Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part


__ADS_3

Hari itu Gio bersemangat sekali bekerja di kantor. Bagaimana tidak ia rasanya sudah tidak sabar untuk berbuka puasa malam nanti.


Hanya satu harapan Gio saat itu, ia berharap jika bayi kecilnya tidak akan menganggu sebagaimana tadi pagi. Pada saat ia ingin mencium Flora, bayi kecilnya menangis.


“Apa ada berkas lagi yang harus aku tanda tangani, Susan?” tanya Gio.


“Tidak, Pak,” jawab Susan.


“Lalu jadwal saya apa lagi untuk hari ini?” Gio kembali bertanya pada sekretarisnya.


“Hari ini jadwal Anda kosong. Tapi —”


“Tapi apa, Susan?” sela Gio.


“Besok Anda harus pergi ke Bandung untuk bertemu dengan klien,” ucap Susan.


“Harus besok ya?” Gio rasanya sangat malas untuk pergi ke luar kota semenjak ada Felicia.


“Iya, Pak. Itu sudah kesepakatan Anda dengan mereka sebelumnya,” jawab Susan.


Gio melihat waktu di jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang.


“Baiklah, kalau begitu. Saya akan pulang dulu. Besok jangan lupa persiapan apa saja yang harus saya bawa ke Bandung,” suruh Gio.


“Baik, Pak,” sahut Susan.


“Ini berkas yang sudah saya tanda tangani.” Gio memberikan berkas yang sudah ia periksa dan sudah ditandatangi kepada Susan.


Susan menerima berkas itu dan keluar dari ruangan kerja Gio untuk kembali ke meja kerjanya.


Sementara itu Gio membereskan barang-barangnya, tidak lupa Gio menghubungi Abi untuk mengantarnya pulang. Setelah selesai Gio keluar dari ruangan kerjanya.


“Susan, saya pulang dulu. Jika ada yang masalah kabari saya langsung, ” suruh Gio.


“Baik, Pak,” sahut Susan.


Gio kembali berjalan ke arah lift khusus yang akan membawanya ke lobby. Sepanjang perjalanannya Gio membalas sapaan para karyawannya yang menyapanya.


Sampai di lobby Gio langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


“Ke toko bunga dulu ya,” suruh Gio pada Abi.


“Baik, Mas,” sahut Abi.


Abi melajukan mobilnya menuju ke salah satu toko yang menjual berbagai macam bunga. Sampai di toko bunga, Abi memberhentikan laju mobilnya.


“Mas Gio mau saya pilih bunga apa?” tanya Abi.


“Tidak, biar aku sendiri yang membelinya,” ucap Gio. “Kamu tunggu saja di sini.”


“Baik, Mas,” ucap Abi.


Gio membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil. Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam toko bunga.


“Mba, ada bunga lili putih?” Gio bertanya pada salah satu karyawan yang ada di toko bunga itu.

__ADS_1


“Ada, Pak,” sahut karyawan di toko bunga itu.


Karyawan di toko bunga itu mengambilkan Gio satu ikat bunga lili putih yang Gio minta.


“Ini, Pak.” Karyawan toko bunga itu memberikan bunga lili putih kepada Gio.


Gio menerima bunga lili putih yang karyawan toko bunga itu berikan kepadanya. “Terima kasih.”


Setelah membayar tagihan bunga yang ia beli Gio keluar dari toko bunga itu. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Gio kembali ke dalam mobilnya.


“Langung pulang ya,” suruh Gio.


“Baik, Mas,” sahut Abi.


Mobil yang Abi kendarai sudah bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan raya. Jalanan yang belum padat membuat mereka sampai di rumah dengan cepat.


Gio segera turun dari mobil. Rasa tidak sabar untuk bertemu dengan anak dan juga istrinya membuat Gio bergegas masuk ke dalam rumahnya.


“Sayang,” panggil Gio.


“Ya, aku di sini,” sahut Flora.


Mendengar sahutan istrinya dari ruang tengah Gio pun melangkah ke ruang tengah. Akan tetapi tenyata istrinya lebih dulu menghampiri dirinya.


“Kok tumben kamu jam segini sudah pulang?” Flora bertanya seraya mencium punggung tangan suaminya.


“Lagi kosong saja. Jadi aku pulang saja,” jawab Gio. “Oh iya, aku bawakan ini untuk kamu.”


