
"Itu bohong! Dia menuduh saya karena saya tidak merestui hubungannya dengan anak saya. Jadi anak haram itu mencoba memfitnah saya," tuduh Mariana.
"Saya ini dari keluarga terhormat, jadi jangan pernah berani membawa saya ke kantor polisi atau kalian akan tanggung akibatnya," ancam Mariana.
Dua polwan itu tidak terpengaruh dengan pernyataan Mariana. Mengingat riwayat chatnya dengan salah satu laki-laki yang ia suruh untuk menodai Flora. Di dalam pesan itu sudah membuktikan dengan jelas akan keterlibatan Mariana.
"Apapun yang ingin Nyonya katakan ... katakan saja di kantor polisi." Dua Polwan itu menarik tangan Mariana.
"Lepaskan saya!" Mariana berontak dan berhasil melaksanakan tangannya.
"Anda tidak bisa mengelak semua bukti yang sudah ada di kantor polisi," ucap Polwan itu.
"Asal kalian tahu ... dia itu perempuan yang lahir tanpa seorang ayah, bahkan ibunya hamil di luar nikah. Mungkin saja perempuan itu yang sudah merayu mereka dan menuduh saya." Mariana menuduh Flora untuk menyelamatkan dirinya.
Flora mengepalkan tangannya untuk menahan amarah saat mendengar perkataan Mariana.
"Cukup, Nyonya," jerit Flora yang tidak terima jika ibunya dihina. "Jangan lagi menghina saya dan ibu saya."
"Dan Nyonya bilang Anda orang terhormat?" Flora tersenyum sinis. "Apa yang sudah Nyonya lakukan pada saya tidak pantas bagi Nyonya untuk menyandang sebagai wanita terhormat."
Mariana tidak terima dengan apa yang Flora katakan. Ia layangkan tangannya untuk menampar Flora namun dicegah oleh salah satu Polwan.
"Sudah cukup, Nyonya! Anda harus ikut kami!"
Mariana masih menolak dibawa oleh polisi. Mariana mencoba untuk meminta bantuan pada suaminya.
"Papah, Daniel, tolong Mamah! Mamah tidak bersalah," ucap Mariana.
Daniel dan Ardi tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Mariana. Alasannya karena semua bukti memang mengarah padanya.
"Pah ... apa Papah tega biarin mama masuk penjara?" Ardi memalingkan wajahnya sejujurnya ia juga kecewa dengan tindakan istrinya kali ini.
"Maaf, Mah saya tidak bisa menolong mamah kali ini. Mamah sudah sangat keterlaluan," ucap Ardi.
Melihat tidak adanya respon lagi dari suaminya, Mariana beralih pada Daniel, anaknya.
"Daniel, tolongin Mamah," mohon Mariana.
"Maaf, Mah kali ini aku tidak bisa menolong Mamah. Aku kecewa sama, Mamah." Mariana lebih kecewa setelah mendengar perkataan anaknya.
Dan kali ini tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan Mariana.
Mariana dibawa paksa ke dalam mobil polisi, namun belum sempat mereka memasukannya ke dalam mobil, Flora lebih dulu menahannya.
"Maaf, tolong lepaskan nyonya Mariana," pinta Flora.
Permintaan Flora langsung mengejutkan semua orang, tetapi tidak dengan Gio tebakan laki-laki itu tepat, Flora tidak akan membiarkan ibu dari mantan kekasihnya masuk penjara.
"Ada apa denganmu Flora? Kamu meminta mereka melepaskan tante Mariana?" tanya Gio.
"Ya, Gio" sahut Flora.
"Kenapa?" tanya Gio.
__ADS_1
"Karena dia keluarga kamu, Gio. Dan juga aku tidak mau masalah ini makin panjang. Lagipula aku baik-baik saja sekarang, jadi biarkan saja nyonya Mariana dan juga ketiga laki-laki itu bebas," jelas Flora.
"Kamu baik apa bodoh, Flora?" maki Gio yang langsung membuat wajah Flora tertunduk.
Flora memutuskan untuk melepaskan Mariana karena tidak tega melihat rasa sedih yang tergambar pada wajah Daniel dan juga Ardi serta merasa kasihan pada keluarga ketiga laki-laki itu. Bagaimana jika mereka adalah tulang punggung keluarganya.
"Please, Gio ... kita akhiri saja sampai di sini?" mohon Flora.
"Kami yakin?" Gio menatap wajah Flora.
Flora langsung mengangguk. "Tapi saya meminta kepada nyonya Mariana membuat surat pernyataan, jika beliau tidak akan pernah lagi mengusik kehidupan saya dan juga ibu saya. Begitu juga dengan ketiga laki-laki itu."
Ardi dan Daniel serta ketiga laki-laki itu langsung setuju dengan permintaan Flora, tetapi tidak dengan Mariana. Wanita itu masih tidak mau tunduk kepada Flora.
"Terserah Mamah jika mamah lebih suka berada di penjara," ucap Daniel.
