Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Teman Tapi Mesra


__ADS_3

Jam makan siang masih belum selesai, Gio memilih makan siang dengan ditemani oleh Abi di dalam ruangan kerjanya saja. Selesai makan siang, Gio memilih duduk bersandar pada punggung sofa dengan kaki yang sengaja ia naikan ke atas meja. Pandangnya melihat ke langit-langit ruangan kerjanya. Senyumnya mengembang seolah melihat wajah Flora di atas sana.


"Playboy sedang jatuh cinta," ledek Abi.


"Cinta yang tidak bisa ku miliki," balas Gio.


"Sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan Flora, Bos," ucap Abi.


"Apa maksudmu?" tanya Gio tidak mengerti.


"Selama Flora dan Daniel belum menikah, Flora masih milik semua orang," ucap Abi.


"Mereka pasti akan menikah, nantinya." Nada bicara Gio terdengar putus asa.


"Ada satu kabar baik ...." Abi sengaja menghentikan perkataanya agar membuat Gio merasa penasaran.


"Kabar baik? Apa kabar baiknya?"


"Salah satu dari kalian akan di jodohkan dengan perempuan dari keluarga Wirawan ... seorang model," lanjut Abi.


"Hah! Dijodohkan?" Gio mengusap wajahnya kasar. "Apa mereka pikir ini zaman Siti Nurbaya."


"Ini bukan hal baru dalam bisnis, Bos. Biasanya pemilik perusahaan besar akan saling menjodohkan anak mereka demi memperbesar perusahaan mereka." Abi meminum minuman kaleng yang ada di hadapannya, tetapi matanya melirik ke arah Gio, ia ingin melihat ekspresi wajah bosnya.


"Ini bukan kabar baik, tapi kabar buruk." Gio kembali menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.


"Awalnya bapak Ardi mengusulkan agar mas Gio yang dijodohkan dengan perempuan itu, tapi ibu Mariana dan bapak Farhan menolaknya. Mereka justru meminta mas Daniel yang dijodohkan dengan perempuan itu?" jelas Daniel.


"Papa menolak?" tanya Gio yang langsung diangguki oleh Abi.


"Mas Daniel mau tahu alasannya?" tanya Abi.


"Apa alasan papa?" tanya balik Gio.


"Bapak Farhan merasa kasihan pada perempuan itu jika dijodohkan dengan Mas Gio yang punya banyak pacar." Abi tergelak setelah mengatakan alasan Farhan menolak perjodohan itu untuk Gio.


Gio mendengus kesal melihat Abi tergelak bahkan sampai memegangi perutnya. Akan tetapi, sudut bibir Gio tertarik ke atas karena merasa senang papanya tidak menyetujui perjodohan itu.


"Baiklah, kali ini aku akan menjadi kakak yang jahat. Aku akan membuat Flora berpaling dari adikku," ucap Gio diikuti tawa kecil Abi.


Mungkin terkesan jahat akan merebut kekasih adiknya, tetapi Gio tahu Flora tidak akan bahagia dan akan selalu tersakiti jika tetap bersama Daniel karena adik ipar papanya. Dan Gio tidak akan rela jika melihat hal itu.


"Aku akan menemui Flora sekarang." Dengan semangat Gio beranjak dari sofa yang sedang ia duduki untuk menemui Flora.


Gio merapikan penampilannya sebelum keluar dari ruangnya.


"Selamat berjuang, Bos," ucap Abi dibalas acungan jempol oleh Gio.

__ADS_1


Gio keluar dari ruangan kerjanya untuk menemui Flora. Saat Gio baru keluar dari ruangan kerjanya, Gio melihat Flora terlihat murung. Gio sangat tidak suka melihat hal itu.


"Wajah murung itu tidak cocok dengan wajah galak mu itu, Sayangku." Gio sengaja menggoda Flora agar masalah yang sedang gadis itu hadapi bisa teralihkan.


Akan tetapi tanpa Gio duka, Flora justru langsung memeluknya.


"Bantu aku untuk melupakan Daniel." Flora langsung terisak di pelukan Gio.


Mendengar kalimat yang baru Flora ucapkan membuat Gio tercengang. Namun bibir Gio tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Kini Gio juga makin yakin untuk merebut Flora dari sisi Daniel. Gio menggerkan tanganya untuk mengusap punggung Flora.


"Sudahlah, Flora berhenti menangis." Gio memutuskan untuk membawa Flora masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Sampai di dalam ruangan kerjanya, Gio mendudukkan Flora pada sofa di sebelah sofa yang diduduki oleh Abi.


"Aku pergi dulu, aku masih memiliki kerjaan," pamit Abi.


Abi memilih pergi untuk memberikan waktu berdua untuk Flora dan Gio.


"Flora, ada apa lagi?" tanya Gio seraya menggenggam tangan Flora.


