Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Rahasia Yang Terbongkar


__ADS_3

Setelah hubungan Flora dan Gio kembali baik, harusnya malam itu adalah malam yang panjang untuk keduanya. Namun, Gio harus merasakan kecewa saat hasratnya sudah berada di puncak, Flora merasa sakit di bagian perutnya. Ternyata Flora datang bulan.


Rasa kesal Gio justru bertahan selama semalaman. Dan pada pagi harinya, Flora masih mendapati jika Gio masih merasa kesal. Namun, hal itu justru membuat Flora rasanya ingin tertawa.


“Kenapa harus datang sekarang sih?” gerutu Gio.


“Mana aku tahu,” jawab Flora seraya menahan tawanya. “Aku tidak bisa memprediksikannya.”


Gio mengusap wajahnya kasar, saat semalam ia merasa hasratnya sudah sampai di ujung, tetapi gangguan tiba-tiba datang.


“Gio, ayolah jangan marah-marah terus,” bujuk Flora.


Bagaimana tidak marah, Gio sudah menahan untuk tidak menyentuh Flora sebelum mereka menikah. Dan saat mereka sudah sah menjadi suami-istri, Gio harus kembali menahannya karena Flora kedatangan tamu bulanan.


“Ini hanya 7 hari saja, Gio.” Flora masih berusaha membujuk Gio.


“Bagiku 7 hari itu bagai 7 tahun,” sungut Gio.


“Jangan seperti anak kecil,” ejek Flora.


“Biarkan saja,” balas Gio.


“Ck, Gio ....” Flora merasa kesal sendiri karena sudah hampir merasa frustasi untuk membujuk Gio.


Gio melihat mata Flora melebar seolah ingin memakan dirinya. Flora sudah memasang wajah galaknya dan itu adalah kelemahan Gio.


“Iya aku tunggu! Hanya 7 hari, 'kan?” Gio akhirnya pasrah menerima nasibnya.


“Suamiku yang manis. Ayo kita sarapan! Aku sudah masak untukmu,” ajak Flora.


Gio masih merasa malas untuk sarapan karena keinginannya tidak terpenuhi. Namun, ia tidak ingin melihat kemarahan Flora lagi.


Flora dan Gio keluar dari kamar mereka. Langkah mereka menuju meja makan. Saat keduanya akan memulai sarapan, ponsel Gio berdering.


Gio merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel di dalamnya. Ada nama Abi tertera di layar ponsel itu. Dengan segera Gio menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


“Halo,” ucap Gio saat benda pipih itu menempel di dekat telinganya.


“Semuanya sudah beres, Mas. Tinggal eksekusinya saja.”


“Oke, terimakasih.”


Setelah mengatakan itu, Gio mengakhiri sambungan teleponnya. Dan meletakan ponselnya ke hadapannya.


“Ada apa?” tanya Flora


“Kita harus kembali ke Jakarta hari ini,” jawab Gio.


“Apa ada masalah lagi?” Flora bertanya dengan rasa cemas pada dirinya.


“Tidak, Sayangku. Kamu tidak ingin menonton drama tante Dini di sana,” ucap Gio.

__ADS_1


“Apa kamu sudah mendapatkan bukti tentang kejahatan tante Dini?” tanya Flora.


“Sudah, Sayang. Sekarang cepat habiskan sarapanmu. Aku akan pesan tiket pesawat untuk kita dulu,” suruh Gio dan segera diangguki oleh Flora.


Setelah sarapan Flora segera masuk ke dalam kamar untuk membereskan barang-barangnya. Dalam hatinya ia berdoa agar masalah di keluarga mereka cepat selesai.


Gio sendiri masih ada di luar kamar, laki-laki kembali menerima telepon dari asisten pribadinya, Abi. Wajah Gio terlihat begitu tegang saat bicara dengan Abi. Setelah beberapa informasi mengenai tante Dini terkumpul, ada informasi baru yang ia ketahui tentang dirinya dan juga kematian Farhan.


Gio sangat marah dengan apa yang baru saja ia dengan dari Abi. Ternyata kematian Farhan disebabkan oleh Dini.


“Terimakasih, Abi.” Gio menutup panggilan teleponnya dengan Abi.


Mata Gio memerah antara marah dan kecewa. Di matanya juga terlihat ada air mata yang menggenang dan siap untuk tumpah. Beberapa tarikan napas berat Gio ambil untuk menetralkan rasa sesak dalam dirinya.


Gio mengusap air mata yang sempat jatuh dari matanya. Setelah itu Gio menyusul Flora yang sedang membereskan barang-barang mereka. Gio masuk ke dalam kamar dan mendapati Flora sedang menutup kopernya.


“Sudah selesai?” tanya Gio.


“Sudah,” jawab Flora.


“Baiklah, ayo kita harus segera berangkat. Pesawat kita 3 jam lagi,” ucap Gio.


Gio mengambil alih koper dari tangan Flora lalu membawanya keluar kamar mereka. Setelah berpamitan pada Made, Flora dan Gio masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke bandara.


“Kapan-kapan kita ke sini lagi ya,” pinta Flora.


Gio tersenyum seraya mengusap bagian ujung kepala Flora. “Sesuai keinginanmu, Flora.”


