Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Tinggal Kenangan


__ADS_3

“Daren!”


Flora menoleh saat ada yang menahan tubuhnya, membuatnya tidak terjatuh ke lantai. Ternyata seseorang yang menahan tubuhnya adalah Daren.


“Flora kamu tidak apa-apa?" Daniel yang ada di sebelah Daren bertanya pada Flora.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Flora.


Flora mencoba berdiri dengan bantuan dari Daren dan juga Daniel.


“Jika terjadi sesuatu dengan Flora dan bayi dalam kandungannya, aku tidak akan memaafkanmu, Tina,” ancam Daniel.


“Dia yang lebih dulu memulainya. Dia yang lebih dulu menampar wajah kakakku,” ucap Tina.


“Itu karena laki-laki ini sudah bersikap dan berkata kurang ajar padaku,” tangkis Flora.


“Sebaiknya kalian pergi dari sini. Atau akan aku laporkan kalian ke polisi karena kalian sudah menganggu ketenangan kami,” ancam Tina.


“Lihat saja nanti, aku pasti akan menemukan bukti jika kalian yang sudah mencelakai suamiku,” balas Flora.


“Aku tidak takut, Sayang. Karena memang bukan aku yang mencelakai suamimu,” ucap Brian.


“Tapi tenang saja ... aku akan membantumu untuk menemukan pelakunya.” Brian menunjukan senyuman mengejeknya.


“Aku harus berterima kasih padanya, karena sudah membantuku untuk menyingkirkan Gio. Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menyingkirkan laki-laki itu.” Selanjutnya Brian tertawa keras, seolah sedang merayakan kemenangannya.


“Bukankah kamu sangat mencintai Gio, Tina? Kenapa kamu tega membiarkan kakakmu melakukan hal buruk pada Gio?” Flora berucap dengan diikuti tetesan air matanya.


“Sudah aku bilang ... bukan kakakku yang melakukan itu,” tegas Tina.


“Ayo, Flora, Daniel ... sebaiknya kita pergi dari sini. Jangan buang tenaga dan waktu kalian di sini,” ajak Daren.


“Iya, Flora. Yang dikatakan oleh Daren itu benar,” sambung Daniel.


Meskipun tidak puas dengan apa yang ia dapat dari Brian, Flora terpaksa harus pergi dari tempat itu. Apalagi tubuhnya juga merasa sangat lelah.


“Ya, ayo,” ucap Flora.


Daren ingin melingkarkan tangannya ke pundak Flora. Namum, Flora berjalan lebih dulu, seolah menghindari Daren.


“Terima kasih Deren, karena kamu sudah menolongku,” ucap Flora setelah mereka berada di luar ruangan Brian.


“Iya Daren ... aku juga mengucapkan terima kasih kepadamu,” sambung Daniel. “Tapi bagaimana bisa kamu tahu jika kami berada di sini?” tanya Daniel.


“Tadinya aku mau ke rumah sakit untuk menjenguk Flora. Tapi di lobby rumah sakit aku bertemu dengan tante Seruni dan juga tante Mariana. Mereka bilang kalina sudah pergi untuk menemui Brian,” jawab Daren.


“Sudahlah, ayo kita pergi dari sini,” ajak Daren yang langsung dianggukki oleh Daniel serta Flora.


Mereka bertiga berjalan ke arah lobi perusahaan itu. Sampai di lobby, Daren mengajak Daniel serta Flora untuk makan siang bersama.


“Ini sudah masuk jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama,” usul Daren.


“Itu ide yang bagus,” sambung Daniel. “Ayo Flora, kamu juga harus makan,” ucap Daniel.


“Tapi ....” Flora merasa malas untuk pergi.


“Aku tidak ingin mendengar penolakan, Flora,” ucap Daren.


“Anggap saja, ini balasan karena aku sudah menolongmu tadi,” ucap Daren.


Mendengar perkataan dari Daren, Flora menjadi tidak enak hati. Akhirnya Flora menyetujui permintaan Daren. “Baiklah, ayo.”


Mereka bertiga masuk ke dalam dua mobil yang berbeda. Daniel dan Flora berada pada satu mobil yang sama. Mobil yang mereka naikin mengikuti laju mobil milik Daren.


