
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Flora sudah sangat mengantuk namun matanya masih tidak mau terpejam. Sudah berulangkali Flora mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi bayangan mengerikan itu terus saja melintas dipikirannya. Tenggorokan Flora mendadak terasa mengering, tidak ada air minum di dalam kamar itu, Flora pun memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil air.
Saat Flora berjalan menuruni anak tangga, mata Flora melihat keberadaan Gio masih di tempat yang sama sebelum ia pergi ke kamarnya.
"Gio hanya sendiri? Lalu di mana mas Abi?" batin Flora.
Flora mengedarkan pandangannya ke sekitar apartemen itu dan tidak mendapati keberadaan Abi. Flora berjalan ke arah Gio lalu mengambil posisi duduk di samping Gio.
"Gio," panggil Flora.
Sekilas Gio mengalihkan pandangannya ke arah Flora. "Hai, kamu belum tidur?"
"Aku belum bisa tidur," jawab Flora. "Mas Abi sudah pulang?"
"Ya dia sudah pulang."
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Flora.
"Ada beberapa berkas yang harus aku periksa," sahut Gio tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di tangannya.
"Boleh aku membantumu?"
"Boleh jika itu tidak merepotkanmu," sahut Gio dan tentu saja dengan senang hati Flora akan membantu Gio.
Untuk sesaat hening mengambil alih suasana di antara mereka. Keduanya fokus pada pada berkas yang sedang mereka periksa.
"Semua orang di kantor pasti sudah tahu tentang kejadian yang menimpaku. Mereka pasti akan lebih memandang rendah diriku." Flora membuka suara.
"Jangan terlalu memikirkan itu, Flora. Biarkan saja mereka berkata apa, yang terpenting adalah dirimu tidak bersalah. Percaya padaku semuanya akan baik-baik saja," ucap Gio.
Flora mengangguk mencoba memberikan sebuah kepercayaan pada Gio.
"Baiklah aku ingin ke dapur untuk mengambil air minum, apa kamu mau dibuatkan sesuatu?"
"Tidak perlu aku sudah banyak minum kopi tadi bersama Abi."
Flora mengangguk kecil sebelum ia beranjak dari sofa. Beberapa saat kemudian Flora memilih kembali duduk bersama Gio.
"Apa kamu belum mengantuk?" tanya Gio.
"Sebenarnya aku tidak bisa tidur dan kamu pasti tahu alasannya," sahut Flora.
Gio meletakkan berkas yang sedang ia periksa ke atas meja.
"Aku tahu Flora kamu tidak akan mudah untuk melupakan kejadian itu, tapi kamu tidak bisa terus menerus seperti ini, Flora. Jangan menjadi lemah di hadapan orang yang ingin menyakiti dirimu."
Flora mengangguk dengan wajah tertunduk.
"Anak pintar," ucap Gio seraya mengusap kepala Flora.
__ADS_1
"Terima kasih Gio atas apa yang sudah kamu lakukan untukku hari ini aku tidak menyangka jika kami ternyata orang yang baik."
"Tentu saja aku memang orang yang baik, apa kamu baru menyadarinya," bangga Gio.
"Huh, baru dipuji sudah besar kepala."
Tawa kecil terlukis pada bibir Flora dan juga Gio.
Gio beranjak dari sofa melangkah menuju meja laci yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Gio membuka salah satu laci dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Setelah itu Gio kembali duduk di samping Flora.
"Minumlah ini, Flora." Gio memberikan satu tablet obat berwana putih pada Flora.
"Itu apa?"
"Vitamin agar malam ini kamu bisa tidur nyenyak."
"Apa ini obat tidur?"
"Semacamnya."
Flora mengambil obat dari tangan Gio dengan keraguan yang nampak jelas pada wajahnya. Dipandanginya obat dan Gio secara bergantian.
"Aku tahu Flora kamu tidak bisa melupakan kejadian itu, tapi setidaknya obat ini bisa membuatmu melupakan kejadian itu untuk malam ini."
Kepala Flora mengangguk meski masih ragu. "Terima kasih."
Flora memasukan obat itu ke dalam mulutnya dan menelannya bersama dengan air putih.
Gio diam sejenak sebelum dirinya mengangguk. "Ya, aku sudah memberitahukan ini pada Daniel. Dia juga sempat datang ke sini."
"Datang? Kenapa kamu tidak memberitahukan ini padaku."