Gio memberikan bunga lili putih yang ia beli dalam perjalanan pulang kepada istrinya.


“Terima kasih,” ucap Flora.


Gio menarik pinggang istrinya untuk mengikis jarak di antara mereka.


“Hanya terima kasih?” Ucapan Gio terkesan sedang menggoda Flora.


Flora berontak di dalam dekapan suaminya. “Suamiku ... lepaskan! Di dalam ada —”


“Bibi lagi di dapur,” ucap Gio.


“Issh, bukan bibi,” ucap Flora.


“Terus?”


Belum sempat Flora menjawab seseorang lebih dulu memanggil Flora.


“Flora, kamu sedang apa? Kenapa lama sekali?”


Gio dan Flora sama-sama menoleh ke asal suara. Mata mereka melihat Tiara berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Segera Flora mendorong Gio, menjauhkan suaminya dari dirinya.


“Eh, Mba Tiara ....” Flora merasa malu saat dirinya kepergok sedang bermesraan dengan Gio.


“Bagus! Aku menunggumu dan kamu justru sedang mesra-mesraan bersama suamimu di sini,” ledek Tiara.

__ADS_1


“Kamu kenapa gak bilang kalau ada mba Tiara di sini.” Gio berbisik di telinga Flora.


Flora menyikut perut suaminya agar suaminya diam. “Sayang kamu masuk terus ganti baju. Felicia ada di kamarnya.”


Tidak ada pilihan masuk ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamarnya Gio merasa kesal, istrinya sedang kedatangan tamu yang itu artinya dirinya tidak bisa bermesraan dengan istrinya.


Apa dia sengaja.


Gio masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ia mendekati Felicia. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Gio langsung menuju kamar Felicia.


Sampai di dalam kamar Felicia ternyata baby kecilnya itu sudah membuka matanya. Gio menyuruh bibi yang sadari tadi menunggu Felicia untuk meninggalkan kamar itu.


“Anak papa yang cantik sudah bangun,” ucap Gio.


Gio mengangkat tubuh Felicia dari box bayinya dan membawanya ke dalam kamarnya. Gio merebahkan tubuh Felicia ke atas kasur.


Gio mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat ia mendengar pintu kamarnya ada yang membukanya dari luar.


“Kamu sengaja bangunin Feli ya? ” tuduh Flora.


“Dia bangun sendiri,” sahut Gio.


Gio meninggalkan Felicia dan menghampiri istrinya. Tubuh istrinya ia himpit di antara dinding kamarnya.


“Kamu sengaja ya ngundang mba Tiara ke sini. Biar kita gak bisa mesra-mesraan?” tuduh Gio.


“Aku memang ngundang mba Tiara buat datang ke sini. Tapi aku mana tahu kalau kamu pulang cepat, Sayang,” ucap Flora seraya menahan tawanya.


“Issh ... jangan kaya gini. Gak enak ada mba Tiara di luar,” ucap Flora.


Gio hanya bisa berdecak.


“Ayo kita keluar bawa Felicia sekalian,” ajak Flora.


Gio mengerucutkan bibirnya seraya menjauhkan tubuhnya dari istrinya. Pada akhirnya Gio ikut istrinya keluar dari kamar mereka dan duduk bersama dengan Tiara.


*****


Malam telah tiba, baby Felicia juga sudah tidur. Itu adalah kesempatan Gio untuk menghabiskan malam bersama istrinya.


Ditambah lagi hujan deras yang turun pada malam itu, seolah sangat mendukung diri Gio.


Yes


Gio berseru dalam hatinya.


Flora sudah masuk ke dalam dekapan suaminya. Membiarkan suaminya mencumbunya juga menyentuh setiap inci tubuhnya. Sejujurnya Flora pun sangat merindukan sentuhan dari suaminya.


“Aku sangat merindukan dirimu,” bisik Gio.


Tubuh Flora merinding mendengar bisikan Gio, seolah ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya.


Keduanya saling membalas sentuhan, saling memancing hasrat dalam diri satu sama lain. Hasrat mereka sudah terpancing hingga tidak ada lagi pilihan selain menyatukan tubuh mereka.


Saat Flora dan Gio sudah bersiap untuk menyatukan tubuh mereka, terdengar suara geledek yang sangat keras hingga membangkitkan jeritan Felicia.

__ADS_1


__ADS_2