
Menyatu di atas ranjang memang bukan hal yang baru lagi bagi Kenzo dan juga Felicia, tetapi kini tubuh mereka menyatu dalam ikatan yang bernama cinta. Membuat percintaan mereka berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Kamar hotel dengan minim cahaya menjadi saksi pergulatan panas Kenzo dan Felicia. Dinding, jendela, pintu di ruangan seolah menutup diri mereka rapat-rapat, menahan suara ******* keduanya agar tidak terdengar sampai keluar kamar itu.
Kenzo mengatur ritme gerakannya, ia takut melukai janin yang ada di dalam kandungan istrinya. Di saat rasa lelah menguasai dirinya Kenzo mengakhiri permainan panas itu.
"Kenzo ...." Felicia mendesah saat ia mencapai puncak kenikmatan bersama dengan suaminya.
Masih di posisi yang sama, Kenzo dan Felicia berlomba menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi pasokan oksigen di dalam paru-paru mereka yang sudah mulai menipis.
Kenzo menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya. Mengusap keringat yang mengalir di kening istrinya.
"Terima kasih." Kenzo mengecup kening Felicia sebagai tanda kasih sayangnya.
Tubuh Kenzo berguling ke samping lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan Felicia. Ia memiringkan tubuhnya begitu juga dengan Felicia. Pandangan mereka kembali bertemu pada satu titik yang sama.
"Perutmu tidak sakit, 'kan?" tanya Kenzo.
Felicia menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Kamu lelah?" Kenzo bertanya seraya mengusap sisi wajah Felicia.
"Sedikit," jawab Felicia.
"Maaf ya, aku tidak bisa menahannya jika aku terus berada dekat denganmu seperti tadi," aku Kenzo.
Wajah Felicia bersemu merah dan menjadi salah tingkah. Meskipun bukan untuk pertama kalinya, tetapi tetap saja rasa malu itu masih Felicia rasakan.
"Aku mau mandi. Tubuhku terasa lengket," ucap Felicia.
"Baiklah," ucap Kenzo seraya menganggukkan kepalanya.
Felicia menyibakkan selimutnya. Kakinya turun dari atas tempat tidur. Saat kakinya menyentuh lantai hawa dingin langsung menyerang kakinya.
Felicia mengambil kaos Kenzo yang ada di dekatnya. Lalu memakainya sebelum pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Felicia keluar dari kamar mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono berwarna putih dan handuk kecil yang tergulung di kepalanya.
Sampai di dalam kamarnya Felicia melihat suaminya sedang berkutat dengan laptopnya. Felicia menggelengkan kepalanya dan tersenyum heran. Malam sudah larut, tetapi suaminya masih saja mengurusi pekerjaannya.
"Apa kamu tidak merasa lelah?" Felicia berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa yang ada di kamar itu.
__ADS_1
Kenzo menoleh ke arah Felicia dengan senyum di bibirnya. Ia berharap istrinya tidak akan mengomel.
"Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan, Sayang. Sebentar lagi juga selesai," ucap Kenzo.
"Sayang?" Felicia mengerutkan keningnya. Ia merasa heran saat untuk pertama kalinya suaminya memanggilnya dengan panggilan 'sayang'.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Kenzo memasang wajah biasa saja.
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Felicia.
"Gendut," jawab Kenzo diikuti tawanya.
Mendengar Kenzo meledeknya, Felicia mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang melipat di depan dadanya.
Kenzo sendiri terkekeh melihat wajah istrinya yang lucu saat cemberut. Ia berdiri dari sofa dan menghampiri istrinya. Pinggang istrinya ia rengkuh dan menempelkannya ke tubuhnya. Tidak ada jarak di antara mereka. Jarak mereka hanya terpisah oleh kain yang menempel di tubuh mereka sendiri.
"Apa kamu tidak sadar tubuhmu makin lebar? Aku sampai kesusahan untuk memelukmu," ledek Kenzo.
"Ck, kamu ini. Kenapa sekarang kamu suka sekali menggodaku," cicit Felicia.
"Karena aku suka sekali saat melihat rona merah di wajahmu. Kamu terlihat cantik dengan rona merah itu." Kenzo berbisik di dekat telinga Felicia.
"Mandilah! Jangan terus menggodaku," ucap Felicia.