"Saat itu kamu sedang mandi, aku sudah menyuruhnya untuk menunggumu tapi dia ...."
"Dia tidak ingin bertemu denganku?"
"Ya, dia bilang ingin menjauh dari kehidupanmu karena Daniel takut jika kamu akan mengalami kejadian buruk lagi jika kamu dan dia masih dekat."
Flora menggeleng tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Daniel.
"Aku tidak tahu apa salahku pada kedua orang tua Daniel. Aku hanya merasa mencintai anaknya saja, apa itu salah?"
"Bagi mereka itu salah, karena bagi mereka status sosial dan uang di atas segalanya. Mereka sudah dibutakan oleh keserakahan yang membuat mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau."
"Rasanya aku ingin sekali membalas perbuatan mereka."
"Maka lakukanlah! Aku akan membantumu sebisa yang aku mampu."
"Hah! Kamu yakin? Mereka itu keluargamu."
__ADS_1
"Meskipun mereka keluargaku tapi tindakan mereka kali ini sudah keterlaluan."
"Terima kasih, Gio."
"Ayolah, Flora, berhentilah mengucapkan kata itu. Aku bosan mendengarnya."
Flora terkekeh seraya mengangguk. Sesaat kemudian Flora menguap.
"Aku mengantuk sekali," ucap Flora tanpa berhenti menguap.
"Obat itu sepertinya sudah bereaksi. Pergilah ke kamarmu!" ucap Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
"Selamat malam, Gio," ucap Flora.
"Selamat malam, Flora," balas Gio.
Obat itu benar-benar sedang beraksi membuat Flora merasakan rasa kantuk yang luar biasa. Flora masih berjalan pada anak tangga, sebisa mungkin ia menahan rasa kantuk itu sampai dirinya tiba di dalam kamar. Setelah Flora berada di dalam kamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan kemudian terlelap begitu saja.
Pada esok harinya.
Jam sudah membuka pukul 11 pagi, tetapi Flora masih terlelap di balik selimut tebal. Obat tidur itu benar-benar membuatnya terlelap seperti sedang berhibernasi. Namun saat cahaya matahari yang menembus melalui celah goreng dan tepat mengenai wajah Flora membuat Flora mulai menggeliat.
Flora mulai membuka matanya namun kembali menutup karena cahaya matahari menyilaukan pandanganya. Flora berbalik lalu bangun untuk mengambil posisi duduk. Berulang kali Flora mengedipkan kelopak matanya agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke dalamnya. Dan pada saat pandangannya melihat waktu pada jam yang tergantung di dinding kamar itu, Flora langsung terlonjak.
"Hah sudah jam 11." Tanpa berpikir panjang Flora beranjak dari atas tempat tidur dan berniat memanggil Mutya. Namun Mutya sudah tidak ada di kamar itu.
"Hah, dasar bodoh tentu saja Mutya pasti sudah berangkat ke kantor." Flora menepuk keningnya sendiri.
Saat Flora akan melangkah ke kamar mandi mendadak langkanya terhenti saat mendengar suara benda jatuh di luar kamarnya. Bergegas Flora keluar dari kamarnya mencari sumber suara. Benda jatuh itu terdengar lagi dan dari arah dapur.
"Gio apa itu kamu?" Flora melangkah menuju dapur.
"Siapa kamu?" tanya Flora saat matanya melihat seorang perempuan tua mungkin seumuran ibunya.
"Eh maaf saya berisik ya jadi bangunin non lagi tidur." Flora melihat ada rasa takut pada wajah perempuan itu sedang memasak di dapur itu.
"Maaf Anda siapa?" tanya Flora sekali lagi.
"Saya Asih, Non. Saya memang kerja di sini."
"Oh. Gio di mana?"
"Den Gio sudah berangkat kerja. Sekali lagi saya minta maaf ya, Non, sudah ganggu tidurnya."
Flora menggeleng. "Tidak apa-apa."
"Mau saya bikinin sesuatu?" tanya mbak Asih.
"Tidak usah nanti saya bikin sendiri saja. Saya permisi dulu ya, Bu. Saya mau mandi," ucap Flora yang langsung diangguki oleh mba Asih.
__ADS_1
Flora kembali ke dalam kamarnya, segera ia melangkah menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi Flora melihat bak besar di sana. Flora memutuskan untuk berendam untuk menghilangkan kepenatan di pikirannya.