Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Hilangnya Gio


__ADS_3

Perasaan Flora mendadak tidak enak. Pikirnya terus tertuju pada Gio. Flora merasa terjadi sesuatu yang buruk dengan suaminya.


Flora yang sedang duduk di sofa mendadak berdiri. Sudah berulangkali Flora menghubungi nomor ponsel suaminya, hanya nada sibuk yang Flora dengar dan setelah itu Gio tidak menerima panggilan darinya.


Berulang kali Flora melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah empat puluh lima menit, tetapi gio belum kembali.


Bukankah itu terlalu lama?


“Mas Abi, kenapa Gio lama sekali.” Nada bicara Flora terdengar begitu cemas.


“Aku juga gak tahu, Mbak,” jawab Abi. “Aku akan coba menyusulnya,” lanjut Abi.


“Aku ikut. Aku benar-benar merasa cemas. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya,” ucap Flora.


Flora mendadak teringat akan pesan dari nomor yang tidak dikenalnya tempo hari. Pesan yang mengatakan jika orang itu akan menghancurkan hidup Gio.


“Baiklah, ayo,” ucap Abi.


Flora, Susan, dan Abi pergi dari ruang tunggu setelah menitipkan barang-barang mereka. Saat akan masuk ke dalam lift, mereka berpapasan dengan staf hotel yang mengantar Gio ke kamar.


Flora mencegat langkah staf hotel itu dan bertanya mengenai Gio padanya.


“Anda yang tadi mengantar suami saya ke kamar yang sebelumnya kami tempati, 'kan?” tanya Flora yang langsung diangguki oleh staf hotel itu. “Lalu di mana suamiku?”


“Nyonya, suami Anda sudah pergi lebih dulu dari kamar itu,” jawabnya.


“Lalu ke mana dia?” Flora bertanya lagi.


“Maaf, Nyonya ... saya tidak tahu,” jawabnya lagi.


Flora terdiam tidak tahu harus bicara apalagi. Matanya sudah dipenuhi oleh air mata.


“Maaf, Nyonya ... saya permisi dulu. Saya masih banyak pekerjaan,” ucap Staf hotel itu.


“Ayo, Bu ... kita cari bapak Gio ke tempat lain,” ajak Susan


Flora mengangguk lemas diikuti tetesan air matanya. Flora takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.


Ketiganya masuk ke dalam lift. Abi menekan salah satu tombol yang ada di dalam lift. Pintu lift terbuka, ketiganya segera keluar dari lift. Mereka berjalan menyusuri lantai tempat kamar mereka berada sebelumnya.


“Ke mana sebenarnya perginya Gio? Dia bahkan tidak mengangkat telepon dariku,” batin Flora.


Sudah hampir setengah jam mereka mencari. Namum, hasilnya masih nihil. Flora makin merasa cemas dan rasa cemas itu membuat Flora kelelahan. Bukan hanya pikirannya yang terasa lelah, tubuhnya Flora pun terasa lelah. Flora memutuskan untuk istirahat sejenak. Flora berjongkok untuk mengistirahatkan tubuhnya.


“Ibu Flora! Ibu tidak apa-apa?” tanya Susan.


Susan terlihat cemas saat melihat Flora sepertinya merasa sangat kelelahan.


“Tidak Susan ... aku baik-baik saja,” jawab Flora.

__ADS_1


“Ayo, Bu ... sebaiknya kita cari tempat untuk Ibu beristirahat,” ajak Susan.


Flora menggelengkan kepalanya. “Tidak Susan ... di sini saja.”


Flora menarik napas lalu menghembuskanya kembali untuk.


“Susan, apa mas Abi sudah kembali?” tanya Flora.


“Belum, Bu,” jawab Susan.


Tidak berselang lama Abi datang menghampiri mereka. Terlihat sekali kelelahan di wajah Abi. Napasnya juga terengah-engah, seperti habis berlari.


“Mas Abi, bagaimana ... apa kamu menemukan Gio?” tanya Flora.


Abi menggelengkan kepalanya. “Belum, Mbak.”


“Tapi tadi aku sudah melihat rekaman CCTV di hotel ini. Ternyata mas Gio pergi ke basement setelah keluar dari kamar hotel yang sebelumnya kalian tempati,” ungkap Abi.


“Basement?” Flora bingung. “Untuk apa dia ke basement? Apa yang dilakukan Gio di basement?” tanya Flora.


“Saya juga tidak tahu, Mbak CCTV di basement juga mati. Saya tidak bisa melihat apa-apa di sana,” jawab Abi.


“Kalau begitu ... tunggu apa lagi? Ayo sekarang kita pergi ke basement,” ajak Flora.


“Tapi, Bu ... sebaiknya Ibu istirahat saja. Ibu terlihat sangat kelelahan,” ucap Susan.