Kenzo melepaskan tautan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya. Ia mendaratkan kecupan di pipi Felicia sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Felicia membuka lemari untuk mengambil piyama tidurnya. Tidak lupa juga piyama tidur milik suaminya. Selesai memakai piyamanya Felicia memilih untuk duduk di atas tempat tidur dengan bersandar pada kepala ranjang.
Sambil menunggu Kenzo selesai, Felicia memilih untuk melihat-lihat isi dari majalah fashion. Felicia membolak-balik majalah fashion dengan sesekali melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Felicia berdecak saat suaminya belum selesai mandi. Matanya mulai lelah, Felicia menutup majalah fashion dan kembali menaruhnya di atas meja nakas. Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka dan melihat suaminya muncul dari balik pintu.
"Aku sudah siapkan pakaian untukmu." Felicia menunjuk piyama tidur Kenzo dengan matanya.
"Hmmm." Kenzo memakai pakaiannya dengan sesekali melirik ke arah Felicia. Ia melihat istrinya terus menguap.
Kenzo menghampiri Felicia setelah selesai memakai baju. Ia duduk di hadapan Felicia dengan satu tangan menggenggam tangan Felicia.
"Jika kamu mengantuk, tidurlah lebih dulu," ucap Kenzo.
"Lalu kamu?" tanya Felicia.
__ADS_1
"Aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Kenzo.
Felicia menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding kamar. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua pagi.
"Kenzo, ini sudah hampir pagi. Dan kamu masih saja harus bekerja. Tidak bisakah pekerjaan itu diselesaikan besok saja?" Felicia nampak kesal.
"Sayang, ini harus selesai. Karena besok kita harus kembali ke Jakarta. Dan ...." Kenzo menghentikan ucapannya.
"Dan apa?" Felicia mengerutkan keningnya. Ia menunggu jawaban dari Kenzo.
"Besok aku ingin menghabiskan waktu seharian penuh bersamamu, di sini. Sebelum kita kembali ke Jakarta," jawab Kenzo.
Mendengar Kenzo ingin menghabiskan waktu bersamanya, Felicia merasa sangat bahagia. Apalagi selamat berada di kota itu, Kenzo hampir tidak ada waktu untuknya.
"Benarkah?" Mata Felicia nampak berbinar.
"Iya." Kenzo menjawab seraya mengacak-acak rambut Felicia.
"Jadi sekarang, tidurlah. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menyusulmu," ucap Kenzo.
"Tapi aku tidak bisa tidur jika kamu tidak mengusap perutku," rengek Felicia.
"Ya Tuhan, kenapa kamu menjadi sangat manja." Kenzo terlihat frustrasi, lain dengan Felicia yang terkekeh melihat wajah suaminya yang nampak kesal.
"Jangan seperti itu. Ini permintaan anak kamu." Felicia mengusap sisi wajah Kenzo.
"Jangan gunakan anak kita untuk bisa mengendalikan diriku," omel Kenzo.
Meksipun mengomel Kenzo tetap saja mau melakukan apa yang Felicia mau. "Baiklah, cepat tidur!"
"Kamu manis sekali. Aku mencintaimu." Felicia mencuri satu kecupan di bibir Kenzo.
Felicia merebahkan tubuhnya dengan membelakangi Kenzo. Ia membiarkan suaminya mengusap perutnya yang masih rata. Rasa nyaman selalu Felicia rasakan saat Kenzo melakukan itu, dan Felicia sendiri tidak tahu apa alasannya. Rasa lelah, bercampur rasa nyaman membuat Felicia tertidur dengan begitu cepat.
Kenzo bangun untuk melihat Felicia. Mata istrinya sudah terpejam, tetapi tubuh Felicia masih menunjukan pergerakan. Kenzo masih terus mengusap perut Felicia hingga istrinya tertidur dengan begitu tenang.
Kenzo mengibaskan tangannya di depan wajah Felicia untuk memastikan istrinya benar-benar sudah terlelap.
"Dia sudah benar-benar tertidur." Kenzo mengusap kening istrinya sebelum bangun dari tempat tidur.
"Aku mencintaimu," bisik Kenzo.
__ADS_1
Kenzo beranjak dari tempat tidur dengan perlahan agar tidak membangunkan Felicia. Ia kembali ke sofa untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.