"Aku hanya merasa sangat mencintai Daniel ... kami saling mencintai dan kami ingin bersama, tapi kenapa sulit sekali?" Flora menghapus air matanya. "Aku pikir saat ayahnya Daniel sudah memberikan kami restu, maka tidak sulit untuk menyakinkan nyonya Mariana, tetapi aku salah kira. Dia masih tidak merestui kami, bahkan dia mengatakan tidak akan merestui kami sampai mati pun."


Gio mengusap air mata yang masih keluar dari mata Flora tanpa mengatakan apapun.


"Tadi aku bertemu dengan nyonya Mariana. Dia mengatakan sudah memiliki calon istri untuk Daniel yang menurutnya pantas untuk menjadi istrinya," lanjut Flora.


"Sudahlah Flora, lupakan semuanya." Gio mengusap kepala Flora.


"Aku ini memang bodoh," maki Flora pada dirinya sendiri.


Gio menarik Flora ke dalam pelukannya, mendekapnya untuk memberikan ketenangan.


"Berhentilah menangis, atau kantorku ini akan tenggelam oleh air mata mu," ledek Gio bermaksud untuk mencaikkan suasana.


"Tidak lucu." Flora memukul dada Gio karena merasa kesal.


Flora menarik diri dari pelukan Gio saat ia sadar jika mereka masih ada di tempat kerja.


"Maaf membuat kemejamu basah," ucap Flora.


"Kamu harus bertanggung jawab untuk ini, sebentar lagi aku ada meeting dan lihat ... kemejaku badan karena air mata mu."


"Maaf." Flora memohon dengan menyatukan kedua tangannya.


"Enak saja, hanya meminta maaf," ucap Gio.


Gio meraih rambut Flora dan memainkan dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Berkencan denganku nanti malam," ucap Gio dengan senyum nakalnya.


"Hah! Kencan?" Gio langsung mengangguk. "Tapi traktir aku makan es cream," pinta Flora.


"Hanya es cream? Aku akan belikan sekalian dengan toko nya," ucap Gio.


Flora langsung tertawa setalah mendengar perkataan Gio dan itu membuat Gio merasa sangat bahagia.


Sore hari saat jam pulang kerja, Flora segera bergegas untuk pulang, tetapi tidak langsung pulang ke rumah. Ia ada janji dengan Gio. Flora pun segera menuju ke parkiran mobil dan segera melesat ke pusat perbelanjaan.


Kini Flora sudah berada di dalam perjalanan menuju tempat janjian dirinya dengan Gio. Mereka tidak berangkat bersama karena Gio sudah ada di luar kantor dari siang hari. Jalanan yang dilalui oleh Flora sudah mulai padat membuat laju mobil Flora sedikit tersendat. Ponselnya sudah sedari tadi berdering dan layar ponselnya menunjukkan nama Gio.


Akhirnya mobil Flora lolos dari padatnya lalu lintas dan sampai di pusat perbelanjaan yang ia tuju. Flora mencari tempat untuk memarkiran mobilnya dan beruntung Flora menemukannya dengan cepat.


"Dari mana saja? Kenapa sampai lama sekali?" Gio mengomel saat Flora tiba lebih lama.


"Maaf, jalanan macet," sahut Flora.


"Maaf, maaf. Aku sudah menunggumu dari satu jam yang lalu," omel Gio lagi.


"Aku 'kan sudah minta maaf ... jangan mengomel terus," ucap Flora. "Kalau kamu mau marah-marah terus aku pulang."


"Hmmmmm." Gio akhirnya diam meski masih kesal.


"Nah begitu dong. Kalau seperti ini kamu terlihat sangat manis," puji Flora.


"Ayo kita pergi sekarang, aku sudah sangat ingin makan es crem." Flora langsung melingkarkan tangannya ke lengan Gio dan melangkah bersama ke tempat yang ingin mereka datangi.


"Flora," panggil Gio tanpa menghentikan langkahnya.


"Ya, ada apa?" sahut Flora.


"Sebenarnya kamu menganggap aku ini apa?" tanya Gio.


"Eeeeemm, apa ya." Flora nampak berpikir sengaja untuk menggoda Gio. "Mungkin teman baik," lanjut Flora.


"Hanya teman?"


"Ya."


"Tapi aku mau lebih?"


"Lebih? Tapi aku masih punya pacar," ledek Flora. "Bagaimana kalau teman tapi mesra?" lanjut Flora yang masih ingin menggoda Gio.


"Baiklah, tapi jika seperti ini tidak terlihat mesra." Gio menghentikan langkahnya lalu melingakrankan tangannya ke pundak Flora. "Ini baru namanya mesra."


Keduanya kembali melangkah bersama dengan tawa riang. Flora tidak menampik jika dirinya merasa nyaman dengan Gio. Meskipun saat awal mereka bertemu, Gio adalah laki-laki yang kurang ajar, tetapi semakin lama mengenal, Gio adalah laki-laki yang baik.

__ADS_1


Vote, Rate, Favorit, dan komentranya dong, biar lebih semangat


__ADS_2