“Apa Daren tidak punya saudara lain?” Flora bertanya tiba-tiba pada Daniel.


“Dia anak tunggal seperti aku,” jawab Daniel.


”Kalian satu angkatan, ’kan? Apa kalian satu kampus dulu?” tanya Flora.

__ADS_1


“Ya kami satu angkatan, tetapi kami berbeda kampus," jawab Daniel. “Ada apa? Kenapa kamu ingin tahu tentang Daren?” Daniel balik bertanya pada Flora.


Flora menggeleng, “Hanya ingin tahu saja.”


Dua mobil yang membawa Daniel, Flora, serta Daren masuk ke salah satu area parkir cafe. Mereka bertiga keluar dari mobil dan masuk ke dalam cafe bersama-sama.


Mereka bertiga duduk di dekat jendela. Daren mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan di cafe itu. Salah seorang pelayan di cafe itu menghampiri meja yang diduduki oleh Daren , Flora, dan Daniel.


“Kalian mau pesan apa?” tanya Daren.


“Aku mau es cream saja,” jawab Flora.


“Hanya es cream?” tanya Daren.


Flora mengangguk, “Jika ada aku mau banana split.”


“Baiklah, aku akan memesankannya untukmu,” ucap Daren.


Daren dan Daniel sama-sama menyembutkan makanan apa yang mereka pesan pada pelayan di cafe itu.


“Baiklah, hanya itu saja,” ucap Daniel.


Ketiganya mengobrol sambil menunggu pesanan mereka. Flora lah yang mengawali obrolan itu.


“Daren, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Flora.


“Tentu saja. Silahkan, Flora,” ucap Daren.


“Di mana papamu sekarang?” tanya Flora.


Daren menatap Flora sejenak, ada keraguan di dalam diri Daren untuk menjawab pertanyaan dari Flora.


Flora menyadari tatapan Daren. Flora merasa tidak enak hati dan ia pun langsung meminta maaf pada Daren.


“Maafkan aku jika pertanyaanku menyakitimu. Kamu tidak perlu menjawabnya. Lupakan saja,” ucap Flora.


“Aku sudah lama tidak bertemu dengan beliau semenjak beliau menjadi buronan polisi. Dari yang aku dengar beliau sudah ditangkap oleh polisi, tapi sudah dibebaskan, karena ada yang menjaminya,” jawab Daren.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Daren.


“Mungkinkah orang itu adalah Gio?” batin Flora dan Daniel.


“Apa kamu tahu sekarang di mana keberadaan Om Adam, Daren?” tanya Daniel.


“Aku tidak tahu di mana keberadaan beliau sekarang,” jawab Daren.


“Apa kamu tidak ingin mencarinya,” tanya Flora.


“Jujur aku masih kecewa dengan perbuatan beliau. Aku tidak menyangka beliau bisa menghianati ibuku,” jawab Daren.


Obrolan kecil mereka harus terhenti saat makanan yang mereka pesan datang ke meja mereka.


“Kita lanjutkan obrolan kita nanti saja. Lebih baik kita makan dulu,” ucap Daniel jangan langsung diangguki oleh Flora dan juga Daren.


Ketiganya fokus dengan makanan mereka. Terutama Flora, perempuan hamil itu memakan es cream pesanannya dengan diikuti oleh tetesan air matanya.


“Flora, tidak baik menangis di depan makanan.” Daren menggenggam tangan Flora.


Flora tersentak saat Daren menggenggam tangannya. Dengan segera Flora menjauhkan tangannya dari Daren lalu mengusap air matanya.


“Aku hanya merindukan Gio. Dia suka sekali dengan banana split,” ucap Flora.


Flora mengalihkan pandangannya ke arah Daniel.


“Daniel bisakah kita pulang sekarang,” pinta Flora.


“Ya baiklah, ayo,” ucap Daniel.


“Tapi Daniel, kamu bahkan belum mengabiskan makan siangmu,” cegah Daren.

__ADS_1


“Tidak, Daren. Aku juga sudah kenyang,” ucap Daniel. “Lagipula Flora juga butuh istirahat.”


