
"Hei, apa yang kamu lakukan?" Felicia terkejut saat Kenzo tiba-tiba menindih tubuhnya.
Felicia berusaha mendorong tubuh Kenzo, tetapi tenaganya tidak mampu untuk melakukannya.
"Kenzo ... menyingkirkan!" suruh Felicia.
"Maaf Felicia ... tapi aku harus melakukan ini. Aku benar-benar tidak bisa menahannya," ucap Kenzo.
"Hah, apa? Apa maksudmu?" Felicia bertanya dengan nada bicara yang gugup.
Pengaruh dari obat perangsang itu membuat Kenzo tidak bisa menjawab pertanyaan Felicia. Kenzo langsung saja mencium bibir dan turun ke leher Felicia. Ciuman itu sangat menuntut hingga meninggalkan bekas merah ke-ungunan di leher Felicia.
"Kenzo ...." Felicia rasanya ingin marah, memaki, tetapi justru mulutnya mengeluarkan *******.
Ingin menolak, tetapi tubuhnya serasa berkhianat. Felicia justru terkesan menikmati semua itu.
Matanya terpejam seolah sedang menikmati semua sentuhan yang suaminya berikan. Felicia bahkan diam saat Kenzo menarik tali yang mengikat handuk kimono yang ia kenakan. Tubuh Felicia merinding saat tangan Kenzo masuk ke dalam balik pakaian seksi yang yang melekat di tubuhnya.
Dengan mata yang sayup Felicia masih bisa melihat wajah Kenzo. Tidak pernah dirinya bisa melihat Kenzo dalam jarah yang sedekat itu. Hal itu membuat jantung Felicia makin berdetak tidak karuan.
"Kenzo ... kamu ...." Felicia memalingkan wajahnya saat melihat Kenzo melepas kain yang menempel di tubuhnya sendiri. Saat Kenzo bersiap untuk menyatukan tubuh mereka, Felicia benar-benar merasa gugup.
"Sakit!" Felicia merintih kesakitan saat merasakan benda keras yang mencoba masuk ke dalam tubuhnya.
Felicia menjerit merasakan tubuhnya terbelah menjadi dua. Ia yakin jika Kenzo sudah berhasil merobek selaput daranya. Rasa sakit itu membuat Felicia ingin mundur, tetapi Kenzo tidak memberikan kesempatan itu.
Felicia mencoba bertahan dengan rasa sakit itu. Semakin lama rasa sakit yang ia rasakan menghilang. Rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang baru Felicia rasakan. Felicia membungkam mulutnya sendiri untuk menahan suara laknat yang ingin keluar dari mulutnya.
Kenzo terus menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Felicia. Laki-laki itu tidak bisa mengendalikan dirinya karena dalam pengaruh obat perangsang yang tidak diketahui oleh Felicia.
Felicia tidak tahu berapa lama ia dan suaminya bergulat di atas ranjang. Rasa lelah sudah menghampiri dirinya, tetapi suaminya seperti belum ingin mengakhirinya.
Tangan Felicia mencengkram kuat seprei saat merasakan sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. ******* panjang keluar dari mulut Felicia saat merasakan sesuatu yang meledak dalam tubuhnya. Ledakan itu membuat tubuhnya seraya melayang.
*****
Keesokan harinya
__ADS_1
Suara gemericik air mengusik tidur Felicia. Dari balik selimut tebal tubuhnya mulai menunjukan pergerakan. Tangan Felicia bergerak untuk mengucek matanya. Beberapa kali Felicia mengedipkan matanya agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
Setelah itu Felicia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Matanya melihat gaun pengantin yang masih tergeletak di lantai, lingerie, dan juga handuk kimono yang ia kenakan semalam juga berserakan di lantai.
Pandangan Felicia mengarah ke sisi sampingnya. Penglihatannya tidak mendapati suaminya. Suara gemericik air memberitahukan pada Felicia jika suaminya sedang ada di dalam kamar mandi.
"Dia sedang mandi rupanya," guman Felicia.
Felicia ingin beranjak dari tempat tidur. Namun, ia terkejut saat baru menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Hanya ada selimut yang menutupi tubuhnya.
Felicia ingin bangun dan mengambil posisi duduk. Namun, mendadak ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya terutama di bagian inti tubuhnya.
"Apa yang terjadi?" Felicia bertanya pada dirinya sendiri. Terlihat sekali kepanikan dalam diri Felicia.
Ingatan Felicia kembali ke waktu semalam. Waktu di mana dirinya bergulat di atas ranjang bersama Kenzo. Rona merah muncul di kedua sisi wajah Felicia saat mengingat malam pertamanya dengan sang suami.
