Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 203


__ADS_3

Felicia sampai di rumah kedua orangtuanya tepat pukul 12 siang. Baru saja Felicia turun dari mobil hidungnya sudah mencium wangi opor ayam kesukaannya. Tidak sabar untuk menyantap opor ayam buatan ibunya Felicia sampai berlari kecil untuk masuk ke dalam rumah itu. Tempat utama yang Felicia tuju adalah dapur.


"Mah, aku datang." Felicia berseru masih dengan berlari kecil ke arah dapur.


Flora dibuat terkejut saat melihat anaknya berlari. "Felicia, apa yang kamu lakukan? Kenapa berlari."


Felicia tidak mendengarkan jeritan ibunya. Dirinya langsung saja mendekap perempuan yang melahirkannya dengan erat.


"Aku rindu Mamah," ucap Felicia.


"Kamu ini ...." Flora membalas pelukan anak perempuannya.


"Mamah kira anak Mamah ini tidak rindu karena sudah punya suami," ledek Flora.


Felicia menarik diri seraya mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan ibunya.


"Mamah, jangan meledek," cicit Felicia.


"Kamu sudah punya suami, tapi masih kaya kecil." Flora menarik hidung Felicia lalu menggoyangkannya karena merasa gemas.


"Ayo makan siang. Nih makanan kesukaan kamu sudah matang." Flora menunjukan opor ayam yang masih ada di atas kompor.


"Yuk." Felicia merangkul lengan ibunya dengan sangat manja.


"Bibi tolong bawain opor ayamnya ke meja makan ya," suruh Flora.


"Baik, Bu," sahut Bibi.


Felicia masih bergelayut manja di lengan ibunya. Setelah tinggal di rumah sendiri Felicia tidak bisa bermanja-manja dengan ibunya. Kini ketika datang ke rumah lamanya Felicia ingin memuaskan dirinya untuk bersikap manja pada semua orang yang ada di rumah itu.


Langkah Felicia dan ibunya berhenti ketika sampai di meja makan. Mereka sama-sama menarik kursi yang ada di meja makan lalu mendaratkan bokong mereka di sana.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Flora.


"Diantar Alan, Bu. Tuh dia lagi nunggu di luar." Felicia menunjuk ke arah luar rumah.


"Kenapa tidak suruh masuk saja. Ajak dia untuk sekalian makan siang," suruh Flora.


"Iya, Mah. Nanti aku suruh dia masuk," ucap Felicia.


-


-


Selesai makan siang bersama Felicia masih ingin terus bermanja-manja pada ibunya. Dirinya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamar lamanya dengan merebahkan kepalanya di atas pengakuan ibunya.


Dirinya ingin mencurahkan isi hatinya kepada perempuan yang sudah melahirkannya.


"Kabar hubungan kamu sama Kenzo bagaimana?" tanya Flora.


"Kami baik-baik saja," jawab Felicia.


"Mah, Kenzo sekarang jadi aneh deh?" curah Felicia.


"Aneh kenapa?" Flora bertanya seraya mengusap-usap rambut Felicia.


"Dia jadi posesif," jawab Felicia.


"Aku tidak boleh ini, aku tidak boleh itu. Dia memperlakukan aku seperti orang yang sedang sakit parah. Padahal aku cuma sedang hamil," ucap Felicia.


Flora tertawa kecil untuk merespon perkataan anak perempuannya. "Bagus dong itu berarti dia sayang sama kamu. Dia khawatir, takut jika nantinya terjadi sesuatu sama kamu."

__ADS_1


"Apaan, Mah. Dia itu cuma sayang sama anak yang ada di dalam perutku ini," ucap Felicia seraya bangun dari pangkuan ibunya.


Wajah Felicia berubah masam. Hal itu membuat Flora ingin tertawa.


"Mamah kenapa ketawa?" Felicia mengerucutkan bibirnya.


"Apa kamu suka sama suami kamu?" tanya Flora.


"Pertanyaan macam apa itu?" Felicia kembali menaruh kepalanya di atas pengakuan ibunya.


"Mamah tahu kamu menikah dengan Kenzo hanya demi kami. Waktu itu kami merasa jika kami terlalu egois. Tapi setelah kami mendengar kabar baik ini, harapan kami akan hubungan kalian berharap bisa menjadi lebih baik," ucap Flora.


"Itu akan terwujud jika dia bisa bersikap baik padaku," ucap Felicia.


"Memang dia selama ini tidak baik padamu?" tanya Flora.


"Baik sih, Mah. Baik banget malah," jawab Felicia. "Tapi kadang juga dia bikin kesel."


"Sama kaya papa kamu." Flora dan Felicia sama-sama terkekeh.


"Kamu belum jawab pertanyaan Mamah. Apa kamu sudah mulai ada perasaan pada suami kamu?" tanya Flora.


Felicia bergumam seraya berpikir tentang perasaan yang sebenarnya dirinya rasakan kepada Kenzo.


"Aku juga tidak tahu pasti, Mah. Yang jelas aku merasa nyaman dan aman saat berada dekat dengan dia," aku Felicia. "Saat dia jauh atau dekat dengan wanita lain, aku merasa kesal."


Felicia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah ibunya. "Apa itu yang dinamakan cinta?"


"Bisa jadi," ucap Flora.


"Kamu sudah mengatakan perasaanmu ini padanya?" tanya Flora.


"Jika aku mengatakan perasaanku padanya dia pasti akan meledekku," ucap Felicia.


