Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Empat Belas


__ADS_3

Sudah satu minggu lebih Felicia berada di kota Makassar. Misinya untuk mendapatkan hati Kenzo seutuhnya belum tercapai, karena ada gangguan dari makhluk berbahaya bernama mantan. Felicia merasa kesal saat kebersamaannya dengan Kenzo tidak seindah yang ia harapkan. Bukan karena Kenzo sibuk bekerja di tempat itu, melainkan adanya Vera di tempat yang sama dengannya.


Meskipun Kenzo tidak pernah menanggapi Vera, tetapi Felicia tetap saja merasa khawatir. Dirinya khawatir jika cinta lama Kenzo dan Vera akan bersemi kembali jika Vera tidak berhenti mendekati Kenzo. Apalagi setiap saat juga Vera selalu saja menunjukkan kepada Kenzo jika dirinya lebih baik.


Ingin Felicia mengadukan niat Vera kepada Wibowo, tetapi Felicia mengurungkan niatnya. Felicia tidak mau Vera menganggapnya lemah. Belum lagi Felicia tahu jika Wibowo tidak akan percaya karena Vera sangat pandai berakting di depan suaminya.


Kasihan sekali Wibowo dibohongi mentah-mentah oleh Vera.


"Apa yang harus aku lakukan agar Vera mengurungkan niatnya untuk merebut Kenzo?" batin Felicia.


Felicia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sambil memikirkan tentang Vera dan juga menunggu kepulangan Kenzo. Matanya melihat jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore waktu setempat, tetapi seseorang yang sedang dirinya tunggu belum menunjukkan kemunculannya.


"Sebal! Sedang apa sih dia?" gerutu Felicia.


Padahal dirinya sudah siap untuk datang ke pesta rekan kerja suaminya, tetapi yang mengajaknya ke pesta belum juga datang.


Felicia duduk dengan wajah cemberut seraya menyangga dagunya dengan tangannya.


"Papamu jam karet." Felicia menggerutu seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Klek


Felicia menoleh ke arah pintu saat ia mendengar suara pintu terbuka. Dari balik pintu muncul suaminya. Felicia tidak berminat untuk menyambut kedatangan suaminya. Dirinya sudah telanjur kesal.


"Maaf aku pulang terlambat." Kenzo mendaratkan kecupan di ujung kepala Felicia tanpa melihat wajah perempuan itu yang sedang cemberut.


"Kenapa pulang terlambat?" tanya Felicia.


"Karena ini?" Kenzo memberikan paper bag kepada Felicia.


"Apa ini?" Felicia menerima paper bag yang diberikan oleh Kenzo lalu melihat isinya.


"Hari ini hari valentine. Aku baru tahu satu jam yang lalu jika semua tamu undangan harus memakai pakaian berwarna merah muda. Tidak ada waktu lagi untuk mengajakmu berbelanja. Jadi aku pergi ke butik dekat sini untuk mencari pakaian untuk kita," jelas Kenzo.


Felicia manggut-manggut mengerti dengan apa yang Kenzo katakan.


Felicia mengeluarkan pakaian yang dibelikan oleh suaminya. Dress brokat berwarna merah muda. Panjangnya sampai batas kakinya, ada belahan juga sampai batas lututnya, bagian lehernya lebar yang bisa menampakan pundaknya.


"Aku harap kamu suka," ucap Kenzo.


"Tentu aku suka. Kamu selalu tahu seleraku." Felicia mencium pipi Kenzo.


"Baiklah, aku mandi dulu. Ganti pakaianmu," ucap Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.


Kenzo membuka jas yang melekat di tubuhnya. Lalu menaruhnya di pinggir tempat tidur. Kenzo melangkah ke kamar mandi setelah menyambar handuk.


Sementara itu Felicia masih berdiri dengan memeluk gaun yang Kenzo berikan. Hatinya merasa bahagia melihat pakaian itu, rasa kesal pada suaminya seolah hilang ketika mendapatkan hadiah seindah itu.

__ADS_1


Tidak menunggu lagi Felicia mengganti gaunnya dengan gaun yang Kenzo belikan. Selesai mengganti pakaiannya Felicia mematut dirinya di cermin, menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri setelah itu berputar.


"Gaun ini sangat pas. Aku tidak tahu bagaimana dia tahu ukuran bajuku," ucap Felicia.


Selesai dengan gaunnya Felicia kembali merias wajahnya agar cocok dengan gaun yang ia kenakan. Felicia mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di hadapan meja rias. Ia memperhatikan pantulan wajahnya di cermin yang ada di hadapannya. Dirinya masih memikirkan apa yang akan lakukan pada rambutnya.


Setelah memikirkannya Felicia mengambil sedikit rambut yang ada di bagian samping lalu menjepitnya ke belakang. Selesai menata rambutnya Felicia menghapus pewarna bibir sebelumya dan menggantinya dengan pewarna bibir dengan warna yang senada dengan gaunnya.