Felicia menyibakkan selimutnya dan melihat bercak merah di antara pangkal kakinya. Noda merah itu seolah memberitahukan pada Felicia jika dirinya sudah bukan gadis lagi.
"Hilang sudah," batin Felicia.
Tidak masalah! Setidaknya laki-laki yang merenggut keperawanan adalah suaminya sendiri.
Felicia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Segera ia mengambil handuk kimono yang tergeletak di bawah tempat tidurnya. Saat akan bangun Felicia kembali merasakan sakit di area intinya. Felicia meringis untuk menahan rasa sakit itu.
Rasa sakit itu benar-benar tidak tertahankan. Membuat Felicia ingin menyerah saja. Namun, ia harus segera menutupi tubuh polosnya sebelum suaminya itu keluar dari kamar mandi. Dengan susah payah akhirnya Felicia bisa mengambil handuk kimononya dan memakaikan kembali ke tubuhnya.
Pandangan Felicia beralih ke kamar mandi saat telinganya mendengar suara pintu terbuka. Dari balik pintu kamar mandi memunculkan wajah suaminya. Mata Felicia bisa melihat wajah segar suaminya, rambutnya yang basah membuat suaminya terlihat makin seksi.
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kenzo dengan nada dingin seperti biasanya.
"Tidak ada apa-apa." Felicia menjawab dengan gugup.
Felicia sangat gugup saat melihat suaminya bertelanjang dada. Apalagi melihat perut roti sobeknya yang terlihat begitu menggiurkan.
"Mandilah! Aku sudah pesankan pakaian untukmu," suruh Kenzo
"Oke, terima kasih," sahut Felicia.
__ADS_1
Felicia merasakan tenggorokannya begitu kering. Rasanya ia butuh air untuk membasahi tenggorokannya. Mata Felicia melihat ada air mineral di meja nakas. Segera Felicia mengambil botol air mineral itu.
Karena mereka haus Felicia itu tidak merasa curiga saat segel air mineral itu sudah terbuka. Felicia mengarahkan botol mineral ke mulutnya. Saat akan meminumnya Kenzo merebutnya.
"Jangan minum air ini," larang Kenzo.
"Kenapa? Aku merasa sangat haus." Felicia ingin merebut kembali botol air mineral dari Kenzo, tetapi suaminya itu justru menyembunyikannya di balik tubuhnya.
"Air ini ada obat perangsangnya," jelas Kenzo.
"Hah! Apa katamu? Obat perangsang." Felicia merasa terkejut mendengar perkataan Kenzo. "Jadi semalam kamu ...."
"Tidak perlu aku jelaskan lagi, 'kan?" ucap Kenzo yang langsung diangguki Felicia.
Untuk sesaat hening mengambil alis suasana di antara mereka. Mereka berdiri dalam diam karena merasa tidak tahu harus bicara apa. Mata Kenzo tidak sengaja melihat noda merah di atas seprei. Kenzo yakin itu darah perawan milik Felicia.
"Maaf jika semalam aku secara tidak sengaja sudah menyakitimu." Kenzo berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari noda merah itu.
Felicia mengikuti arah pandang Kenzo. Noda merah yang merupakan darah perawan miliknya menjadi pusat perhatian dirinya dan juga sang suami.
"Tidak apa-apa. Kamu berhak untuk itu," ucap Felicia.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Semuanya juga sudah terjadi," ucap Felicia. "Aku ingin mandi sekarang."
"Hmmm," sahut Kenzo.
Felicia berjalan ke kamar mandi dengan tertatih dan ringisan kecil di sudut bibirnya. Rasa sakit masih terasa di area intinya. Berulang kali Felicia menarik lalu menghembuskan napasnya lagi untuk meredam rasa sakit itu.
Melihat Felicia berjalan tertatih membuat Kenzo menjadi tidak tega. Felicia seperti itu juga karena ulahnya. Kenzo menyingkirkan ego-nya dan berjalan untuk menghampiri Felicia. Ia angkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" Felicia tersentak saat Kenzo tiba-tiba menggendongnya.
"Kura-kura saja bisa berjalan lebih cepat darimu," ejek Kenzo.
"Mau bagaimana lagi? Ini sakit ...," rengek Felicia. "Aku seperti ini juga karena dirimu."
"Jangan salahkan aku, ini ulah orang yang mencampur minuman itu dengan obat perangsang," balas Kenzo.
__ADS_1
Mereka tidak perlu mencari tahu siapa yang melakukan itu. Karena sudah dipastikan jika itu adalah ulah adik-adik mereka, Kenzi dan juga Gavindra.