Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Hilangnya Gio 2


__ADS_3

Sudah terhitung dua hari Flora terbaring di rumah sakit setelah Gio menghilang. Keadaan Flora drop dan terpaksa harus diberikan cairan infus.


Di sampingnya masih ada Susan yang setia menemaninya. Susan bingung harus berbuat apa melihat kondisi istri dari atasannya itu. Sejak dari semalam Flora bahkan tidak mau makan apapun.


“Bu, saya mohon makan ya,” bujuk Susan.


Flora menggeleng, “Apa mas Abi sudah kembali? Apa mas Abi sudah memberikan kabar tentang suaminya saya?”


“Belum, Bu ...,” jawab Susan.


Flora mengedipkan matanya bersamaan dengan jatuhnya air matanya.


“Bapak Gio pasti ketemu, Bu.” Susan berusaha menghibur Flora. “Lebih baik sekarang Ibu makan ya. Kasihan bayi Ibu ... dia juga butuh makan,” bujuk Susan.


“Saya tidak lapar, Susan,” tolak Flora.


“Lalu bagaimana dengan bayi Ibu? Bayi Ibu butuh makan untuk berkembang,” ucap Susan.


“Jika Ibu tidak mau makan nasi, Ibu minum susu dan makan buah ini,” tawar Susan. “Kalau terjadi sesuatu sama Ibu dan bayi Ibu ...maka semuanya akan bertambah sedih.”


Flora diam mencoba untuk mencerna perkataan Susan. Ada benarnya juga perkataan Susan. Sekarang pasti bukan cuma dirinya yang merasa cemas, semua orang di keluarganya juga pasti cemas atas hilangnya Gio. Jika sesuatu terjadi pada dirinya dan calon anaknya pasti itu akan menambah kesedihan pada keluarganya.


“Baiklah, Susan. Ambilkan saya susu dan buahnya,” pinta Flora.


Susan bernapas lega akhirnya Flora mau mendengarkan perkataanya. Susan mengambilkan susu di atas meja serta menyuapi potongan buah yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Ketukan pintu mengalihkan pandangan Flora dan Susan. Dari balik pintu muncul Abi serta Daren.


“Daren ... kamu datang?” ucap Flora.


“Ya, Mba aku bingung harus meminta tolong pada siapa lagi. Jadi aku menghubungi Mas Daren untuk membantu kita mencari Mas Gio,” jelas Abi.


“Mas Daniel dan keluarga Mbak juga sudah dalam penerbangan ke mari. Mungkin nanti malam mereka akan sampai di sini,” ucap Abi.


Flora tidak bersuara lagi setelah mendengar apa yang Abi katakan.


Entah mengapa Flora merasa tidak nyaman melihat Daren ada di ruangan itu.


Meskipun Daren adalah kakak kandung dari suaminya, tetapi perasaanya seperti tidak menyukai Daren. Dari sejak awal bertemu di bandara Flora sudah merasa tidak menyukainya. Mungkin karena melihat Daren membuat Flora teringat akan perbuatan Dini.


“Mas Abi, apa kamu sudah dapatkan kabar tentang Gio?” tanya Flora.


Abi menggeleng dengan wajah yang tertunduk. “Belum, Mbak. Sama sekali tidak ada jejak di basement itu.”


Mendengar jawaban dari Abi, Flora langsung terisak. Air matanya mengalir deras membanjiri wajahnya. Rasa sesak di dadanya datang kembali.


“Harusnya aku tidak mengabaikan pesan teror itu,” sesal Flora.


“Bu, jangan seperti ini tolong kendalikan dari Ibu,” ucap Susan. “Ini tidak baik untuk kandungan Ibu.”


Flora memeluk tubuh Susan dengan erat dan terisak di sana. Kesedihan yang Flora rasakan membuat Flora menangis sampai sesegukkan.


Setelah beberapa saat Flora merasa lebih tenang setelah menangis.


“Ibu yang sabar ya.” Susan merasa iba melihat kondisi Flora.


Flora kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Susan langsung menarik selimut untuk menyelimuti Flora sampai batas dada.


Daren menghampiri Flora dan berdiri tepat di sampingnya. Pandangan Daren mengarah pada Susan serta Abi.


“Kalian istirahat saja. Aku akan menjaga Flora,” ucap Daren.

__ADS_1


“Kalian juga pasti belum makan, 'kan?” tanya Daren.


Abi dan Susan sama-sama menggeleng.


Flora yang melihat itu menjadi tidak enak. Karena memikirkan masalahnya, kedua bawahannya ikut susah.


“Jadi kalian belum makan?” tanya Flora.


“Tidak apa-apa, Bu. Kami juga tidak merasa lapar,” ucap Susan.


“Kalian pergilah makan. Aku tidak apa-apa di sini,” suruh Flora.


“Tapi, Bu —” Ucapan Susan terpotong oleh Daren.


“Jangan khawatir. Aku ada di sini,” sela Daren.


Abi serta Susan beradu pandang. Mereka merasa ragu untuk meninggalkan Flora bersama Daren.


Sejujurnya Flora juga merasa ragu hanya berdua di ruangan itu bersama Daren. Flora merasa tidak nyaman. Namum, Flora tidak ingin membuat dua bawahannya merasa khawatir.


“Ya, itu benar. Kalian jangan khawatir,” imbuh Flora.


