Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 187


__ADS_3

Felicia berjalan menuruni anak tangga disusul oleh Kenzo. Keduanya juga sudah mandi dan berganti pakaian. Mereka melangkah kembali ke tempat Kenzi dan Violetta berada.


"Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Felicia.


"Santai Kakak ipar," sahut Kenzi.


"Felicia, sini duduk dekat Mamah," suruh Violetta.


"Iya, Mah." Felicia berjalan dan mendudukkan bokongnya di sofa yang sama dengan ibu mertuanya.


Felicia duduk di satu sofa panjang bersama ibu mertuanya, sedangkan Kenzo duduk di sofa lainnya.


"Orang yang Mamah bawa mana?" tanya Kenzo.


"Tadi Mamah suruh mereka ke kamar yang akan mereka tempati untuk menaruh barang-barang mereka," jawab Violetta.


"Mereka suami-istri kan Mah?" tanya Kenzo lagi.


"Iya, Sayang. Tuh mereka." Violetta menunjuk dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka.


Felicia dan Kenzo sama-sama menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Violetta. Mereka melihat dua orang, laki-laki dan perempuan. Mungkin umur mereka sekitar 40 tahunan.


"Marni, Agus, silahkan duduk," suruh Violetta.


"Baik, Bu." Marni dan Agus menyahut bersama lalu duduk di lantai.


"Eh, kenapa kalian duduk di lantai. Duduk saja di sofa," suruh Felicia.


"Tapi, Bu ... kami merasa tidak enak," tolak Marni.


"Tidak apa-apa. Duduk saja di sofa," imbuh Kenzo.


"Baiklah, Pak." Marni dan suaminya duduk dengan perasaan canggung di sofa.


"Marni, Agus ... ini anak dan menantu saya. Kalian akan bekerja untuk mereka," jelas Violetta.


Marni dan Agus mengangguk kecil serta menunjukkan senyum mereka kepada Kenzo dan juga Felicia.


"Saya Kenzo dan ini istri saya Felicia," terang Kenzo.


"Saya Marni dan ini suami saya Agus. Terima kasih sudah mau menerima kami kerja di sini," ucap Marni. "Kami akan berusaha berkerja dengan sebaik-baiknya di sini."


"Kami juga mohon bantuannya dan semoga kalian betah bekerja di sini," ucap Felicia.


"Sekarang kalian bisa istirahat dulu," suruh Kenzo.


"Bapak, Ibu ... kalau diperbolehkan saya mau masak untuk makan siang," ujar Marni.


"Tentu, silahkan saja. Dapurnya ada di sebelah sana." Felicia menunjuk ke arah dapur yang tidak jauh dari ruang tengah.


"Baik, Bu. Kami permisi dulu," pamit Marni dan juga suaminya.


Felicia memperhatikan dua pekerja barunya sampai bayangan mereka lenyap dari matanya. Ia merasa bersyukur bisa mendapatkan orang untuk bekerja di rumah mereka dengan cepat.

__ADS_1


"Kalian tenang saja mereka sudah berpengalaman. Dan mereka juga orangnya baik," ucap Violetta.


"Mamah sudah lama kenal mereka?" tanya Kenzo.


"Tentu saja Mamah sudah kenal lama sama mereka. Dulu sebelum mereka menikah mereka bekerja di rumah kita. Dan sempat bantuin Mamah mengurus kamu dan Kenzi sampai umur kalian lima tahun," jelas Violetta.


"Beneran, Mah? Aku tidak ingat itu," ucap Kenzi.


"Bagaimana mau ingat. Yang diingat olehmu terus hanya perempuan berpakaian minim bahan," ledek Kenzo dibalas cibiran oleh Kenzi.


Keempat orang itu masih mengobrol di tempat yang sama. Banyak hal yang mereka bicarakan termasuk tentang cucu yang sudah Violetta inginkan. Felicia menanggapi keinginan ibu mertuanya hanya dengan senyuman. Dirinya masih belum bisa menjanjikan apapun, meskipun sudah dua kali dirinya dan Kenzo melakukan hubungan suami-isteri.


Beberapa saat kemudian Felicia terkejut saat ibu mertuanya meraih dagunya lalu memperhatikan wajahnya. Ada perasaan cemas yang Felicia lihat di wajah ibu mertuanya.


"Ada apa, Mah?" tanya Felicia.


"Felicia wajah kamu kenapa pucat? Kamu sakit?" Nada bicara Violetta terdengar sangat cemas?


"Tidak, Mah," jawab Felicia.


"Tapi wajah kamu pucat, Sayang." Violetta tidak puas dengan jawaban Felicia. Ia menempelkan punggung tangannya di kening dan leher Felicia untuk mengecek suhu badannya.


Felicia menghentikan gerakan tangan ibu mertuanya. Ia raih tangan ibu mertuanya lalu menggenggamnya.


"Mah, terima kasih sudah khawatir sama aku. Aku baik-baik saja. Semalam memang aku merasa pusing, tapi sekarang sudah jauh lebih baik," ucap Felicia.


"Beneran? Mamah khawatir karena wajah kamu pucat," ucap Violetta.


"Iya, Mah. Wajah aku pucat mungkin karena tadi aku kelamaan berenang," ucap Felicia.


"Diam kau!" Felicia berucap lirih seraya memicikan matanya ke arah Kenzo yang justru sedang terkikik geli.


"Kenzo, berhentilah untuk mengganggu istrimu," suruh Violetta.


"Tenang saja Kakak ipar." Kenzi beranjak dari tempat duduknya dan berpindah duduk tepat di sebelah Felicia. Tangannya Kenzi lingkarkan di pundak Felicia. "Jika saudara kembarku itu terus mengganggumu katakan saja padaku. Biar aku yang akan memberinya pelajaran," ujar Kenzi.