“Maafkan aku Daren, tapi aku sungguh sangat lelah,” ucap Flora.


“Tidak masalah, Flora. Kamu jangan khawatir aku pasti akan membantumu untuk menemukan Gio,” ucap Daren.


“Terima kasih, Daren,” balas Flora.


*****


Sudah satu minggu setelah hilangnya Gio, Flora masih berada di hotel tempatnya menginap. Hari itu adalah hari terakhir Flora berada di kota New York.


Flora berdiri di dekat jendela, memandang malam kota New York. Sejujurnya Flora belum ingin meninggalkan negara itu sampai ia menemukan keberadaan suaminya.


Mata Flora terpejam diikuti tetesan air matanya. Flora tidak menyangka ada orang yang se-tega itu mencelakai suaminya.


Flora tersentak saat ada yang menyentuh kedua pundaknya. Mata Flora kembali terbuka lalu menoleh. Flora melihat ibunya berdiri tepat di belakang. Segera Flora mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


“Ayo tidur, Nak. Ini sudah malam,” ajak Seruni.


“Aku tidak bisa tidur, Bu,” ucap Flora.


“Ibu tahu, Nak. Ibu juga tidak bisa tidur karena memikirkan Gio. Tapi besok kita harus kembali ke Indonesia,” bujuk Seruni.


“Jujur aku masih belum ingin pulang, Bu. Aku masih ingin di sini sampai aku menemukan keberadaan Gio,” ucap Flora.


“Ibu mengerti perasaan kamu, Nak. Tapi kita di sini juga tidak berbuat apapun,” ucap Seruni.


Flora kembali terisak. Melihat anaknya terisak Seruni tidak tega. Seruni pun langsung memeluk Flora.


“Sabar, Nak. Kuatkan dirimu demi anak dalam kandunganmu,” ucap Seruni.


“Siapa sih, Bu yang tega berbuat seperti itu pada Gio?” Flora bertanya di tengah isak tangisnya.


Setelah menangis beberapa saat, Flora menarik diri kemudian mengusap air matanya. “Flora pergi sebentar ya, Bu,” pamit Flora.


“Kamu mau ke mana, Nak?” tanya Seruni.


“Flora ingin berjalan-jalan sebentar. Sebelum besok kita meninggalkan tempat ini,” jawab Flora.


“Kalau begitu Ibu temani,” ucap Seruni.


“Tidak usah, Bu. Ibu istirahat saja! Ibu pasti lelah dari kemarin sudah mengurusku,” tolak Flora.


“Tapi, Nak—”


“Flora ingin sendiri, Bu. Lagipula Flora pergi tidak jauh. Flora hanya berjalan-jalan di sekitar sini saja,” ucap Flora.


Seruni sebenarnya merasa ragu membiarkan putrinya pergi sendiri. Namun, Seruni tahu Flora butuh waktu untuk sendiri.


“Baiklah, Nak. Hati-hati, ya. Jangan lupa pakai pakaian hangat,” pesan Seruni yang langsung dianggukki oleh Flora.


Flora keluar dari kamarnya dan tepat bersamaan dengan Daniel.


“Flora, kamu mau ke mana?” tanya Daniel.


“Aku ingin pergi berjalan-jalan sebentar. Sebelum besok kita kembali ke Indonesia,” jawab Flora.


“Baiklah, ayo aku temanni,” ucap Daniel.


“Daniel, aku ingin pergi sendiri,” ucap Flora.


“Kali ini aku tidak akan mendengarkanmu, Flora. Kemarin saat aku membiarkanmu masuk ke ruangan Brian sendiri ... kamu hampir saja celaka. Beruntung Daren datang tepat waktu saat itu,” ucap Daniel.


“Baiklah ayo,” ucap Flora.


“Jadi kamu mau ke mana? Aku akan mengantarmu ke manapun yang kamu mau,” ucap Daniel.


“Ke suatu tempat,” jawab Flora.

__ADS_1


Flora meminta Daniel untuk mengantarnya ke tempat-tempat di mana ia pernah mengabiskan waktu bersama Gio. Sebelum esok hari ia kembali ke Indonesia, meninggalkan semua kenangan manis dan buruk di tempat itu.


__ADS_2