
Beban di hati Flora yang sudah hilang membuat langkah Flora terasa sangat ringan. Hubungannya dengan Daniel sangat baik bahkan sangat baik lebih dari hubungan mereka dulu. Hanya saja kedua orang tua Daniel masih sangat membenci dirinya. Tetapi Flora tidak akan ambil pusing untuk itu.
"Ngelamun apa sih?"
Lamunan Flora terpecah belah saat mendengar suara sahabat barunya, Mutya. Flora yang sedang duduk di kafe favoritnya yang ada di depan tempat kerjanya. Sudah sekitar 10 menit ia menunggu sahabatnya dan dia baru datang.
"Kamu baru keluar? Aku sudah menunggumu dari tadi," kesal Flora pada Mutya.
"Ya kerjaan aku baru selesai. Apa kamu sudah pesan makanan?" Mutya bertanya seraya menarik kursi di hadapan Flora untuk ia duduki.
"Belum … aku menunggumu," jawab Flora. Flora langsung mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan di kafe itu.
Flora dan Mutya memberitahukan pada pelayan makanan dan minuman yang ingin mereka pesan.
"Baik Mbak ditunggu pesanannya." Setelah mengatakan itu, sang pelayan meninggalkan meja Flora.
"Oh iya ini buat kamu …." Mutya memberikan karangan bunga mawar dan kotak coklat kepada Flora.
Kening Flora berkerut, ia merasa bingung kenapa Mutya memberikannya bunga dan juga cokelat.
"Ini dari kamu?" tanya Flora.
"Ya jelas bukanlah, Flora. Masa iya aku ngasih kamu bunga sama cokelat ke kamu, nanti orang mengira jeruk makan jeruk," gurau Mutya.
Flora memutar bola matanya karena merasa jengah saat mendengar perkataan Mutya.
"Lalu ini dari siapa?" tanya Flora. Flora membolak-balikkan karangan bunga dan kotak cokelat berharap menemukan petunjuk siapa yang mengirim bunga itu.
"Aku dapat itu dari asisten pribadinya bapak Farhan tadi dia nitip sama aku suruh kasih ke kamu," ucap Mutya.
"Kamu gak tanya sama mas Abi ini bunga dari siapa?" tanya Flora.
"Mau tanya gimana? Aku baru lihat matanya dia saja lidahku udah kaku," jawab Mutya.
Flora masih bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang mengirim ini, sudah dua kali dirinya mendapatkan karangan bunga itu. Apa benar kata Gio jika Daniel yang memberikan itu.
"Flora …."
Pandangan Flora dan Mutya mengarah pada asal suara, ternyata Daniel.
"Bakal jadi obat nyamuk nih," ledek Mutya.
"Hussst … kamu tetap di sini, jangan kemana-mana." Flora mencegah Mutya untuk tetap duduk di meja yang sama dengannya.
Flora menahan Mutya untuk tidak meninggalkan dirinya sendiri dengan Daniel.
"Hai, kamu makan di sini juga," tanya Daniel pada Flora.
"Eheem, hanya Flora nih yang di sapa … saya gak disapa, Pak Daniel?" ledek Mutya.
Daniel mengubah arah pandangnya ke arah Mutya dan menyapanya, "Hai juga."
__ADS_1
Pandangan Daniel kembali mengarah pada Flora, "Flora boleh aku ikut bergabung di sini bersama kalian?" tanyanya.
Belum sempat Flora menjawab Mutya lebih dulu menyambarnya.
"Tentu saja boleh," sahut Mutya.
Flora memberikan Mutya tatapan tajam namun Mutya hanya cengengesan saja, kapan lagi bisa makan satu meja sama atasannya, itulah yang di pikirkan oleh Mutya saat itu.
"Flora kamu tidak keberatan, 'kan? tanya Daniel pada Flora.
"Ya tentu… silahkan saja," sahut Flora dengan nada gugup.
Setelah mendengar ucapan Flora, Daniel menarik kursi dan duduk di antara Mutya dan Flora. Daniel memanggil pelayan kafe untuk memesan makan siangnya.
Beberapa saat kemudian pelayan kafe datang menghampiri Daniel untuk mencatat semua pesanan Daniel.
"Itu saja ya, Mbak," ucap Daniel saat pelayan kafe itu membacakan ulang pesanannya.
"Baik di tunggu pesanannya Pak." Pelayan kafe itu meninggalkan meja dimana Daniel duduk.
Daniel menatap Flora dan Mutya secara bergantian, ia tahu ada kecanggungan di antara mereka bertiga. Matanya tidak sengaja melihat karangan bunga yang ada di kursi di samping Flora.
"Bunga yang cantik," ucap Daniel.
Flora langsung melihat ke karangan bunga yang ada di kursi di sampingnya dan mengulas senyum canggung.
"Sudah dua kali aku menerima karangan bunga seperti ini dan aku tidak tahu siapa yang memberikan ini padaku," ucap Flora.