“Baiklah. Kami akan keluar sebentar,” ucap Abi yang langsung dianggukki oleh Flora.


Hening mengambil alih suasana di ruang rawat inap Flora. Tidak ada yang bersuara, lebih tepatnya Flora tidak ingin bicara apapun dengan Daren.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Daren.


Flora mengangguk, “Ya.”


“Maaf jika aku sudah mengganggu waktumu. Pergilah! Aku tahu kamu pasti sibuk,” ucap Flora. “Aku tidak apa-apa sendirian di sini.”


“Tidak apa-apa. Pekerjaanku sudah ada yang menanganinya,” ucap Daren.


“Yang terpenting sekarang adalah kamu,” ucap Daren. “Maksudku ... kamu adalah istri adikku. Jadi dalam keadaan seperti ini aku harus menjagamu.”


Belum hilang keterkejutan Flora karena Daren menggenggam tangannya, kini Flora lebih terkejut lagi saat Daren mengusap keningnya.


“Aku pasti akan membantumu untuk menemukan Gio. Biar bagaimanapun Gio adalah saudara kandungku,” ucap Daren.


“Terima kasih atas bantuanmu dan juga perhatianmu padaku,” ucap Flora.


Flora melepaskan tangannya dari Daren dan menjauhkan tangan Daren dari keningnya.


“Mungkin kamu memang kakak iparku. Tapi aku minta tolong tetap pada batasanmu,” ucap Flora. “Aku merasa tidak nyaman dengan tindakanmu,” ucap Flora.


“Maaf jika aku membuatmu merasa tidak nyaman. Mungkin aku terbawa suasana,” ucap Daren.


“Daren bisakah aku meminta tolong padamu?” tanya Flora.


“Silakan saja, Flora. Jangan ragu untuk meminta sesuatu padaku,” ucap Daren.


“Aku ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku,” pinta Flora.


“Tapi —” Ucapan Daren terpotong oleh Flora.


“Please,” mohon Flora.


“Baiklah.” Daren sebenarnya masing ingin menjaga Flora, tetapi Daren tidak ingin membuat Flora merasa tidak nyaman.


“Aku pergi dulu. Kamu jaga dirimu baik-baik,” ucap Daren.

__ADS_1


“Hmmm.”


*****


Daniel bersama keluarganya serta Seruni berjalan di koridor rumah sakit tempat Flora dirawat. Tiba di bandara mereka langsung menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Flora.


Daniel membuka pintu ruang rawat VVIP yang ditempati oleh Flora. Semua orang melihat wajah sedih Flora di sana.


“Flora,” panggil Seruni.


Flora yang sedang melamun di atas tempat tidur menolehkan pandangannya ke asal suara.


“Ibu ....” Melihat kedatangan Ibu dan keluarganya membuat Flora kembali menitihkan air matanya.


“Ibu ....” Flora memeluk ibunya saat ibunya sudah ada di dekatnya.


Tangisan Flora langsung pecah di pelukan Seruni. “Bu, Gio ....”


“Sabar, Nak. Doain suami kamu baik-baik saja,” ucap Seruni seraya mengusap punggung Flora.


Seruni dan yang lainnya menitihkan air matanya. Mereka ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Flora.


“Abi, ceritakan pada kami dengan jelas apa yang terjadi dengan Gio,” pinta Daniel.


Tanpa berpikir panjang, Abi langsung menceritakan apa yang terjadi pada Gio sebelum menghilang.


“Saat aku baru sampai di sini ... aku menerima pesan dari seseorang. Orang itu ingin menghancurkan kehidupan Gio,” ungkap Flora.


“Siapa?” tanya Daniel.


“Aku tidak tahu. Aku sudah mencoba menghubungi nomor itu, tapi ternyata nomor itu sudah tidak bisa dihubungi lagi,” jawab Flora.


“Aku sudah memberitahukan hal itu pada Gio, tapi dia bilang mungkin itu hanya orang iseng saja,” jawab Flora.


“Apa orang itu mengirimi pesan itu lagi sebelum ini?” tanya Daniel lagi.


“Tidak. Maka dari itu kami sama sekali tidak menduga ini,” ucap Flora.


“Jika aku tahu ini akan terjadi ... aku tidak akan mengabaikan pesan itu,” ucap Flora.


“Bisa tunjukkan pesan itu!” pinta Daniel.


“Gio sudah menghapusnya,” jawab Flora.


“Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Brian?” Abi berucap tiba-tiba.


“Brian? Siapa dia?” tanya Flora.


“Saya kurang tahu, Mbak. Tapi saya melihat kemarin, sepertinya mereka berselisih,” jelas Abi.


“Apa yang kamu maksud adalah Brian kakaknya Tina?” tanya Daniel.


“Apa kamu mengenalnya, Daniel?” tanya Flora.


“Ya, memang Brian sangat membenci Gio karena menurut Brian, Gio sudah mempermainkan Tina waktu kuliah dulu,” jawab Daniel.


“Dan Gio tidak suka pada Brian karena laki-laki itu suka pamer,” lanjut Daniel.


“Ayo kita temui dia.” Flora bangun dan ingin melepas jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.


“Flora, apa yang kamu lakukan?” cegah Daniel.

__ADS_1


“Tenanglah, jangan gegabah. Kita harus menyelidiki ini dulu,” ucap Daniel.


__ADS_2