
Setelah memastikan ibunya minum obat dan beristirahat Aura menghubungi Gavindra untuk berterima kasih. Benda pipih Aura ambil dari dalam tas-nya. Ia menekan satu nomor yang tersimpan di gawai tersebut. Beberapa kali mencoba, panggilannya tetap diabaikan oleh Gavindra.
Mungkin sedang sibuk? Itulah yang ada di dalam pikiran Aura.
Aura memilih untuk mengirim pesan saja. Baru saja Aura akan mengetik huruf di layar ponselnya, tetapi ponselnya lebih dulu berdering. Jangan ditanya siapa yang menghubunginya. Jelas orang itu adalah Gavindra. Tidak menunggu lagi Aura menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
"Halo," sapa Aura.
"Ada apa tadi kamu menghubungiku?" tanya Gavindra.
Dari nada bicaranya Gavindra nampak sedang terburu-buru.
"Aku —" Aura belum selesai bicara dan Gavindra lebih dulu memotongnya.
"Cepat bicara. Aku hanya memiliki waktu tiga menit," potong Gavindra.
"Kalau kamu sibuk, lain kali saja aku bicara," ucap Aura.
"Baiklah," ucap Gavindra.
Setelah itu panggilan pun terputus.
Aura menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Keningnya mengerut menatap heran pada layar ponsel. Ia sedikit terkejut saat Gavindra begitu saja memutuskan sambungan telepon mereka.
"Eh? Apa dia begitu sibuk?" batin Aura.
*****
Sudah sekitar satu minggu Gavindra tidak menemui Aura. Alasannya karena Gavindra sudah ikut terjun ke perusahaan. Gavindra tidak ingin disebut anak manja yang hanya mengandalkan kedua orangtuanya.
Saat ada waktu luang Gavindra menghubungi Aura meminta pada gadis kecilnya untuk datang menemuinya. Beberapa kali Gavindra menghubungi Aura, tetapi gadis itu tidak menerima panggilan itu, pesan yang ia kirim juga tidak dibalas. Gavindra baru ingat Aura masih sekolah dan pastinya dia masih ada di sekolah.
Gavindra berdiri di samping mobil tidak jauh dari sekolah Aura. Sudah hampir setengah jam Gavindra berdiri di tempat itu menunggu Aura pulang sekolah.
Pandangan Gavindra mengarah pada pintu gerbang sekolah lalu melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ck, kenapa dia lama sekali?" gerutu Gavindra seraya menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya.
Tidak pernah dalam hidupnya Gavindra dibuat menunggu seorang wanita. Biasanya wanita yang selalu rela menunggu dirinya berlama-lama. Gara-gara soto daging membuat Gavindra rela menunggu gadis kecil bernama Aura.
Kesabaran Gavindra berbuah manis. Gavindra mendengar suara riuh yang berasal dari arah sekolah. Para siswa dan siswi keluar dari sekolah. Mata elang milik Gavindra memerhatikan setiap siswi yang keluar. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman saat melihat Aura.
Gavindra melangkah mendekati Aura menerobos kerumunan. Matanya terus memerhatikan Aura dari balik kaca matanya. Gavindra berhenti melangkah, berdiri satu langkah tepat di hadapan Aura. Pria itu yakin Aura merasa terkejut dengan keberadaanya, tetapi Gavindra tidak peduli. Tanpa izin Gavindra menarik tangan Aura membawanya ke mobil.
"Masuk." Gavindra membuka pintu mobil meminta Aura untuk masuk.
Aura masuk ke mobil dan duduk di bangku penumpang depan. Pandangannya terus melihat Gavindra sampai pria itu masuk ke mobil.
__ADS_1
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya AuraAura langsung.
Dari raut wajahnya Aura menunjukan keterkejutan.
"Aku telepon kamu tidak diangkat, chat juga tidak kamu balas. Jadi aku ke sini saja," jawab Gavindra santai.
"Tapi …." Aura menatap keluar mobil memerhatikan teman-temannya yang sedang berbisik-bisik.
"Ada apa? Kenapa melamun?" tanya Gavindra seraya memakai seatbelt.
"Bisa gak kamu tidak datang ke sini?" pinta Aura.
"Kenapa? Takut ada yang cemburu?" ledek Gavindra.
"Bukan? Bukan itu. Hanya … kamu lihat mereka! Mereka melihat ke arah sini. Mereka pasti mikir yang macam-macam tentang aku," ucap Aura.
"Apa yang membuat mereka harus berpikir yang macam-macam tentang kamu?" tanya Gavindra.
"Karena aku naik mobilmu ini," jawab Aura.
"Kenapa? Apa ada yang aneh dengan mobilku?" Gavindra bertanya balik kepada Aura.
"Ish, kamu kenapa tidak mengerti?" decak Aura.
"Apa yang harus aku mengerti." Gavindra mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak peduli.
