
Jam hampir menunjukan pukul 12 malam, tetapi Flora masih tetap terjaga. Meskipun sudah berulang kali ia mencoba untuk memejamkan matanya, namun tetap saja Flora tidak bisa terlelap. Flora memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya. Ia melangkahkan kakinya ke arah jendela kamarnya.
Tangan Flora bergerak untuk membuka jendela kamarnya. Setelah jendela terbuka, udara seolah menabrak tubuh Flora dan masuk ke dalamnya.
Flora menyandarkan kepalanya pada pinggiran jendela dengan tangan yang ia lipat di depan dadanya. Matanya menatap ke arah rembulan di langit gelap yang sedang menerangi malam. Pikirannya melayang kembali ke saat di mana ia sedang dengan Ardi, ayah kandung Daniel. Tidak dipungkiri jika ia masih menyimpan cinta pada Daniel. Namun ia takut untuk mengungkapkannya Flora pikir sudah tidak ada lagi harapan untuk hubungannya dengan Daniel, tetapi kini tanpa diduga Ardi mengatakan akan merestui hubungan mereka.
Benarkah ayah dari mantan kekasihnya benar-benar memberikan restu pada dirinya dan juga Daniel. Jika benar, maka itu adalah kabar yang sangat menggembirakan bagi hubungannya dengan Daniel, tetapi apakah ia dan Daniel bisa kembali menjalin tali kasih lagi? Pernyataan itulah yang sedari tadi mengganggu tidurnya.
Helaan napas Flora terlihat begitu berat.
"Aku sudah sangat mengantuk, tetapi hal ini menganggu pikiranku dan membuat aku tidak bisa tidur." Flora mengusap wajahnya karena merasa frustrasi.
Suara panggilan masuk ke ponselnya, tiba-tiba mengalihkan perhatian Flora. Flora menjauh dari jendela untuk menerima panggilan itu.
"Gio?" gumam Flora. "Kenapa dia menghubungiku tengah malam seperti ini?"
Lalu Flora menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan Gio.
"Hallo," ucap Flora ketus.
"Hei, teriakan mu masih kuat .. apa kamu belum tidur, Sayangku?" ledek Gio dari seberang panggilan.
"Ck, Gio jangan bercanda," rengek Flora.
Telinga Flora mendengar suara tawa Gio.
"Aku tutup teleponnya jika tidak ada hal yang penting," ucap Flora kesal.
"Eh tunggu! Jangan tutup teleponnya," cegah Gio.
"Ada apa? Kenapa meneleponku malam-malam."
"Aku tahu kamu tidak bisa tidur jadi aku memutuskan untuk menghubungi mu?"
"Jadi sekarang kamu bisa tahu apa yang sedang aku lakukan?
"Ya."
"Baiklah aku tutup teleponnya." Nada bicara Flora terdengar seperti sebuah ancaman.
"Hei, aku hanya bercanda Sayang."
Huruf Flora menarik nafas dan berharap dirinya diberikan kesabaran untuk menghadapi Gio.
"Bicaralah yang serius, Gio."
"Baiklah, aku akan serius sekarang," ucap Gio dari seberang panggilan. "Flora, apa kamu sudah mengatur jadwalku untuk Senin besok?"
"Sudah," sahut Flora.
__ADS_1
"Bagus. Kalau begitu sampai jumpa hari pada Senin," ucap Gio.
"Jadi kamu meneleponku tengah malam seperti ini hanya untuk bertanya tentang hal itu saja?"
"Iya, memang apa yang kamu pikirkan? Apa kamu berpikir aku akan mengajakmu berkencan besok?"
"Dasar menyebalkan." Dan Flora langsung memutus panggilan itu.
"Ya ampun belum satu hari aku menjadi sekertarisnya, tapi dia sudah sangat menyebalkan," gerutu Flora.
"Ya Tuhan berikan aku kesabaran ekstra untuk menghadapi dia nantinya."
Flora menutup kembali jendela kamarnya lalu kembali ke tempat tidurnya, menarik selimut lalu masuk ke dalamnya. Berulangkali Flora menguap dan tidak lama ia pun terlelap. Sepertinya Flora tidak menyadari jika berbicara dengan Gio mampu membuat Flora melupakan apa yang sebelumnya telah mengganggu pikirannya.
Sementara di tempat lain dan pada waktu yang sama, Gio sedang berdiri di balkon kamarnya, senyumnya tidak luntur dari bibirnya setelah berbicara di sambungan telepon dengan Flora. Entah kenapa setiap kali dirinya mengganggu dan membuat Flora kesal membuat Gio senang, tetapi masih ada yang membuat Gio kesal yaitu membuat Flora mengerti akan perasaan yang ia rasakan terhadapnya.
"Ck, bagaimana cara agar bisa membuat Flora mengerti jika aku sangat mencintai dirinya."
Gio membuang napasnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Pada esok harinya ...
Hari Minggu adalah hari yang paling Flora nanti. Pada hari libur itu Flora bisa bermalas-malasan di rumah. Dan benar saja sampai jam 10 pagi, Flora masih betah memejamkan matanya.
