
Flora tengah mematut dirinya di depan cermin di dalam kamarnya. Rencananya malam itu Flora dan ibunya akan makan malam bersama Gio dan Farhan.
Flora terlihat sedang membolak balik tubuhnya, memeriksa penampilannya serta riasan pada wajahnya.
"Duh, anak ibu yang mau ketemu sama calon mertua ... cantik banget," puji Seruni.
"Ibu bisa saja mujinya." Flora menunjukan senyumnya pada sang ibu. "Oh iya, Bu ... bagaimana Flora? Ada yang kurang gak?" tanya Flora.
Seruni meraih dagu Flora. "Sudah cantik."
"Kalau ibu bagaimana? Gak malu maluin kan?" tanya Seruni.
"Gak kok, Bu. Flora malah takut bapak Farhan naksir sama Ibu," ledek Flora.
"Dasar kamu ini ada-ada saja." Seruni mencubit pipi Flora.
"Ibu sudah selesai 'kan? Kita berangkat sekarang saja yuk, Bu! Takut jalan macet," ajak Flora dibalas anggukan Seruni.
Seruni dan Flora keluar dai rumah, setelah mengunci pintu rumah mereka masuk ke dalam satu mobil yang sama mereka menuju restauran yang sudah dipesan oleh Gio sebelumnya.
Entah karena gugup akan bertemu dengan calon besan, atau karena ada sesuatu? Seruni merasakan jantungnya berdetak begitu kencang.
"Ibu kenapa? Kok kelihatan gelisah begitu?" tanya Flora seraya mengemudikan mobilnya.
"Ibu juga gak tahu, Nak. Mendadak perasaan ibu tidak karuan," jawab Seruni.
"Ibu sakit?" Salah satu tangan Flora terulur untuk menyantuh kening ibunya. Flora memerika suhu badan ibunya dengan punggung tangannya. "Tidak panas kok, Bu."
"Memang ibu tidak sakit, Nak,' ucap Seruni. "Mungkin ibu merasa gugup saja, karena mau bertemu dengan calon besan." Seruni mencoba meledek anaknya untuk mengurangi kegugupannya.
Flora menyunggingkan senyumnya. Mendadak Flora salah tngkah saat ibunya menyebut jika Farhan sebagai calon besannya.
Flora mendengar bunyi pada ponselnya. Ada notifikasi pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
"Bu, Flora minta tolong ambilkan ponsel aku di dalam tas. Kayaknya ada pesan masuk," pinta Flora.
"Iya, Nak," sahut Seruni.
Seruni mengambil tas Flora yang ada di jok belakang. Tangannya merogoh tas kecil milk Flora untuk mengambil ponsel milik anaknya.
"Ada pesan masuk, Nak," ucap Seruni.
"Coba Ibu buka, lalu bacain isi pesannya," pinta Flora.
Seruni mengangguk sebelum membuka pesan masuk pada aplkasi ponsel Flora. "Dari Gio, Nak. Gio bilang jika dia dan papanya sudah sampai di restauran."
"Balas saja, Bu. Bilang kalau kita sebentar lagi sampai. Kita masih terjebak macet," suruh Flora.
"Baiklah, ibu balas ya," ucap Seruni yang langsung diangguki oleh Flora.
Seruni mulai mengetikkan huruf demi huruf pada ponsel Flora. Setelah selesai, Seruni mengirimkan balik ke nomor Gio.
"Sudah, Nak," ujar Seruni seraya memasukkan kembali ponsel Flora ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Terimakasih, Bu," ucap Flora.
"Sama-sama, Nak," balas Seruni.
Flora kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Jalanan mulai macet, beruntung mereka sudah sampai di restauran yang akan mereka tuju.
Flora segera memarkirkan mobilnya ke tempat yang sudah tersedia. Setelah melepas sabuk pengaman, Flora dan ibunya sama-sama turun dari mobil.
"Selamat malam, Ibu, Mbak," sapa salah seorang pegawai di restauran itu.
"Malam, Mbak," sapa balik Flora.
"Meja untuk berapa orang, Mbak?" tanya pegawai itu.
"Teman saya sudah pesan meja di sini. Ruang VIP atas nama Gio," jawab Flora.
"Oh begitu. Mari ikut saya."
Flora berjalan mengikuti salah seorang pegawai restauran itu. Dalam perjalanan Flora meminta izin pada ibunya untuk ke kamar mandi lebih dulu.