Bohong jika Gavindra tidak melihat gerak-gerik orang-orang yang ada di luar mobilnya. Hanya saja Gavindra bukan orang yang penasaran dan peduli dengan tanggapan orang atas dirinya.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Lagi pula untuk apa peduli dengan pandangan orang lain. Toh kamu juga tidak minta makan sama mereka." Gavindra melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Aura masih memerhatikan teman-temannya yang masih menatap ke arahnya. Meskipun tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi melihat dari raut wajah mereka pasti itu sesuatu yang buruk.
Sudah jauh dari sekolah, tetapi jujur Aura masih terpengaruh dengan sikap yang ditunjukkan teman-temannya di sekolah dan itu berhasil membuat Aura merasa cemas. Beruntung sikap tengil Gavindra bisa mencairkan suasana.
"Terima kasih banyak sudah mau membantuku." Ucapan Aura memecah keheningan di antara mereka.
"Bantu apa?" tanya Gavindra.
"Kamu sudah membantuku membayar tagihan rumah sakit," jawab Aura.
"Simpan kata terima kasih itu. Setelah aku membantumu, kamu harus mendengarkan apa kataku," ucap Gavindra.
"Kenapa?" Kening Aura mengerut.
"Aku sudah membantumu dan kamu harus balas budi. Tahu, 'kan, balas budi." Gavindra melihat sejenak ke arah Aura dengan menunjukkan senyum jahatnya.
"Benar-benar laki-laki yang sulit untuk ditebak. Memang dia sangat menjengkelkan. Tapi berkat dia, aku tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit ibuku." Aura bucara dalam hatinya.
__ADS_1
"Hei, kenapa malah melamun? Sekarang kamu harus berdandan yang rapi lalu setelah itu ikut aku!" perintah Gavindra.
"Ke mana?" tanya Aura kaget.
"Bertemu dengan kedua orang tuaku," jawab Gavindra.
"Apa?" Aura sangat terkejut.
Teriakan Aura berhasil membuat Gavindra terkejut. Ia menginjak rem, mobil pun berhenti secara mendadak, beruntung tidak ada mobil di belakang mobilnya.
"Kenapa kamu hobi sekali berteriak? Membuatku kaget saja," ucap Gavindra.
"Itu karena aku terkejut," jawab Aura.
"Ck, menyebalkan!" gerutu Gavindra. "Lagipula apa yang membuat kamu terkejut?" Gavindra bertanya seraya kembali melajukan mobilnya.
"Bagaimana aku tidak terkejut? Secepat ini kamu mau mengajakku bertemu dengan kedua orang tuamu," ucap Aura.
"Aku tuh heran sama kamu! Banyak wanita di luaran sana yang menungguku membawa mereka bertemu dengan kedua orang tuaku. Tapi kenapa kamu malah kayaknya keberatan," ucap Gavindra.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak ajak salah satu dari mereka saja," usul Aura.
"Kalau bisa sudah aku lakukan itu dari dulu," ucap Gavindra.
"Kenapa? Apa selama hidupmu kamu tidak pernah menemukan wanita baik-baik? Hanya wanita yang berpakaian kurang bahan itu?" tanya Aura.
Gavindra mendengkus, ucapan Aura lebih tepat sebagai ledekan bukan sebuah pertanyaan.
"Jangan berani meledekku bocil." Gavindra mengacak-ngacak rambut Aura merasa gemas dengan wanita yang lebih muda hampir sepuluh tahun.
"Ha, ha." Aura tertawa lepas berhasil meledek Gavindra.
"Kamu harus ingat ini! Aku sudah membantumu dan kamu harus berusaha meyakinkan kedua orangtuaku tentang hubungan kita," perintah Gavindra.
"Tapi apa kamu yakin orang tua kamu tidak curiga kalau hubungan ini hanya pura-pura?" tanya Aura.
"Pastilah curiga. Masa iya aku menjalin hubungan dengan anak SMA," jawab Gavindra.
"Sudah tahu seperti itu kenapa kamu masih mengajakku bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanya Aura.
Jantung Aura mendadak berdetak tidak karuan. Ia merasa ragu, gugup, dan takut untuk bertemu dengan kedua orang tua Gavindra.
"Lebih baik kita tunda saja bertemu dengan kedua orang tuamu," usul Aura.
Gavindra menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Aku sudah janji pada mereka," tolak Gavindra.
"Ya Tuhan!" Aura mengusap wajahnya. Ia merasa frustrasi dengan situasi itu. "Kamu ...." Aura menggeram, mengepalkan kedua telapak tangannya menahan rasa kesal saat melihat Gavindra yang nampak sangat tenang di situasi yang menurutnya sangat genting.
__ADS_1
"Baiklah." Aura menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali untukmerendam rasa kesal yang sedang ia rasakan untuk Gavindra. "Oke, sekarang kamu lebih baik bantu aku berpikir bagaimana caranya menyakinkan orang tua kamu," suruh Aura.
"Dih, ogah. Aku malas berpikir. Kamu saja yang berpikir. Sayang dong aku bayar kamu mahal-mahal kalau kamu tidak bisa berpikir untuk masalah ini," ucap Gavindra seraya menaik-turunkan kedua alisnya untuk menggoda Aura.