"Sudahlah Pak Daniel, Anda jangan berpura-pura. Semua orang yang bekerja di kantor tahu akan hubungan kalian pasti Anda lah yang mengirim bunga itu pada Flora." Flora dan Daniel saling bertukar pandang setelah mereka mendengar perkataan Mutya.
Daniel menaikan satu alisnya dan menatap lurus ke arah Flora. "Apa kamu berpikir sama seperti Mutya?" tanya Daniel.
"Ya." Flora menganggukan kepalanya.
"Maaf membuatmu kecewa Flora, bukan aku yang mengirimkan bunga itu," ucap Daniel.
Kalau bukan Daniel siapa lagi?
Sekarang Flora makin bingung siapa sebenarnya yang mengirimkan bunga itu pada dirinya. Flora tidak begitu akrab dengan laki-laki manapun di kantor itu kecuali Gio, Abi, dan Daniel.
Flora sudah bertanya pada Abi dan laki-laki itu juga tidak tahu siapa yang mengirim karangan bunga saat pertama kali ia mendapatkannya. Gio? Tidak mungkin, mana pernah ia bersikap manis seperti itu pada dirinya.
"Sepertinya Bapak punya saingan untuk mendapatkan kembali hatinya Flora," ucap Mutya. "Wah makin terancam nih posisi Bapak," sambung Mutya.
"Jangan bicara seperti itu Mutya." Flora berucap lirih dan tidak enak hati pada Daniel.
"Benar kata Mutya, Flora. Posisiku untuk mendapatkan kembali hatimu makin terancam," ucap Daniel.
"Daniel aku mohon jangan bahas ini lagi oke, kita baik-baik saja seperti ini," ucap Flora.
Beruntung makanan yang mereka pesan datang membuat percakapan mereka berhenti. Mutya yang melihat ketegangan di antara Flora dan Daniel menjadi tidak enak. Harusnya ia tidak menerima permintaan Flora untuk tetap berada di sana.
__ADS_1
"Ayo kita makan!" ajak Daniel yang langsung diangguki oleh Flora dan Mutya.
Hening mengambil alih suasana di antara ketiganya. Mereka fokus pada makan siang mereka.
Tiba-tiba mereka mendengar nada dering di ponsel Daniel yang langsung memecah keheningan itu.
Daniel memilih mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya itu sedangkan Flora dan Mutya memilih untuk melanjutkan makan siang mereka.
"Aku harus pergi, ada pekerjaan." Daniel mengambil tisu yang ada di hadapannya untuk mengusap sisa makanan yang tertinggal di bibirnya.
"Tapi makananmu belum habis Daniel. Setidaknya habiskan dulu makanan kamu baru kamu pergi," ucap Flora.
"Tidak masalah, Flora." Daniel mengusap sisi wajah Flora yang langsung membuat Flora tersentak. "Jaga dirimu baik-baik." Setelah mengucapkan kata itu Daniel beranjak dari kursinya untuk kembali ke kantornya.
Flora masih memperhatikan tubuh bagian belakang Daniel sampai bayangan mantan kekasihnya itu lenyap dari pandangannya.
"Eheeeem … kalau masih cinta bilang saja kali. Dia juga kayaknya masih mau kok sama kamu," goda Mutya.
"Jangan bergosip," tangkis Flora.
Cinta itu masih ada tetapi untuk apa mempertahankan cinta yang akan menyakiti semua orang termasuk dirinya sendiri.
Jam makan siang sudah hampir selesai Flora dan Mutya memutuskan untuk kembali ke kantor mereka. Saat akan beranjak dari meja mereka, ada tiga orang perempuan yang bekerja satu perusahaan dengan mereka hanya di bagian lain menghadang langkah Flora dan Mutya.
"Minggir kami mau lewat!" suruh Mutya.
Satu dari tiga perempuan itu bernama Aurel memperlihatkan senyum sinisnya. "Mutya kamu mau berteman dengan anak haram ini?" tanyanya.
"Bukan urusanmu!" balas Mutya.
"Oh iya aku lupa, kisah hidupmu hampir mirip dengan Flora bukan? Ayahmu meninggalkan ibumu demi wanita lain, iya 'kan Mutya," ucap Mutya.
Amarah Mutya sudah ada di ujung kepalanya, ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Flora yang mengetahui itu langsung meraih tangan Mutya dan menggenggamnya.
"Apa kalian tidak punya kerjaan lain selain menganggu kami?" tanya Flora dengan tatapan tidak suka pada ketiga perempuan itu.
"Memang kenapa? Apa kamu akan mengadukan kamu pada bapak Farhan," sindir Aurel.
ugh ingin sekali menampar wajah menyebalkan itu.
"Ayolah Aurel jangan macam-macam sama Flora, dia kesayangan bos kita," sindir teman Aurel.
Mutya dan Flora makin merasa geram mendengar perkataan Aurel dan dua temannya.
"Mutya sebaiknya kita pergi dari sini! Jangan sampai kita ketularan gila mereka." Flora melangkah menerobos Aurel dan dua temannya.
Maaf setelah sekian lama baru up. Pikiran ku terbagi-bagi.
Izin promo juga, yuk silahkan mampir ke ebook pertamaku.
__ADS_1