sama-sama,” ajak Flora.


Ketiganya masuk ke dalam ruang kerja. Flora langsung membuka laptopnya dan memeriksa e-mail dari Samuel.


Jantung Flora, Seruni, dan Abi berdegup kencang menanti video itu terbuka. Pada saat video itu terbuka, kedua mata mereka melebar.


Bukan hanya itu saja, mereka nampak sangat syok melihat hal yang terjadi di dalam video itu. Beberapa orang laki-laki mengeroyok Gio, memukulnya dengan balok kayu dan juga pemukul baseball.


Ada Daren di dalam Video itu. Daren berdiri dengan melipat kedua tangannya, tawanya keras saat melihat Gio kesakitan.


Flora menangis histeris saat Daren memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengakhiri hidup Gio. Benar saja, salah satu anak buah Daren memukul kepala Gio hingga Gio tidak bergerak lagi.


“Gio!”


Flora berteriak histeris, melihat apa yang terjadi dengan suaminya. Seluruh tubuhnya terasa lemas hingga kakinya tidak lagi bisa menopang tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2