Tubuh Flora yang masih tergulung selimut mulai bergerak. Flora membalik tubuhnya dengan mata yang masih terpejam. Pada saat Flora berbalik, cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya tepat mengenai wajah Flora dan membuatnya tidurnya terusik.
Mata indah Flora mulai terbuka, tetapi karena sorot cahaya matahari membuat mata Flora silau dan Flora kembali memejamkan matanya. Flora menghadang cahaya matahari dengan tangannya agar tidak kembali masuk ke dalam matanya. Perlahan Flora bangun lalu menyadarkan tubuhnya pada dinding di belakanganya.
"Sudah bangun, Nak?"
Flora menoleh ke arah ibunya. "Eh iya, Bu."
"Ya sudah, mandi dulu terus sarapan. Ibu mau antar baju-baju ini ke tetangga," ucap Seruni dan langung dianggukki oleh Flora.
Setelah ibunya pergi, Flora melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Flora menghabiskan waktu setengah jam di dalam kamar mandi. Setelah selesai, Flora keluar dan kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Selesai mandi dan berganti pakaian kini Flora duduk di ruang tengah sambil sarapan dengan beberapa menu makanan yang sudah dimasak oleh ibunya. Flora memasukan suapan demi suapan ke mulutnya tetapi tatapannya terlihat kosong, ia teringat kembali akan perkataan ayah Daniel.
Flora menggelengkan kepalanya untuk membuang jauh-jauh pikiran itu tetapi tetap saja tidak bisa. Pikirannya masih tetap tertuju pada satu orang yaitu Daniel.
Ya Tuhan jika memang dia jodohku maka dekatkanlah, tetapi jika dia bukan jodohku maka singkirkan dia dari pikiranku.
Selesai sarapan Flora membereskan sisa makanannya dan mencuci piring yang kosong.
Flora kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaan untuk esok hari dan tidak terasa waktu sudah semakin sore. Flora membereskan pekerjaannya dan mengambil kunci mobil miliknya.
"Bu, Flora pergi sebentar ya," izin Flora.
"Mau ke mana, Nak?" tanya Seruni sambil menyetrika.
__ADS_1
"Jalan-jalan sebentar," jawab Flora.
"Ya sudah pulangnya jangan malam-malam," ucap Seruni.
"Ya, Bu." Flora menyalami tangan ibunya lalu setelah itu ia keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Flora menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas dan secara perlahan mobil itu melaju meninggalkan tempat tinggalnya.
Flora menyusuri jalanan kota yang masih ramai lancar. Tempat yang ingin Flora tuju adalah tempat di mana ia dan Daniel mengakhiri hubungan mereka.
Sampai di tempat yang ingin ia tuju, Flora langsung memarkirkan mobilnya ke tempat yang telah disediakan. Pandangan Flora menyusuri tempat itu berharap ia menemukan seseorang yang sedang ia cari. Sejauh mata Flora memandang, ia belum menemukan orang itu.
Flora memutuskan untuk melepas alas kakinya dan berjalan dengan kaki kosong di pinggiran pantai. Kakinya terasa dingin saat kakinya terkena air laut. Langkahnya terhenti saat matanya bertemu dengan mata seseorang yang sedang ia cari tadi.
"Daniel ...."
"Flora ...."
Kini Daniel dan Flora berdiri saling berhadapan dan saling berbalas senyum.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Flora.
"Aku hanya ingin jalan-jalan dan menunggu seseorang kembali ke sini," jawab Daniel.
"Siapa?" tanya Flora lirih namun masih bisa di oleh Daniel.
Jantung Flora berdegup kencang saat menunggu jawaban Daniel.
"Kamu Flora," jawab Daniel.
Flora diam dan kembali mempertemukan pandangan mereka. Untuk sesaat tidak ada yang ingin bersuara, mereka hanya saling memandang saja dan pada akhirnya Flora memutuskan untuk membuka suaranya terlebih dahulu.
"Aku sudah kembali, Daniel," ucap Flora.
Tatapan Daniel masih lurus ke mata Flora. Ia tahu maksud dari perkataan Flora. "Kamu yakin, Flora?"
"Kamu tahu 'kan Daniel? Aku memutuskan untuk berpisah darimu bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, tapi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita."
Flora menarik napasnya sebelum kembali berbicara. "Ayahmu bicara denganku kemarin. Beliau mengatakan tidak akan lagi menghalangi hubungan kita ... beliau merestui hubungan kita."
Mata Flora berkaca-kaca sedangkan Daniel sudah tidak sabar menanti perkataan Flora selanjutnya.
"Aku sudah memikirkan semalam dan seharian ini dan aku sudah mengambil keputusan ...."
"Lalu apa keputusanmu?" Daniel bertanya setelah menyela perkataan Flora.
"... aku kembali ke sini, bersamamu, Daniel," jawab Flora membuat senyum Daniel mengembang.
Flora berlari ke pelukan Daniel setelah Daniel merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Daniel."
"Aku juga sangat mencintaimu, Flora."