Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 228


__ADS_3

Hai, aku kembali


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi Kenzo masih terjaga, ia masih memikirkan tentang kecelakaan dan dalang di balik kecelakaan yang dialaminya.


"Siapa sebenarnya orang itu?" batin Kenzo.


Selama ini dirinya memang memiliki banyak musuh, tetapi Kenzo merasa itu hal yang wajar, itu biasa terjadi dalam bisnis. Namun, Kenzo masih tidak habis pikir pada musuhnya kali ini, dia sampai bisa bermain-main dengan nyawanya.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Felicia.


Lamunan Kenzo buyar karena suara Felicia tiba-tiba masuk ke dalam indra pendengarannya.


Kenzo menoleh ke Felicia, ternyata istrinya juga belum tidur. "Kenapa kamu juga belum tidur?"


"Bagaimana aku bisa tidur, jika kamu masih terjaga,"  jawab Felicia.


Felicia bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang, seperti yang lakukan oleh Kenzo. Tangan Felicia merangkul lengan Kenzo dan menyenderkan kepalanya di pundak Kenzo.


"Ada apa? Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Felicia.


"Tidak ada apa-apa. Hanya belum bisa tidur," jawab Kenzo.


"Apa tubuhmu ada yang terasa sakit?" tanya Felicia lagi.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir aku baik-baik saja. Jika aku masih merasa sakit, Dokter tidak akan mengizinkan aku pulang," jawab Kenzo.


"Jangan berbohong padaku! Aku ini istrimu." Felicia mendesak Kenzo agar mau jujur.


"Untuk apa aku berbohong? Aku hanya sedang memikirkan calon anak kita. Apakah dia perempuan atau laki-laki." Kenzo sengaja berbohong pada Felicia agar istrinya tidak merasa cemas.


"Ck, kamu ini, membuat aku khawatir saja. Laki-laki ataupun perempuan bagiku sama saja. Yang penting dia sehat dan sempurna," ucap Felicia.


"Dan yang paling utama, dia harus mirip dengan papanya." Kenzo mengusap perut Felicia.


"Enak saja, aku yang mengandungnya. Dia harus mirip denganku dong." Felicia tidak ingin kalah dari Kenzo.


"Tapi aku yang buat." Kenzo juga tidak ingin kalah dari Felicia.


"Baiklah, dia akan mirip dengan kita. Adil, 'kan?" ucap Felicia.


"Baiklah, itu adil," imbuh Kenzo.


"Tidurlah sekarang! Ini sudah malam. Kamu harus banyak-banyak istirahat." Kenzo mengusap kepala Felicia serta mengecup ujung kepalanya.


"Kamu juga harus beristirahat!  Kamu baru pulih," ucap Felicia.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita tidur bersama-sama," ajak Kenzo disambut anggukan setuju oleh Felicia.


Felicia menarik tangannya dari lengan Kenzo. Ia merebahkan tubuhnya bersama dengan Kenzo di tempat tidur.


Kenzo menarik Felicia ke dekatnya. Ia kembali mengusap kepala Felicia hingga dirinya ikut tertidur berasa Felicia.


*****


Keesokan harinya suami-istri itu sedang berdebat. Kenzo ingin pergi ke kantor, tetapi Felicia melarangnya. Meskipun keadaan Kenzo baik-baik saja, Felicia tetap masih merasa khawatir.


"Ayolah, Sayang. Aku harus pergi ke kantor. Ada meeting yang sangat penting. Lagi pula aku akan berangkat bersama Alan." Kenzo mencoba membujuk istrinya. Dirinya harus pergi, bukan untuk ke kantor, melainkan menemui orang yang sudah menyabotase rem mobilnya.


"Tetap tidak boleh!" larang Felicia.


"Felicia ...." Kenzo menghentikan ucapannya saat melihat Felicia duduk dengan wajah yang tertunduk. Beberapa detik kemudian, Kenzo mendengar isak tangisnya.


"Feli ... kenapa kamu menangis?" Kenzo duduk di samping Felicia.


"Kenapa kamu tidak mau mengerti? Aku hanya merasa cemas dengan keadaanmu, tapi kenapa kamu justru mengajakku berdebat?" Wajah Felicia sudah dipenuhi oleh air mata. Bisa dipastikan dalam satu kedipan mata saja, air mata itu akan langsung tumpah. Benar saja saat Felicia mengedipkan matanya, air mata itu tumpah dari matanya.