Bersamaan dengan itu Felicia melihat Kenzo baru saja keluar dari kamar mandi. Felicia terus memerhatikan suaminya dari cermin yang ada di hadapannya sampai suaminya selesai memakai bajunya.


Tidak berselang lama Kenzo juga melihat cermin, membuat pandangannya bertemu dengan Felicia. Mereka berbalas senyum di sana.


Kenzo melangkah ke dekat Felicia dan berdiri tepat di belakang Felicia. Kenzo meletakan kedua tangannya di pundak Felicia lalu memijatnya pelan.


"Kamu sudah selesai?" tanya Kenzo.


"Sudah." Felicia mengangguk.


"Kamu sangat tampan dengan kemeja merah muda itu," puji Felicia.


"Jangan meledekku," ucap Kenzo.


"Tidak, aku sungguh berkata jujur. Kamu manis sekali dengan warna itu," ucap Felicia.


"Oke ...."


"Cocok dan kamu ... malam ini terlihat sangat cantik," puji Kenzo. "Tapi ...."


"Tapi apa? Apa ada yang kurang?" tanya Felicia yang langsung diangguki oleh Kenzo.


"Apa yang kurang?" Felicia berbalik melihat ke cermin dan memperhatikan riasan wajahnya. Felicia terlihat sangat cemas karena acara sebentar lagi akan dimulai.


"Ini." Kenzo melingkarkan kalung ke leher Felicia membuat Felicia terkejut.


"Apa ini?" Felicia menyentuh kalung yang Kenzo lingkarkan di lehernya.


"Hadiah untukmu," jawab Kenzo.


"Ini cantik sekali!" seru Felicia.


Ternyata bukan hanya kalung yang diberikan oleh Kenzo, tetapi juga sepasang anting berlian. Kenzo juga memakaikan anting itu ke telinga Felicia.


"Selesai." Kenzo memeluk Felicia dari belakang lalu menaruh dagunya di pundak Felicia.


Felicia menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya. Kalung dan anting-anting yang diberikan sangat indah. "Ini sangat indah!"


"Bertambah indah karena kamu yang memakainya," bisik Kenzo.

__ADS_1


Felicia berbalik dan berdiri tepat di hadapan Kenzo. "Terimakasih banyak untuk hadiahnya."


"Sama-sama," ucap Kenzo. "Happy Valentine."


"Happy Valentine too," balas Felicia.


"Maaf, aku tidak memberimu hadiah. Bahkan aku lupa jika hari ini adalah hari valentine," ucap Felicia.


Kenzo menarik pinggang Felicia, mengikis jarak di antara mereka. Pandangan mereka bertemu pada satu titik sama.


"Kenzo, lepaskan. Kita harus berangkat sekarang. Jika tidak, kita bisa terlambat." Felicia mencoba melepaskan kaitan tangan Kenzo yang melingkar di pinggangnya.


"Tidak, sebelum kamu memberikan aku sebuah hadiah," tolak Kenzo.


"Kenzo, aku tidak punya apapun untuk aku berikan padamu. Aku sudah bilang, aku lupa jika ini hari valentine," ucap Felicia.


"Kamu bisa memberikan hadiah yang lain. Sesuatu yang kamu miliki di tubuhmu." Kenzo mengedipkan satu matanya untuk menggoda Felicia.


"Kenzo, jangan menggodaku. Waktu kita sudah tidak banyak," tolak Felicia.


"Jika kamu tidak memberikannya dengan cepat, kita akan semakin terlambat," ucap Kenzo.


"Kenzo ...." Felicia mendelikkan matanya berharap Kenzo akan takut.


"Tidak akan." Kenzo menggelengkan kepalanya, menolak untuk melepaskan Felicia


"Kenzo, apa yang sebenarnya kamu mau?" tanya Felicia.


Kenzo menahan tengkuk Felicia, memaksa istrinya untuk melihat ke arahnya. Setelah itu Kenzo mulai memajukan wajahnya ke wajah Felicia.


Saat Kenzo mengusap bibirnya Felicia tahu apa yang Kenzo inginkan. Sebuah ciuman. "Kenzo, riasanku bisa berantakan."


Kenzo tidak peduli dengan ucapan Felicia. Ia hanya ingin mengecup bibir Felicia yang sedari tadi menggodanya.


Wajah mereka sudah sangat dekat. Hanya tinggal beberapa centi saja untuk berciuman. Saat bibir keduanya mulai menempel suara ketukan pintu kamar terdengar, memaksa mereka untuk saling menjauh.


"Ada orang. A-k-u akan membuka pintu dulu," ucap Felicia.


"Aku bersumpah akan melenyapkan orang yang sudah berani menggaguku," gerutu Kenzo.


Felicia tidak bisa lagi menahan tawanya saat melihat reaksi Kenzo yang terlihat sangat lucu.


"Jangan marah. Kamu tidak terlihat tampan," ledek Felicia.


Felicia menjauh dari Kenzo dan melangkah menuju pintu. Pintu terbuka dan menunjukan seorang laki-laki yang amat dia kenal.


"Reza!" Felicia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Reza.

__ADS_1


__ADS_2