"Kalau kamu tidak mengatakannya, lalu bagaimana dia tahu bagaimana perasaanmu padanya," ucap Flora.


"Bagaimana jika ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama sama kamu?" tanya Flora.


"Ya sudah biarkan saja dia dulu yang mengungkapkan perasaannya padaku," ucap Felicia.


"Jangan menunggu suamimu untuk memulai kehidupan baru kalian. Kamu bisa mengambil alih itu lebih dulu," ucap Flora.


"Maksud Mamah aku yang harus memulai. Aku ini wanita, Mah," tolak Felicia.


"Memang kenapa kalau kamu wanita. Ada banyak wanita di luaran sana yang mengungkapkan perasaan mereka lebih dulu terhadap pasangannya," ucap Flora.


"Menurut penglihatan Mamah suami kamu itu sudah memiliki perasaan padamu. Tapi mungkin dia sulit untuk mengungkapkan perasaannya padamu," ujar Flora.


"Mamah kebanyakan main tebak-tebakan nih," ucap Felicia.


"Coba saja kamu pancing suami kamu untuk mengungkapkan perasaannya padamu," usul Flora.


"Ck, Mamah ... apaan sih?" Felicia terkekeh mendengar nasihat dari mamahnya. Ada-ada saja.


Felicia bangun dari pangkuan ibunya. Hari sudah mulai petang membuat dirinya harus segera pulang.


"Aku pulang dulu ya, Mam," pamit Felicia.


"Nanti Mamah suruh sopir untuk antar kamu," ucap Flora.


"Tidak usah, Mam. Alan sedang dalam perjalanan ke sini. Dia yang akan mengantar aku pulang," tolak Felicia.

__ADS_1


"Kenzo juga mau jemput kamu?" tanya Flora.


"Tidak, Mam. Kata Kenzo dia akan pulang terlambat," jawab Felicia.


Tin tin tin


"Sepertinya Alan sudah datang, Mah," ucap Felicia.


"Yuk, Mamah antar kamu ke depan," ucap Flora disambut anggukan kepalanya oleh Felicia.


Felicia melangkah ke teras depan rumahnya dengan merangkul lengan Flora.


"Mah, aku pulang ya. Sampaikan salam aku buat papah," pamit Felicia.


"Iya, Sayang," ujar Flora.


Felicia mencium pipi dan punggung tangan ibunya sebelum masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Alan. Tangan Felicia melambai bersamaan dengan mobil yang melaju.


Sepanjang perjalanan pulang Felicia memilih untuk memejamkan matanya. Rasa lelah dan sesuatu yang sedang ia pikirkan membuat Felicia malas untuk bicara.


Tidak terasa mobil yang Felicia naiki berhenti bergerak. Ternyata dirinya sudah sampai di depan rumahnya. Felicia turun dari mobil dan meminta Alan untuk menunggunya.


Felicia masuk ke dalam rumah. Tidak lama Felicia keluar dari rumah dengan membawa rantang susun di tangannya.


"Alan, ini makan malam untuk kamu dan Kenzo. Tolong bilang padanya untuk jangan telat makan." Felicia memberikan rantang susun kepada Alan.


"Baik, Bu. Terima kasih untuk makanannya," ucap Alan disambut anggukan kepala oleh Felicia.


Felicia kembali ke dalam rumah setelah Alan kembali pergi ke kantor Kenzo.


Felicia langsung masuk ke kamarnya. Rasa lengket di tubuhnya membuat dirinya ingin mandi. Felicia membuka lemari pakaiannya untuk mengambil piyama tidurnya, tetapi ia terkejut saat melihat lemarinya kosong.


"Di mana semua barang-barangku?" Felicia terkejut saat melihat lemarinya kosong.


Felicia mengurungkan niatnya untuk mandi. Setelah menutup lemari ia kembali ke luar kamar untuk bertanya pada asisten rumah tangganya ke mana semua barang-barangnya.


"Bibi," panggil Felicia.


"Ya, Bu," sahut bibi.


Felicia menoleh ke arah dapur. Matanya melihat bibi keluar dari balik pintu dapur.


"Bibi di mana semua barang-barang yang ada di lemariku?" tanya Felicia.


"Ada di kamar bapak, Bu," jawab Bibi.


Felicia mengerutkan keningnya, ia merasa bingung kenapa barang-barangnya bisa berpindah ke kamar Kenzo.


"Kenapa bisa ada di kamar bapak? Bibi sudah tahu, 'kan kalau saya dan bapak tidur di kamar terpisah," ucap Felicia.


"Bapak meminta saya untuk memindahkan barang-barang ibu ke kamar yang di tempati oleh bapak," jawab Bibi.


"Bapak yang suruh? Kapan?" Felicia bertanya lagi.


"Tadi pagi, Bu. Kata bapak kalau ibu tidak mau tidur satu kamar sama bapak, ibu suruh pindahin barang-barang ibu sendiri." Bibi berucap seraya menahan tawanya. Apalagi setelah melihat ekspresi wajah majikannya yang terlihat sangat lucu.


"Bibi lihat, 'kan? Suamiku itu kejam sekali." Felicia bersidakep seraya mengerucutkan bibirnya.


"Tapi bagus dong, Bu. Ibu sama bapak kan suami-istri, masa tidurnya mau terpisah terus," ucap bibi.


"Bibi ngeledek nih." Felicia memasang wajah cemberut.

__ADS_1


__ADS_2