Kenzo mendengkus mendengar perkataan Kenzi yang terkesan sedang meledeknya. Ia tidak ingin menghiraukan adiknya, tetapi darahnya serasa mendidih saat melihat tangan Kenzi melingkar di pundak istrinya.


"Kenzi," panggil Kenzo.


"Ada apa saudara kembarku," sahut Kenzi.


"Jauhkan tanganmu dari Felicia." Nada bicara Kenzo memang pelan, tetapi terdengar menakutkan.


"Kenapa? Dia ini istrimu yang itu berarti dia kakakku. Apa salahnya aku seperti ini pada kakak iparku?" Kenzi sangat berniat untuk menggoda Kenzi dan itu disadari oleh Kenzo.


"Kenzi." Kenzo menatap tajam kembarannya.


"Jangan tunjukkan wajahmu yang menyeramkan itu. Apa kamu ingin membuat kakak iparku ini ketakutan." Ucapan Kenzi sudah jelas bermaksud untuk meledek Kenzo. Hal itu berhasil membuat tawa Felicia dan Violetta meledak.


"Kenzi, apa kamu tidak lelah terus menerus mengganggu kakakmu?" tanya Violetta diikuti tawanya.


"Aku suka sekali mengganggu kakakku itu. Karena dia sangat pemarah, Mah. Karena itu aku tidak bisa berhenti untuk menggodanya," kelakar Kenzi.

__ADS_1


"Terserah padamu," sungut Kenzo yang langsung membuat tawa istri, adik, dan ibunya meledak.


"Kalian sangat menyebalkan!" Kenzo memasang wajah cemberut saat istri, adik, dan juga ibunya menertawakan dirinya.


Dalam canda dan tawa itu diam-diam Kenzo dan Felicia saling memandang dan bicara dengan bahasa isyarat. Entah apa yang dibicarakan. Itu hanya bisa diketahui oleh mereka.


Apa yang dilakukan oleh Kenzo dan Felicia terlihat oleh Kenzi. Melihat itu Kenzi makin gencar untuk menggoda kakak dan juga kakak iparnya.


"Ck, apa yang sedang kalian lakukan? Kalau ingin bicara jangan diam-diam seperti itu. Apa kalian sudah tidak sabar mengusir kami agar kalian bisa bermesraan seperti saat tadi di kolam berenang?" ledek Kenzi.


Kenzo mengela napas dalam-dalam ia mencoba memberikan kesabaran pada dirinyalah sendiri, sedangkan Felicia menahan dirinya untuk tidak terpengaruh dengan ledakan Kenzi. Akan tetapi usahanya sia-sia, wajah Felicia memerah karena ledekan Kenzi.


"Mah, bisa Mamah carikan Kenzi jodoh? Agar dia bisa sibuk dengan urusannya sendiri. Agar dia tidak terus menggangguku?" ujar Kenzo.


"Tentu saja. Mamah sama papah sudah menyiapkan gadis untuknya," ucap Violetta.


"Itu bagus, Mah." Kali ini Kenzo bisa menunjukan senyum penuh kemenangan.


"Awas kau," ancam Kenzi yang justru membuat Kenzo tertawa.


"Mah, aku setuju dengan ide itu. Cepat nikahkan Kenzi agar dia tidak terus merayu banyak gadis seperti yang dikatakan oleh Kenzo," imbuh Felicia.


"Apa ini Kakak ipar? Kenapa kamu juga ikut-ikutan," decak Kenzi.


"Kenzi, apa benar apa yang dikatakan oleh kakak iparmu tadi?" Violetta memandang Kenzi layaknya ingin memaksa anaknya.


"Jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh mereka, Mah." Kenzi melempar bantal tepat ke arah Kenzo dan tepat mengenai wajahnya.


Tidak terima dengan yang dilakukan oleh saudara kembarnya, Kenzo melempar kembali bantal itu ke arah Kenzi. "Itu memang kenyataan."


Selanjutnya perang dengan saling melempar bantal terjadi antara Kenzo dan juga Kenzi. Felicia dan Violetta dibuat pusing oleh orang yang memiliki paras yang sama.


"Sudahlah hentikan ini. Kenzi, Kenzo hentikan pertengkaran kalian," perintah Violetta. "Kalian dari dulu suka sekali saling mengganggu. Malu sama umur."


Kenzo dan Kenzi saling menjulurkan lidah mereka untuk saling mengejek. Melihat kelakuan saudara kembar itu Felicia dan Violetta hanya mampu menghela napas mereka dengan berat.


"Kakak ipar pergilah ke dekat suamimu. Dan tolong kendalikan dia atau buat dia bertekuk lutut di hadapanmu," suruh Kenzi.


Felicia beranjak dari samping ibu mertuanya, ia berpindah tempat duduk di samping suaminya. Rasanya Felicia ingin tertawa melihat tingkah suami dan adik iparnya yang seperti kucing dan juga tikus.


"Baiklah, Mamah harus pulang," ucap Violetta.


"Kenapa buru-buru, Mah?" tanya Kenzo.


"Mamah masih ada urusan. Kapan-kapan Mamah main ke sini lagi," ucap Violetta.


"Oh iya aku sampai lupa. Dua Minggu lagi ada acara reunian sekolah kita. Dan ini undangannya." Kenzi memberikan undangan acara reuni kepada Kenzo.


"Kakak ipar kamu harus ikut. Jika tidak ... akan ada banyak perempuan yang merayu suamimu," ucap Kenzi.


"Termasuk Vera." Kenzi berbisik di dekat telinga Felicia.


Vera?

__ADS_1


Felicia merasa kesal mendengar nama mantan kekasih suaminya. Kapan Vera bisa selamanya menghilang dari kehidupan rumah tangganya.


__ADS_2