"Feli ... tolong jangan seperti ini." Kenzo mengulurkan tangannya, ia ingin mengusap air mata di pipi Felicia, tetapi ditepis olehnya.


"Apa pekerjaan itu lebih penting dariku?" tanya Felicia.


"Pergi saja sana! Jangan pedulikan aku!" Felicia meninggalkan Kenzo dan memiliki masuk ke dalam kamarnya.


Melihat tingkah Felicia, Kenzo hanya mampu mengela napasnya. Semenjak hamil Felicia berubah menjadi sangat sensitif, hal itu membuat Kenzo harus memiliki kesabaran ekstra.


Melihat istrinya merajuk, Kenzo memutuskan untuk tidak pergi bersama Alan. Kenzo menemui Alan yang sedang menunggunya di ruang tamu, ia meminta pada asisten pribadinya untuk pergi bersama Kenzi.


"Aku sudah meminta Kenzi untuk menemuimu di tempat itu. Pergilah! Jika ada sesuatu, hubungi aku," perintah Kenzo.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu," ucap Alan.


Setelah Alan pergi Kenzo kembali ke kamar menyusul Felicia. Sampai di depan kamar, Kenzo mencoba membuka pintu kamar, tetapi tidak bisa. Ternyata Felicia mengunci pintu dari dalam.


Tok tok tok


"Sayang, buka pintunya! Aku tidak jadi pergi, tolong jangan marah," bujuk Kenzo.


Kenzo mengetuk pintu, mencoba untuk membujuk Felicia. Hampir setengah jam Kenzo berada di luar kamar, tetapi Felicia masih belum mau membuka pintu.


Tok tok tok


"Sayang." Kenzo mengetuk pintu sambil memanggil Felicia.

__ADS_1


Usahanya tidak sia-sia, Kenzo mendengar suara putaran kunci dan setelah itu pintu terbuka dari dalam.


"Sayang." Kenzo merasa lega saat Felicia sudah mau membuka pintu.


"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Kenzo.


"Memang aku kenapa?" Felicia bertanya balik pada Kenzo.


"Dari tadi aku memanggilmu. Tapi kamu tidak menyahut," jawab Kenzo.


"Aku habis mandi, Suamiku. Nih lihat 'kan rambutku basah." Felicia menunjukan rambutnya yang basah.


"Hah!"


"Kenapa sih kamu kayaknya terkejut banget lihat aku habis mandi?" tanya Felicia.


‌"Dan lagi, bukanya tadi kamu bilang mau pergi ke kantor sama Alan?" tanya Felicia yang makin membuat Kenzo melongo.


Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia bingung melihat sikap istrinya yang cepat sekali berubah.


"Kenapa malah bengong?" tanya Felicia.


"Bukannya tadi kamu marah sama aku karena aku mau pergi ke kantor? Jadi aku tidak jadi pergi ke kantor," jelas Kenzo.


"Iya tadi memang sempat marah. Tapi ... setelah aku pikir-pikir kamu bekerja juga buat aku. Jadi aku tidak akan marah lagi," ucap Felicia.


"Tapi bagus juga kamu tidak jadi pergi. Jadi ... hari ini kita bisa menghabiskan waktu bersama," ucap Felicia dengan manjanya.


"Ya, baiklah. Aku akan menemanimu seharian ini." Kenzo memeluk Felicia, keduanya kembali masuk ke kamar.


-


-


-


-


Kenzo merasa bosan saat harus berada di rumah seharian dan tidak melakukan apapun. Saat istrinya tengah memasak, Kenzo pergi ke taman belakang rumahnya, ia diam-diam menghubungi Alan yang kabarnya sudah sampai di tempat mereka menyembunyikan orang yang sudah menyabotase rem mobilnya. Kenzo memuji ayahnya di dalam hati, baru semalam saja beliau langsung bisa menangkap orang itu.


Kenzo memasang handfree di telinganya. Dengan seksama ia mendengarkan pembicaraan Alan, Kenzi, dan orang itu. Jantungnya berdetak begitu kencang saat Kenzi bertanya siapa yang sudah menyuruhnya melakukan kejahatan itu.


Kenzo sangat terkejut saat orang itu menyebut nama dalang di balik kecelakaannya. Ternyata dalangnya orang yang dekat dengan istrinya.


"Si***n!" Kenzo melepas handfree di telinganya. Amarahnya seperti boom waktu yang siap meledak kapanpun.

__ADS_1


__ADS_2