“Iya, Mbak. Sebaiknya Mbak istirahat. Mbak kelihatan lelah. Aku sudah meminta bantuan pada security di sini. Jadi tenanglah,” ucap Abi.


Flora mencoba berdiri dengan dibantu oleh Susan, meskipun rasa lelah masih begitu berasa di tubuhnya.


“Ibu yakin masih bisa jalan?” tanya Susan.


“Saya yakin, Susan. Saya baik-baik saja,” jawab Flora.


“Ya sudah ... ayo kita segera pergi ke basement,” lanjut Flora.


Flora, Abi, dan Susan masuk kembali ke dalam lift. Abi menekan tombol lift yang akan membawa mereka ke basement.


Ketiganya keluar dari dalam lift setelah sampai di basemant. Suasana di basement cukup gelap karena penerangan yang minim. Flora berputar-putar di basement itu bersama Abi dan juga Susan.


Flora masih terus berusaha menghubungi ponsel Gio. Namun tidak tersambung.


“Sebaiknya kita berpencar saja,” usul Flora.


“Baiklah, Mbak,” ucap Abi.


“Mbak pergi bersama Susan. Aku akan pergi ke arah sana sendiri,” ucap Abi yang langsung dianggukki oleh Flora serta Susan.


Ketiganya masih berputar di area basement hampir selama setengah jam. Mereka juga sudah bertemu dengan tiga orang security yang membantu mereka mencari Gio.

__ADS_1


“Apa kalian sudah menemukan keberadaan suami saya?” tanya Flora.


“Belum, Nyonya,” jawab salah satu Security itu.


“Apa Anda sudah mencoba menghubungi nomor ponsel suami Anda?” tanya Security itu.


“Aku sudah berulangkali menghubunginya, tetapi dia tidak mengangkatnya,” jawab Flora.


Flora benar-benar merasa cemas. Rasa cemas yang begitu besar membuat Flora menitihkan air matanya.


“Susan, ke mana sebenarnya suami saya?” Flora berucap di sela isak tangisnya.


“Sabar, Bu ... kita pasti akan menemukan bapak Gio.” Susan mengusap kedua pundak Flora.


“Aku cemas, Susan. Aku takut terjadi sesuatu dengan dia. Sebelumya ada seseorang yang mengirim pesan padaku. Dia bilang akan menghancurkan kehidupan Gio,” jelas Flora.


“Jangan berpikiran buruk dulu, Bu. Mungkin itu adalah pesan iseng saja. Kita do'akan semoga bapak Gio baik-baik saja.” Susan berusaha membuat Flora berpikir positif.


“Ayo, Bu kita cari lagi,” ajak Susan.


Flora mengangguk. Mereka kembali melangkah dengan diikuti tiga orang security di belakang mereka.


Flora melangkah seraya berteriak memanggil nama Gio. Sudah lebih dari satu jam mereka mencari Gio. Namun, tidak ada hasil sama sekali.


Harusnya tepat pada pukul lima sore mereka tiba di bandara dan terbang ke Indonesia. Mereka terpaksa menunda kepulangan mereka karena Gio menghilang tanpa jejak.


“Mbak, apa Mbak sudah menemukan sesuatu?” tanya Abi.


“Belum, Mas Abi.” Flora menjawab dengan suara serak. “Mas Abi sendiri?” Flora bertanya pada Abi dan dijawab gelengan kepala oleh Abi.


“Ya Tuhan ... di mana suamiku sebenarnya,” ucap Flora lirih.


Flora kembali mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya. Kali ini panggilannya tersambung.


“Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya.” Flora terus mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya dengan rasa cemasnya.


Mata Flora tidak sengaja melihat benda menyala di bawah salah satu mobil yang terparkir di basement itu. Flora berjalan cepat menuju tempat benda yang menyala itu diikuti oleh Abi, Susan, dan tiga orang security di belakangnya.


“Mas Abi, aku melihat sesuatu di bawah mobil ini. Tolong ambilkan,” pinta Flora.


Abi mengangguk. Segera Abi membungkukkan tubuhnya untuk melihat ke kolong mobil. Benar ada sesuatu di bawah sana.


Abi mengambil benda itu yang ternyata adalah sebuah ponsel.


“Mba Flora ... ini sepertinya ponsel milik mas Gio.” Abi menunjukkan benda yang ada di tangannya. “Lihat Mba! Ada foto Mba sama mas Gio di layar ponselnya.”


Flora segera mengambil alih ponsel suaminya dari tangan Abi. Flora dan yang lainnya terkejut saat melihat darah di tangan Abi dan juga Flora.


“Darah ....”

__ADS_1


Melihat darah yang berasal dari ponsel suaminya membuat pikiran negatif tentang suaminya masuk ke dalam benak Flora.


Kaki Flora mendadak kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh Flora. Flora kehilangan keseimbangan akan tubuhnya sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.


__ADS_2