"Ibu ikut mbak ini saja," ucap Flora yang langsung diangguki oleh Seruni.
Flora belok ke arah kamar mandi, sedangkan ibunya melangkah kembali ke tempat Gio dan papanya berada.
"Ini, Bu tempatnya." Pegawai restauran itu menunjuk sebuah ruangan VIP restauran itu.
"Terimakasih, Mbak."
"Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu," pamit pegawai restauran itu.
"Ferdi ...."
Seruni lebih terkejut lagi saat Gio memanggil laki-laki itu dengan sebutan 'papa'
Jadi ... Gio anaknya Ferdi? Itu berarti Gio dan Flora ... mereka kakak beradik! Tidak mungkin.
Seruni terlalu berat untuk menerima kenyataan itu. Kepalanya terasa berat, kakinya mendadak tidak bisa menopang berat badanya.
Seruni berpegangan pada dinding restauan itu. Setelah menghapus air matanya, Seruni memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Seruni tidak sanggup untuk melihat laki-laki dan kenyataan pahit itu.
*****
Setelah merapikan penampilanya, Flora keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju ruangan yang sudah dipesan oleh Gio. Sepanjang perjalanan, Flora sama sekali tidak melunturkan senyumnya.
"Maaf saya terlambat," ucap Flora setelah sampai ke temat tujuannya.
"Tidak apa-apa, Nak," balas Farhan.
Flora masuk ke tempat itu seraya mengedarkan pandangnya untuk mencari sosok ibunya.
"Flora, kamu sendiri? Mana ibu?" tanya Gio.
Kening Flora mengernyit, ia sendiri juga tidak tahu keberadaan ibunya.
__ADS_1
"Aku tadi lebih dulu ke kamar mandi. Dan ibu ke sini lebih dulu. Aku kira ibu sudah ada di sini," ucap Flora.
"Tapi dari tadi tidak ada yang datang ke sini," ucap Gio.
"Apa mungkin ibu salah masuk ruangan? Coba aku tanya pelayan yang tadi mengantar ibu ke sini," ucap Flora.
"Aku temani," ucap Gio.
Flora keluar bersama Gio untuk menemui pelayan yang sudah mengantar ibunya.
"Maaf, Mbak ... tapi tadi saya sudah mengantar ibu anda ke sana," ucap pelayan itu.
"Baiklah, Mbak. Kalau begitu terimakasih," ucap Flora.
Flora makin merasa bingung.
"Ke mana ibu ya?" Flora khawatir takut terjadi sesuatu pada ibunya.
"Coba kamu telepon ibu," suruh Gio.
Segera Flora mengambil ponselnya untuk menghubungi nomor ponsel ibunya.
Berulang kali panggilan Flora tidak terjawab. Saat Flora mencoba untuk ke lima kali, akhirnya panggilannya tersambung juga.
"Halo, Bu ... Ibu di mana?" Ada kecemasan dalam nada bicara Flora.
"Maaf, Nak, ibu mendadak tidak enak badan. Jadi ibu pulang lebih dulu," jawab Seruni dari seberang panggilan.
"Ibu kenapa gak bilang sama Flora? Flora kan bisa antar ibu pulang," ucap Flora.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu makan malam saja. Sampaikan maaf ibu untuk Gio dan papanya. Oh iya, kamu pulangnya jangan malam-malam," pesan Seruni.
"Tapi, Bu ...." Panggilan pun terputus.
"Halo, Bu ... ibu."
Flora mengambil napas berat ketika ibunya memutus sambungan teleponnya.
"Ibu di mana?" tanya Gio.
"Ibu katanya pulang. Ibu mendadak gak enak badan," jawab Flora.
Pandangan Flora mengarah pada Gio. Ada rasa tidak enak pada Gio di wajah Flora.
"Maaf, ya ... ibu gak bisa ikut acara makan malam ini," ucap Flora.
Gio tersenyum ke arah Flora lalu mengusap kepalanya. "Tidak apa-apa, Sayangku. Kapan-kapan kita bisa makan malam lagi," ucap Gio.
"Tapi papa kamu bagaimana? Aku merasa tidak enak sama beliau," ucap Flora.
"Papa pasti mengerti kok," ucap Gio. "Lebih baik kita kembali ke papa," ajak Gio.
Flora mengangguk meski dengan berat hati.
__ADS_1
Bagaimana reaksi Flora dan Gio ya pas tahu jika mereka kakak beradik.