Tidak ada pilihan lain selain menyetujui apa yang Flora katakan. Mariana sudah menandatangani surat pernyataan itu di hadapan keluarganya serta polisi, bukan hanya Mariana ketiga laki-laki itu pun melakukan hal yang sama pada Flora.
"Kami minta maaf atas apa yang sudah kami lakukan padamu, Flora. Kami dibutakan oleh uang waktu itu," ucap salah satu dari ketiga laki-laki itu.
Flora tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya dan itupun dengan wajah yang tertunduk.
"Kalian pergilah, jangan tunjukkan wajah kalian lagi di kantor. Aku akan menyuruh orang untuk mengirim uang pesangon kalian nanti," ucap Gio.
"Terima kasih, Bapak Gio," ucap salah satu dari ketiga laki-laki itu mewakili dua temannya.
Ketiganya langsung pergi dari rumah besar itu. Tidak apa-apa mereka kehilangan pekerjaan karena mereka bisa mencarinya lagi, yang terpenting bagi mereka adalah tidak akan tinggal di dalam jeruji besi.
"Ayo Gio kita pulang! Urusan kita di sini sudah selesai," ajak Flora dan Gio langsung mengangguk.
Flora mengembuskan napas panjang mencoba memberi kesabaran pada dirinya sendiri.
"Saya harap Anda ingat dengan apa yang baru saja anda tandatangani, Nyonya." Flora memperingati Mariana.
Mariana tersenyum sinis. Rasanya ia kesal karena merasa kalah oleh Flora.
Tanpa ingin mengatakan apapun lagi, Flora mengajak Gio untuk segera pergi dari rumah itu. Namun panggilan Ardi menghentikan langkah Flora dan juga Gio.
"Flora," panggil Ardi.
Flora dan Gio menoleh bersama.
"Terima kasih sudah mencabut tuntunan terhadap terhadap istri saya. Dan saya mewakili istri saya untuk meminta maaf kepada mu," ucap Ardi.
"Papah! Apa-apaan sih? Kenapa meminta maaf pada perempuan itu." Mariana merasa tidak terima jika Ardi meminta maaf kepada Flora.
"Cukup, Mah!" bentak Ardi yang langsung membuat Mariana terjengit. "Apa Mamah tahu? Gara-gara kelakuan Mamah ini ... nama baik keluarga kita hampir tercemar."
Mariana langsung pergi meninggalkan ruang tamu itu karena merasa sudah dipermalukan oleh suaminya.
Mata Flora terus memperhatikan kepergian Mariana sampai tubuh calon ibu mertuanya hilang dari pandangannya.
"Kalau begitu saya permisi," pamit Flora.
__ADS_1
Sebelum Flora keluar dari rumah itu, Flora lebih dulu mempertemukan pandanganya dengan Daniel. Ada banyak harapan dari pertemuan pandangan mereka.
"Ayo Flora!" ajak Gio.
Gio melingkarkan tangannya pada pundak Flora dan membawanya keluar dari rumah itu.
Keduanya kembali masuk ke dalam mobil Gio dan duduk bersebelahan. Gio melajukan mobilnya tanpa bicara apapun lagu pada Flora.
"Gio," panggil Flora.
"Hmmm." Gio yang sedang mengemudi melihat sekilas ke arah Flora. "Ada apa?"
"Pak Ardi ternyata tidak seburuk yang aku kira," ucap Flora. "Aku mengira dia sama seperti istrinya, tapi tenyata tidak."
"Ya memang. Om Ardi itu memang tamak tetapi beliau tidak akan melakukan apapun yang akan merusak nama baik keluarganya," sahut Gio.
"Kamu tahu Gio ...." Ucapan Flora terpotong oleh Gio.
"Tidak," sela Gio.
"Ck, Gio ... jangan bercanda," cicit Flora yang langsung membuat Gio tergelak.
"Oke, kamu mau bicara apa?" tanya Gio.
"Saat aku pertama kali bertemu dengan bapak Farhan, aku berharap jika ayah kandungku seperti beliau."
"Itu gampang, Sayangku. Menikahlah denganku malah papah ku akan menjadi papahmu juga," ucap Gio asal.
Pukulan Flora mendarat tepat pada lengan Gio. "Kenapa kamu selalu asal bicara?"
"Aku tidak asal bicara, Sayangku. Apa kamu tidak melihat wajah serius ku?"
Flora langsung mengalihkan pandangannya, menatap wajah Gio.
"Mana coba aku lihat." Flora memalingkan wajah Gio untuk mempertemukan pandangan mereka sekilas.
Tawa Flora meledak saat melihat wajah Gio.
"Kenapa tertawa?"
"Orang seperti dirimu mana bisa serius," ledek Flora.
Flora bagaimana aku menyakinkan dirimu jika aku serius dengan ucapan ku.
"Apa kamu masih mencintai Daniel, Flora?"
Pernyataan Gio langsung menghentikan tawa Flora.
"Kenapa kamu mau bertanya itu lagi?"
"Hanya ingin tahu saja."
"Kamu pasti pernah mendengar jika cinta pertama itu sulit untuk dilupakan, 'kan?"
__ADS_1
Perkataan Flora sudah menjadi jawaban bagi Gio.