Gio dan Flora akhirnya sampai di bandara setelah melakukan perjalanan selama satu jam lamanya. Keduanya turun dari taksi lalu segera masuk ke dalam bandara untuk melakukan check in.


Saat datang ke pulau Dewata itu, hati mereka begitu senang dan saat akan kembali ke Jakarta hati mereka diliputi oleh rasa cemas.


Kini Flora dan Gio sudah berada di dalam pesawat setelah menunggu berjam-jam. Flora dan Gio duduk bersebelahan dan saling diam. Dalam diamnya Flora merasakan kecemasan dalam dirinya hingga membuatnya merasa gelisah.


“Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat cemas?” tanya Gio.


“Aku hanya khawatir tante Dini tahu masalah ini sebelum kita menangkapnya,” ucap Flora.


Gio mengusap kepala Flora serta menunjukan senyumannya. “Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.”


“Kenapa kamu begitu yakin?” tanya Flora.


“Sejujurnya aku juga merasa cemas, Flora. Tapi aku tidak ingin memenuhi pikiranku dengan hal-hal buruk,” jelas Gio.


“Kamu benar juga,” ucap Flora.


“Lagi pula jika aku gagal menangkap tante Dini dan memintanya untuk mengembalikan apa yang sudah ia curi dari kita, itu juga tidak masalah. Yang terpenting adalah aku mendapatkan dirimu, Flora. Iya, 'kan?” ucap Gio.


“Gio, dalam situasi serius seperti ini kamu bahkan masih bisa bercanda.” Flora memandangi wajah Gio. Ingin rasanya Flora memaki Gio karena masih sempat-sempatnya becanda.


Suasana menjadi hening saat pesawat yang mereka tumpangi mulai bergerak. Flora menyatukan tangannya dengan tangan Gio saat pesawat itu mulai naik ke udara.

__ADS_1


Diam-diam Flora mencuri pandang pada Gio. Flora tahu jika Gio sedang gelisah dan itu terlihat jelas pada raut wajahnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Flora yang langsung membuat Gio mengalihkan pandangannya ke arahnya.


“Tidak ada,” jawab Gio seraya menunjukan senyumnya.


“Jangan bohong! Aku sudah mulai memahami dirimu, Gio. Setiap kali kamu ada masalah pasti kamu akan diam dan merasa sangat gelisah,” ucap Flora.


“Jangan sembunyikan lagi masalahmu sendiri. Aku ini istrimu. Jadi ceritakan masalahmu padaku,” ucap Flora.


Gio diam sejenak untuk berpikir apakah ia harus menceritakan masalah yang terjadi atau tidak pada Flora. Gio merasa takut melihat reaksi Flora setelah mendengarnya.


“Gio, please ....”


Gio menarik napasnya sebelum mulai bicara.


“Oke aku akan bicara. Tapi tolong kendalikan dirimu setelah ini,” pinta Gio.


“Baiklah, aku janji.” Flora mengangkat tangannya untuk berjanji.


“Aku sudah tahu siapa papa kandungku.” Kalimat itu mengawali pembicaraan.


“Itu bagus, Gio. Lalu kenapa kamu bersedih?” tanya Flora.


“Papa kandungku adalah suaminya tante Dini,” lanjut Gio.


Dan perkataan Gio yang selanjutnya itu berhasil membuat Flora syok. “Ba-bagaimana bisa itulah terjadi.”


“Harusya yang menikah dengan suaminya tante Dini itu mamahku. Tapi tante Dini memaksa agar dia lah yang dijodohkan dengan suaminya itu,” ucap Gio.


“Mamah akhirnya mengalah karena tante Dini mencoba melenyapkan dirinya. Mamah akhirnya menerima lamaran papa agar tante Dini bisa menikah dengan laki-laki itu. Tapi mamah dan suaminya tante Dini ... mereka menjalin hubungan di belakang papah dan tante Dini,” lanjut Gio.


“Gio ....” Flora melihat air mata sudah memenuhi mata suaminya dan dalam satu kedipan saja air mata itu bisa tumpah dari mata suaminya.


“Dan Flora ada satu hal lagi yang membuat aku sangat marah pada diriku sendiri ....” Gio meredam ucapannya.


Gio merasa sangat ragu untuk mengatakan apa yang akan ia katakan pada Flora.


“Ada apa, Gio.” Flora mengusap cairan bening yang keluar dari mata Flora.


“Papa meninggal karena tante Dini. Orang suruhanku mengatakan jika tante Dini sempat mengancam papa akan memberitahukan keberadaan ini padaku jika papa tidak memberikan sejumlah uang padanya,” aku Gio.


“Tante Dini terus mengancam papa hingga papa terkena serangan jantung saat itu. Papa meninggal bukan hanya karena lelah mempersiapkan pernikahan kita, tetapi karena tekanan yang tante Dini lakukan pada papa,” lanjut Gio.


Dan kali ini Flora merasa sangat terkejut. Mendadak amarah Flora pada Dini datang. Flora tidak akan bisa memaafkan perempuan itu.


“Kenapa ada perempuan sejahat itu di keluarga kita, Gio,” ucap Flora.


“Kenapa dia mempermainkan perasaan kita demi uang.”


Air mata Flora pun satu persatu menetes dari matanya.

__ADS_1


__ADS_2